Nikah Sama Mantan

Nikah Sama Mantan
21. Calon Istri


__ADS_3

Pagi ini, matahari bersinar cerah. Angin berkesiur menarikan dedaunan sebagaimana mestinya. Suasana pagi tetap dingin seperti seharusnya. Seperti biasa, irama pagi dan detak jantung kehidupan bermula, seperti itulah adanya.


Menjadi tidak biasa, ketika di pagi itu, terlihat sesosok laki-laki dengan senyum yang berbeda. Sederhana hanya dengan pakaian santainya, tapi tampak sempurna. Ia merentangkan tangan dan menghembuskan napasnya ke udara. Sepertinya ialah lelaki yang paling semangat memulai harinya pagi ini.


"Ekhem," deham seseorang dari belakang tubuh sang lelaki.


Laki-laki yang sedari tadi tersenyum itu pun menengok. Dan semakin mengembangkan senyumnya, kala melihat siapa yang berdeham di belakangnya.


"Ternyata kamu beneran mau dateng," ujar Sakka dengan senyum sumringahnya.


"Cepet jelasin," ujar Echa, seseorang yang sejak tadi Sakka tunggu.


Sakka menghela napas dalam dan duduk di kursi taman yang ada di sekitarnya.


"Duduk dulu. Biar enak jelasinnya," Titah Sakka menengok tempat kosong disebelahnya, mengisyaratkan Echa untuk duduk disebelahnya.


Echa pun menurut dan duduk berdampingan dengan Sakka. Dengan  pandangan datar lurus ke depan.


"Mau mulai darimana?" Tanya Sakka menghadapkan dirinya ke Echa


Anehnya, Echa malah diam. Tak bergerak sedikit pun. Dan masih menatap lurus ke depan. Sedang sakka masih betah memperhatikan gadis masa lalunya itu dengan intens dari samping. Tak lama kemudian, Echa menghela napas sejenak dan berucap.


"Kamu... Gimana?" Pertanyaan ambigu yang dilontarkan gadis berparas imut namun dingin tersebut.


"Gimana... Apanya?" Tanya Sakka pelan seraya menatap Echa lebih dekat lagi.


"Kondisi kamu gimana? Udah membaik?" Tanya Echa dengan jelas seraya menoleh ke arah Sakka.


Deg.


Manik mata mereka bertemu sepersekian detik. Menyiratkan kerinduan yang tak bisa dielakkan lagi. Echa masih betah menatap Sakka dalam diamnya. Pertanyaan sederhana yang membuat Sakka tersenyum sumringah tetapi juga dibarengi dengan tatapan sendunya.


"Ternyata kamu masih peduli sama aku," pernyataan laki-laki berpakaian santai itu menyadarkan lamunan Echa.


"Jawab aja," Ketus Echa seraya mengalihkan pandangan.


"As you can see, fisik aku baik-baik aja. Tapi nggak dengan hati aku," ujar Sakka sendu sambil menatap depan.


"Gak nanya itu," sahut Echa datar.


"Ehehe..i know, kamu kan udah gak peduli sama aku." Ujar Sakka dan dibalas lirikkan tajam oleh Echa.


"Siapa Tania?" Tanya Echa mengalihkan.


"Kakak sepupu aku," Singkat Sakka, yang dibalas anggukan paham oleh Echa.


"Yang kamu kira selingkuhan aku." Kata Sakka lagi sambil menoleh pada gadis yang tengah duduk di sampingnya itu.


Echa bergeming sejenak, lalu berucap lagi.


"Kenapa dia ngundang aku ke acaranya?" Tanya Echa heran.


"Dia mau minta maaf sama kamu dan jelasin semuanya." Jawab Sakka masih menghadap Echa.


Echa terdiam lagi. Entahlah, ia banyak terdiam di obrolannya bersama Sakka kali ini. Biasanya gadis itu langsung menjawab ketus dan dingin kata-kata dari Sakka. Namun, sepertinya kali ini Echa ingin mencerna semua ucapan yang keluar dari mulut Sakka.


"Hufftt.. Gak perlu," singkat Echa setelah menghela napasnya.


"Cha," seru Sakka


"Hm?" Deham Echa yang masih menghadap ke depan.


"Echa," panggil Sakka lagi.


"Apa?" Jengah Echa.


"Meysha!" Kata Sakka sedikit menaikkan nada bicaranya.


"Apa Sakka?" Echa pun akhirnya menoleh pada Sakka dan menatapnya tajam.


"Please.. dengerin semua ucapan aku dulu kali ini," kata Sakka menatap Echa.

__ADS_1


"Ck, g--" ucapan Echa terpotong oleh Sakka.


"Jangan dipotong dulu Echa," sahut Sakka.


"Oke!" Pasrah Echa, dan mendengarkan dengan seksama penjelasan dari Sakka.


"Kamu boleh gak percaya sama aku, gak percaya sama semua ucapan yang keluar dari mulut aku. Tapi tolong dengerin dan percaya sama penjelasannya Ka Tania nanti malam. Tolong kasih aku kesempatan buat buktiin semuanya kalo kamu cuma salah paham. Jadi, aku mohon nanti malam kamu datang yah," Lirih Sakka sambil memegang kedua tangan Echa dan tak ada penolakkan dari gadis itu.


Lama berdiam diri, akhirnya Echa buka suara.


"Kenapa sih?" Tanya Echa ambigu, yang dibalas kernyitan kening oleh Sakka.


"Kenapa kamu minta kesempatan itu?" Tanya Echa menjawab kebingungan Sakka.


Sakka tersenyum getir sebelum menjawab.


"Jawabannya cuma satu. Karena, rasa sayang ini gak pernah hilang dari hati aku," sendu Sakka menatap Echa dalam.


Echa ikut menatap Sakka dalam diam dan tak melepas genggaman Sakka darinya.


"Boleh aku tanya?" Izin Sakka, yang dibalas dengan menaikkan alisnya oleh Echa.


"Masih adakah aku di hati kamu Cha?" Tanya Sakka berharap.


"Aku gabisa jawab sekarang." Echa menunduk dan melepaskan genggaman Sakka.


"Hhh... Gapapa. Tapi kamu mau yah nanti malam dateng?" Sakka menghela napasnya dan tersenyum getir.


Akhirnya Echa menganggukkan kepalanya, tanda setuju ajakan Sakka. Sakka pun langsung tersenyum bahagia dan reflek memeluk Echa.


"Nanti aku jemput jam setengah tujuh." Kata Sakka seraya mengecup kening Echa singkat. Yang dibalas dengan senyuman kecil di bibir Echa seraya menganggukkan kepalanya.


***


"Udah siap?" Tanya Sakka ketika Echa selesai memasang seatbelt-nya.


Echa hanya menoleh dan mengangguk kecil. Entahlah, sejak tadi pagi hingga saat ini suasana hati Echa sepertinya sedang baik. Terlihat dari senyum kecil dan rona merah di pipinya yang sudah lama tak ia tunjukkan.


Begitu pintu dibuka, Echa seketika gugup. Melihat meja makan panjang nan mewah yang diduduki sekumpulan keluarga Sakka yang tak ia kenali dan kini tengah menatap mereka berdua. 


Oh! Ternyata ada yang Echa kenali. Viona, tante Sakka yang waktu itu menjenguk Sakka dan tak sengaja bertemu dengannya.


"I-ini.. C-cuma keluarga kamu aja yang dateng?" Bisik Echa pada Sakka disampingnya.


"Iya, acara resminya udah tadi sore. Ini tinggal makan malam keluarga aja," tutur Sakka.


"Terus kenapa aku di undangnya pas acara keluarga?" Heran Echa.


"Kan bentar lagi kamu juga bakal jadi bagian keluarga aku," kata Sakka melirik Echa.


"T-tapi.." Echa benar-benar gugup setengah mati saat Sakka tiba-tiba menariknya begitu saja.


"Udah ayok." Ajak Sakka sambil menarik tangan Echa ke dalam ruangan.


"Selamat malam Echa, masih ingat sama tante?" Ujar Viona yang menyapa Echa pertama kali.


"M-malam tante, E-echa inget kok. Tante Viona kan? Tantenya Sakka," Balas Echa terbata-bata sambil menyalami Tante Viona.


"Iya benar, kamu cantik sekali malam ini," ramah Viona.


"Emm..makasih tante," sahut Echa tersenyum kecil.


"Cha, sini. Kenalin ini papah aku, namanya Ivan." Sakka menginterupsi Echa untuk berkenalan pada semua keluarganya.


"Halo om, salam kenal. Echa," Ujar Echa menyalimi papah Sakka.


"Salam kenal juga Echa," ramah papah Sakka yang duduk di kursi tengah.


"Ini adik aku, namanya Clara." Kata Sakka menunjuk seorang anak perempuan yang duduk di sebelah kanan papahnya.


"Halo kakak cantik," Sapa Clara melambaikan tangannya ke Echa.

__ADS_1


"Halo, kamu juga cantik. Clara kelas berapa?" Ramah Echa.


"Masih SMP kak," kata Clara, senyum dengan memperlihatkan giginya.


"Ini Om Bram, suaminya Tante Viona," ucap Sakka pada seorang pria yang duduk di sebelah kiri papahnya.


"Halo om, Echa," sapa Echa.


"Om nya Sakka," balas Om Bram.


"Ohiya btw, Tante Viona ini adiknya papah," jelas Sakka yang dibalas anggukan oleh Echa.


"Yang itu Bang Roy, suaminya Ka Tania," Kata Sakka menunjuk seorang pria yang kelihatannya umurnya tak beda jauh dari Sakka.


"Echa," sapa Echa ramah.


"Kakak iparnya Sakka," ujar Roy memperkenalkan diri.


"Nah yang disebelahnya, itu baby Zayn, anaknya Bang Roy sama Ka Tania," ucap Sakka pada balita di samping Bang Roy.


"Om Sakka aku bukan baby lagi taooo.." celoteh bocah 5 tahun tersebut.


"Iya iya kamu udah gede," sahut Sakka.


"Haiii.. Zayn," Sapa Echa sambil melambaikan tangannya dan tersenyum ramah.


"Aloo tante cantikk.." balas bocah itu dengan senyum lima jarinya.


"Loh yang punya acara mana tan?" Heran Sakka.


"Lagi ke toilet sebentar katanya," jawab Tante Viona, yang dibalas anggukan oleh Sakka.


"Mari Echa silahkan duduk," ajak Tante Viona.


"Eh? Ohiya makasih tante," ujar Echa.


Echa dan Sakka duduk berdampingan di depan Zayn yang disebelahnya terdapat kursi kosong, tepat di hadapan Echa. Yang Echa duga itu adalah tempat duduk untuk si pengundang misteriusnya.


Tuk..


Tuk..


Tuk...


Suara sepatu hak tinggi itu menggema di lantai ruangan. Terlihat wanita cantik bak dewi yunani menghampiri meja makan yang mereka tempati.


"Ohh.. Ini yang namanya Meysha Carollina Arabella. CEO Mac's Company," Ucap wanita itu dengan nada mengintimidasi ketika duduk didepan Echa.


Echa yang sedari jauh memang tengah memperhatikan wanita yang ada didepannya ini, seketika tegang mendengar nada bicara wanita itu. Apa ada yang salah dengan dirinya?


Baru kali ini Echa merasa takut diintimidasi seperti ini, padahal biasanya ia yang selalu mengintimidasi lawannya untuk memenangkan proyek.


"Kakkk... Jangan kek gitu! Lo bikin dia takut," geram Sakka menatap tajam wanita tadi.


"Ahahahah... Maaf-maaf, gue keterlaluan ya? Hai Echa, kenalin aku Tania. Yang ngundang kamu kesini," Tawa Tania sambil berjabat tangan dengan Echa.


"E-emm.. Halo kak, aku Echa." Gugup Echa seraya tersenyum canggung.


"Heheheh.. Maaf yaa, gausah takut gitu. Btw, kamu pasti penasaran kenapa aku ngundang kamu kesini? Nanti aku jelasin alasannya yah," kekeh Tania, yang dibalas anggukan oleh Echa.


"Heh cil, lo udah kenalin ke semua Echa itu siapa?" Seru Tania pada Sakka.


"Emmm.." gumam Sakka menoleh pada Echa seakan meminta jawaban, yang dibalas Echa dengan menaikkan bahunya.


Tiba-tiba Sakka memegang erat tangan kanan Echa yang berada di paha gadis itu.


"Ekhem, semuanya. Kenalin, Echa ini..." Ucap Sakka menggantung.


"Calon istri Sakka," lanjut Sakka seraya melirik ke arah Echa.


***

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2