Nikah Sama Mantan

Nikah Sama Mantan
31. Quality Time


__ADS_3

Setelah surprise party kepulangan Gatha yang diakhiri dengan barbeque-an dan pillow talk antara ketiga sahabat itu. Raya dan Echa kembali ke rumah masing-masing, karena Gatha yang masih harus bedrest.


Weekend ini, seperti keinginan Sakka kemarin. Ia benar-benar mengunjungi Echa ke rumahnya. Padahal dia belum mempunyai rencana ingin mengajak Echa kemana, yang pasti Sakka ingin bertemu gadis itu dulu sekarang. 


"Assalamualaikum." Ujar Sakka sambil mengetuk pintu rumah Echa.


"Waalaikumussalam, loh nak Sakka?" Kaget Bunda Echa yang membukakan pintu dengan pakaian rapih yang sepertinya hendak keluar.


"Iya tante, hehe.." Kata Sakka terkekeh canggung seraya menyalami Bunda Echa.


"Apa kabar? Udah lama gak ketemu," sapa Bunda.


"Alhamdulillah baik tante, tante sendiri gimana kabarnya, sehat?" Tanya Sakka.


"Alhamdulillah sehat. Oiyah, kesini pasti mau ketemu Echa kan?" Tebak Bunda.


"Hehe, iya tante." Jawab Sakka seraya menggaruk leher belakangnya yang tak gatal.


"Yaudah masuk dulu, tante panggilin Echa-nya," titah Bunda Echa mempersilahkan.


"Makasih tan." Balas Sakka sambil melangkah masuk.


***


"Chaa.. Echa.." Panggil Bunda seraya mengetuk pintu kamar Echa.


"Iya bun?" Sahut Echa sambil membukakan pintu.


"Ada Sakka di bawah," ucap Bunda.


"Sakka??" Heran Echa seraya mengerutkan keningnya.


"Iya, temuin sana. Mungkin mau ngajak kamu jalan." Ujar Bunda dan langsung ke bawah lagi.


"O-oke." Gumam Echa yang kemudian menyusul sang bunda turun ke bawah.


***


"Sak?" Panggil Echa yang melihat Sakka tengah duduk sendirian saat ini. Entah kemana bundanya itu pergi.


"Hai Cha." Sapa Sakka sambil menoleh dan tersenyum.


"Ada apa?" Tanya Echa ragu sambil menghampiri Sakka.


"Mau ngajak kamu jalan," jawab Sakka sembari memperhatikan Echa.


"Kok ga ngechat dulu?" Tanya Echa lagi saat sudah duduk di hadapan Sakka.


"Hehe, lupa. Buru-buru pengen ketemu soalnya," kata Sakka dengan cengirannya.


Echa hanya menggelengkan kepalanya heran dan menghela napas mendengar hal tersebut.


"Eh, ada Sakka?" Sapa Ayah Echa yang baru saja muncul dan diikuti oleh Bunda di belakangnya.


"Iya om, om apa kabar?" Sapa Sakka balik sambil berdiri dan menyalami Ayah Echa.


"Baik alhamdulillah," jawabnya.


"Ayah sama Bunda mau kemana?" Tanya Echa heran yang melihat keduanya rapih seperti ingin keluar.


"Ayah sama Bunda mau keluar sebentar. Ada acara," jawab Ayah, yang dibalas anggukkan kepala Echa.


"Nak Sakka, tante sama om mau pergi dulu. Kamu kalo mau main, di rumah aja ya temenin Echa. Ada Reyhan juga kok di kamarnya," ujar Bunda Echa.


"Ohh oke tante." Sahut Sakka seraya menganggukkan kepalanya.


"Yaudah main di rumah aja. Aku juga lagi males keluar," imbuh Echa.


"Yaudah kalo gitu kita pergi dulu," ucap Bunda.


"Hati-hati bun, yah." Ujar Echa sambil menyalami keduanya diikuti Sakka.


Setelah kepergian Ayah dan Bunda, Echa dan Sakka kembali masuk ke dalam rumah.


"Kamu udah makan?" Tanya Echa.


"Udah kok di rumah," Jawab Sakka yang mengekori Echa di belakangnya.


"Main game aja yuk di ruang tengah." Ajak Echa seraya berjalan ke ruang keluarga.


"Oke," sahut Sakka.


Sampai di ruang tengah rumah Echa, Sakka duduk di salah satu sofa. Sedangkan Echa sibuk mencari beberapa permainan yang ia punya di lemari dekat tv.


"Mau main apa? Aku ada UNO Stacko, UNO Kartu, Monopoli, Ular Tangga." Jelas Echa sambil mengeluarkan satu persatu permainan yang ia punya.


"UNO Stacko boleh." Jawab Sakka seraya berpindah duduk di lantai beralaskan karpet itu.

__ADS_1


"Yaudah, sebentar ya aku ambil cemilan dulu," ucap Echa


Sementara itu, Sakka langsung menyusun permainan yang akan di mainkannya.


"Nih Sak, dimakan." Kata Echa sambil menaruh beberapa cemilan dan minuman kaleng di meja.


"Hukumannya apa?" Tanya Sakka sambil memasang tampang tengilnya.


Echa duduk di lantai beralaskan karpet itu dan berhadapan dengan Sakka.


"Hukuman buat apa?" Tanya Echa balik, pura-pura tak paham.


"Hukuman buat yang jatohin baloknya," kata Sakka tersenyum menggoda.


"Emm.." Gumam Echa sambil mengetuk-ngetuk dagu dengan telunjuknya. "Makan pedes?" Ujarnya.


"Gamau! Kan kamu doyan pedes," ketus Sakka.


"Terus apa donggg?" Rengek Echa.


"Yang jatohin baloknya digelitikin, gimana?" Tawar Sakka.


"Oke, siapa takut?!" Sahut Echa.


Mereka pun memainkan permainan UNO Stacko tersebut dimulai dari Echa. Karena, 'ladies first' kata Sakka.


Sampai masing-masing berhasil mengambil enam buah balok. Kini saatnya, Echa mengambil balok ke tujuh. Dengan perlahan dan hati-hati, ia mendorong balok yang sudah ia pilih untuk ditarik.


BRAK!


"Arghhh!" Teriak Echa bersamaan dengan suara balok-balok permainan yang jatuh tersebut.


"Aaaa! Sayang banget padahal udah dikit lagi," kata Sakka yang ikut gregetan dengan permainan ini.


Echa memejamkan matanya geram dengan kekalahannya. Namun tiba-tiba,


"Akh-- ahahahahaha.. Geliii.. Hahahahha.. Ampunn, udah udah.." Sakka langsung menggelitiknya tanpa aba-aba sama sekali.


Kaget sekaligus kegelian itulah yang Echa rasakan. Sakka menggelitik Echa sampai gadis itu terbaring di lantai dan membelakanginya.


"Udahh ihh, curang kamu mah!" Ucap Echa cemberut yang masih terbaring di lantai.


"Loh curang gimana haha?" Sahut Sakka sambil ikut berbaring di lantai dan menopang kepalanya dengan tangan kirinya menghadap ke Echa.


"Ya curang! Gak ngomong dulu kalo mau gelitikin." Ketus Echa sambil berbalik menghadap ke Sakka.


Echa yang diperlakukan seperti itu masih tetap mengerucutkan bibirnya dan menatap tajam mata Sakka yang berada di atasnya.


"Hehe, jangan kayak gitu mukanya. Ayo kita main yang lain deh." Ujar Sakka sambil menekan kedua pipi Echa hingga bibir gadis itu terlihat semakin maju.


"Umphh.. Lupusunn!" Ucap Echa meminta untuk dilepaskan dengan ucapan yang tak jelas karena mulut yang dimonyongkan oleh Sakka.


"Hahahah, oke-oke." Sahut Sakka terkekeh seraya melepaskan tangannya.


"Kamu ih! Sakit tau!" Ketus Echa sambil memukul tangan kiri yang Sakka jadikan topangan kepalanya hingga terjatuh.


"Iya-iyaa maaf." Kata Sakka sambil beralih memeluk pinggang Echa dan menyandarkan kepalanya ke pundak gadis itu.


"Ajarin aku main mobile legend yuk, aku liat adek aku kalo main seru banget kayaknya." Ujar Echa sambil menatap wajah Sakka yang berada di pundaknya.


Cup.


"Yuk." Sakka setelah mengecup rahang kanan Echa, kemudian berdiri kembali ke sofa.


Echa yang memang sedari tadi merasakan banyak kupu-kupu yang beterbangan di perutnya dan detak jantung yang tak beraturan itu, semakin mematung saat Sakka memperlakukannya seperti itu.


Namun, dengan cepat ia menghela napasnya dan mengatur mimik wajahnya agar tak ketahuan kalau ia salah tingkah.


"Sini Cha." Panggil Sakka seraya menepuk tempat kosong di sebelahnya.


Kemudian, Echa pun menghampiri Sakka dan duduk di sebelahnya.


"Kamu udah download game-nya kan tapi?" Tanya Sakka dengan santai seolah tak melakukan apa-apa.


"Udah kok." Jawab Echa dengan tenang sambil mengeluarkan ponselnya.


Sakka pun ikut membuka ponselnya untuk menunjukkan cara bermainnya pada Echa.


"Ini gimana?" Tanya Echa seraya memperlihatkan layar ponselnya pada Sakka.


"Nah itu kayak gini." Balas Sakka yang hanya menoleh sekilas pada Echa. Kemudian, menunjukkan layar ponselnya pada Echa dengan mata yang masih fokus ke game tersebut.


Tak lama kemudian, Echa mencoba memainkan game seperti yang Sakka contohkan padanya.


"Ihhh Sakka ini susah banget aku mati muluu!" Keluh Echa.


Sakka menoleh pada Echa dan melihat wajah Echa yang terlihat sangat frustrasi. Dengan wajah yang menekuk sebal, bibir yang mengerucut ke depan, dan anak rambutnya sudah menjuntai ke depan. Namun, hal itu malah terlihat lucu sekali di mata Sakka.

__ADS_1


"Hehhe, sini sayang aku ajarin." Ujar Sakka sambil meletakkan ponselnya di meja.


Kemudian, Sakka mendekatkan diri pada Echa dan melingkarkan tangannya ke pundak Echa. Mengambil alih ponsel Echa, membiarkan Echa bersandar di dada bidangnya.


"Nih ya liatin, aku menangin," kata Sakka yang fokus bermain game.


Sakka terlihat tetap tenang fokus pada game nya dengan sesekali memberitahu Echa caranya bermainnya. Namun, di sisi lain tak ada yang tahu kalau ada suara detak jantung yang begitu cepat dari gadis yang tengah di rangkul itu.


Saat game telah Sakka menangkan, Sakka melihat ke sampingnya. Ternyata Echa-nya itu telah tertidur pulas entah sejak kapan. Pantas saja tadi Sakka seperti merasakan Echa memeluknya, ternyata ia mencari posisi nyaman untuk tidur.


"Sayang.." Ucap Sakka sambil menepuk pelan pipi Echa. "Bangun yuk," ucapnya lagi.


"Eunghh...," lenguh Echa sambil berusaha membuka matanya. "Aku ketiduran ya?" Tanyanya saat matanya sudah bisa menangkap cahaya sepenuhnya.


"Iya. Maaf ya aku bangunin, takut badan kamu pada pegel-pegel soalnya. Aku pulang aja ya, kamu mau lanjut tidur kan?" Ujar Sakka.


Echa melepaskan pelukannya pada Sakka dan sedikit menggeliatkan tubuhnya. Lalu, menghela napas panjang sejenak dan menatap Sakka lurus.


"Enggak kok. Aku laper, kamu laper gak?" Balas Echa dengan suara serak khas bangun tidurnya.


"Lumayan sih." Jawab Sakka sambil menganggukkan kepalanya.


"Aku bikin makanan sebentar." Ujar Echa seraya beranjak menuju dapur.


"Aku bantuin." Sahut Sakka sambil menyusul Echa.


Sampai di dapur, Echa mulai meneliti bahan-bahan sambil memikirkan apa yang harus ia masak.


"Ramen?" Tawar Sakka sambil mengangkat sebungkus ramen yang ia ambil dari rak.


"Pake toppoki," sahut Echa seraya tersenyum dan menggerak-gerakkan kedua alisnya.


"Kamu ada toppoki instan?" Tanya Sakka.


"Gak ada hehe," Cengir Echa seraya menggelengkan kepalanya.


"Hh, terus?" Balas Sakka sambil menghela napas.


"Make from scratch," jawab Echa.


"Kamu bisa?" Tanya Sakka.


"Liat dari youtube," kata Echa.


"Ehehe..okey," sahut Sakka seraya terkekeh.


Akhirnya mereka pun mulai menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan. Kemudian memulai untuk membuat adonan toppoki sesuai aturan dari youtube yang kini tengah mereka tonton.


"Sak tolong tepung nya lagi deh," pinta Echa tanpa menoleh pada Sakka.


Sakka yang melihat Echa sangat fokus itu pun tiba-tiba menyeringai jahil. Ia mencelupkan salah satu tangannya ke dalam tepung. Lalu, ia mulai mendekati Echa sambil mengulurkan tangan bertepung itu ke arah pipi Echa.


"Nih," kata Sakka.


"Man...," Ucap Echa seraya menoleh ke Sakka. Kemudian, ia kaget dan berteriak ketika melihat Sakka mencolek pipinya dengan tepung. "Aaaaa! Sakkaaaa!" teriaknya.


Sakka yang kegirangan karena kejahilannya berhasil pun tertawa kencang seraya berlari menjauh. Karena, tiba-tiba Echa mengejarnya sambil membawa tepung di tangannya.


"SINI KAMU!" Teriak Echa kesal.


Akhirnya, mereka pun kejar-kejaran melingkari meja dapur sambil melemparkan tepung masing-masing. Karena, lemparan tepung dari keduanya. Lantai dapur pun menjadi licin. Mereka yang tak sadar akan hal itu masih tetap kejar-kejaran.


Sampai akhirnya, Sakka berhasil tertangkap oleh Echa. Namun, karena lantai dapur yang licin, Echa terpeleset dan menubruk tubuh Sakka di depannya.


BRUK.


Hanya terlihat sedikit kekagetan di antara keduanya setelah terjatuh. Mereka malah saling menatap dengan melongo yang dilanjutkan dengan tawa renyah dari keduanya.


"Ahahaha..." Tawa Echa, kemudian menghela napas menghentikan tawanya. "Aku tau kita bakal jatoh, makanya aku pegang kepala belakang kamu," ujar Echa dengan senyumnya.


Sakka melirik ke tangan Echa yang memegang kepala belakangnya.


"Eheheh.. Makasihh," Balas Sakka sambil terkekeh. Kemudian, melingkarkan tangannya ke pinggang Echa seraya berucap, "Kayak anak kecil ya kita," kata Sakka sambil tersenyum manis.


Echa yang masih setia berada di atas tubuh Sakka itu pun hanya menganggukkan kepalanya sambil terkekeh.


"ASTAGFIRULLAH!!" Teriak seseorang tak jauh dari mereka.


***


Tbc.


Hayoo, ada yang bisa nebak siapa yang dateng?


a/n:


Jangan lupa vote dan komen yaaaa. Terimakasiiii banyakkk.

__ADS_1


__ADS_2