Nikahi Aku !

Nikahi Aku !
Polos


__ADS_3

"Bernard? apa Jackson Bernard? setahuku keluarga Bernard hanya punya satu penerus laki laki, yaitu Jackson. Dan dia belum menikah. Apa dia menikahi janda beranak satu?" tebak Jaka dalam hati seraya memperhatikan interaksi Gadis dan Owen yang terlampau terlalu akrab.


"Aku pulang" ucap dingin Jaka yang langsung melangkahkan kaki kearah gerbang utama pasar. Dia tak suka dengan interaksi antara Gadis dan Owen. Bukankah tadi malam Gadis menyatakan akan membunuh lelaki itu jika bertemu dengannya di lain hari?


Tapi sekarang? belum juga kering pesawahan malah sudah terlihat akrab.


"Huh, benar benar plin plan" cebik Jaka dalam langkahnya.


"Ka.. tunggu.. aku kesini mo jemput kamu" sergah Gadis mencekal lengan berotot Jaka yang basah karena keringat.


"Alamak.." entah kenapa, Gadis selalu merasakan sesuatu kala bersentuhan fisik dengan Jaka. Meski hanya setitik.


"Aku takut temanmu tidak nyaman denganku" tukas Jaka dengan datar sambil menatapnya sekilas.


"Aku gak peduli sama kenyamanan orang lain. Aku cuma peduli sama janji kamu buat nikahin aku" timpal Gadis ambigu.


Dan itu sukses membuat wajah Jaka bersemu merah.


"Dis.. elo.. lo gak hamil kan?" celetuk Owen tanpa menyaring suaranya.


plakk


Gadis menampar mulut Owen yang los, tak terkontrol. "Kalo ngomong tuh saring dulu, jangan asal mbleyer" ucapnya kesal.


"Anjim.. beneran jontor inimah" keluh Owen lagi lagi mengusap bibirnya yang mulai kebas.


Gadis lantas menarik paksa tangan Jaka untuk masuk kedalam mobilnya.


"Elo kalo tetep mo nebeng, tutup mulut lo" ancam Gadis pada Owen dengan mata menyorot tajam dan telunjuk mengacung kearahnya.


Owen tak bisa membantah, karena dia memang membutuhkan tumpangan pulang. Jika saja dia hafal alamat lengkap rumah barunya bersama ayah biologisnya yang ternyata satu komplek bersama Gadis, mungkin dia akan menggunakan taxi online. Hanya saja selain belum tau alamat lengkap, jiwa kelas ekonominya sudah mendarah daging.

__ADS_1


"E eh ada mamang sempol" celetuk Gadis yang langsung menyisikan mobilnya tanpa aba aba.


"Buset, pala gue.." keluh Owen yang terantuk kaca samping karena manuver tiba tiba Gadis.


"Ka, jajanin aku dong" pinta Gadis tanpa malu pada Jaka.


Jaka menoleh pada Gadis dan langsung turun untuk membelikan apa yang calon istrinya mau. Beruntung dia mempunyai receh dari kembalian membeli beberapa kardus sembako untuk dikirim ke panti asuhan. Selain itu sebagai alibi jika penghasilan seorang kuli angkut pastilah recehan.


"Elo.. minta dijajanin? mendadak bangkrut lo?" tanya Owen tak percaya. Secara, Gadis paling anti ditraktir. Terlebih oleh lawan jenis.


"Gua bilang apa?" Gadis mengangkat sebelah sneaker yang diikat longgar itu sejajar kepalanya untuk mengancam Owen yang lagi lagi tak bisa mengontrol mulutnya.


"2 cukup?" Jaka mengangsurkan bungkusan plastik berisi 2 porsi sempol ayam.


"Iiiii.... tau banget selera calon istri" tukas Gadis bertepuk tangan dengan riang.


"Lah, kirain beli 2 yang atu buat gue" celetuk Owen yang dibalas delikan mata Gadis.


Owen terheran heran dengan kemampuan Jaka yang nota bene adalah seorang rakyat jelata namun bisa mengemudikan mobil hybrid dengan mulus dan tak kaku.


Tak seperti dirinya yang memang besar di lingkungan ekonomi menengah kebawah yang gemetaran saat mencoba mengemudikan ferrari pemberian ayah biologisnya.


"Dah, sana turun" usir Gadis saat Jaka menghentikan mobil tepat didepan rumah mewah yang lokasinya hanya berjarak 2 blok dari rumah Gadis.


Jaka lupa jika dia tak berpura pura bertanya karena dia memanglah hafal dengan rumah relasi bisnisnya itu.


"Kok dia tau rumah bokap gue, Dis? Gue curiga.. dia pernah ngangkut barang kesini" bisiknya pada Gadis, membuat kepalanya terkena tepukan cukup keras.


"Jaga mulut lo. Dia calon gue, gak seorangpun boleh ngerendahin dia" ancam Gadis menatapnya tajam.


Tanpa berkata kata lagi, Owen turun dan masuk kedalam rumah.

__ADS_1


Jaka tersanjung dengan pembelaan Gadis. Dibalik sikap manja dan barbarnya, juga latar belakang ekonomi yang high class, ternyata memiliki kerendahan hati yang luar biasa.


"Maafin temen aku, ya. Dia emang ceplas ceplos orangnya" ucap Gadis yang merasa tak enak, takut jika Jaka tersinggung dan mengurungkan niatnya untuk menikah dengannya.


Tadi pagi, Jordan, sang kakek kembali mewanti wanti Gadis agar segera menikah dengan Jaka. Atau pilihan lain yang disodorkan adalah menjadi cucu menantu bu Asih, tetangga paling rempong se er te, dan merupakan musuh bebuyutan Gadis.


"Hmm" hanya itu yang keluar dari mulut Jaka dengan ekspresi datar.


"Biii.. siapin air panas buat mandi" titah Gadis saat baru melangkah masuk kedalam rumah.


"Baik, non. Eeeee... kamar mandi tamu atau kamar mandi non Gadis?" tanya sang art kala melihat kemunculan Jaka kembali ke rumah itu.


"Kamar tamu dulu" titah Gadis lantas dengan cepat menaiki anak tangga untuk mengambil sesuatu di kamarnya.


Jaka menunggu di ruang tamu tanpa menyandarkan punggungnya. Dia tak mau keringatnya mengotori sofa mahal itu.


"Air panasnya sudah siap, tuan" ucap salah satu art yang diperintahkan Gadis untuk menyiapkannya di kamar tamu.


Jaka mengucapkan terimakasih lantas masuk kearah kamar tamu yang ditunjukkan sang art.


Setidaknya dia akan merasa sedikit nyaman dengan tubuh yang segar meski harus memakai kaos yang sama. Toh di rumah nanti dia bisa mandi lagi.


"Tamu nya mana bi?" tanya Gadis kala kembali turun membawa satu set pakaian pria beserta pakaian dalamnya.


Dia membelinya kemarin siang sepulang mengantar Jaka kembali ke pasar.


klek


"Waaaaa....." teriak Jaka kala Gadis dengan santainya membuka pintu kamar dan mendapati Jaka sudah polos se polos polosnya melebihi polos yang ada.


Gadis kembali menutup pintu dan memunggunginya dengan wajah memerah.

__ADS_1


"Alamak..."


__ADS_2