Nikah Sama Mantan

Nikah Sama Mantan
8. Tentang Gilang


__ADS_3

"Aku tau kamu mau nolak perjodohan ini," kata Gilang tepat sasaran.


"Hah?! Kok Mas Gilang tau?" Tanya Echa terkaget.


"Heheheh.. Ketauan kan barusan," ucap Gilang telak.


Echa pun hanya bisa terbengong dan menutupi semburat malu di pipinya.


Bukan, bukan karena Echa tidak mau kalau Gilang tau bahwa dirinya menolak perjodohan ini. Tapi ia sangat malu dan kesal sekali karena, Gilang meledeknya seperti ini.


"Walaupun aku bukan CEO, tapi ilmu psychology aku juga gak kalah dari kamu hehe.." jelas Gilang terkekeh.


Melihat Gilang terkekeh dengan manis seperti itu, Echa jadi mengingat sesuatu.


Flashback on


Beberapa tahun yang lalu, Echa kecil yang berumur sekitar 13 tahun menatap kepergian Gilang atau yang biasa ia panggil Mas Gilang yang saat itu berumur 18 tahun.


Saat itu Gilang sudah lulus SMA dan ingin melanjutkan kuliahnya di luar negeri.


"Entar kalo Mas Gilang pergi Echa mainnya sama siapa?!" Rengek Echa dengan tangisan yang tersedu-sedu.


"Echa kan bisa main sama temen sekolah Echa.."


"Kalo dirumah?? Temen Echa kan cuma Mas Gilang doang," saut Echa sebelum Gilang selesai bicara.


"Ada Bi Ratih, ada Reyhan juga kan.."


"Reyhan gak bisa diajak main, Echa cuma mau main sama Mas Gilang," potong Echa lagi dengan kekeuh.


"Yaudah pokoknya Mas Gilang janji, Mas Gilang bakal pulang cepet."


"Kapan?"


"Nanti Mas Gilang kabarin, Echa tunggu aja yah,"


"Gamau, kelamaan nanti." Ucap Echa ngegas.


"Janji, ngga lama." Putus Gilang sambil menghela napas. Ia terpaksa bohong, agar Echa mau menurut padanya.


Esokan harinya. Hari dimana Gilang akan menghilang dari kehidupan Echa untuk waktu yang lama. Atau mungkin selamanya?


"Mas Gilang pergi dulu ya," ucap Gilang memegang puncak kepala Echa dan mengelusnya.


Echa hanya terdiam menatap Gilang dengan intens saat itu namun, tatapannya sendu dan berkaca-kaca.


"Jangan sedih gini dong mukanya, Mas Gilang jadi ga tega nih nanti ninggalin kamu-nya," ucap Gilang lagi sambil memegang kedua pipi Echa yang chubby.


"Echa ga sedih!" Bantah Echa.


"Bener nih ga sedih Mas Gilang tinggal?" Ledek Gilang berusaha menghibur Echa.


"Iya, udah sana pergi. Echa sibuk, banyak tugas." Ketus Echa dan berbalik hendak meninggalkan Gilang.


"Mas Gilang tau Echa Masih nangis," ucap Gilang agak keras karena Echa sudah lumayan jauh darinya.


Echa berbalik dan berucap...

__ADS_1


"Echa gak nangis! H-hikss...hikss.." Echa tak kuasa menahan air matanya yang akhirnya tumpah.


"Tuh kan hehehe.." ledek Gilang dan terkekeh.


"Mas Gilang jahat!" Saut Echa dan segera berlari menjauh.


Flashback off


"Hei..Echa!" Tegur Gilang.


"Ha? E-eh? Apa Mas?" Ucap Echa gugup.


"Kamu bengong?" Tanya Gilang sambil mengernyitkan alisnya.


"Engga, oiyah tadi Mas Gilang mau ngomong apa?" Kata Echa mengalihkan pembicaraan. Gilang pun hanya bisa menghela napasnya.


"Gapapa kok kalo kamu mau nolak perjodohan ini. Perasaan kan ga bisa dipaksain," ujar Gilang tersenyum lembut.


"Aku emang pasti nolak mas," kata Echa, yang membuat Gilang langsung murung seketika.


"Tapi aku bingung cara bilangnya gimana sama keluarga kita," kata Echa lagi yang terlihat murung.


"Tenang aja biar aku yang bilang. Kamu cukup ikutin aku aja nanti, yah?" Kata Gilang berusaha senyum, yang dibalas anggukan oleh Echa.


Terjadi keheningan selama beberapa saat. Terlihat Echa yang mengusap lengannya karena kedinginan dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Lalu tiba-tiba ada sepasang tangan kekar yang memasangkan jas ke tubuhnya. Echa tau siapa itu. Siapa lagi kalo bukan Gilang yang saat ini sedang bersamanya.


Echa melihat jas yang disampirkan ke pundaknya dan menatap Gilang.


"Aku gak tega ngebiarin kamu kedinginan," kata Gilang yang disertai senyuman manisnya.


Harusnya Echa baper. Selayaknya perasaan cewe pada umumnya. Namun, ia tidak merasakan apa-apa sama sekali.


***


"Kalian udah balik? Cepet banget?" Ucap Bunda saat Gilang dan Echa kembali ke tempat duduknya.


"Ehhh tunggu-tunggu! Cieeee...udah akrab nih kayaknya kalian. Itu kenapa jas-nya Gilang dipake sama Echa?" Ledek mama Gilang.


"Tadi Echa cuma kedinginan mah.." jelas Gilang sedangkan Echa hanya diam.


"Ohhh gituuu.." ledek mama Gilang lagi. Yang disauti oleh Bunda, bahkan para Ayah pun ikut meledek mereka.


Sedangkan yang diledek hanya terdiam tak acuh. Gilang sedikit melirik ke arah Echa yang ada di depannya. Namun, Echa hanya menatap datar meja di depannya.


"Yaudah jadi gimana kalian udah setuju sama perjodohan ini?" Tanya Wisnu.


"Emm..maaf pah mah om tante, kita ga setuju sama perjodohan ini," putus Gilang namun, dengan suara yang sedikit berat hati dan dibalas dengan tatapan kekecewaan dari para orangtua.


"Loh Gilang? Kenapa? Bukan nya kemarin kamu bilang setuju?" Tanya mama Gilang beruntun.


Echa yang mendengar hal itu, langsung menoleh pada mama Gilang, lalu pada Gilang. Echa mengernyit tak suka. Echa pikir Gilang juga tidak setuju. Jadi Gilang berkata seperti itu, hanya untuk menyelamatkan dirinya yang ingin menolak perjodohan ini?


Echa tak mau ini jadi balas budi. Echa harus mengatakan sejujurnya. Namun, Echa tak tega ketika melihat wajah kecewa kedua orangtuanya. Baiklah, Echa harus mengambil keputusan yang tepat.


"Gilang bercanda, kita setuju kok. Tapi..kita mau mengenal satu sama lain dulu. Karena, kan udah lama juga kita gak ketemu. Jadi masih perlu pengenalan lagi," jelas Echa tiba-tiba mendahului Gilang.

__ADS_1


Semuanya pun tersenyum sumringah menatap Echa, tak terkecuali Gilang. Namun, Gilang sangat heran dan penasaran sekali mengapa Echa tiba-tiba berubah pikiran.


Apa rencana Echa kali ini? -pikir Gilang mengernyit.


"Bener kalian mau mulai pendekatan lagi?" Tanya Bunda dan dibalas anggukan kecil oleh Echa.


"Yaudah gapapa, ini suatu awalan yang bagus juga," ujar Ayah dan dibalas anggukan oleh semuanya.


Makan malam kali ini berakhir sudah. Keluarga Echa dan Gilang sama-sama keluar dari resto yang ternyata milik Gilang tersebut.


"Wahh, hebat ya nak Gilang. Sudah punya banyak resto dimana-mana," puji Bunda


"Iya makasih tante," balas Gilang dengan senyum manisnya.


"Oh iya, Gilang kamu anterin Echa pulang ya. Kamu bawa mobil sendiri kan," titah mama Gilang.


"Iya mah," saut Gilang.


"Yaudah Echa, kamu bareng Gilang ya. Bunda sama Ayah duluan," ucap Bunda.


"T-tapi bun.." ucap Echa ingin menolak namun Bunda sudah menjauh terlebih dahulu dan Echa pun hanya bisa menghela napas.


"Yuk Cha," ajak Gilang dan dibalas anggukan oleh Echa.


***


Di dalam mobil terjadi keheningan seperti biasa. Gilang yang fokus menyetir dan Echa yang mengalihkan pandangannya ke kaca jendela.


"Jendela nya lebih menarik dari aku yah?" Sindir Gilang.


"Kenapa Mas?" Tanya Echa yang selalu tak mau berbasa basi.


"Kamu kenapa tiba-tiba ngomong kayak gitu tadi?" Tanya Gilang.


"Berubah pikiran aja," balas Echa singkat.


"Ya kenapa berubah pikiran Echa maksud nyaaa?" Tanya Gilang yang gemas dengan Echa.


"Tadi...pas Mas Gilang ngomong kayak gitu, aku ngeliat wajah para orangtua kecewa banget. Aku gak tega liatnya. Jadi aku mau mencoba, pendekatan dulu sama Mas Gilang. Tapi kalo tetep gabisa, yaa maafin aku kalo aku tetep batalin perjodohan nya," jelas Echa panjang lebar namun, hanya dibalas anggukan kepala oleh Gilang.


"Oiyah, terus kenapa Mas Gilang bohong? Kalo ternyata Mas Gilang setuju sama perjodohan ini," tuduh Echa.


"Aku gak bohong. Kan kamu gak tanya aku setuju atau ngga," balas Gilang.


"Ya terus buat apa Mas Gilang bilang mau batalin perjodohan ini? Buat nyelamatin aku? Gak perlu Mas, aku gak mau berhutang budi," cerca Echa.


Gilang hanya terdiam. Ia kaget, Echa-nya yang dulu manis dan lembut. Berubah menjadi wanita dengan tatapan yang tajam dan kata-katanya yang sangat pedas. Namun, itu semua tak mengurangi rasa sayang Gilang pada Echa.


Sejujurnya Gilang bingung dengan perasaannya saat ini. Harus senang ataukah sedih. Ia senang karena, Echa tidak langsung membatalkan perjodohan ini dan masih ada secerca harapan untuknya. Namun, ia juga sedih karena Echa masih bisa saja membatalkan perjodohan ini suatu saat nanti.


Jujur! Gilang memang sudah menyukai Echa dari dulu. Dan sepertinya sekarang perasaan itu berubah menjadi cinta. Apalagi melihat perubahan Echa yang sangat dewasa seperti sekarang ini.


Saat mendengar penjelasan kedua orangtuanya bahwa dirinya ingin dijodohkan, Gilang menolak. Namun, saat ia tahu bahwa Echa yang akan dijodohkan dengannya. Ia langsung tanpa pikir panjang menyetujui perjodohan tersebut. Karena ini adalah kesempatannya untuk mendapatkan pujaan hatinya yang dulu sempat ia tinggalkan.


***


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2