
Mobil Porsche berwarna hitam terlihat tengah berhenti di depan sebuah rumah dengan pohon rindang yang terdapat di depannya.
"Thaa, bener kata nyokap lo. Lo harus bawa kursi roda, takutnya nanti disana lo kecapean," bujuk Echa.
"Nggak mau Chaa, gue gak selemah itu kok," kekeuh Gatha.
Echa menghela napasnya lelah. Lalu, menoleh sungkan pada Ibu Gatha karena gagal membujuk Gatha.
"Yaudah, tapi lo harus bawa obat lo," putus Echa pada akhirnya.
Gatha hanya membalasnya dengan anggukkan dan pamit ke mobil duluan.
"Pamit ya bu, assalamualaikum," Pamit Echa dan menyusul Gatha ke mobil.
"Udah?" Tanya seseorang yang duduk di depan kemudi.
"Udah, langsung ke tempatnya aja," jawab Echa yang duduk disampingnya.
Porsche hitam itu pun melaju keluar dari perumahan tersebut. Pemandangan kota malam hari yang dihiasi dengan lampu gedung-gedung tinggi sangat memanjakan mata, walaupun terdapat kepadatan di jalan yang kini mereka lintasi.
"Hufftt...kok macet banget ya," gumam lelaki yang sedang menyetir itu. Kemudian, ia menoleh dengan memasang wajah cemberutnya pada Echa yang berada di sebelahnya.
Echa pun ikut menolehkan kepalanya dan terkesiap seketika.
"Iihhh, kenapa kayak gitu coba mukanya?" Ujar Echa sambil mendorong wajah lelaki disampingnya untuk kembali menghadap depan.
Lelaki itu pun tersenyum sumringah dan menoleh lagi. Dan ya! Seperti dugaannya, gadis itu tengah terlihat salah tingkah sekarang.
"EKHEM!" Dehaman keras yang terdengar dari jok belakang mobil.
"Katanya gue gak bakal di jadiin nyamuk! Tapi apa ini yang barusan gue liat?? Ha?!" Omel Gatha.
Kedua pasangan itu pun menoleh dan menahan tawanya.
"Kita beneran lagi gak romantis-romantisan aslii," Ujar Echa menengok ke belakang. Sedangkan Sakka menjalankan mobilnya karena lampu sudah hijau kembali.
"Gak romantis, tapi lo salting kan?!" Pernyataan telak dari gadis ber-dress putih itu.
"H-ha? E-enggak Tha.. Lo apaan sih," balas Echa sedikit melotot karena gelagapan.
Sakka yang sedang mengemudi pun tersenyum tipis mendengar hal itu.
"Udah ah, gue mau dengerin musik aja." Ujar Gatha seraya memasang earphone-nya. Sedangkan Echa menghela napasnya dan menyandarkan tubuhnya.
Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya mereka bertiga sampai di tempat premiere Raya.
"Itu Raya," Tunjuk Echa pada gadis yang tengah di kerumuni beberapa wartawan dan fans nya.
"Woww!! Raya gorgeous banget yaaa dandan kayak gitu," ujar Gatha terpukau.
Echa pun mengangguk menyetujui.
"Tapi kayaknya kita belom bisa nemuin dia sekarang deh. Lagi crowded banget itu," ucap Echa.
"Loh Echa?" Sapa seseorang yang menghampiri Echa.
"Tante? Tante kesini juga?" Tanya Echa sambil mengerjapkan matanya karena kaget.
"Iya, tante mau nonton film-nya Araya," jawab Lila, Mama Gilang.
"Ohh iya, mas Gilang pernah ngomong kalo Tante nge-fans sama Raya," ujar Echa.
"Iya, Araya temen kamu ya ternyata?"
"Iya tan," jawab Echa seraya mengangguk.
__ADS_1
"Ohiya, kamu kesini sama siapa?" Tanya Mama Gilang.
Tubuh Echa kaku seketika. Ia bingung ingin menjawab apa.
"Samaa... Temen Echa tan, temennya Raya juga," jawab Echa seraya melirik ke Sakka dan Gatha.
Sakka dan Gatha pun menyapanya dengan tersenyum dan sedikit menundukkan kepalanya.
"Mah, ngapain?" Tanya Gilang yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka.
"Loh Mas Gilang dateng juga?" Sela Echa.
"Ohh, hai Cha. Iyah aku dateng nemenin mamah," jawabnya. Kemudian, melirik Sakka yang berada di hadapannya dengan tatapan tajam dan dibalas dengan tatapan yang tak kalah tajam dan dingin dari Sakka.
Dan seketika Gilang menyadari satu hal dan langsung merubah tatapannya menjadi tatapan tak suka. Ia menyadari bahwa Echa dan Sakka memakai warna baju yang senada seperti couple. Apalagi Echa terlihat sangat cantik hari ini. Apakah itu pacar Echa? Gilang sangat penasaran akan hal itu.
"Mah, kayaknya udah mau mulai tuh film-nya. Kita masuk duluan aja yuk," Ujar Gilang sambil menarik mamahnya.
"Ohh yaudah kalo gitu tante duluan ya Echa," pamitnya.
"Iya tante," balas Echa seraya tersenyum canggung melihat kepergian keduanya.
Dan tiba-tiba ada tangan yang menarik pundak Echa mendekat padanya. Echa pun menoleh pada orang itu.
"Ngapain si pake baju kayak gini? Liat tuh, banyak mata cowo keranjang yang liatin kamu," Bisik Sakka dengan suara rendahnya yang sangat datar sambil memakaikan jas yang dipakainya ke Echa.
Echa pun bergeming dan langsung melihat ke depan yang memang terdapat beberapa orang tengah memerhatikan dirinya. Ia pun secara otomatis langsung merapatkan jas Sakka ke tubuhnya. Kemudian, menoleh pada Sakka takut-takut.
"Makasih," cicit Echa.
Sedangkan Sakka tak menolehkan sedikit pun wajahnya pada Echa, bahkan melirik saja tidak. Ia hanya menatap lurus ke depan dengan wajah datar nan dingin. Echa merasakan hawa Sakka yang dingin seperti dulu. Ia langsung mengalihkan pandangan ke saampingnya.
"Loh? Gatha mana?" Kata Echa terkejut dan refleks menoleh pada Sakka.
Beberapa langkah mereka berjalan, Echa melihat ke depan dan ternyata Gatha sudah lebih dulu bertemu Raya.
"Haiii, Cha.. Kok lo lama banget sih kesininya," Protes Raya seraya memeluk Echa.
"Nih, gue ditinggalin sama temen lo yang satu ini," jutek Echa melirik Gatha.
"Apaan! Orang lo sibuk romantis-romantisan mulu," sahut Gatha.
"Mana ada!" Sinis Echa.
"Selamat ya Ray. Makasih udah undang gue," Singkat Sakka sambil bersalaman dengan Raya.
"Sama-sama," balas Raya.
"Btw, lo cantik banget Ray sumpah! Sampe pangling gue," seru Echa.
"Lo orang ke sekian yang bilang gitu. Gue tau kalo gue emang cantik," pede Raya.
Echa dan Gatha memutar bola matanya malas.
"Nyesel gue bilang gitu," sinis Echa.
"Yaudah, kalian nikmatin ya film-nya. Makasih udah mau support gue," kata Raya dengan tulus.
"Anything for you beb," seru Gatha dengan senyumannya.
"Sekali lagi congrats ya Ray," Ujar Echa menambahkan seraya memeluk Raya.
***
__ADS_1
Setelah acara selesai dan mereka pun pamit pada Raya.
"Rayyy, film lo bagus banget," Seru Gatha seraya menghampiri Raya.
"Thank you.." Balas Raya sambil memeluk Gatha.
"Good job Ray, lo berhasil bawain peran itu dengan baik," Puji Echa ikut memeluk Raya juga.
"Thank you so much gaiss," kata Raya sambil tersenyum sumringah.
"Yaudah kalo gitu kita pamit dulu ya Ray," ucap Echa berpamitan.
"Sukses terus pokoknya buat lo. Gue pamit ya, jangan nangis," ujar Gatha tersenyum sendu.
"Apansi lo, yakali gue nangis. Kapan-kapan kan kita masih bisa main," sahut Raya.
"Semoga," gumam Gatha.
"Gue juga pamit ya Ray, sukses buat film lo," ujar Sakka.
"Iya, thank you Sak udah mau dateng," balas Raya.
Echa, Sakka, dan Gatha pun berjalan ke parkiran mobil dan langsung menuju ke rumah Gatha untuk mengantarnya pulang terlebih dulu.
Mereka sampai di rumah Gatha sekitar jam 10 malam. Sesampainya disana, Ibu dan Bapak Gatha terlihat tengah menunggu dengan membawa kursi roda dan jaket hangat untuk Gatha. Namun, saat Echa baru saja membuka pintu mobil bagian Gatha, tiba-tiba ia berteriak.
"GATHA!!" Teriak Echa yang membuat semua yang mendengarnya panik.
"Gatha kenapa Echa??" Teriak Ibu Gatha dari kejauhan.
Saat mereka berhasil melihat ke dalam mobil. Terlihatlah Gatha yang kini tengah memegang dadanya dan kesulitan mengambil napas.
"Cha.. Tolong.. Tolong gue Cha.." rintih Gatha dengan napas yang tersengal-sengal.
Echa mengangguk dengan cepat dan tanpa berpikir panjang langsung mengarahkan untuk bergegas ke rumah sakit.
"Sak, kita harus cepet ke rumah sakit sekarang!" Titah Echa, yang dibalas anggukan oleh Sakka.
"Ibu sama Bapak naik mobil ini aja. Temenin Gatha di dalem," Lanjut Echa, lalu masuk kembali ke kursi di samping Sakka.
Mobil yang dikendarai Sakka pun melaju dengan cepat hingga sampai di Rumah Sakit terdekat.
"Dok! Dokter!!" Teriak Ibu Gatha yang membuat para pegawai Rumah Sakit langsung menghampiri dengan mendorong brankar-nya.
Gatha pun diletakkan di atas brankar tersebut. Namun, baru beberapa langkah menuju ruang rawat darurat, Gatha tiba-tiba pingsan dan tak sadarkan diri. Membuat semuanya semakin panik dan kalut.
"Gatha bertahan nak, ibu mohon.." ucap Ibu Gatha tersedu-sedu.
"Ibu Bapak tunggu sini saja ya, kami akan melakukan yang terbaik," Ujar salah satu dokter, kemudian menutup pintu ruangan tersebut.
Ibu dan Bapak Gatha sudah kalut bukan main melihat keadaan anaknya yang seperti itu. Sedangkan Echa walaupun ia diam saja dan tak buka suara sejak tadi. Namun, terlihat sorot mata dan raut wajah yang sangat mengkhawatirkan. Ditambah jantungnya yang berdetak semakin kencang.
Di sisi lain, Sakka tengah merangkul pundak Echa untuk menenangkan. Ia juga tak tahu apa yang membuat sahabat gadis yang disayanginya itu tiba-tiba sesak napas. Mungkinkah sebab kedinginan dan kelelahan?
Tak lama dari itu, dokter keluar seraya melepaskan masker yang di pakainya.
"Gimana dok anak saya?" Sergap Ibu Gatha.
"Anak ibu..." kata sang Dokter menggantung ucapannya.
***
Tbc.
a/n: jangan lupa vote dan komen terimakasii
__ADS_1