Nikah Sama Mantan

Nikah Sama Mantan
25. Gugup


__ADS_3

Echa yang mendengar pertanyaan bundanya yang aneh seperti itu, langsung mendongakkan kepalanya.


"Sakka??" Kata Echa sambil mengernyitkan keningnya.


Betapa herannya ia saat ini, karena ternyata yang datang bukanlah Raya. Melainkan sang mantan, Sakka, yang kemarin baru saja ia temui. Ada apa gerangan mantannya itu datang ke rumahnya?


"Kamu ngapain disini?" Tanya Echa menghampiri kedua orang yang tengah duduk di sofa ruang tamu itu.


"Echaa... Kok ngomongnya gitu?" Tegur bunda kepada Echa.


"Eh? Eum.. Maksud Echa bukan ngusir bunda. Echa heran aja kok Sakka bisa ada disini?" Jelas Echa takut bundanya salah paham.


"Ya mungkin Sakka mau ngajak kamu jalan," ucap bunda yang duduk di sofa single ruang tamu.


"Loh? Tapi Echa mau ke rumah sakit sekarang," ujar Echa sambil duduk di sofa sebrang Sakka.


"Siapa yang sakit Cha?" Tanya Sakka yang sejak tadi diam.


"Gatha udah siuman," singkat Echa yang entah kenapa merasa gugup bertemu Sakka.


Ia menundukan kepalanya. Menghindari tatapan Sakka yang tengah memandangnya. 


"Loh Gatha udah siuman? Kapan?" Tanya Bunda memastikan.


"Udah bunda. Tadi Raya nelpon, makanya Echa mau kesana sekarang sama Raya. Bentar lagi Raya dateng buat jemput Echa," jelas Echa menoleh pada bundanya.


"Yaudah sama aku aja Cha kesananya," tawar Sakka yang sejak tadi memerhatikan gadis di depannya.


"Eh? Gausah Sak, aku sama Raya aja," tolak Echa sambil menggoyangkan tangannya di depan tubuhnya, tanda menolak.


"Gapapa Echa sama Sakka aja, masa dia udah dateng kesini tapi kamunya malah pergi," sahut Bunda pada Echa agar, menerima ajakan Sakka.


"Tapi Raya udah bilang mau jemput bun," ujar Echa masih berusaha menolak.


"Ya kamu telpon Raya sekarang makanya biar dia gak keburu berangkat," titah bunda.


"Hhh.. Oke! Aku telpon Raya sekarang," dengus Echa tak senang.


Echa pun keluar untuk menghubungi Raya dan memberitahu bahwa ia tak perlu dijemput. Agar, Raya tak keburu datang kesini untuk menjemputnya. Setelah selesai menelpon Raya, Echa tak masuk ke dalam lagi tetapi malah tetap di luar. 


"Ayo Sak, buruan!" Teriak Echa dari luar.


Kedua orang yang masih berada di dalam rumah menunggu Echa selesai telponan itu pun sedikit tersentak karena teriakan gadis cantik tersebut dari luar. 


"Yaudah kalo gitu, Sakka pamit dulu ya bunda, assalamualaikum," pamit Sakka seraya salim ke Bunda Echa.


"Waalaikumussalam, hhh.. Echa.. Echa.." gumam bunda menggelengkan kepalanya karena tingkah sang putri.


***


Di dalam mobil, Echa dan Sakka hanya diem-dieman. Tak saling menoleh apalagi mengobrol. Dengan Echa yang melihat ke jendela mobil sejak tadi dan Sakka yang fokus menyetir mobil. Namun, karena rasa penasarannya, Sakka akhirnya memecahkan keheningan itu. Sakka heran ada apa dengan gadis di sampingnya ini. Mengapa gadis itu sejak tadi hanya berdiam diri? Padahal kemarin Echa-nya itu sudah kembali seperti dulu.


"Kok daritadi diem aja Cha?" tanya Sakka to the point.


"Ya masa harus kayang," jutek Echa yang sekarang menoleh. Namun, menoleh ke depan bukannya ke sang mantan.


"Aku ada salah? Perasaan kemarin kamu udah mau membuka hati dan kembali kayak dulu," terang Sakka blak-blakan.


Sakka hanya ingin tahu dengan pasti apa yang dirasakan gadis itu. Apakah perasaannya masih sama seperti dulu? Apakah masih ada nama Sakka dihatinya? Ia tak tahan ingin menjadikan Echa miliknya lagi.


Mendengar perkataan Sakka, Echa terdiam bimbang. Ia bingung harus berkata seperti apa. Karena, saat ini hati dan pikirannya seakan bertentangan. Setelah lama bergeming, Echa menarik napasnya dalam dan menghembuskan perlahan.


"S-sakka, s-sebenernya Echa.. Mmm.." gugup Echa setengah mati. 


"Kenapa Cha? Ngomong aja," desak Sakka sambil menepikan mobilnya.


Setelah memasang rem tangan dengan benar, Sakka memiringkan tubuhnya menghadap Echa dan memandang teduh gadis di depannya itu. Echa yang sadar bahwa Sakka ingin sekali dirinya terbuka kali ini, melipat bibirnya ke dalam dan menunduk.


"Jantung Echa gabisa diem Sakkaaa! Echa deg-degan! Makanya Echa gugup kalo ngeliat Sakka!" Kata Echa malu-malu seraya menutupi wajah dengan tangannya.


Sakka yang sedari tadi tengah memandang Echa dengan lekat pun melongo. Ia membulatkan matanya dan mulutnya terbuka kaget karena tingkah gadis itu. Lalu, ia mengerjapkan matanya dan bibirnya berkedut menahan senyum yang akan terbit seraya mengalihkan pandangannya.

__ADS_1


Gadisnya itu gemasss sekaliii, pikir Sakka.


Beberapa menit saling bergeming, Sakka menghela napas panjang sambil memejamkan matanya dan menelan ludahnya. Kemudian, membasahkan dan mengulum bibirnya ke dalam. Perlahan, ia melirik Echa yang masih setia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Apa jangan-jangan gadisnya itu tertidur? Ga mungkin kan?, pikir Sakka


"Cha," panggil Sakka yang sudah sepenuhnya menoleh pada Echa.


"Hm?" cicit Echa yang suaranya teredam karena tertutup tangannya.


"Sini," titah Sakka ambigu.


"Apa?" sahut Echa.


"Jangan ditutupin mukanya," ujar Sakka sambil menarik tangan Echa dari wajah gadis itu.


Echa menghela napasnya dalam dan masih menunduk malu. 


"Sini," titah Sakka lagi yang sama sekali tak Echa mengerti maksudnya apa.


"Ngapain?" Ketus Echa.


"Sini liat aku," ujar Sakka, dan Echa pun menurut. 


Gadis itu perlahan menghadapkan tubuhnya ke arah Sakka. Belum sepenuhnya memiringkan tubuhnya, Sakka sudah menarik lengan Echa untuk mendekapnya. Ia mendekap Echa dengan sangat erat, menghirup aroma yang menguar dari tubuh gadis yang sampai saat ini masih ada di hatinya itu. Echa yang seakan tak bisa napas, mencoba untuk melepaskan pelukan Sakka. Namun, tenaganya tak cukup kuat untuk melepaskan pelukan itu sepihak.


"Balas pelukan aku Cha," lirih Sakka yang merasa Echa akan melepas pelukannya.


Mendengar suara Sakka yang seperti itu, Echa tersentuh dan akhirnya membalas pelukan Sakka tak kalah erat. Mereka saling mendekap dengan erat, menyalurkan perasaan sayang yang masih ada di hati keduanya. 


"Aku sayang banget sama kamu Cha," ucap Sakka tepat di telinga kiri Echa.


Setelah lama berpelukan dengan sangat erat dan nyaman, tiba-tiba terdengar suara sesenggukan kecil dari salah satunya.


"Hiks hiks.." 


"Echa? Kamu nangis? Kenapa?" tanya Sakka beruntun sambil melepaskan pelukannya untuk melihat wajah Echa.


"Ehh?? Maap-maap hii.." ringis Sakka dan menjauhkan kakinya dari kaki Echa.


Ia antara merasa bersalah dan menahan tawa, karena bisa-bisanya Echa merusak momen romantisnya dengan hal seperti ini.


"Huaaa..sakitt! Udah pelukannya kenceng banget terus kaki echa diinjek jugaa, huaaaa.." tangis Echa semakin kencang kala melihat laki-laki di hadapannya justru malah menahan tawa bukannya kasihan.


"Maaf Cha.. Aku ga sengaja," ujar Sakka yang membungkuk untuk mengelus kaki Echa sembari menatap gadis manis tersebut.


***


Setelah sampai di Rumah Sakit, mereka langsung masuk ke dalam dan berjalan menuju ruang rawat inap Gatha, yang biasa Echa dan Raya tempati untuk menginap. 


"Ray," teriak Echa kala melihat Raya yang terlihat sedang berbicara dengan salah seorang suster.


Raya yang dipanggil pun menoleh sekilas ke Echa dan kembali menoleh pada suster tersebut.


"Oke makasih ya sus," ujar Raya pada suster itu. Dan suster itupun pergi dari sana.


Echa pun berjalan menghampiri Raya. 


"Ada apa?" Tanya Echa ketika telah sampai berada di depan Raya.


Bukannya menjawab, Raya malah memicingkan matanya pada seseorang yang sejak tadi di samping Echa. 


"Ray?" Tegur Echa.


"Lo ngapain?"


Bukan, pertanyaan itu bukan ditujukan ke Echa. Melainkan pada orang di sebelahnya, Sakka.


Echa yang mengerti tatapan kebingungan dari Raya itu pun langsung paham maksud dari sahabatnya itu.


"Nanti gue jelasin," kata Echa singkat, padat, dan jelas. Dan jangan lupakan ekspresi datar di wajah gadis cantik itu.

__ADS_1


"Hmm, oke," ia menghela napasnya pelan. Lalu, menoleh pada Echa untuk memberitahu sesuatu. "Tadi kata suster barusan, Gatha udah di pindah ruangannya bukan di ruang rawat ini lagi," lanjut Raya seraya menunjuk ruangan di depannya dengan dagu.


"Terus dimana?" Tanya Echa sambil menaikkan alisnya.


Raya terlihat mengerutkan keningnya, seperti sedang mengingat sesuatu.


"Di ruang VIP, Bouganville nomer 5," kata Raya.


"Yaudah ayo," ajak Echa, yang dibalas anggukan oleh Raya.


Lalu, keduanya pun pergi ke ruangan yang telah Raya sebutkan tadi.


***


"Kayaknya bener ini ruangannya," gumam Echa melihat penanda ruangan.


"Yaudah coba gue ketok ya," ujar Raya.


Belum sempat Raya mendaratkan kepalan tangannya ke pintu, pintu tersebut sudah terbuka lebih dulu. 


"Eh? Eum.. maaf bu, baru mau di ketok pintunya udah kebuka duluan aja," ucap Raya dengan cengirannya, sambil menyalami Ibu Gatha diikuti dengan Echa juga Sakka.


"Gapapa, Ibu udah feeling kalo kalian udah nyampe, makanya Ibu keluar. Takut salah ruangan, soalnya Ibu lupa kasih tau tadi," jelas Ibu Gatha. 


Ya memang, sebelum Raya berangkat kesini, dia memberitahu Ibu Gatha bahwa ia dan Echa akan berkunjung menjenguk. Namun, rupanya Ibu Gatha lupa memberitahu Raya kalau anaknya sudah pindah ruangan.


"Iya bu, gapapa. Kalo boleh tau, emang kenapa pindah ya bu ruangannya?" Tanya Raya penasaran.


"Gapapa, biar Gatha nya lebih nyaman aja," jawab Ibu Gatha yang dibalas anggukan oleh Echa dan Raya.


"Ohiya maaf sebelumnya, Gatha-nya lagi tidur sekarang dan kata dokter karena masih baru banget sadar, dia belum boleh banyak bicara. Jadi kalian ke dalem cuma bisa liat aja ya, tapi jangan sampe kebangun Gatha-nya," ujar Ibu Gatha memberitahu.


"Ohh, iya bu gapapa. Kita ga akan ganggu Gatha kok, cuma mau liat keadaannya aja sebentar. Besok kalo Gatha udah boleh ngobrol kita baru kesini lagi," sahut Echa.


"Yaudah silahkan masuk. Ibu mau keluar sebentar, Ibu titip Gatha ya Echa Raya," kata Ibu Gatha pamit pergi keluar, yang dibalas anggukan oleh keduanya.


"Kamu tunggu sini ya Sak," ucap Echa kepada Sakka, yang dibalas anggukan oleh Sakka. Lalu, masuk ke dalam bersama Raya.


***


Setelah selesai menjenguk Gatha dan berpamitan pada Ibunya. Echa dan Raya berjalan beriringan menuju parkiran bersama. Sedangkan Sakka sudah berjalan lebih dulu ke parkiran, memberi waktu pada kedua sahabat itu untuk berbincang dengan nyaman.


"So? Lo balikan sama dia?" Tanya Raya yang dibalas gelengan kepala oleh Echa.


"Terus? Kok bisa lo dianter sama dia?" Tanya Raya seperti menginterogasi.


"Gue emang deket lagi sama dia. Kemarin kita baru jalan juga, yaa gitu deh pokoknya," jawab Echa.


"Lo udah nerima semuanya?" Tanya Raya perihal kesalahpahaman Echa. 


"Insyaallah udah, gue udah minta maaf sama dia dan Kak Tania. Gue juga mau minta maaf sama lo Ray karena gue sempet gak percaya sama omongan lo waktu itu," ujar Echa sendu menatap sahabatnya itu.


"Iya gue maafin, ciee.. yang cintanya bersemi kembali," ledek Raya sambil merangkul Echa.


"Apansi Ray," jutek Echa menahan senyum dengan pipi yang bersemu merah.


"Cieee.. bentar lagi ada yang balikan nih," ledek Raya lagi.


"Ngga! Orang gue belum balikan," ketus Echa melepas rangkulan Raya.


"Belum? Berarti akan kan? Hmmm..." ledek Raya lagi untuk kesekian kalinya sembari mencolek dagu Echa dan tersenyum menggoda.


"Ck! Apansi lo, udah ah gue balik. Bye!" Ucap Echa dan pergi meninggalkan Raya sendiri.


"Selamat bermesraan Echaaa!" Teriak Raya pada Echa yang tak belum jauh darinya. Dan dibalas lirikan tajam oleh Echa.


"Semoga lo bahagia terus Cha," gumam Raya seraya tersenyum sendu menatap kepergian Echa yang semakin menjauh.


***


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2