
...Happy Reading...
Sudah tiga hari Echa berada di kampung halamannya ini, yaitu Jogja. Rutinitas sehari-harinya hanyalah bergantian menunggui oma di Rumah Sakit dan mengecek email kantor yang masuk. Membosankan? Tentu tidak. Bagi Echa ini adalah healing sesungguhnya. Inilah yang Echa butuhkan sejak lama, hanya di dekat keluarga tetapi tetap menjalankan tugasnya di kantor.
"Bun, ibu udah melewati masa kritisnya kata Mba Rani. Dan sekarang udah dipindahin ke ruang rawat inap. Besok pagi aja ya kita kesananya," Ujar ayah menghampiri bunda di dapur yang tengah memasak makan malam.
"Yaudah besok pagi kita semua pergi ke Rumah Sakit bareng-bareng," balas Bunda.
***
Saat Echa sekeluarga memasuki ruang rawat inap oma-nya, terlihat oma memang benar sudah terlihat membaik. Terbukti dari oma yang tengah berbincang dari Bibi Echa, Rani.
"Omaa..." Sapa Echa pelan sambil berjalan mendekati ranjang oma.
Bibi Rani dan Oma pun menoleh seraya tersenyum. Kemudian, Echa menyalami oma-nya diikuti oleh Reyhan, ayah, dan bunda.
"Oma gimana keadaannya? Udah membaik? Echa kangen tauu,"
Echa berusaha menutupi segala macam kesedihannya dengan keceriaan di depan semuanya, terutama oma. Ia memeluk seraya mengusap pelan lengan oma-nya.
"Oma baik, apalagi kalo cucu oma mau ngabulin permintaan oma," balas oma dengan senyuman yang sendu.
Mendengar hal itu, Echa tersenyum kikuk. Ia menghela napas lalu menyengir memperlihatkan giginya secara canggung.
"Echa udah mau tunangan kok oma. Pokoknya nanti oma harus liat pas Echa tunangan sampe Echa nikah. Oke?" kata Echa berusaha meyakinkan oma-nya.
Sejujurnya, Echa sendiri tidak yakin dengan apa yang ia ucapkan. Ayah, bunda, dan yang lainnya pun belum tahu maksud dari ucapan Echa. Namun, Echa telah memikirkan semuanya. Dan ia akan memberitahu kepada semuanya nanti.
"Alhamdulillah. Kapan? Sekarang aja tunangannya, oma mau liat." Tutur oma yang langsung sumringah.
"Emm, kan gabisa mendadak oma."
"Gak ada yang gabisa sayang. Pokoknya oma mau Echa tunangannya besok." Ucap oma tak terbantahkan.
"Emm..." gumam Echa seraya melirik ke mata ayah dan bundanya.
"Buu, udah ibu sekarang istirahat dulu. Ibu kan baru sembuh, iya besok Echa langsung tunangan." Sahut ayah.
"Iya mending sekarang ibu istirahat, biar besok bisa liat Echa tunangan kan," tambah bunda.
"Iya, pokoknya ibu mau liat Echa tunangan besok." Ujarnya.
__ADS_1
Setelah itu, ayah, bunda, dan Echa keluar dari ruangan. Sedangkan Bibi Rani sudah pulang dan Reyhan sedang menjaga oma yang tengah berisitirahat di dalam.
"Maksud kamu apa sayang ngomong gitu ke oma?" Tanya bunda.
Echa terlihat terdiam sejenak dan menarik napas sebelum hendak berucap.
"Kamu udah janjiin oma kayak gitu. Berarti kamu harus menepati janji kamu, Echa." Tutur ayah karena Echa belum kunjung menjawab.
"Echa tunangan aja dulu sama Mas Gilang." Ujar Echa.
Bunda mengernyit, lalu berkata. "Cha, kalo kamu udah mau terikat kayak gitu. Kamu gaboleh ngecewain siapa-siapa."
Echa paham apa yang dimaksud bundanya. Bunda sudah tahu dan mengerti, bahwa Echa masih keberatan dengan perjodohannya dengan Gilang. Karena, masih ada seseorang dalam hatinya.
Echa bergeming seraya mematangkan keputusannya. Sedangkan ayah hanya diam menyimak kedua ibu dan anak ini berargumen. Dan bunda yang masih menatap Echa dengan tatapan seriusnya.
"Ini bukan hal yang bisa dipermainin ya Echa." Kata bunda.
"Demi oma bunda," balas Echa yang juga menatap bundanya.
"Tapi kamu bisa bilang sejujurnya aja sama oma."
"Echa gamau ngecewain oma bun," ujar Echa seraya menunduk.
"Kalo keputusan kamu udah bulat, bunda akan hubungi mamanya Gilang. Bunda ingatkan, jangan sampai Echa mengecewakan banyak orang, termasuk diri kamu sendiri." Ujar bunda tegas dan langsung masuk ke dalam ruangan oma lagi.
"Ayah percaya kamu sudah memikirkan semuanya." Ucap ayah seraya memeluk Echa, lalu pergi menyusul bunda ke dalam.
Echa termenung dan terduduk sendirian di kursi yang tersedia di depan ruang rawat inap oma. Berharap bahwa keputusannya sudah tepat.
Setelah lama berdiam diri di depan ruangan, Echa masuk ke dalam ruangan oma lagi. Namun, baru saja saat ia hendak membuka pintu, pintu sudah terbuka dari dalam dan terlihat bunda yang keluar dari ruangan.
"Bunda udah nelpon mamanya Gilang dan mereka setuju kalo kalian besok tunangan. Bunda juga udah nyiapin semuanya, acaranya cuma keluarga aja kita adain di ruangan oma, karena oma belum boleh keluar. Dan besok pagi keluarganya Gilang udah sampe di Jogja, nanti kamu jemput yah dibandara." Jelas bunda terkesan dingin, yang dibalas anggukan oleh Echa.
"Masuk, oma nyariin. Bunda sama ayah mau keluar dulu." Titah bunda, kemudian berlalu pergi bersama ayah.
***
Pagi ini Echa sudah berada di Bandara Adisutjipto Yogyakarta. Ia tengah menunggu kedatangan keluarga Gilang yang kata bunda sampai di Jogja pagi hari.
Sudah hampir jam delapan, Echa yang mengenakan pakaian casual-nya telah berkali-kali menoleh ke kanan dan kiri untuk menemukan mereka.
__ADS_1
"Mas Gilang.." Teriak Echa sambil melambaikan tangan saat melihat Mas Gilang dan mama papanya dari kejauhan.
Gilang yang kelihatan mencari sumber suara, akhirnya menoleh pada Echa dan ia terlihat menunjuk ke arah Echa--sepertinya memberitahu orangtuanya--.
"Echa.. Apa kabar sayang?"
"Baik tante alhamdulillah, gimana flight-nya? Aman?" Tanya Echa sambil menyalami dan memeluk Mama Gilang.
"Alhamdulillah..aman, bunda dan yang lain gimana kabarnya? Kalian ke sini karena Oma mu sakit ya katanya?" Cerocos Mama Gilang sambil berjalan ke arah mobil Echa, yang diikuti oleh Gilang dan Papanya di belakang mereka.
"Ayah bunda semuanya sehat tante. Iya oma sakit, terus sempet masuk ICU juga, makanya kita masih stay disini." Jelas Echa.
"Eh Cha, biar aku aja yang bawa mobilnya. Kamu duduk di belakang aja sama mamah," Ujar Gilang mengambil alih kunci mobil ketika Echa hendak membuka pintu mobil bagian pengemudi.
"Ohh oke-oke mas, nanti Echa tunjukin jalannya." balas Echa.
"Yaudah kalo gitu Echa duduk di depan aja sama Gilang," timpal Mama Gilang.
"Oke tan," balas Echa seraya mengangguk.
Keluarga Gilang menginap dan akan menghabiskan waktunya di Jogja dengan menyewa Villa yang dekat dengan Villa Echa juga. Selama perjalanan ke Villa, Echa dan Gilang terasa awkward. Mereka hanya berbincang saat membicarakan dimana letak Villa-nya. Echa lebih banyak mengobrol dengan Mama Gilang saja dan Papa Gilang yang sesekali menimbrung.
Setelah sampai di penginapan, Echa membantu mereka untuk menata barang bawaan mereka. Saat ini, mama papa Gilang sedang berada di dalam, sedangkan Gilang meminta Echa untuk berjalan-jalan sebentar di sekitar penginapan.
"Aku denger, kamu yang minta kita tunangan sekarang?" Tanya Gilang yang tengah berjalan pelan sambil memasukkan tangannya ke saku celana.
"Iya mas. Oma minta Echa segera menikah," jawab Echa yang berjalan di samping Gilang.
Mendengar jawaban Echa, Gilang mendadak memberhentikan langkahnya dan menoleh pada Echa.
"Berarti kamu terpaksa?" Tanya Gipang santai namun terkesan mengintimidasi.
Echa menunduk, bingung harus menjawab apa.
"Insyaallah Echa gak akan ngecewain Mas Gilang kok. Echa akan berusaha buka hati lagi untuk Mas Gilang," jawab Echa sambil tersenyum simpul.
"Kamu yakin Cha?"
"Iya Mas Gilang." balas Echa masih dengan senyumannya yang meyakinkan.
Gilang yang melihat keyakinan di mata Echa pun ikut tersenyum. Kemudian, menggandeng tangan Echa dan kembali berjalan lagi.
__ADS_1
***
Tbc.