
Seminggu setelah sadar, Gatha sudah diperbolehkan pulang dari Rumah Sakit. Sebetulnya, dokter menyarankan agar Gatha tetap dirawat. Namun, gadis itu kekeuh meminta ingin pulang. Karena sudah tak betah berada di ruangan berbau obat tersebut.
Kini, terlihat seorang gadis cantik berambut coklat tua sebahu. Yang mengenakan setelan dress dengan warna putih seperti kapas tengah duduk tenang di kursi roda dengan wajah yang sedikit pucat.
"Buu... Gatha bisa jalan sendiri loh padahal," rengek Gatha pada Ibunya yang hendak mendorong kursi rodanya keluar dari ruangan.
"Tapi muka kamu masih keliatan pucat sayang.. Nurut sama Ibu ya kali ini," balas Ibu Gatha.
Gatha menghembuskan napasnya pasrah saat Ibu sudah mendorongnya ke arah pintu. Mereka bertiga --Ibu, Bapak, dan Gatha-- menyusuri lorong Rumah Sakit untuk menuju ke parkiran. Namun, baru saja mereka keluar dari pintu Rumah Sakit, tiba-tiba saja dikejutkan oleh kedatangan Raya dari arah parkiran.
"Bu, Pak, Gatha, Maaf banget ya Raya telat jemputnya," ucap Raya sambil sedikit membungkukkan badannya.
"Eh? Gapapa nak Raya. Harusnya kalo sibuk, Raya gausah repot-repot kesini," balas Ibu Gatha sambil tersenyum maklum.
Yap. Kemarin Raya dan Echa berkata ingin menjemput Gatha untuk pulang ke rumah. Namun, keadaan membuat mereka tak bisa melakukan hal itu.
"Ih gapapa kok bu, gak repot sama sekali. Cuma jalanannya agak macet aja tadi," bohong Raya. Karena sejujurnya, Raya memang ada sedikit kerjaan tadi. Namun, saat tahu bahwa Echa juga tak bisa. Maka, ia harus datang agar Gatha tak sedih.
"Echa gak ikut Ray?" Harap Gatha seraya menaikkan kedua alisnya.
"Emm, Echa katanya masih ada meeting yang gabisa ditinggal Tha. Lagian kan ini masih jam kantor juga hehe," jawab Raya dengan kekehan canggungnya.
"Ohh, iya yaudah gapapa. Makasih loh udah mau repot-repot jemput gue," ucap Gatha tersenyum simpul.
"Iya nih, kita jadi ngerepotin kan," sahut Bapak Gatha.
"Ngga pak, gapapa beneran kok," balas Raya.
"Yaudah yuk kita langsung pulang aja. Ini berarti Gatha sama Raya ya? Ibu sama Bapak," ujar Ibu Gatha.
"Iya bu, Gatha ikut mobil Raya aja," kata Raya yang mengambil alih dorongan kursi roda Gatha dan mendorongnya masuk ke mobilnya.
***
"Rel, ini meeting terakhir saya untuk hari ini kan?" Tanya Echa pada Aurel setelah keluar dari ruang meeting bersama.
"Iya bu, untuk hari ini meeting tadi yang terakhir," jawab Aurel.
"Oke. Abis ini saya mau langsung pulang, jadi kalo ada yang mau ketemu atur schedule lain hari aja ya," titah Echa sambil berjalan tegap yang diikuti Aurel di belakangnya.
"Baik bu," sahut Aurel, yang langsung menulis sesuatu di sebuah Ipad yang dibawanya.
Kemudian, mereka terus melanjutkan langkah kaki mereka ke lantai dimana ruangan CEO berada. Dengan pandangan yang menatap lurus ke depan, postur tubuh yang tegap, wajah yang terlihat dingin, dan langkah kaki yang teratur nan cepat, Echa menjadi sorotan seluruh pegawainya. Ia hanya mengangguk sedikit jika ada yang menyapanya di sepanjang koridor kantor yang ia lewati.
Setelah sampai ruangan, Echa langsung membereskan tas-nya dan keluar dari kantor menuju parkiran.
"Rel, saya tinggal ya," sapa Echa saat melewati meja Aurel.
__ADS_1
"Iya bu, hati-hati di jalan," balas Aurel yang langsung berdiri dengan sedikit membungkukkan badannya.
Saat tengah berada di lift, Echa merogoh tas untuk mencari kunci mobilnya. Namun, tak kunjung ia temukan.
"Ohh iya! Hhh.. Tadi pagi kan gue di anter Sakka," gumam Echa sambil mendengus. "Ck! Nanti pesen taksi aja lah," lanjut Echa sambil berdecak karena bete.
Setelah itu, sambil berjalan keluar dari lift menuju pintu utama kantor, Echa langsung menghubungi Sakka untuk memberitahu bahwa lelaki itu tak perlu menjemputnya nanti.
'Halo Sak?' sapa Echa duluan.
'Iya halo, kenapa Cha?' tanya Sakka.
'Nanti kamu gausah jemput ya,'
'Loh kenapa?'
'Ini aku udah mau pulang, soalnya abis ini mau jenguk Gatha ke rumahnya,'
'Tumben gak sama Raya?'
'Tadi Raya udah duluan ke Rumah Sakit buat jemput Gatha. Dan harusnya tadi aku ikut tapi karena ada meeting yang penting banget jadi gabisa. Makanya aku sekarang pengen langsung ke rumahnya aja,'
'Ohh gitu.. Yaudah aku jemput sekarang aja yah, nanti aku temenin kesananya sekalian,'
'Eh? Gausah Sakka. Nanti aku bisa pes--'
Deg.
Sambungan terputus begitu saja. Dan menyisakkan Echa yang membeku di depan pintu utama kantor. Dengan pandangan yang terlihat kosong, pipi yang bersemu merah, dan senyum yang sudah tak bisa ia tahan lagi, serta ribuan kupu-kupu yang terasa terbang dalam perutnya.
"Permisi Bu Echa," tegur satpam yang berjaga di samping pintu. "Bu? Bu, Echa gapapa?" Lanjutnya sambil sedikit menepuk pundak Echa pelan.
"Eh? Iya, kenapa?" Echa menggelengkan kepalanya seraya berkedip-kedip untuk mengembalikan kembali kesadarannya.
"Ada yang bisa dibantu Bu?" Tanya satpam tersebut.
"Ohh ngga, ngga ada. Saya cuma lagi nunggu orang aja," datar Echa.
"Ohh, iya baik bu, kalo ada apa-apa bisa panggil saya aja ya Bu," ujar sang satpam canggung, yang hanya dibalas dehaman dan anggukan kepala oleh Echa.
Setelahnya, Echa minggir di dekat pintu kantor dan duduk di kursi yang diberikan oleh satpam tadi. Namun, tak lama kemudian.
Tin.. Tin..
Sakka memencet klakson-nya untuk menyadarkan Echa yang tengah memainkan ponselnya.
Echa tersadar dan mendongak. Ia mendapati Sakka yang tengah keluar dari mobilnya dan membukakan pintu mobil untuknya.
__ADS_1
"Ayo Cha," tegur Sakka pada Echa yang melamun menatapnya.
"Ha? Ohh, iya," Echa terkesiap, dan segera mengatur ekspresi wajahnya kembali. Kemudian, tersenyum tipis menyapa Sakka.
Setelah itu, mereka berdua mampir ke toko dekorasi terlebih dahulu. Karena kata Raya, Gatha belum sampai dan mereka akhirnya merencanakan untuk memberikan surprise di Rumah Gatha.
"Kita mampir ke toko dekorasi dulu gapapa? Buat surprise in Gatha di rumahnya," ujar Echa menoleh pada Sakka
"Gapapa, nanti sekalian aku bantuin dekornya," jawab Sakka seraya melirik Echa dengan senyum simpulnya.
"Eh? Jangan Sak. Malah abis dari toko dekor kalo kamu mau langsung pulang gapapa," kata Echa ragu.
"Ngga, aku mau nemenin kamu aja. Lagian aku juga free kok hari ini," sahut Sakka sambil memberhentikan mobilnya karena lampu merah yang menyala.
"Kamu serius?" Tanya Echa sambil menaikkan kedua alisnya.
Sakka tersenyum jahil.
"Kamu kode minta cepet-cepet aku seriusin?" Ujarnya sambil mendekatkan wajahnya pada Echa.
Echa terkesiap dan mengerjapkan matanya. Ia memalingkan wajahnya dan mendorong wajah Sakka untuk menjauh darinya.
"Kamu apaansi?! Belajar gombal darimana coba??" Jutek Echa sambil mengerucutkan bibirnya dan wajah yang terasa panas sekarang.
Sakka mengambil tangan Echa yang berada di wajahnya dengan tangan kanannya. Lalu, membawanya ke atas pahanya untuk ia genggam.
"Ehehehe.. Emang itu gombal yah?" Kekeh Sakka gemas menatap Echa.
"Ck, tau ah!" Ketus Echa pelan yang masih bisa didengar oleh Sakka.
"Heheh.. Jangan ngambek gitu dong, makin gumush nanti aku nyaa," ucap Sakka sambil mencubit gemas pelan pipi Echa dengan tangan kirinya.
"Ya makanya! Orang aku serius tadi nanyanya," balas Echa yang tengah menundukkan kepalanya agar tak ketahuan bahwa pipinya sudah seperti kepiting rebus sekarang.
"Iyaa, aku hari ini beneran free Echa sayangg," goda Sakka sambil mengelus kepala Echa dengan sayang.
Tinn.. Tinn.. Tinn...
Namun, terhentikan dengan suara klakson mobil dari belakangnya yang menandakan bahwa lampu telah hijau kembali.
Sakka pun akhirnya menjauhkan tangannya dari Echa dan kembali melanjutkan perjalanan. Echa menghela napas lega karena hal itu. Ia memejamkan matanya sejenak dan menahan senyum yang akan merekah di bibirnya.
***
Tbc.
a/n :
__ADS_1
Jangan lupa vote dan komennya yaaaa. Terimakasiii.