Nikah Sama Mantan

Nikah Sama Mantan
15. A Day With Gilang


__ADS_3

"Nak Echa.." panggil Tante Sakka sambil sedikit berteriak.


Echa pun menoleh kaget melihat wanita yang ternyata Tante Sakka itu memanggilnya dan berjalan mendekatinya. Ada urusan apa tante sang mantan memanggilnya? Apa yang ingin wanita itu lakukan pada Echa sebenarnya?


"Iya tante, ada apa ya?" Balas Echa saat Tante Sakka itu telah sampai di hadapannya.


"Maaf sebelumnya kalo tante lancang ngomong seperti ini, tapi tante mau minta tolong sama kamu boleh yah?" Ujar Tante Sakka.


"Emm, minta tolong apa ya tante?" Tanya Echa bingung.


"Tante gak tau hubungan kamu sama Sakka sebenarnya apa, tapi Tante bisa liat kalo Sakka senang sekali kalo kamu ada disisinya. Jadi tante mohon sama nak Echa untuk mau nemenin Sakka dan bantu dia sampai sembuh. Karena semenjak mendiang mamanya tiada, Sakka jadi sangat workaholic dan hidupnya gak berwarna lagi."


"Ma-mama Sakka udah gak ada tante?" Kaget Echa terbelalak tak percaya.


"Iya, beberapa tahun yang lalu. Sakka gak ada ngasih tau kamu memangnya?" Ujar Tante Sakka, yang dibalas gelengan kepala oleh Echa.


Echa sangat syok, bagaimana bisa Sakka tidak memberitahunya sama sekali. Pikiran Echa langsung mengarah ke kejadian beberapa tahun lalu saat Echa memutuskan hubungannya dengan Sakka. Seingat Echa, saat itu sepertinya memang ia melihat ada bendera kuning dan beberapa karangan bunga. Apakah itu adalah hari kematian Mama Sakka? Tapi entahlah, Echa tak ingat betul. Semakin Echa mengingatnya, semakin sakit kepalanya karena mengingat masa lalu itu. 


"Iya, mamanya udah gak ada. Dan sekarang Sakka kelihatannya bahagia dan sepertinya ada rasa sama kamu, jadi tante harap kamu juga ada rasa sama Sakka," jelas Tante Sakka tersenyum menatap Echa lekat.


Echa yang sedari tadi menyimak, bingung ingin menanggapi seperti apa. Ia memang akan membantu merawat Sakka hingga sembuh, karena ia telah janji pada Sakka juga. Tapi, untuk menumbuhkan kembali rasanya pada Sakka, Echa tak tahu. Echa bingung, apalagi sekarang ia telah menerima perjodohannya dengan Gilang.


"Cha?" Tegur Tante Sakka karena melihat Echa yang melamun.


"E-eh? Emm...tapi saya gak janji ya tan," ucap Echa gugup.


"Hmm, yasudah gapapa kalo begitu." Balas Tante Sakka tersenyum getir.


"Tapi saya janji akan rawat Sakka sampe sembuh," sahut Echa.


"Terimakasih ya Echa. Soalnya semenjak mamanya pergi, tante dan keluarga udah anggep sakka kayak anak tante sendiri. Makanya Tante berharap sekali sama kamu," ujar Tante Sakka, yang dibalas senyuman canggung oleh Echa.


"Yasudah kalo begitu, Tante balik ke kamar Sakka lagi ya. Maaf udah memperlambat kamu pulang," kata Tante Sakka.


"Enggak, gak apa-apa kok tan." Balas Echa tersenyum kecil sambil sedikit menggeleng.


Tante Sakka pun berbalik kembali ke kamar rawat inap Sakka. Echa sempat terdiam sejenak melihat punggung orang yang baru saja mengajaknya bicara sampai tak terlihat, barulah ia kembali melanjutkan perjalanannya pulang ke rumah. 


***


Sesampainya di rumah, Echa membersihkan diri dan bersantai karena hari ini minggu dan ia tidak ke kantor. Echa memutuskan untuk melakukan hobinya yang dulu saja, daripada terus kepikiran akan hal di Rumah Sakit tadi. Ia pun pergi ke halaman depan untuk menyiram tanaman dengan kaos dan celana pendek hitam nya. Ya! Dulu hobi Echa adalah berkebun dan memasak,  namun setelah kejadian itu ia tak lagi melakukannya.


Tin.. Tin..


Suara klakson mobil dari depan rumahnya berbunyi. Echa menghampiri sang pemilik mobil.


"Siapa ya?" Gumam Echa.


Saat sang pemilik mobil menurunkan kaca mobilnya, Echa mengerutkan kening.


Untuk apa orang itu kesini?  -pikir Echa.


"Mas Gilang?" Sapa Echa bingung.


"Hai Cha, boleh aku masuk?" Kata Gilang dengan senyumnya.


"Eh, oiya silahkan mas." Sahut Echa sambil membukakan gerbang untuk Gilang.


Setelahnya, Gilang turun dari mobil dan Echa melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda. 


"Kamu masih hobi berkebun?" Tanya Gilang yang berdiri tak jauh dari Echa.


"Em? Enggak, baru kali ini lagi kok." jawab Echa canggung.


"Iya sih ya, kan kamu sibuk banget pasti," ledek Gilang melirik Echa,  yang hanya dibalas senyuman canggung oleh Echa.


"Oiyah, mas Gilang kesini mau ketemu ayah? Atau bunda?" Tanya Echa.


"Ketemu anaknya," kata Gilang.


"Ketemu Reyhan? Tumben," tanya Echa heran.


"Emang anak bunda sama ayah, Reyhan doang?" Sinis Sakka.


"O-oh, aku? Hihi.. Ada apa?" Kata Echa sambil menunjukan cengiran lucunya, sedangkan Gilang hanya memutarkan bola matanya malas.


"Lagi sibuk ga?" Tanya Gilang.


"Kan mas Gilang liat daritadi aku lagi nyiram tanaman," jawab Echa sambil mendengus pelan.


"Abis ini gak ngapa-ngapain kan?" Tanya Gilang lagi.


"Enggak sih," singkat Echa.


"Cari angin yuk," ajak Gilang.

__ADS_1


"Mas Gilang ngajakin aku jalan?" Ledek Echa sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Yaa, kalo kamu mau." Balas Gilang sambil memalingkan wajahnya.


"Boleh deh, bosen juga di rumah." Kata Echa.


"Masuk dulu mas, Echa ganti baju dulu sebentar." Ujar Echa lagi, kemudian langsung masuk ke rumah.


Saat Gilang masuk ke dalam Rumah Echa, ternyata ada bunda Echa disana.


"Assalamualaikum," kata Gilang.


"Eh- ada Gilang, waalaikumussalam. Duduk sini Gilang," titah bunda.


"Iya tan," sahut Gilang.


"Mau pergi sama Echa ya?" Tanya bunda.


"Iya, saya izin ajak Echa jalan-jalan boleh kan Tante?" Izin Gilang.


"Boleh lah masa gaboleh, sekalian pendekatan kan." Ledek bunda seraya tersenyum.


"Hehehe...Tante sama kayak mama suka ngeledekin gitu," ujar Gilang terkekeh canggung.


"Ya namanya juga--" ucap bunda yang terpotong oleh Echa.


"Ayo mas berangkat," ajak Echa yang baru saja turun dari lantai dua dengan memakai celana hitam, kaos hitam, dan outer kotak-kotaknya.


"Oh udah, yaudah ayo." Ujar Gilang.


"Bun, Echa pamit ya. Terus nanti Echa gak pulang, mau nginep di Rumah Sakit lagi," pamit Echa.


"Oh yaudah kalo gitu, nanti minta anterin Gilang aja kesana sekalian," titah bunda.


"Gampang, nanti pesen taksi juga bisa." Balas Echa.


"Ck, jangan malem-malem berarti ke Rumah Sakit nya," kata bunda.


"Echa bisa bela diri kok, tenang aja." Sahut Echa.


"Kamu itu ya kalo dibilangin. Gilang, Tante minta tolong ya nanti anterin Echa ke Rumah Sakit tempat Gatha dirawat, mau nginep disana dia katanya." Ucap bunda pada Gilang, Echa pun langsung memutar bola matanya malas.


"Oh iya tan, siap." Ujar Gilang sambil menganggukan kepalanya.


"Maaf kalo ngerepotin ya Gilang," ucap bunda merasa tak enak.


"Iya hati-hati ya," ujar bunda.


***


Ternyata Gilang membawa Echa ke sebuah taman yang terdapat danau disana.


"Taman ini..." Gumam Echa meneliti sekitaran taman.


"Udah rame banget ya sekarang," sambungnya lagi dengan sendu.


"Iya, kamu udah gak pernah kesini lagi ya?" Tanya Gilang, yang hanya dibalas gelengan kepala oleh Echa.


"Pantesan, soalnya pas tiba di Indonesia aku langsung berkunjung ke taman ini hampir setiap hari. Padahal aku kira kamu masih suka kesini, tapi ternyata aku gak pernah ketemu kamu setiap kesini," kata Gilang sambil menatap Echa lekat.


"Hmm, sorry." Singkat Echa menunduk.


"Untuk apa minta maaf lagi? Heheh, udahlah lupain aja." Ujar Gilang sambil terkekeh paksa.


"Oiyah, tadi katanya Gatha sakit? Sakit apa?" Tanya Gilang, dan tiba-tiba Echa menegang mendengar pertanyaan Gilang.


"Gerd nya kambuh dan sekarang koma di ICU," dingin Echa.


"Koma? Kok bisa?" Syok Gilang.


"Bisa gausah bahas hal itu dulu kan?" Sinis Echa melirik Gilang dan berlalu duduk di kursi sekitarnya.


Bukan, bukan karena Echa tak mau dirinya terlihat bersalah. Tapi saat ini, ia ingin melepaskan semua beban pikirannya. Dan itu yang membuatnya mengiyakan ajakan Gilang.


"Tau gak kenapa aku ngajak kamu kesini?" Tanya Gilang mengalihkan perhatian sambil mengambil batu kerikil disekitar kakinya berpijak.


"Kenapa?" Sahut Echa singkat.


"Lagi mumet banget aja sih, butuh refreshing." Ujar Gilang sambil melempar batu kerikil ke danau.


"Sama," cuek Echa sambil menatap lurus ke danau.


"Jangan cuek-cuek dong Cha, gimana mau have fun kalo kek gitu." Keluh Gilang menatap Echa dan menghampirinya.


Echa hanya bergeming menanggapinya. Setelah terjadi keheningan beberapa saat, Echa membuka suara.

__ADS_1


"Boleh gak kalo hari ini aku anggep mas Gilang abang aku kayak dulu?" Tanya Echa menatap Gilang yang duduk di sebelahnya.


"Gak cuma hari ini juga gapapa," jawab Gilang dengan senyum manisnya.


"Bener?" Tanya Echa memastikan, yang dibalas anggukan oleh Gilang sambil tersenyum.


"Naik itu yuk," tunjuk Echa pada sebuah tempat sewa sepeda.


"Sepeda?" Tanya Gilang memastikan, yang dibalas anggukan kepala dan cengiran khas Echa.


"Balapan," tantang Echa sambil menaikkan kedua alisnya.


"Random banget si kamu, gak akan capek emang?" Heran Gilang mengernyit.


"Udah ayok," ajak Echa menarik tangan Gilang.


"Bang, sewa sepeda nya dua yah," ucap Echa pada penyewa sepeda.


Mereka pun mengayuh masing-masing sepedanya mengilingi taman tersebut.


"Kita start disini ya," ujar Echa, yang dibalas anggukan oleh Gilang.


"Three, two, one, g--o!" seru Echa, kemudian mulai mengayuh sepedanya.


"Ihhh, mas Gilang curang!!" Teriak Echa, melihat Gilang yang mengayuh duluan sebelum hitungan Echa selesai


"Ayok balap dong kalo bisa," seru Gilang dari jarak yang lumayan jauh dari Echa.


Mereka pun mengayuh sepeda dengan saling balap-membalap. Sampai akhirnya, Gilang yang sampai di garis finish duluan.


"Yeayy, aku menang.." ujar Gilang meledek pada Echa yang baru saja sampai.


"Curang!" Ketus Echa merajuk.


"Beli minum yuk, haus kan pasti?" Ajak Gilang, dan Echa hanya mengikutinya tanpa berkata apapun.


"Nih minum dulu." Kata Gilang sambil memberikan sebotol minuman pada Echa.


"Nanti Echa ganti," sahut Echa masih dengan ketus.


"Jangan ngambek lagi dong, aku beliin es krim deh, mau ga?" Bujuk Gilang.


"Bener ya? Traktir kan tapi?" Tanya Echa dengan mempoutkan bibirnya.


"Iyaa ahaha," balas Gilang sambil sedikit tertawa.


"Kok malah ketawa?" Sinis Echa.


"Muka kamu lucu," kata Gilang.


"Ck, ayo jadi beli es krim ga?" Jutek Echa sambil memutarkan bola matanya malas.


"Oiyah ayo ayo," ujar Gilang.


Saat telah mendapatkan es krim masing-masing di tangannya, mereka makan sambil berjalan ke arah tempat duduk di sekitar danau tadi. Namun, tiba-tiba ide jahil Echa muncul.


"Mas Gilang mau ga?" Ucap Echa sambil menyodorkan es krim yang tinggal sedikit itu ke mulut Gilang.


"Kenapa? Ga suka?" Heran Gilang sambil hendak menjilat es krim yang Echa sodorkan. Namun tiba-tiba Echa malah mendorong es krim itu tepat di hidung Gilang.


"Hhhh...Echaaaa!!" Teriak Gilang pada Echa yang telah berlari dari hadapannya.


"Ahahahahah, rasain wlee.." Seru Echa dari kejauhan sambil menjulurkan lidahnya.


"Awas kamu ya!" Ujar Gilang berlari mengejar Echa.


Hari semakin sore dan mulai menunjukan warna jingganya. Kedua manusia yang bisa dibilang sudah cukup dewasa itu masih asyik kejar-kejaran sambil tertawa layaknya anak kecil. Orang-orang disekitar yang melihatnya mungkin mengira bahwa mereka adalah sepasang kekasih yang saling mencintai. Tapi tak ada yang tahu, isi dari hati mereka masing-masing. Apakah keduanya memang sedang kasmaran? Atau hanya salah satu dari mereka yang merasakannya?


Hap.


Gilang berhasil menangkap Echa dengan menarik tangannya dan mendekapnya ke pelukannya. Echa pun membalas memeluk pinggang Gilang. Mereka saling menatap mata masing-masing kemudian tertawa gembira. Dan menjatuhkan diri di atas rumput di pinggir danau itu.


Suara helaan napas dari masing-masing insan itu saling terdengar. Echa dan Gilang sama-sama merentangkan tangannya dengan masih tiduran di atas rumput tersebut. Sembari mengatur napas dengan memandang langit dan merasakan sejuknya angin sore di taman itu.


"Hari ini kamu beda banget," ujar Gilang menoleh pada Echa yang memejamkan matanya sambil tersenyum.


"Berbeda dari Echa yang aku temuin pas makan malam kemarin. Hari ini Echa ku yang dulu kembali. Aku seneng banget cha," kata Gilang yang sudah merubah posisinya jadi menghadap Echa sepenuhnya.


Echa masih bergeming di tempatnya. Echa pun tak sadar bahwa ia bisa selepas ini dengan Gilang. Sepertinya, memang ini sifat Echa sebenarnya. Sikap dingin dan cuek nya itu hanya agar ia tak terlihat lemah saja. Dan jujur, ia nyaman dengan Gilang. Tapi hanya sebatas abang dan adik, tak lebih.


"Kan aku udah bilang sebelumnya, kalo hari ini aku mau anggep mas Gilang jadi abang aku kayak dulu. Yaa, berarti Echa nya juga harus ceria kayak dulu kan," jelas Echa saat membuka matanya dan menoleh tersenyum pada Gilang.


"Bisa selamanya gak Echa kayak gini?" Harap Gilang, sedangkan Echa hanya membalasnya dengan menaikkan bahunya dan tersenyum sendu.


***

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2