
"Kamu... siapa namamu, anak muda?" tanya Jordan sedikit linglung. Jaka mengingatkannya pada seseorang yang dikenalnya.
"Saya.. "
"Ini Jaka, kek. Calon mantu kakek. Makanya sabar, buktinya Gadis dapet kan? emang kalo jodoh tuh gak-"
"Kamu dapet dari mana, hah? jangan jangan kamu sembarang nyulik orang ya?" Jordan memotong ucapan Gadis yang memotong ucapan Jaka seraya menjawir telinganya karena gemas dengan sikap kekanakan Gadis yang sudah bukan kanak kanak lagi.
"E eh.. maaf.. tolong jangan sakitin calon istri saya ya kek" sergah Jaka membela Gadis dengan mencoba melepas japitan tangan Jordan pada daun telinga Gadis dengan perlahan.
"Huhuuu... tuh liat kan, kek? Gadis gak main main nyari nya. Aduh panaaas..." Gadis mengusap usap telinganya yang memerah.
Jordan terpaku dengan pembelaan Jaka terhadap cucu randomnya itu. Pasalnya, selama ini tak ada yang mau membelanya, kecuali dirinya.
"Ekhem.. ayo makan" Jordan melancarkan jalur tenggorokannya lantas mengajak mereka ke ruang makan karena sudah masuk waktu makan siang.
Jordan terus memperhatikan gerak gerik Jaka. Sesekali melirik pada sang cucu yang tak sedikitpun menampilkan table manner. Jordan sampai geleng geleng dibuatnya. Berbeda dengan Jaka yang tenang dan tidak cocok jika dikatakan sebagai rakjel.
Tentu saja karena Jordan sering menghadiri acara makan siang maupun makan malam bersama klien. Jadi dia sangat mengetahui seseorang dikatakan berkelas atau tidak berdasarkan tata krama di meja makan.
Namun tak habis pikir baginya saat membandingkannya dengan sang cucu yang dia asuh sendiri, bahkan mengajari sang cucu segala sesuatunya agar suatu saat bisa menggantikannya menghadapi para rekan bisnis.
"Apa pekerjaanmu, anak muda?" tanya Jordan disela makan siang yang hening karena tak ada yang berani memulai obrolan.
"Kuli angkut di pasar kek" jawab Gadis cuek mewakili Jaka yang mengurungkan niatnya membuka mulut untuk menjawab.
"Nama ayahmu siapa?" lanjut Jordan bertanya seraya menatap sinis pada sang cucu yang membuka mulutnya namun tak bisa mengeluarkan kata kata.
Alih alih mewakili Jaka menjawab pertanyaan sang kakek, dia ikut bertanya pada Jaka.
"Oiyah, nama bapak kamu siapa?"
Jordan lantas bangkit dan meminta Jaka untuk menyusulnya ke ruang kerja setelah selesai dengan makan siangnya. Rasa penasarannya tak bisa tuntas selama ada si cucu rempong disekitar mereka.
"Loh, kek.. makan dulu ih nanti sakit. Duduk duduk, sini duduk. Gadis suapin ya. Aaaaaa...." Jordan dipaksa kembali duduk lantas Gadis menyodorkan sesendok penuh nasi ke depan mulut Jordan.
__ADS_1
"Kamu gak kira kira apa nyuapin.. hepp" Gadis menyumpal mulut Jordan dengan sesendok penuh nasi saat Jordan protes. Namun Jordan melanjutkan meminta disuapkan lauknya.
"Nahhh... enak kan? kalo makan itu gak boleh banyak ngomong, nanti keselek. A lagi.." Gadis terus menyuapi Jordan hingga hampir separuh piring. Jordan bahkan gantian menyuapi Gadis dan saling berebut lauk yang tinggal sepotong dan mereka tertawa bersama.
Jaka yang memperhatikan keseruan interaksi cucu dan kakek itu merasakan kehangatan sebuah keluarga yang sudah lama tak ia rasakan semenjak kepergian sang kakek.
Dia menikmati makanannya sambil menikmati pemandangan yang menghangatkan hati.
Sedikitnya dia membayangkan, akankah keluarganya akan hangat seperti itu jika dia benar benar menikahi Gadis?
"Kek.. ikut dong.. masa Gadis ditinggal gitu aja. Kalo ada yang nyulik gimana, kek?" Gadis memohon pada Jordan agar bisa ikut masuk ke ruang kerjanya untuk mengiterogasi Jaka.
"Mana ada yang mau nyulik gadis nyusahin kayak kamu. Lagian ini di rumah sendiri mana bisa diculik" sergah Jordan menahan Gadis agar tak bisa masuk kedalam ruang kerjanya.
"Yahh, kok gitu sih. Kakek mau ngapain sama Jaka be dua dua an? jangan jangan.. Gadis ingetin itu calon suami Gadis ya kek, jangan sampe kakek berubah pikiran trus malah kakek yang.."
peletak
Tongkat sakti Jordan berhasil mendarat di kepala Gadis saat dia terus mengoceh.
"Ngomong suka semprul, dipikir kakek suka yang batangan?" gemas Jordan.
"Sompral kek, sompral.." ralat Gadis seraya mengusap usap kepalanya.
"Lagian kakek emang suka yang batangan kan? buktinya, nih.. apa yang dipegang pegang terus sedari jaman kolonial?" tunjuk Gadis pada tongkat sakti sepanjang kurang lebih 60 cm yang baru saja mendarat di kepalanya.
"Kamu..." Jordan mengangkat tinggi tinggi tongkat itu dengan gemas, membuat Gadis seketika lari terbirit birit menjauh dari pada harus kehilangan kepalanya.
"Dasar anak curut.." gerutu Jordan. Dan hal itu berhasil membuat Jaka terkekeh.
Jordan mempersilahkan Jaka duduk bersebrangan dengannya.
"Saya yakin kamu mengenal saya" ucap Jordan membuka pembicaraan tanpa basa basi.
Jaka menunduk dan tersenyum. Tak menyangka jika Jordan masih mengingatnya. Dia lantas mengangguk untuk memberikan jawabannya.
__ADS_1
"Benarkah itu kamu, nak?" tanya Jordan memajukan tubuhnya dari sandaran dengan tatapan berkaca kaca.
"Benar, kakek Jordie" balas Jaka tersenyum.
"Ya Tuhan, Jacob.. kamu.. kamu sudah dewasa.. kemana saja kamu, nak. Bagaimana kabar sahabatku, Raphael?" Jordan bangkit dan berjalan memutari meja dengan tergopoh dan memeluk Jaka sambil terisak. Tangis haru itu disambut Jaka dengan menepuk lengan Jordan yang melingkar di kepalanya karena posisi Jaka masih duduk.
Tak bisa dibayangkan jika Jaka ikut berdiri, mungkin pinggang atau bahkan kaki Jaka yang bisa dipeluk Jordan.
"Kakek selalu menanyakan anda, kakek Jordie" ucap Jaka mengurai pelukan Jordan.
"Benarkah? lalu dimana sekarang dia tinggal? kenapa kalian mendadak pindah?" tanya Jordan memberondong Jaka yang tertawa lirih.
klek
"Kakeeek.. inget itu calonnya Gadiiis..." seru Gadis dengan suara memelas tiba tiba membuka pintu.
Jordan kembali melayangkan sendal bulu nya kearah pintu untuk mengusir Gadis.
"Apa kakek yakin mau menikahkan nya?" tanya Jaka terkekeh melihat tingkah keduanya yang saling menggoda.
"Lihat anak itu. Dia tak akan pernah bisa dewasa jika terus menggangguku" tukas Jordan gemas.
"Bagaimana jika dia tak menemukanku?" lanjut Jaka.
"Aku yakin kalian akan bertemu. Hanya saja, kita harus selalu mengandalkan tangan Tuhan" jawab Jordan penuh keyakinan, namun ada rasa tak percaya jika mereka benar benar dipertemukan kembali dengan cara yang tak disangka.
"Eh.. Pssstt... Jaka..." seru Gadis berbisik kala Jaka keluar dari ruang kerja Jordan.
Gadis tengah bersembunyi dibalik tembok kamar mandi yang menjorok kedalam tepat disebelah ruangan Jordan.
Jaka menoleh lantas mengedikkan bahu.
"Eehh... ditanya malah ngeloyor. Cepetan bilaang.. kakek ngebatalin kan? gak setuju kan?" Gadis mengejar Jaka yang melangkah mantap kearah pintu utama dengan mulut terus bertanya.
Anehnya, Jaka tak merasa terganggu dengan sikap Gadis yang bisa dibilang rese. Berbeda dengan Amber. Baru mencium kabar kedatangannya saja sudah membuat bulu kuduknya berdiri.
__ADS_1