
Sore harinya setelah Echa pulang dari kantor, Echa langsung ke rumah untuk membersihkan diri dan membawa beberapa perlengkapannya. Echa berniat menginap di Rumah Sakit menemani Ibu Gatha dan menepati janjinya pada Sakka.
"Sakk-- Loh sus pasien ruangan ini kemana ya?" Tanya Echa begitu tak melihat keberadaan Sakka di ruangannya. Yang ada hanya seorang suster tengah merapikan tempat tidur Sakka.
"Ohh, pasien kamar ini sedang melakukan terapi mba di Ruang Fisioterapi," jelas sang suster.
"Baik terimakasih sus," Echa mengangguk, meletakan barangnya di kamar Sakka, kemudian pergi ke Ruang Fisioterapi sesuai arahan suster tadi.
"Permisi," ucap Echa saat memasuki Ruang Fisioterapi. Dilihatnya disana ada seorang dokter yang tengah membantu Sakka berjalan dan seorang suster memegang map yang sepertinya mencatat perkembangan Sakka.
"Ehh, ini mba yang tadi pagi ya?" Ujar sang dokter ramah.
"Iya dok, maaf saya telat nemenin." Kata Echa sedikit membungkukkan kepalanya.
"Iya gapapa mba, kita juga baru mulai kok. Sini, mba-nya bisa bantu pegangin mas Sakka." Echa mendekati Sakka yang sedari tadi belum mengeluarkan suaranya.
"Maaf ya telat," ujar Echa pada Sakka pelan, Sakka pun hanya membuang mukanya dari Echa.
Sakka akhirnya menjalani terapi ditemani dengan Echa sampai selesai. Sakka memang kesal karena Echa yang tak datang tepat waktu, namun tak dapat dipungkiri bahwa ia juga sangat senang karena terapinya kali ini ditemani oleh orang yang sangat ia sayangi.
***
"Kamu butuh sesuatu?" Tanya Echa saat Sakka sudah berbaring di ruangannya.
Sakka masih mendiamkan Echa dan memalingkan wajahnya. Ia sudah tidak kesal sebenarnya, tapi ia ingin sedikit mengerjai Echa kali ini.
"Sorry aku datengnya telat," ujar Echa lagi saat Sakka mendiaminya.
"Kamu ga nepatin janji," kata Sakka singkat.
"Aku nepatin janji kok, buktinya aku dateng. Ya walaupun...telat," balas Echa sedikit tak terima ucapan Sakka.
Sakka masih memalingkan wajahnya. Echa pun menghela napas. Oke, ia harus terpaksa membujuk Sakka kali ini.
"Oke aku minta maaf.. Sebagai gantinya aku bakal nurutin satu permintaan kamu, kamu mau apa?" Pasrah Echa.
Sakka sangat tertarik sebenarnya dengan ucapan Echa. Ia juga ingin segera menoleh dan meminta sesuatu pada gadis itu, tapi semua itu ia urungkan. Sakka harus berpikir secara matang kali ini, karena ia tau ini adalah kejadian langka dan Echa mungkin tidak akan berkata seperti ini lagi suatu saat nanti.
"Aku gak butuh sesuatu," ucap Sakka dingin sambil melirik Echa.
"Itu punya siapa?" Pandangan Sakka tiba-tiba teralihkan oleh barang bawaan Echa.
"Punya aku. Aku mau sekalian nemenin Ibu Gatha malam ini," ujar Echa.
"Nginep?" Tanya Sakka yang hanya dibalas dehaman oleh Echa.
"Ohiya, ini aku bawa sesuatu." ujar Echa.
"Apa?" Ucap Sakka singkat.
"Kesukaan kamu, tiramisu cake. Boleh makan cake kan sama dokter?" Kata Echa sambil memberikan sekotak kue kesukaan Sakka.
"Ya boleh lah, kamu pikir aku sakit diabetes gaboleh makan yang manis," sinis Sakka.
"Yaudah nih dimakan ya. Aku nitip barangku disini sebentar, mau cek ke ruangan Gatha dulu." Echa pun keluar dari ruangan Sakka dan menuju ke ruangan Gatha.
***
"Assalamualaikum," ucap Echa saat membuka pintu kamar rawat inap Gatha.
Fyi, selama Gatha dirawat di Ruang ICU. Ibu Gatha tetap menginap di kamar rawat inap Gatha yang sebelumnya. Dan Echa baru tahu, ternyata kadang Raya juga suka menemani Ibu Gatha untuk menginap disana saat Bapak Gatha tak bisa menemani.
Seperti sekarang ini, terlihat Raya yang juga ada disana sedang berbincang dengan Ibu Gatha. Mereka berdua kaget melihat kedatangan Echa.
"Waalaikumussalam, eh Echa? Kamu dateng lagi," ujar Ibu Gatha.
"E-emm, iya bu. Echa mau izin nemenin ibu nginep disini boleh?" Ujar Echa canggung.
"Emm..boleh sih, tapi ini cuma muat dua orang tidurnya lagipula memang kamu lagi gak sibuk nak?" Tanya Ibu Gatha.
Sebelum Echa menjawab, Raya sudah terlebih dulu berbicara.
__ADS_1
"Gapapa bu biar Echa aja yang nemenin ibu malam ini. Aku pulang lagi aja gapapa kok," sahut Raya.
"Eh? Jangan nak Raya. Kamu kan udah siapin tempat tidur ini daritadi, masa mau di beresin lagi?" Kata Ibu Gatha.
"Gapapa bu, cuma beresin doang aku gak akan kecapean kok hehe.." Balas Raya dan hendak membereskan tempat tidurnya.
"Gapapa Ray, lo aja yang nginep hari ini. Gue bisa besok kok. Kan lo udah terlanjur bawa perlengkapan lo. Sedangkan gue belum bawa apa-apa," ujar Echa berbohong, Raya hanya diam tak mau menatap Echa akhirnya Ibu Gatha yang menanggapinya.
"Beneran nak Echa? Kamu gapapa emang kalo pulang lagi?" Tanya Ibu Gatha tak enak.
"Iya bu gapapa. Kalo gitu Echa pamit ya. Assalamualaikum," jawab Echa tersenyum tipis sambil mengangguk kecil lalu keluar lagi dari ruangan itu.
Echa terpaksa berbohong, karena ia tahu Raya tak akan menyukai keberadaannya disana. Dan Echa tak enak karena tiba-tiba datang untuk menginap dan tak izin dahulu sebelumnya. Daripada Raya semakin tidak suka padanya, lebih baik Echa mengalah untuk pulang lagi.
***
Tok..tok..
"Masuk," sahut sang pemilik kamar, Sakka.
"Aku mau ngambil barang-barang," ujar Echa mendekati barang bawaannya yang berada di sofa ruangan Sakka.
"Udah diizinin sama nyokap Gatha?" Tanya Sakka yang memerhatikan Echa sedari tadi.
"Gajadi, udah ada Raya yang nginep" jawab Echa.
"Terus? Kamu mau pulang lagi?" Tanya Sakka lagi.
"Yaiya, masa mau tidur disini." sinis Echa.
"Boleh.." balas Sakka.
"Loh itu kok belum dimakan cake-nya? Gak enak?" Tanya Echa mengalihkan perhatian.
"Cuapinn.." Kata Sakka dengan manja dan mengerucutkan bibirnya.
Melihat Sakka yang tiba-tiba seperti itu, Echa memalingkan wajahnya. Pipinya sudah memerah saking gugupnya. Bibirnya pun berkedut menahan senyum yang akan terbit diwajah cantiknya itu.
"Mau nya di cuapin," ucap Sakka dengan nada pura-pura ngambek.
"Bisa gausah kayak anak kecil gak si?" Sindir Echa yang sudah menghadap Sakka kali ini.
"Kan kamu dulu yang ngasih panggilan sayang ke aku bayi gede," kata Sakka balik menyindir Echa.
"Hhh, yaudah sini, buka mulutnya!" Ucap Echa ngegas menahan kesal.
"Aaaa..aamm, nyam nyam. Manis," Sakka bertingkah seperti anak kecil dan tersenyum menggoda diakhir.
"Yaiyalah namanya jug--" ucap Echa setelah menyuapi Sakka.
"Yang nyuapin yang manis," goda Sakka menatap Echa.
Lagi-lagi pipi Echa bersemu merah. Ia sangat berusaha menahan senyumnya. Ia memalingkan wajah, melipat bibirnya ke dalam, dan menggerakannya dengan canggung.
"Kalo mau senyum, senyum aja cha," ujar Sakka yang memang sedari tadi masih memperhatikan Echa.
"Kalo sekali lagi lo kayak gitu, gue gabakal jenguk lo lagi." Ucap Echa kesal.
"Jangan gue lo gue lo," kata Sakka dingin.
"Kenapa?" Tanya Echa menaikkan alisnya.
"Aku gasuka," ujar Sakka singkat.
Echa hanya bergeming ditempatnya. Tak tahu harus membalas apa. Suasana menjadi canggung, namun Echa masih menyuapi Sakka tiramisu cake yang ia bawa.
"Cha," panggil Sakka memecah keheningan.
"Hmm?" Deham Echa.
"Udah malem. Nginep sini aja ya, gausah pulang," titah Sakka seperti tak mau dibantah.
__ADS_1
"Besok harus ke kantor," ucap Echa cuek.
"Gausah bohong Echa, besok wekeend." Balas Sakka telak.
Sial! Bisa-bisanya gue lupa. -batin Echa.
"Tap--" ucapan Echa terpotong oleh Sakka.
"Liat sekarang jam berapa? Kamu yakin mau pulang selarut ini?" Ujar Sakka.
Echa melihat jam di tangannya tengah menunjukan pukul 11 malam. Ucapan Sakka benar, ini memang sudah larut dan pintu rumah Echa pasti sudah dikunci karena ia bilang akan menginap di rumah sakit.
"Masih mau pulang?" Sindir Sakka, Echa menghela napasnya dan berkata.
"Huftt..oke," jawab Echa pasrah.
Echa akhirnya menuruti perkataan Sakka dan menyiapkan tempat tidurnya di sofa. Sadar atau tidak, sebenarnya daritadi Echa selalu menuruti perkataan Sakka. Entah mengapa Echa tak dapat menolak semua yang Sakka ucapkan. Sebenarnya Otak gadis itu bisa menolaknya, namun tidak dengan hatinya yang seakan masih terikat dengan hati Sakka.
Saat Echa tengah berbaring dan memainkan ponselnya di sofa ruangan Sakka. Sakka memanggilnya.
"Cha," panggil Sakka sambil menatap langit-langit kamar rawat inap itu.
"Apa lagi sih sak?" Sahut Echa malas.
"Belum tidur?" Tanya Sakka.
"Menurut anda? Emang ada orang udah tidur bisa jawab, hah?!" Kesal Echa, entah mengapa sepertinya hari ini Echa berbicara banyak sekali. Berbeda dari sebelumnya yang hanya berdeham jika ditanya.
"Hehehe.." Sakka terkekeh menanggapinya.
"Kok malah ketawa?" Sinis Echa.
"Kamu lucu," singkat Sakka, Echa hanya terdiam pura-pura tidak mendengar.
"Cha," panggil Sakka lagi.
"Hmm?" Echa berdeham malas.
"Aku kangen," kata Sakka yang tengah menatap Echa.
"Cha, kamu denger aku kan?" Ujar Sakka lagi, karena Echa hanya terdiam.
"E-emm, iya." Balas Echa gugup.
"Iya apa?" Tanya Sakka jahil.
"Iya denger," jawab Echa seadanya.
"Sini deh cha," titah Sakka.
"Mau ngapain?" Tanya Echa penasaran.
"Udah sini dulu," Echa pun mendekat ke ranjang rumah sakit yang Sakka tempati.
"Sini," titah Sakka menepuk sisi kasur di sebelahnya yang terdapat sedikit ruang.
"M-maksudnya?" Tanya Echa bingung.
"Tidur sini aja, temenin aku." Ucap Sakka tak bisa dibantah.
Echa seperti terhipnotis olehnya. Dan langsung membaringkan diri di samping Sakka.
"Boleh peluk ya?" Izin Sakka.
Lagi-lagi Echa hanya menangguk kecil menuruti kemauan Sakka. Echa tak bisa menolak kali ini, karena sejujurnya itulah yang hatinya inginkan.
Sakka menarik Echa ke dalam dekapan hangatnya. Dan Echa menyembunyikan wajahnya yang sudah pasti memerah itu ke dalam dada Sakka. Mereka sama-sama menikmati malam yang dingin itu dengan saling menghantarkan kehangatan lewat pelukan yang erat.
"I miss you so bad Cha," kata terakhir yang Sakka ucapkan malam itu ditambah dengan kecupan hangat dikening Echa.
***
__ADS_1
Tbc.