
"Enghh..." suara lenguhan seseorang yang terdengar di atas ranjang rumah sakit baru saja terbangun dari tidurnya.
"Cha..?"
Ya, orang yang baru saja terbangun itu adalah Sakka.
Sakka melihat ke sampingnya yang ternyata sudah tak terdapat gadis kesayangannya itu. Matanya menyusuri sekitar ruangan nya, namun gadis itu tetap tak nampak. Sakka memutuskan berdiri mengambil tongkatnya, lalu berjalan pelan menuju ke kamar mandi yang ada di ruangannya untuk mencari Echa. Namun lagi-lagi nihil, Echa juga tak ada disana. Sakka berpikir bahwa tak mungkin kalau Echa pulang tanpa pamit terlebih dulu padanya.
"Cha kamu dimana?" Teriak sakka sambil berjalan menyusuri kamar rawat inapnya.
Ceklek..
Suara pintu terbuka, Sakka pun dengan cepat menengok ke arah pintu berharap itu adalah orang yang ia cari sedari tadi. Namun, ia menghela napas pasrah, ternyata itu adalah seorang suster yang mengantarkan sarapan untuknya.
"Misi mas, ini makanannya saya taruh disini ya. Dan jangan lupa obat dan vitamin-nya diminum seperti biasa," jelas sang suster.
"Iya sus taro situ aja, terimakasi." Ujar Sakka cuek.
Suster tersebut pun keluar dari ruangan Sakka. Dengan sedikit tertatih, Sakka mendudukan dirinya di sofa yang terdapat di ruangan itu. Ia menghela napas nya berat. Termenung sebentar, lalu mengalihkan pandangannya pada bagian sudut sofa. Dilihatnya disitu masih terdapat barang-barang Echa.
"Hufftt..syukurlah barangnya masih disini, berarti dia belum pulang." Kata Sakka menghela napas lega.
***
"Raya udah pulang bu?" Tanya Echa yang tengah duduk di kantin bersama Ibu Gatha.
"Sudah nak echa, katanya dia ada jadwal shooting pagi." Jawab Ibu Gatha yang dibalas anggukan oleh Echa.
"Hari ini echa boleh kan bu nemenin ibu nginep di rumah sakit?" Tanya Echa berharap.
"Iya boleh aja echa, asal tidak mengganggu kegiatan kamu ya." Jawab Ibu Gatha.
"Enggak kok bu," balas Echa sambil tersenyum dan meringis kecil.
***
"***--, loh aku kira kamu belum bangun." Kaget Echa saat masuk ke kamar rawat inap Sakka dan mendapati Sakka tengah berdiri di belakang pintu dan memandangnya lekat.
Melihat itu, Echa hanya melewati Sakka dengan tampang tak acuhnya. Sakka pun melongo dan menatap Echa dengan sinis. Sakka menghela napas kasar kemudian beranjak menuju ranjangnya untuk istirahat kembali.
"Sini aku bantu." Ujar Echa yang ingin membantu Sakka bersandar di ranjang rumah sakit.
"Bisa sendiri." Ketus Sakka menghempas tangan Echa.
Echa tahu kalau Sakka sedang dalam mode merajuknya saat ini. Namun, kali ini Echa sengaja tak acuh kepadanya. Jika sudah seperti ini, Sakka terlalu kekanak-kanakan baginya. Sakka pun akhirnya kesal sendiri dengan hal itu. Dan memutuskan untuk berhenti pura-pura merajuk.
"Suapin," kata Sakka singkat.
"Hm?" Echa hanya menaikkan sebelah alisnya menatap Sakka.
"Suapinnn," rengek Sakka dengan muka datarnya sambil melirik ke arah sarapannya berada.
"Kenapa?" Tanya Echa datar.
"Apanya?" Bingung Sakka.
__ADS_1
"Kenapa gak bilang 'bisa sendiri' lagi?" Ketus Echa, namun tetap mengambil makanan itu dan hendak menyuapi Sakka.
Sakka terdiam dan mendengus pelan. Ia mengalah kali ini. Echa masih menyuapi Sakka dengan telaten. Namun, tiba-tiba Sakka mengambil sendok yang dipakai Echa untuk menyuapinya tadi dan menyendokan makanan ke mulut Echa. Echa pun mengernyit heran dan menolaknya.
"Aku udah makan," kata Echa datar.
"Bohong, kapan?" Sinis Sakka.
"Tadi pas keluar," balas Echa singkat.
"Dimana? Sama siapa?" Posesif Sakka.
"Bukan urusan kamu," kata Echa datar.
"Hmm..iya, sorry." Sahut Sakka pelan.
Terjadi keheningan diantara keduanya. Echa akhirnya menghela napas pelan.
"Di kantin rumah sakit, sama Ibu Gatha." Ujar Echa tiba-tiba.
Entah kenapa Echa akhirnya menjawab pertanyaan posesif Sakka itu. Padahal ia seharusnya bisa tak menyahuti Sakka terus. Tapi entahlah apa yang terjadi pada diri Echa, ia merasa tidak enak jika tidak meladeni Sakka.
"Nih makan lagi," kata Echa memecah keheningan dan melanjutkan menyuapi Sakka-nya yang manja.
Ups, Sakka-nya? Apa Echa mulai membuka hati kembali?
Sakka kali ini menerima suapan Echa dengan khidmat tanpa menatap gadis itu lagi.
Ceklek..
Wanita itu tersenyum menggoda ke arah Sakka dan Echa. Echa tampak kebingungan menerka siapa wanita itu sebenarnya. Sedangkan Sakka sudah memalingkan wajah seperti sedang tertangkap basah.
"Ekhem.." deham wanita itu memecah keheningan.
"Saya ganggu ya?" Ujarnya masih dengan senyum menggoda yang menghiasi wajahnya.
Echa melirik linglung menatap Sakka. Sedangkan Sakka masih memalingkan wajahnya. Wanita itu pun berjalan perlahan mendekati kedua insan yang tengah memperlihatkan adegan suap-suapan tadi.
"Gimana kondisi kamu sakka?" Tanya wanita tersebut, Sakka menghela napas sejenak sebelum menjawab.
"Hufftt..tante kenapa gak bilang kalo mau kesini?" Balas Sakka gugup dengan semburat malunya.
"Loh emang gaboleh tante jengukin keponakan tante yang satu ini? Ohh..tante tau, kamu takut keganggu dan ketahuan ya kalo lagi...hm-hm" ucap Tante Sakka yang bernama Viona itu sambil menaik turunkan alisnya.
"Ck, tannn.." kata Sakka menggeram malu.
"Gadis manis, nama kamu siapa? Nama saya Viona, tantenya Sakka." ujar Tante Sakka menjulurkan tangan ke arah Echa.
"E-em..Ec-Echa tante," entah mengapa Echa sangat gugup bertemu salah satu keluarga Sakka.
"Ohh, pacarnya sakka ya?" Tebak Tante Sakka.
"B-bukan tan," panik Echa.
"Iya," sahut Sakka santai.
__ADS_1
"Hemm, oke okee...terserah kalian," kata Tante Sakka menahan tawanya.
"Kok gak dilanjutin suap-suapan nya?" Goda Tante Sakka lagi.
"Tann..!" Rengek Sakka menahan salah tingkahnya.
"Ahahaha, iya iya. Eh, kamu belum jawab pertanyaan tante loh, gimana kondisi kamu?" Tanya tante Sakka.
"Udah dalam tahap penyembuhan tan, tapi masih harus pake tongkat." Jawab Sakka.
"Hmm, yasudah alhamdulillah kalo begitu." Balas Tante Sakka menganggukkan kepalanya.
"Oh iya Sak, jangan-jangan dia cewe yang Tania ceritakan?" Tanya Tante Sakka lagi.
"Hhhh...Ka Tania pasti cerita macem-macem yah," dengus Sakka malas.
"Hehehe, kamu kayak gatau tania aja." Kata Tante Sakka terkekeh.
Tania? Sepertinya Echa mendengar nama itu. Tapi dimana dan kapan? Ah sudahlah, ia tak ingin mencari tahunya saat ini. Lebih baik ia segera pulang dari sini.
"Emm..maaf tan aku pamit dulu ya kalo gitu, soalnya kan udah tante disini buat jagain Sakka," ujar Echa canggung.
"Mau kemana?" Tanya Sakka menoleh ke arah Echa.
"Pulang," jawab Echa cuek.
"Gak boleh," sahut Sakka datar.
"Aku mau bersih-bersih," sinis Echa.
"Kan bisa di--" ucapan Sakka terpotong oleh Viona, tantenya.
"Sakka...udah biarin Echa-nya pulang dulu. Kasian dia udah disini dari pagi kan?" Ucap Tante Sakka membujuk, akhirnya Sakka pun menuruti ucapan tantenya itu.
Echa dan Sakka saling melirik ketika Viona mengira Echa ada disini dari pagi. Faktanya, Echa telah menginap disini dari semalam.
"Tapi nanti balik kesini lagi kan?" Tanya Sakka menatap Echa.
"Hmm, sore." Balas Echa singkat, Sakka pun mengangguk kecil.
"Aku pamit pulang dulu ya tan, assalamualaikum." Pamit Echa dan salim pada tante Sakka itu.
Tak lama setelah Echa keluar dari ruangan Sakka, Tante Sakka itu pun ikut pamit keluar.
"Tante keluar sebentar yah," ucapnya pada Sakka.
Sakka yang sibuk dengan ponselnya itu tak terlalu memedulikan dan hanya menganggukan kepalanya tanpa menaruh curiga.
Saat sudah keluar dari ruangan Sakka, Viona langsung mencari keberadaan Echa yang baru saja keluar tadi. Ternyata Echa masih terlihat dan baru pergi beberapa langkah.
"Nak echa.." Panggil tante Sakka sambil sedikit berteriak.
Echa pun menoleh kaget melihat wanita yang ternyata tante Sakka itu memanggilnya dan berjalan mendekatinya. Ada urusan apa tante sang mantan memanggilnya? Apa yang ingin wanita itu lakukan pada Echa sebenarnya?
***
__ADS_1
Tbc.