
Kringg.. kringg...
Bunyi ponsel tanda terdapat panggilan masuk di ponsel Echa.
'Halo Ray?' sapa Echa pada orang di telpon.
'Halo Cha, lo hari ini mau jenguk Gatha gak?' tanya Raya to the point.
'Iya, kenapa?' balas Echa.
'Bareng yuk, gue jemput lo. Kebetulan gue lagi jalan deket kantor lo,' kata Raya.
'Boleh, gue juga bentar lagi selesai,' ujar Echa seraya melihat laptop di depannya.
'Oke, gue otw ya.' sahut Raya.
Echa tak menyahut lagi dan langsung menutup sambungan teleponnya. Kemudian melanjutkan pekerjaan nya yang sebentar lagi selesai itu.
***
Sejak tadi Echa tengah menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya sambil menunggu Raya. Sudah hampir setengah jam Echa menunggu kedatangan sahabatnya itu. Biasanya Raya langsung masuk saja ke ruangannya, namun sampai saat ini Raya belum terlihat juga. Echa menghela napas seraya melihat jam di tangannya. Apa terjadi sesuatu?
"Hufftt.. Raya kok belum nyampe juga ya?" Gumam Echa, kemudian beranjak dari duduknya untuk keluar ruangan.
Echa melangkahkan kakinya ke luar ruangan dan turun menggunakan lift menuju resepsionis. Saat baru saja menginjak lantai satu, Echa melihat sekumpulan karyawannya tengah berkerumunan. Harusnya itu hal yang wajar karena ini memang sudah jam pulang kantor. Namun, Echa memiliki firasat tak enak akan hal itu.
Akhirnya ia memutuskan untuk mendekati kerumunan itu. Saat beberapa langkah lagi sampai di kerumunan, Echa menangkap ada seseorang yang tak asing di tengah kerumunan itu.
Raya.
Ya! Raya, sang artis idola masyarakat lah yang saat ini tengah dikerumuni oleh karyawannya yang ingin meminta foto atau tanda tangannya. Echa melihat Raya tak nyaman berada ditengah kerumunan itu. Karena, pasti sudah sedaritadi Raya dikerumuni seperti itu sampai ia tak kunjung datang ke ruangan Echa.
"Ekhem," Echa berdeham agak keras di dekat kerumunan tersebut.
Para karyawan termasuk Raya pun menengok kaget ke arah orang yang baru saja berdeham itu.
"Bubar," satu kata yang Echa keluarkan disertai tatapan dinginnya mampu membuat seluruh karyawan yang mengerumuni Raya pergi menjauh seraya menunduk patuh.
"Huffttt.. Untung aja lo cepet kesini Cha. Kalo ngga, bisa sampe malam kali gue disitu." Keluh Raya menghampiri Echa.
"Gausah lebay, ayo ke ruangan gue. Gue ambil tas dulu," sahut Echa meninggalkan Raya dibelakangnya.
***
__ADS_1
"Nih," ujar Echa sambil memberikan minuman botol pada Raya.
"Thanks." Balas Raya dan langsung meminum minuman tersebut.
"Lo kenapa gak kabur atau minta tolong satpam aja sih tadi?" Tanya Echa sambil membereskan barang-barangnya.
"Sebenernya di awal gue gapapa kalo ada yang minta foto, tapi kok lama-lama makin banyak. Minta tolong satpam aja gabisa, apalagi kabur Cha. Lagian juga ini kantor lo, jadi gue yakin lo akan nyelamatin gue," mesem Raya yang tengah duduk di sofa ruangan sang CEO itu.
"Hhh.. Dasar," Echa mendengus seraya memutar matanya malas.
"Lagian ini berarti bagus dong Cha, itu tandanya gue udah mulai terkenal," ujar Raya.
"Emangnya lo ngapain? Ada projek baru?" Tanya Echa datar.
"Hhhh, gini nih kalo cuma sibuk sama tumpukan berkas sampe sahabatnya debut film aja dia gatau," kesal Raya.
"Film? Lo main film?" Tanya Echa mengernyitkan keningnya.
"Iyya, posternya udah keluar dan bentar lagi filmnya launching," jawab Raya.
"Waw, keren juga sahabat gue," sahut Echa seraya menaikkan bibirnya sebelah.
"Kirin jigi sihibit giwi. Hilih! Nonton dong lo, film pertama gue nih," kata Raya merengut.
"Jangan ham hem ham hem doang Echaaa, serius gue!" Kesal Raya menatap tajam Echa.
"Iyaa," singkat Echa seraya duduk di samping Raya.
"Bener ya?" Tanya Raya memastikan.
"Iya. Sama Gatha juga kalo udah sembuh," sendu Echa menoleh ke arah Raya.
"Saat film gue launching, gue yakin Gatha udah sembuh kok," yakin Raya sambil menatap Echa dan tersenyum kecil.
"Semoga." Singkat Echa seraya mengangguk kecil.
***
Echa dan Raya akhirnya sampai di Rumah Sakit. Mereka berdua meminta izin pada dokter untuk membolehkan mereka masuk ke Ruang ICU bersama. Setelah memakai pakaian khusus kedokteran dan masuk ke dalam, mereka menghampiri Gatha yang masih memejamkan matanya itu.
"Assalamualaikum Tha," ucap Echa sendu menatap sahabatnya yang masih betah terbaring di brankar.
"Gue kangen Tha," lanjut Echa.
__ADS_1
"Please bangun, kenapa lo betah banget sih tidur kayak gini?" Monolog Echa menahan air matanya yang tengah membendung di pelupuk mata.
"Tha, lo tau ga? Gue debut film loh," kini giliran Raya yang bersuara namun, dengan suara yang tersendat karena ia telah menahan tangis sedari tadi.
Raya membungkukkan badannya dan berbisik pada Gatha.
"Cepetan bangun yah, Echa ngajakin lo nonton film gue tau. Lo mau kan? Hikks," bisik Raya tergugu.
Raya tak kuasa sampai akhirnya meneteskan air matanya dan mengalir di pipi Gatha. Kemudian menegakkan badannya lagi dan menghapus air matanya seraya berusaha tersenyum.
Echa yang sedari tadi juga menahan tangisnya melihat itu, memegang tangan Raya seakan menguatkan. Raya pun menoleh dan tersenyum. Mereka berpegangan erat untuk saling menguatkan. Mereka berusaha tersenyum namun, tak dapat dipungkiri air mata keduanya masih terus mengalir dalam diam.
***
Setelah menenangkan diri dari tangisan tadi. Echa dan Raya keluar dari Ruang ICU itu.
"Cha, gue masih ada jadwal syuting lagi. Lo mau langsung gue anterin pulang?" Tawar Raya sambil membenarkan tas slingbag-nya.
"Gausah gapapa. Gue masih ada urusan juga disini," balas Echa datar.
"Urusan apa?" Tanya Raya mengernyitkan kening.
Echa terdiam seraya melipat bibirnya ke dalam dan mengalihkan pandangannya dari Raya. Karena lama Echa tak kunjung menjawab juga, akhirnya Raya menduga-duga.
"Emm, tau nih gue bau-baunya. Lo pasti udah ketemu Sakka ya disini?" Tebak Raya seraya tersenyum menggoda.
Echa memejamkan matanya sambil menghela napas. Ia seperti tertangkap basah.
"Iyyaa! Dan dia cerita semua kenapa dia bisa sampe kayak gitu," ujar Echa memberitahu.
"Oh ya? Waktu itu gue tanya dia, katanya ceritanya panjang banget. Pokoknya lo harus cerita sama gue dan Gatha nanti," sahut Raya.
"Hmm, next time gue cerita," balas Echa menanggapi.
"Dari cerita dia, ternyata itu semua gara-gara gue. Makanya gue janji bakal ngerawat dia sampe sembuh," kata Echa lagi dengan wajah datarnya.
"Ck, jangan kebiasaan nyimpulin sendiri kayak gitu. Apalagi sampe nyalahin diri lo sendiri. Gak boleh tau Cha," sinis Raya, dan Echa hanya bergeming ditempatnya.
"Yaudah, semoga lo langgeng ya sama Sakka," kata Raya lagi seraya tersenyum, yang dibalas tatapan sinis oleh Echa.
"Eheheh..gue cabut duluan," pamit Raya seraya menepuk pundak Echa, yang dibalas anggukan oleh gadis itu.
***
__ADS_1
Tbc.