Nikah Sama Mantan

Nikah Sama Mantan
23. Malam


__ADS_3

"Aku udah percaya semuanya dan aku bener-bener minta maaf sama kamu," tulus Echa sambil menatap Sakka yang tengah duduk di hadapannya.


"Aku udah maafin kamu," Ucap Sakka seraya mengangguk.


"Kok cepet banget?" Heran Echa mengernyitkan alisnya.


"Apanya?" Tanya Sakka bingung.


"Maafinnya. Gamau marah dulu?" Ujar Echa dengan tatapan polosnya.


Sakka menaikkan sebelah alisnya dan terkekeh.


"Gamau. Entar kamu menjauh lagi," ucap Sakka tersenyum getir.


"E-hm, Nggak kok nggak akan. Kamu marah aja gapapa," Sahut Echa tergugu seraya menunduk sendu.


"Nggak Cha, yang penting kamu udah mau percaya lagi sama aku. Itu udah cukup buat aku," balas Sakka menatap Echa dalam.


"Beneran?" Tanya Echa memastikan.


"Iya sayang," kata Sakka tersenyum simpul.


Echa yang tadi mendekatkan wajahnya sambil menatap Sakka, langsung membulatkan kedua matanya kaget.


"Eng- Sakkaaa... Echa maluuu," Rengek Echa menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya.


Rusak sudah image dingin Echa sang CEO, di depan sang mantan.


"Echa ku balikk," gemas Sakka melihat tingkah Echa.


"Udah ah," Ketus Echa membuang muka dan cemberut.


"Yaudah habisin makanannya," titah Sakka. Tak mau membuat Echa marah padanya.


Echa menurut. Dan langsung melahap makanannya lagi dengan diam. Berusaha melupakan rasa malunya tadi.


"Habis ini mau kemana?" Tanya Sakka setelah melihat Echa selesai makan.


"Emm.. Kantor," singkat Echa, sambil melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.


"Gamau jalan dulu gitu?" Tanya Sakka menaikkan kedua alisnya.


Echa mengontrol ekspresi wajahnya lalu menatap Sakka.


"Abis ini ada meeting," ucap Echa datar.


"Hmm, kalo nanti malem, bisa?" Harap Sakka.


"Liat nanti yah," balas Echa canggung. Ingin menolak tetapi ada sedikit rasa tak enak dalam dirinya.


"Oke deh bu CEO. Yuk aku anter lagi," seru Sakka sambil tersenyum.


***


"Maaf Bu Echa," panggil seseorang yang berada di belakang meja resepsionis ketika melihat Echa melintasi dirinya.


"Ya? Ada apa?" Echa menghentikan langkahnya dan menoleh.


"Ada yang menunggu ibu disana," Tunjuk resepsionis tersebut pada seseorang yang tengah duduk di kursi tunggu kantor Echa.


"Siapa?" Echa mengerutkan keningnya. Pasalnya, ia sudah tak memiliki janji lagi di saat jam pulang kantor seperti ini.


"Emm- saya kurang tau bu, tapi katanya sudah ada janji dengan ibu," ragu sang resepsionis.


"Okeh, makasih ya," datar Echa, lalu menghampiri orang tersebut.


Echa berjalan mendekati orang yang dimaksud resepsionis tadi. Echa sudah tepat berada di belakang orang tersebut. Memerhatikan orang itu sejenak dari belakang. Sebelum akhirnya Echa menegur orang itu, ternyata ia sudah menoleh pada Echa duluan.


"Sakka? Ngapain?" Heran Echa melihat sang mantan datang ke kantornya.


Sakka tersenyum melihat Echa.


"Jemput kamu," akunya.


"Buat?" Echa semakin mengerutkan keningnya menatap Sakka aneh.

__ADS_1


"Hmm, aku udah izin sama bunda. Untuk bawa putri cantiknya jalan-jalan hari ini. Aku janji bakal pulangin kamu sebelum jam 11," jelas Sakka dengan cengiran di bibirnya.


"HAH??! J-jam 11 malem??" Sontak Echa berteriak kaget mendengar ucapan Sakka.


Sakka hanya membalasnya dengan mengangguk semangat.


"Kamu gila?? Ini aja baru jam setengah lima sakkk!" Ngegas Echa pada Sakka seraya memperlihatkan jam di tangannya.


"Gaboleh?" Tanya Sakka menaikkan sebelah alisnya.


Echa menatap Sakka sinis. Lalu membuang wajah ke arah lain.


"Ck, seterah kamu deh!" Ketus Echa.


Sakka lalu menggenggam tangan Echa menuju parkiran.


"K-kita.. Naik motor? Emangnya mau kemana?" Heran Echa.


"Udah ikut aja. Gapapa kan kalo naik motor?" Tanya Sakka sambil memberikan helm pada Echa.


"Ya gapapa sih.. Cuma tumben aja," Echa hanya kaget, karena sudah lama ia tak naik motor bareng Sakka.


"Ohiya, nanti kita mampir ke mall dulu buat beli baju ganti untuk kamu," Echa hanya menganggukkan kepalanya pasrah.


Mereka pun melaju keluar dari kantor Echa menuju sebuah mall terdekat untuk mengganti pakaian, seperti yang Sakka katakan tadi.


***


Setelah dari pusat perbelanjaan itu. Ditemani cerahnya awan dengan rona jingga yang terpancar saat matahari terbenam. Echa dan Sakka melajukan motornya membelah jalanan yang padat karena jam pulang kantor.


"Ini kita mau kemana sih Sak?" Tanya Echa setengah berteriak agar terdengar.


"Hah??" Teriak Sakka tak mendengar.


"KITA MAU KEMANA??" Teriak Echa akhirnya.


"Gak kedengeran! Coba deketan," Teriak Sakka lagi.


Echa pun mendekatkan tubuhnya menempel pada punggung Sakka dan berbicara di dekat telinga lelaki itu.


"Kita mau kemana sih sebenernya?" Tanya Echa sekali lagi.


"E-ehh, sak?" Gugup Echa.


"Biar gak jatoh," Kata Sakka seraya mengusap pelan punggung tangan Echa yang melingkar di perutnya.


Echa menghela napasnya pelan. Ia berusaha mengendalikan gugupnya. Beruntung saat ini ia berada di belakang Sakka sehingga tak terlihat pipinya yang pasti sudah memerah.


Sudahlah, Echa nikmati saja hari ini bersama Sakka tanpa menutupi diri seperti biasanya. Seperti kata Sakka, ikuti alurnya saja. Echa akhirnya menyenderkan kepalanya ke punggung tegap Sakka dan mengeratkan pelukannya di pinggang Sakka mencari posisi ternyaman.


Kini, matahari telah berganti peran dengan bulan. Echa dan Sakka singgah sebentar ke sebuah restoran yang tempatnya bisa dibilang sulit dijangkau tetapi menakjubkan.


Dengan jalanan masuk yang tenang bak tak ada seorang pun yang tinggal. Namun, memiliki pemandangan yang dapat menyejukan mata. Ditambah udara malam hari yang menambah kenyamanan dua insan yang baru saja berbaikkan ini.


"Btw, ini kita dimana sih? Kok sepi banget," sadar Echa saat melintasi jalanan ini.


"Hehehe..kita udah nyampe Sentul," kata Sakka dengan cengiran santainya.


"HAH??" Gadis itu langsung menegakkan punggungnya terkaget. "Kok aku gak sadar kalo kita udah sejauh ini jalannya," Heran Echa sambil mengedarkan pandangannya ke sekitar.


"Ahahaha..mungkin karena kita keasyikkan ngobrol makanya kamu gak sadar," sahut Sakka.


"Tapi kok aku kayak gak familiar sama jalanan-jalanannya tadi?" Tanya Echa sambil mengernyitkan alisnya.


"Soalnya aku muter-muter dulu ambil arah lain. Heheh.." jawab Sakka seraya terkekeh.


"Dasar..." gumam Echa yang masih bisa didengar oleh Sakka.


"Yuk turun," titah Sakka setelah memarkirkan motornya.


Mereka masuk ke dalam. Duduk di kursi outdoor yang tersedia disana. Dan langsung memesan makanan.


"Kok sepi ya tempatnya? Padahal bagus loh restorannya," takjub Echa meneliti sekelilingnya.


"Karena belum banyak yang tau mungkin," balas Sakka.

__ADS_1


"Terus kamu tau tempat ini darimana?" Tanya Echa.


"Kan aku udah pernah bilang, kalo aku lagi kangen kamu, aku sering muter-muter gajelas. Yaaa, tau-tau nemu tempat ini," jawab Sakka, yang dibalas anggukan kecil oleh Echa.


"Eh, itu disana ada taman ya? Kayaknya asik deh kalo kita main dulu kesana," Tunjuk Echa pada sebuah taman yang tak jauh dari restoran ini.


"Boleh, niatnya aku juga mau ngajakin main disana," kata Sakka menyetujui ucapan Echa.


Setelah mengisi perutnya, Echa dan Sakka berjalan kaki menuju halaman luas yang terdapat kursi dan beberapa permainan anak-anak di dalamnya. Mereka menitipkan motornya di restoran tersebut dan berkeliling di taman ini.


"Cha. Sini," Panggil Sakka sambil menarik lengan Echa.


"Apasih?" Heran Echa mengernyitkan keningnya.


"Biar gak ilang," Ujar Sakka menatap lurus ke depan seraya menggandeng tangan Echa.


Kerutan di kening Echa perlahan memudar. Beralih mengulum dan memainkan bibirnya sembari mengalihkan pandangan.


Namun, Echa secepat mungin merubah ekspresi wajahnya kembali. Dan menatap tangan kirinya yang masih digandeng Sakka.


"Tapi aku bukan anak kecil Sakkk..!" Sewot Sakka.


Sakka hanya bergeming dan tersenyum tipis.


"Lagian kita ngapain gandengan sih? Emangnya mau nyebrang??" Ketus Echa sambil berusaha melepaskan gandengannya.


"Udah diem." Singkat Sakka sambil mengeratkan kembali gandengannya pada Echa.


Echa akhirnya hanya bisa menghela napasnya pasrah. Dan mengerucutkan bibirnya.


Namun, saat melihat arena bermain anak-anak. Tatapan Echa langsung kembali sumringah, layaknya anak kecil yang diberi balon.


"Sakkk.. Naik itu yuuk," Tunjuk Echa pada salah satu wahana permainan anak-anak.


Sakka menggelengkan kepalanya dan terkekeh geli melihat tingkah kekanakkan Echa yang sudah lama tak ia lihat lagi.


"Yuk," Sakka akhirnya menuruti kemauan gadis yang memenuhi hatinya itu.


Malam itu, ditemani jutaan bintang di langit. Kedua insan yang kini tengah diberi rasa berbunga-bunga di hatinya itu saling melempar senyum, lelucon, tawa, dan tatapan cinta yang sangat kentara di sorot mata keduanya.


Mereka menghabiskan malam ini bersama dari mulai berjalan bergandengan tangan, menaiki wahana bermain anak-anak, sampai tiduran di atas rumput dan menatap indahnya langit malam penuh bintang di atas sana.


Walaupun, saat ini tak pasti apa status mereka. Kita juga tak tahu apa yang sedang mereka pikirkan dan rasakan. Biarlah hanya mereka dan tuhan yang tahu dan langit malam yang menjadi saksinya.


"Indah yah," kalimat pertama yang Sakka keluarkan sejak mereka melihat bintang.


"Heem," gumam Echa masih tersenyum menatap langit malam penuh bintang di atasnya.


"Seneng gak?" Tanya Sakka menatap Echa dari samping.


Echa hanya menganggukkan kepalanya dan menoleh pada Sakka yang berada di sampingnya.


"Udah lama aku ga stargazing-an kayak gini," jawab Echa tersenyum pada Sakka.


"Oh ya?" Tanya Sakka, yang dibalas anggukan oleh Echa.


"Sejak putus aku udah gak pernah stargazing-an lagi," kata Echa tersenyum getir.


"Kenapa?" Tanya Sakka penasaran.


Echa menghela napasnya.


"Gapapa." Singkat Echa balik menatap ke langit lagi.


Sakka pun mengangguk kecil dan menggenggam tangan Echa di bawah sana.


Echa sedikit tersentak lalu menoleh dan mengerjapkan matanya. Ia mendapati Sakka yang wajahnya sudah berjarak sangat dekat dengan wajahnya sendiri. Sakka menatap Echa dengan intens seraya mendekatkan wajahnya ke Echa dengan perlahan. Echa yang ikut terbawa suasana malam itu, akhirnya memejamkan matanya.


Apa yang mereka lakukan? Biarlah hanya semesta dan mereka yang mengetahuinya.


***


Tbc.


Emang kita ngapain cha? -sakka

__ADS_1


Orang kita cuma ngantuk, makanya merem. Suudzon ni authornya -echa


Masaaa??? -.- -author


__ADS_2