
Taman yang sedang di tempati oleh kedua insan yang tengah dimabuk asmara itu dijatuhi oleh jutaan ribu air dari langit yang menetes secara tiba-tiba.
"Yah..ujan Cha," keluh Sakka menadahkan tangannya ke langit.
"Terus?" Tanya Echa.
"Ayo kita balik," ajak Sakka seraya menggandeng tangan Echa.
Echa menahannya. Dan bergeming melihat ke langit yang tengah turun hujan itu. Ia terpejam, membiarkan matanya dibasahi oleh air hujan dan menghirup aroma air bercampur tanah tersebut.
"Main hujan-hujanan yuk! " Ajak Echa menoleh pada Sakka sambil tersenyum.
"Kamu yakin?" Tanya Sakka mengernyit heran.
Echa tersenyum miring dan menaikkan sebelah alisnya.
"Kenapa? Takut?" Ledek Echa sambil terkekeh.
Sakka yang melihatnya, hanya bisa melongo menatap Echa. Ia pun ikut terkekeh dan merasa tertantang.
"Kalo besok sakit jangan nyalahin yah," ujar Sakka balik meledek Echa.
"Bilang aja takut, wleee..." Seru Echa memeletkan lidahnya dan berlari menjauh dari Sakka.
"Heyy! Hati-hati licin Echaa.." Teriak Sakka berlari mengejar Echa.
Mereka kejar-kejaran semakin menjauh dari restoran awal tadi. Tertawa bahagia dengan suara gemericik hujan yang menemani mereka.
"Dapettt!" Seru Sakka memeluk Echa dari belakang.
"Ahahahah.. Okee aku kalah," tawa Echa yang terdengar di tengah berisiknya suara hujan.
Sakka melepaskan pelukannya pada Echa. Lalu, Echa berjalan mundur menghadap Sakka.
"Seru yah, main hujan-hujanan gini," riang Echa sambil merentangkan tangannya dan tersenyum.
"Hati-hati Cha, ini licin. Awas ja--" ujar Sakka memperingati Echa yang masih tetap berjalan mundur saat ada tanah yang licin.
Gedebuk!
"tuh," lanjut Sakka.
"Aaaaaa!!" Teriak Echa yang kaget karena terjerembab di sebuah gundukan tanah.
"Kann, tadi kan udah aku bilangin. Makanya jangan banyak tingkah," omel Sakka sambil membantu Echa berdiri.
"Orang telat bilanginnya, malah diomelin," cibir Echa memajukan bibir bawahnya.
"Yaudah maaf. Sini naik," titah Sakka jongkok membelakangi Echa.
"Ngapain? Kamu mau bikin aku mati?" Cela Echa mengernyitkan keningnya.
"Heh! Ngomongnya!" Ketus Sakka melirik Echa.
"Hh, lagian ini licin Sakka. Kan kamu sendiri yang bilang," ucap Echa.
"Udah tenang aja. Aku kuat," kekeuh Sakka.
"Siap si paling kuat!" Balas Echa menyindir.
"Ayo buruan naik Echa, keburu ujannya makin deres," omel Sakka lagi.
"Ck, iyaiya!" Pasrah Echa kemudian menaiki punggung Sakka perlahan.
Sakka pun mulai berjalan perlahan dengan Echa digendongannya.
"Pelan-pelan ya Sak," kata Echa memperingati.
"Iya sayang," perkataan singkat Sakka yang mampu membuat pipi Echa bersemu.
__ADS_1
... ...
***
"Kita mampir ke Coffee Shop itu dulu yah," tawar Sakka ketika melihat Coffee Shop tak jauh di depannya.
"Oke," sahut Echa.
Sesampainya di Coffee Shop tersebut, ternyata banyak sekali orang-orang yang meneduh disana dengan pakaian yang sama basahnya dengan Sakka dan Echa.
"Mba, hot americano nya satu ya. Kamu apa sayang?" Ujar Sakka pada barista disana.
Entah mengapa, pipi Echa mudah sekali bersemu hanya karena panggilan lama yang tak pernah ia dengar lagi itu.
"Cha?" Tegur Sakka menepuk pundak Echa.
"Ha? Iyah?" Linglung Echa mengerjapkan matanya.
"Kamu mau pesen apa?" Tanya Sakka sekali lagi.
"Eungg- aku... Hot chocolate aja deh," kata Echa setelah melihat menu yang terpajang.
Setelah menerima minuman, mereka mencari tempat duduk yang berhadapan. Dan tepat di dekat jendela besar yang memperlihatkan hujan yang masih sangat deras di luar sana.
... ...
"Makin deres lagi ujannya, kita pulangnya gimana?" Keluh Echa seraya menatap jendela.
"Tunggu ujannya berhenti gapapa yah? Nanti aku yang ngomong sama bunda kalo kita pulang telat," ucap Sakka menenangkan Echa.
"Emang sekarang jam berapa?" Tanya Echa penasaran menoleh pada Sakka
"Masih jam 9 sih," jawab Sakka.
"Semoga ujannya berhenti sebelum jam 11 deh, biar kita pulangnya aman," cemas Echa mengalihkan pandangannya ke jendela lagi.
"Maaf yah.. Aku gak ngira bakal hujan. Harusnya tadi aku bawa mobil aja," sesal Sakka menatap Echa.
"Kamu marah ya?" Cicit Sakka melirik Echa.
"Ngga sayangg... Ups!" Kata Echa menoleh pada Sakka.
Lalu ia membulatkan matanya kaget dan mengulum bibirnya ke dalam. Serta menunduk salah tingkah karena, Sakka menatapnya sambil menaikkan sebelah bibirnya. Kemudian memainkan bibirnya di dalam mulutnya sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Begitulah malam panjang yang mereka habiskan berdua. Terlihat Echa yang malam itu bisa seketika balik menjadi dirinya yang dulu. Walaupun masih sedikit canggung di beberapa keadaan. Dan Sakka yang perasaannya sangat senang bukan main. Karena, bisa menghabiskan waktu seperti ini bersama Echa.
Setelah mereka ngobrol beberapa saat, hujan akhirnya berhenti. Dan mereka bisa langsung berjalan kembali pulang ke rumah tepat waktu.
***
Weekend sore ini dengan cuaca yang sangat bagus, daun yang bergerak teratur karena tertiup angin, dan hembusan angin sejuk terdengar menggerakkan tirai penutup jendela.
Namun, tak tahu ada angin apa yang hinggap padanya, Echa, sang workaholic satu ini tetap berada di rumah seharian ini. Sepertinya ia mulai penat akan dunia pekerjaannya saat ini. Ia hanya ingin rehat sejenak untuk merefresh dirinya kembali.
Kriiinggg!
"Hhh.. Siapa sih?" Helaan napas terdengar dari bibir manis Echa yang tengah berbaring di kasur.
Kriiinggg!
"Ck, sabar!" Mau tak mau akhirnya gadis itu bangun dari kegiatan berbaringnya untuk mengambil ponselnya di atas nakas.
'Halo Cha, lo dimana?' Suara Raya menggema dari balik ponsel.
'Di rumah, kenapa?' Datar Echa
'Gatha udah siuman Cha'
Satu kalimat pernyataan dari Raya mampu membuat Echa membeku. Menegakkan badannya dan meluruskan pandangannya ke depan seraya tersenyum haru.
__ADS_1
'Akhirnya..hhh...' hanya satu kata yang dapat keluar dari mulut Echa saat itu.
'Iya akhirnya Cha, alhamdulillah' kata Raya seperti ikut tersenyum di sebrang sana.
'Lo lagi di rumah sakit nya?' Tanya Echa.
'Belom, nanti kita bareng aja kesananya' jawab Raya.
'Ayo kesana sekarang.' Ajak Echa.
'Tapi ini udah terlalu sore Cha, gue takut ganggu waktu istirahat dia yang baru aja siuman,' balas Raya.
'Tapi gue mau kesana sekarang' kekeuh Echa.
'Cha!' selak Raya sedikit teriak.
'Ray! Seterah lo mau ikut atau ngga. Pokoknya gue mau kesana sekarang.' Kekeuh Echa lagi tak bisa dibantah.
'Hhh.. Yaudah yaudah, gak ada yang bisa nolak kemauan bu CEO,' pasrah Raya mengikuti kemauan Echa.
Echa hanya terdiam, tak membalas apapun mendengar ucapan Raya yang seperti itu.
'Yaudah, gue yang jemput lo ya,' lanjut Raya lagi.
'Hm, gue tutup' singkat Echa.
Tut..tutt..tutt..
Sambungan ponsel itu langsung dimatikan sepihak oleh Echa setelah berucap seperti tadi. Tanpa menunggu balasan apapun dari Raya.
***
Saat ini Echa tengah bersiap untuk menjenguk Gatha, sahabatnya yang baru siuman, di rumah sakit.
"Kakkk!" Teriak Reyhan, adik Echa, dari lantai bawah.
"Apaaa??" sahut Echa balas teriak.
"Ada temen lo nungguin di bawahh!" Teriak Reyhan lagi.
"Itu pasti Raya, tumben cepet datengnya tuh anak," gumam Echa.
"Iyaaa, bilang tunggu bentarr!" Teriak Echa lagi sambil mengambil tas nya dan langsung turun ke bawah.
***
"Reyhan... Kan bunda nyuruhnya samperin kakak ke atas, bukan teriak-teriak kayak gitu," omel bunda yang tengah duduk bersama seorang tamu di sebelahnya.
"Hehe.. Maap bun, reyhan males ke atas lagi," cengir Reyhan dan langsung kabur menuju dapur, tujuan ia turun ke bawah tadi.
"Hm, dasar anak itu," gumam bunda Echa pelan.
"Maaf ya, Reyhan emang kayak gitu anaknya," kata bunda tak enak kepada tamu di sebelahnya karena mendengar teriakan-teriakan kedua anaknya tadi.
"Iya gapapa b--" ucapan tamu tersebut terpotong oleh kedatangan Echa dari arah tangga.
"Ayo ray kita berangkat." Ujar Echa sambil menunduk merapikan bajunya dan belum melihat siapa temannya yang dibilang Reyhan tadi.
"Raya?" Kata bunda mengernyit dan menoleh ke Echa.
Echa yang mendengar pertanyaan bundanya yang aneh seperti itu, langsung mendongakkan kepalanya.
"Sakka??" Kata Echa mengernyitkan keningnya.
Betapa herannya ia saat ini, karena ternyata yang datang bukanlah Raya. Melainkan sang mantan, Sakka, yang kemarin baru saja ia temui. Ada apa gerangan mantannya itu datang ke rumahnya?
***
Tbc.
__ADS_1
a/n:
Jangan lupa vote dan komen yaaa. Terimakasiii