
Seminggu setelah pemakaman Gatha, semuanya berubah. Raya yang tiba-tiba menjadi introvert tetapi masih profesional karena pekerjaannya yang berada di depan publik. Dan Echa yang kembali menjadi workaholic dan dingin, bahkan lebih dingin dari sebelumnya. Hal terburuknya lagi, keduanya sama-sama tak mengetahui kabar masing-masing.
Hubungan Echa dan Sakka pun kembali merenggang. Sakka tak dapat menghubunginya sama sekali. Padahal ia telah menghubungi gadis itu berkali-kali. Sampai akhirnya, ia mencoba untuk memberikan Echa waktu untuk menenangkan dirinya sendiri. Karena semua akses hubungan sosial sepertinya telah Echa tutup seperti dulu. Ia hanya mau berhubungan dengan keluarganya saja dan pekerjaannya, itu juga karena ia harus profesional.
***
Drttt... Drttt...
Suara ponsel yang bergetar di atas meja sang CEO. Yap, siapa lagi kalau bukan Echa. Saat mendengar ponsel disampingnya itu bergetar, Echa memutuskan untuk tak mengangkatnya dan malah memasukkannya ke laci meja.
Drttt... Drtt... Drttt...
Ponsel bergetar untuk kedua kalinya. Ia menghela napasnya kesal dan mengambil kembali ponsel itu di lacinya karena berpikir mungkin itu telepon penting dari seseorang.
'Istri Ayah' itulah nama yang tertera di layar ponsel Echa. Ia pun menggeser tanda hijaunya ke atas.
'Halo bun'
'Halo, assalamualaikum Echa'
'Waalaikumussalam, kenapa bun?'
'Hari ini kamu pulang cepet yah. Kita mau dinner sama keluarganya Gilang, gaenak kalo gak dateng'
'Hm, oke'
'Yaudah bunda tunggu ya, assalamualaikum'
'Waalaikumussalam'
Setelah menutup telponnya. Echa bergeming serta menerawang ke depan seperti memikirkan sesuatu disertai tatapan datar nan dinginnya itu.
***
Satu jam sebelum jam pulang kantor, Echa tengah bersiap. Kemudian keluar ruangannya dan menghampiri meja Aurel, sekretarisnya.
"Rel, saya pulang sekarang ya. Saya udah gak ada jadwal meeting lagi kan hari ini?" Tanya Echa dengan wajah datarnya.
"Oh enggak bu, udah gak ada kok," Jawabnya seraya berdiri dari duduknya.
Echa pun mengangguk paham.
"Yaudah saya pulang ya,"
"Iya bu, hati-hati" ujar Aurel, yang hanya dibalas anggukkan singkat oleh Echa.
***
Makan malam keluarga Echa dan keluarga Gilang kali ini diadakan di Rumah Echa. Saat ini, yang ada di meja makan hanya Gilang dan Echa juga kedua orangtua mereka.
"Echa," panggil Mama Gilang.
Echa hanya menoleh dan memasang wajah penuh tanya dengan senyum tipisnya.
"Echa mau kan kalo pernikahan Echa sama Gilang dipercepat?" Tanya Mama Gilang.
__ADS_1
Deg.
Echa mematung.
Bingung. Itulah yang tengah Echa rasakan saat ini.
"G-gimana tante?" Tanya Echa untuk memastikan. Namun, ia berharap bahwa ia salah dengar.
"Kamu setuju kan kalo pernikahan kamu sama Mas Gilang mu itu dipercepat?" Ulangnya sambil tersenyum teduh.
Glek.
Echa menelan ludahnya, ia memang tak salah dengar kali ini.
"Eee..." Echa memerhatikan satu-persatu wajah para orangtua di depannya.
"Emmm.. Gimana ya tan," ucap Echa ragu-ragu.
Sepertinya, hal ini memang sudah direncanakan. Terbukti dari tatapan serius semuanya.
"Ekhem.. Kenapa harus dipercepat tan?" Tanya Echa.
Mama Gilang tersenyum, kemudian berkata. "Tante sama Om kan udah semakin tua sayang, jadi tante pengen cepet-cepet nimang cucu. Apalagi Gilang kan anak tunggal." Ujarnya.
Echa menghela napasnya lelah. Jujur, ia benar-benar tak ingin membicarakan ini sekarang. Ia pusing, bingung, bimbang rasanya. Dan tak mau memikirkan apapun dulu sekarang.
"Maaf, Echa pikir-pikir dulu ya tante." Kata Echa pada akhirnya.
"Mah.. Gausah maksa kalo Echa-nya belom siap," sahut Gilang.
Echa mengangguk sekilas untuk menanggapi.
"Maaf ya tante," tutur Echa seraya tersenyum canggung.
***
Sinar mentari mulai menyinari bumi dengan kehangatan sinarnya. Sesekali terdengar suara kokok ayam jantan yang bersahut-sahutan. Kicauan burung yang membelah kesunyian pagi dan embun pagi yang membasahi dedaunan. Mulai terdengar hiruk pikuk kota, tanda semua orang mulai sibuk melakukan aktivitasnya.
Pagi ini, di kediaman Rumah Echa. Terlihat satu keluarga yang tengah menyantap sarapan yang dibuatkan sang bunda. Di tengah-tengah suara dentingan sendok yang saling berbenturan, ada suara tak asing lainnya yang berbunyi.
Kringgg.. Kringgg..
"Bun, ada telpon tuh bun." Kata Ayah Echa ketika menoleh ke sumber suara.
"Siapa ya yah pagi-pagi gini nelpon?" Tanya Bunda heran.
"Angkat aja siapa tau penting," titah Ayah.
Bunda pun langsung berjalan ke ruang tengah tempat dimana telepon rumah berada. Dan mengangkat telepon yang sejak tadi berdering.
Tuk.
'Halo, siapa ya?'
'Halo Son, ini Rani,' jawab Rani, kakaknya Ayah Echa.
__ADS_1
'Ohh Mba Rani, ada apa mba? Tumben nelpon pagi-pagi gini,'
'Son ibu Son,'
'Ibu kenapa mba?'
'Ibu jatuh di kamar mandi, tadi pagi baru dibawa ke Rumah Sakit. Kayaknya kamu harus kesini deh Son sama Bram.'
'Astagfirullahalazim, ya allah ibu. Kok bisa mba? Iya-iya hari ini aku kesana,'
"Siapa bun? Ibu?" Tanya ayah yang sudah berada tepat di samping bunda.
'Iya, soalnya kayaknya ini parah Son.'
'Astagfirullah, iya-iya mba, Rani segera kesana.'
'Yaudah mba tutup yah, ini mba udah di Rumah Sakit. Nanti mba sharelock alamat Rumah Sakitnya,'
'Iya makasih ya mba'
Tutt.. Tutt.. Tutt..
"Siapa itu? Mba Rani?" Tanya ayah setelah bunda meletakkan kembali teleponnya.
"Yah, ibu jatuh di kamar mandi kata Mba Rani. Terus udah dibawa ke Rumah Sakit tadi. Tapi kita kayaknya harus kesana sekarang deh,"
"Astagfirullahalazim ibu, Rumah Sakit mana udah dikasih tau?" Kata ayah syok.
"Belum, nanti di sharelock katanya. Aduh ibu lemes yah dengernya." Ujar bunda sambil mendudukkan diri di sofa.
"Yaudah siap-siap kita ke Jogja sekarang," ucap ayah.
"Ke Jogja? Ada apa emang yah?" Tanya Echa yang baru saja menghampiri.
"Kamu anterin Reyhan sekolah dulu ya hari ini. Ayah sama bunda mau ke Jogja, oma sakit." jelasnya.
"Astagfirullah sakit apa?" Kata Echa yang juga kaget mendengarnya.
"Jatuh di kamar mandi." Kata ayah singkat. "Ayo bun, langsung siap-siap." titahnya pada bunda dan langsung naik ke atas untuk bersiap, diikuti bunda.
Setelah ayah dan bunda bersiap untuk berangkat ke Jogja. Dan Echa yang terlihat akan berangkat ke kantor juga mengantar Reyhan, adiknya.
"Cha, nanti kamu kalo mau nyusul sama Reyhan naik pesawat aja yah. Ini ayah sama bunda naik mobil soalnya gak dapet penerbangan mendadak pagi ini." Tutur ayah.
"Oke yah, nanti pas Reyhan pulang sekolah Echa sama Reyhan langsung terbang ke Jogja. Yaudah Echa berangkat ya yah, assalamualaikum." balas Echa seraya salim pada ayah dan bunda, yang diikuti oleh Reyhan.
***
Siang ini setelah Reyhan pulang sekolah, Echa menepati ucapannya. Ia akan bersiap berangkat ke Bandara untuk ke Jogja.
"Rel, untuk beberapa hari ke depan saya mau ke Jogja. Kalo ada yang important kamu kirim lewat email aja ya." Kata Echa yang terlihat buru-buru.
"Baik bu," sahut Aurel yang melihat Echa tengah bergegas pergi.
***
__ADS_1
Tbc.