
"Dis.. Gadis.. tungguin gue.." seru Owen sambil berlari dari arah belakang Gadis.
Gadis menoleh lantas melanjutkan langkahnya menuju mobil. Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, dan dia dari awal sudah berencana untuk menjemput Jaka di pasar, tempat yang ia yakini merupakan tempatnya mengais rezeki.
"Apaan?" tanya Gadis.
"Gue nebeng dong, sekalian mo minta solusi nih tentang cewek tadi malem.
"Lah, tadi pagi lo naek apa?" tanya Gadis heran.
"Nebeng Evan. Hehe.." jawab Owen nyengenges.
Gadis menolehkan kepala dengan dahi berkerut.
"Rumah elo kan beda arah sama si Evan" setau Gadis sewaktu sekolah dahulu, Owen tinggal di daerah yang berlawanan rumahnya dengan dirinya dan Evan. Yaitu di kawasan menengah kebawah karena Owen berasal dari keluarga dengan ekonomi pas pas an meski dianugerahi wajah blasteran.
"Ehe.. bukan nebeng deng.. minta jemput" ralat Owen tampak ragu.
"Terus sekarang minta anter ke gue, gitu? gak bisa, gue ada urusan" tolak Gadis lantas masuk dan menutup pintu.
Namun Owen tampak tak menyerah. Dia lari kearah kap mobil dan mendaratkan tubuhnya diatasnya. Tepatnya tengkurap diatasnya.
"Wen.. minggir aaahh... sialan lo, gua dah telat inii..." pekik Gadis memprotes tingkah sahabatnya.
"Gua ikut pokoknya, titik gada koma, gapake tanda kutip" timpal Owen tak mau mengalah.
"Yaudah buruan. Ganggu aja orang mo pacaran" balas Gadis diakhiri gerutuan.
Owen antusias lantas segera berlari ke pintu penumpang depan.
"Belakang, sana. Itu udah ada penghuninya" titah Gadis namun dituruti Owen.
"Ah elah, galak amat sama sobat" timpal Owen seraya membanting pintu menutupnya.
"Pelan pelan napa, lo pikir ini bajaj apa?" hardik Gadis namun Owen hanya melebarkan senyum menampakkan barisan gigi yang sedikit ginsul.
"Sebenernya gue pen cerita dari kemaren kemaren. Tapi elo nya sok sibuk, keburu gua kejebak si nenek sihir" adu Owen memulai percakapan.
"Cerita apaan sih, elo laki lebay amat" timpal Gadis.
"Mmm... gue.. bokap gue udah ketemu, Dis" aku Owen. Gadis menoleh sekilas melalui kaca spion yang berada diatas lalu kembali fokus ke jalanan.
__ADS_1
"Mmm.. bagus lah" timpal singkat Gadis.
"Ternyata.. ternyata dia pengusaha besar" lanjut Owen sedikit menjeda. Lagi lagi Gadis menoleh melalui spion, menunggu kelanjutan cerita sang sahabat yang mulai membuatnya penasaran.
"Dulu mereka terlibat cinta satu malam saat emak gue PKL di perusahaan yang ternyata milik bokap gue. Setelah itu, bokap gue dikirim ke Amrik buat lanjutin magister manajemen nya dan ngambil alih perusahaan di Amrik sana.
Tapi gua salut emak gue gak pernah ngeluh" ungkap Owen dengan sendu.
"Jangan salah. Cewek kek gitu tuh ngeluhnya langsung sama pemilik alam semesta. Elo gak tau aja emak lo pasti sering ngadu sama sang pencipta waktu elo lagi ngorok.
Emak lo kesusahan, elo malah bangor mainin cewek, bukannya berbakti" cerocos Gadis menceramahi Owen. Namun ada rasa bahagia jika kini sahabatnya punya keluarga yang utuh, dan tampaknya mereka tak kesulitan secara ekonomi lagi.
"Elo gak penasaran gitu, siapa bokap gue?" tanya Owen ingin Gadis penasaran dengan sosok ayah biologisnya.
"Gak usah ditanya juga elo bakalan ngasih tau" timpal Gadis dengan percaya diri. Owen mencebik, namun melakukannya juga.
"Bernard. Jackson Bernard" ungkap Owen membuat Gadis seketika menginjak rem mendadak.
ciiiiitt...
tiiiiiiiiiiiiiiinn...
Suara klakson mobil yang melaju di belakangnya melengking karena rem dadakan itu.
Owen yang wajahnya sudah babak belur karena amukan Gadis kemarin malam, kini harus mencium sandaran belakang kursi Gadis karena ulah Gadis.
"Sialan lo, Dis. Bibir gue tambah jontor nih" keluhnya menggerutu seraya memegangi bibirnya yang terantuk.
"Iya, dia bokap biologis gue. Makanya si Amber ngedeketin gue. Pura pura mo ngeracunin si Elmo, padahal sasaran dia emang gue. Gue aja yang bego, sok jadi pahlawan kesiangan" ungkap Owen lagi.
tin tin tiiiin....
Klakson mobil di belakang kembali melengking kala mobil Gadis diam ditempat, membuat antrian yang cukup panjang.
Gadis yang tersadar dari keterkejutannya kembali menjalankan mobilnya.
"Jadi itu alesan si mak lampir minta pertanggung jawaban elo?" tebak Gadis dan dijawab anggukan cepat Owen.
"Alamak, harga diri di murah mareh" celetuk Gadis berkomentar tak percaya.
"Yakin lo gak sempet nyelup?" tanya Gadis meyakinkan diri jika Owen memanglah tak patut bertanggung jawab akan apa yang tidak dia lakukan.
__ADS_1
"Menurut lo?" seloroh Owen dengan gemas mencubit sebelah pipi Gadis.
"Anjim, sakit tau" keluh Gadis memegang pipinya.
"Ngapain kita kesini?" tanya Owen kala Gadis membelokkan mobilnya ke area pasar tradisional.
"Jemput calon lakik gue" jawab singkat Gadis lantas keluar dari mobil meninggalkan Owen yang tercenung dengan mulut menganga.
"Jiaaahh... gaya lo calon lakik. Pacaran aja kagak pernah" ledek Owen yang langsung menyusul Gadis turun dari mobil. Penasaran juga dengan omong kosong Gadis.
"Cucu perusahaan gajah, masa jemput calon lakik di tempat beginian. Emang dia pengusaha tempe? ato bandar kelapa? ato jangan jangan.. bandar ikan asin.." lanjut Owen mengejek Gadis yang cuek dengan selorohan Owen.
Gadis melipat kedua tangannya di dada dengan pantat mendarat diatas kap audi berwarna merah menyala.
"Elo serius?" tanya Owen kala Gadis tak menanggapi apapun ejekan yang dilontarkan.
"Jakaa..." Gadis berteriak dengan kedua telapak tangan menutupi kedua sisi mulutnya. Tangan kanannya lantas melambai tinggi kearah Jaka yang baru muncul dari arah dalam dengan memanggul satu kardus berisi air mineral kemasan botol 250ml, dan satu tangan yang lain menenteng satu kantong plastik besar berwarna hitam.
"Buset, gak kira kira lo nyari yang kek beginian" gumam Owen yang tak percaya jika pilihan Gadis bukanlah pengusaha, melainkan seorang kuli.
"Terserah gue, yang penting gue selamet, wlee.." Gadis menjulurkan lidah pada Owen lantas berjalan cepat mendekati Jaka yang berjalan kearah mobil mewah berwarna hitam itu.
Gadis melihat Jaka menerima beberapa lembar uang berwarna merah dan memasukkannya kedalam kantong celana.
"Waaah... sekali angkut dapet segitu? bisa makan enak tiap hari dong aku" ucap Gadis mendekati Jaka.
"Kamu.. dapet penggantiku?" tanya Jaka mengedikkan dagu kearah Owen.
Gadis mengikuti arah Jaka menunjuk.
"Enak aja. Bocah kayak gitu mana bisa nafkahin aku.
Jaka menilik wajah Owen yang tampak tak asing.
"Bukankah itu lelaki yang tadi malam dihajar Gadis?" tanya Jaka dalam hati.
"Dis. Elo yakin kalo dia gak kan meres keluarga elo? liat deh kerjaannya, bisa bisa dia ngelunjak terus nguasain harta elo" bisik Owen yang menarik Gadis menjauh dari Jaka.
"Berisik lo, suka gak ngaca deh kalo ngomong" timpal Gadis yang kesal dengan tuduhan Owen.
"Mending gua kemana mana kali. Secara sekarang gua anak Bernard" lanjut Owen membuat Jaka menoleh tiba tiba kearah Owen.
__ADS_1
"Bernard?"