Nikahi Aku !

Nikahi Aku !
Rapat


__ADS_3

"Carikan aku sebuah rumah sangat sederhana. Kecil tapi layak untuk ditempati. Jangan di kawasan elit" titah Jaka sambil menggoyangkan pena nya diatas tumpukan dokumen.


Roni yang tengah berdiri menerima berkas yang sudah ditanda tangani itu mengernyitkan dahi.


"Rumah untuk siapa, bos?" tanya Roni penasaran.


Jaka menghentikan ayunan penanya, lantas menjawab "Carikan saja yang sekiranya cocok untuk seorang pekerja kasar, tapi jangan di daerah kumuh juga. Aku tak mau istrinya merasa tak nyaman" Jaka melanjutkan kembali menggoreskan tinta pada berkas berkas yang menggunung.


"Apa.. bos jatuh cinta pada istri orang?" pertanyaan Roni membuat Jaka tak sengaja membuat coretan tambahan.


"Sial.." desisnya lantas mendongak.


"Bisakah kamu menuruti perintahku tanpa banyak tanya?" hardik Jaka dengan kesal membuat Roni melipat mulutnya seketika.


"Lagi pula, terlalu banyak tahu bisa membunuhmu" lanjut Jaka mengangkat sebelah bibirnya dan kembali menggoreskan tinta, membuat Roni semakin berkeringat.


"Nona, tunggu nona. Anda tidak boleh masuk.." sergah sekertaris Jaka yang bertugas di luar ruangan pada seorang wanita yang memaksa masuk.


Jaka sudah menerka siapa yang selalu nekat berbuat seenaknya, jadi dia tak menghentikan kegiatannya.


"Sayang, kamu bilang sama sekertaris tak bergunamu untuk tak menghalangi jalanku" pekik Amber dengan ketus. Kaki jenjang yang ia buka lebar lebar dengan kedua tangan dilipat didepan dada menambah kesan angkuh. Pakaian minimnya tak mengganggu Jaka sedikitpun karena Jaka enggan menatapnya. Dia terus fokus pada berkas berkas yang harus segera selesai sebelum rapat dimulai.


"Sayang, aku bicara padamu" sreet

__ADS_1


Amber kesal dengan sikap abai Jaka. Dia lantas merebut pena yang tengah digunakan untuk menandatangani berkas. Alhasil, coretan panjang menghiasi kertas bermaterai itu.


"Apa yang kamu lakukan" raung Jaka membentak Amber, menggema di ruangan itu dengan mata membulat dan memancarkan amarah.


"Nona, apa yang anda lakukan. Tidakkah anda melihat jika beliau sedang bekerja?" tegur Roni yang lantas meraih kembali pena khusus milik Jaka.


Amber yang terkejut dengan bentakan Jaka tertegun. Tak menyangka jika calon suaminya bisa membentaknya seperti itu. Dia bahkan membiarkan Roni merebut pena itu kembali dalam keterkejutannya.


Jaka meraih pena itu kembali dan meminta sekertarisnya untuk mencetak ulang dan membubuhkan materai lain diatasnya.


Dengan kesal, Jaka meminta Roni untuk membawa berkas berkas penting itu ke ruang rapat. Dia lantas keluar ruangan tanpa menghiraukan keberadaan Amber yang kini tampak semakin kesal.


"Tuan, perwakilan dari investor baru sudah menunggu di ruang rapat" ucap sang sekertaris yang menyiapkan bahan rapat di mejanya kala Jaka keluar dari ruangan.


"Hmm" tanggapan Jaka hanya berupa gumaman.


Jaka kembali menutup pintu dan bersandar sambil menenangkan degupan jantungnya yang menyerang tiba tiba kala mendengar suara yang tak asing baginya tengah melakukan panggilan telfon di ruang rapat. Beruntung Gadis duduk membelakangi pintu, jadi tak melihat kedatangannya.


"Bos? kenapa tak masuk?" tanya Roni dengan heran dari arah belakangnya kala Jaka kembali mengintip Gadis melalui jendela.


Jaka terkejut dan langsung membetulkan posisi berdirinya sambil melancarkan tenggorokan.


"Ekhem.. saya lupa sesuatu. Kamu sambut yang lain" titahnya lantas melangkahkan kakinya kembali ke ruangannya. Dia bahkan lupa jika Amber ia tinggalkan di ruangannya dan tak menyangka jika wanita itu belum pergi.

__ADS_1


"Jacob, sayang. Kamu kembali untukku?" Amber yang tengah duduk santai di kursi kebesaran Jaka, dengan kedua kaki mulusnya ia angkat keatas meja, sehingga menampilkan sedikit bagian inti yang terbungkus kain merah itu terkejut dengan kembalinya Jaka yang tiba tiba.


"Sialan. Lupa kalo masih ada setan" desisnya lantas kembali menutup pintu.


Jaka bertolak pinggang di depan ruangannya dengan gelisah.


Bagaimana dia bisa memimpin rapat yang dihadiri Gadis yang tak tahu jika pemimpin perusahaan ini adalah dirinya yang nota bene adalah calon suami yang berprofesi sebagai kuli angkut.


"Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya Susi, sang sekertaris yang sudah siap dengan bahan rapat siang ini.


"Kaca mata. Pinjamkan kaca mata mu" pinta Jaka yang langsung melepas paksa kaca mata tebal milik Susi tanpa persetujuannya.


"T.. tapi tuan.. saya.. saya gak bisa liat jelas.." Susi memelas.


"Tak masalah. Kamu jaga disini saja. Ini biar saya yang tangani" Jaka mengambil alih berkas bahan rapat dari tangan Susi dan berjalan kearah ruang rapat.


brukk


Jaka menabrak kaca besar pemisah antara koridor dengan ruang rapat. Kacamata tebal itu benar benar menghalangi pandangannya.


"Bisa tolong buka kan pintunya?" pinta Jaka yang terus mendorong kaca yang enggan bergerak.


"Tuan, pintunya sebelah kanan anda" ucap Roni dari pintu ruang rapat yang ia buka karena terkejut dengan kondisi aneh atasannya itu. Mengapa tiba tiba mengenakan kaca mata tebal.

__ADS_1


MON MAAP BARU BISA UP NIH


JEMPOLNYA JANGAN DIIRIT YA MAK😉


__ADS_2