
"Roni, mana tuan mu?" sentak seorang wanita muda berpenampilan seksi elegan sambil berkacak pinggang di ruang tengah. Tampaknya wanita itu tengah menunggu kedatangan sang majikan sedari tadi karena saat Roni melewati ruang tengah dengan tujuannya adalah dapur, wanita yang bernama Amber itu sedang berjalan mondar mandir di depan tv berukuran besar.
"Tuan Jacob... eeee... setelah jogging, beliau..."
"Kabur lagi, kan?" sentak Amber menebak situasi.
Benar saja, Roni hanya bisa menunduk dalam karena tak bisa menyanggah tebakkan calon nyonya muda nya.
"Dadyyy... bagaimana inii..." rengek Amber menghentakkan heels nya ke lantai marmer.
"Sudah sudah.. mungkin kita yang salah waktu. Kalau saja kita mengetahui jadwal rutinnya dan bisa mengimbanginya, mungkin.."
"Mana bisa Amber ikut jogging panas panasan, keringetan pula bikin gatel gatel" lanjut Amber merengek menjeda bujukan sang ayah.
Roni diam diam segera berlalu kearah dapur untuk menyelamatkan telinganya.
Pantas saja majikannya tak mau dijodohkan dengan wanita itu, dan selalu mencari alasan agar tidak ditempeli Amber karena keringat dan bau.
"Haha.. tenang saja, mungkin besok kamu bisa menemuinya di kantor. Biar ayah yang menggantikan tugasnya besok" bujuk Maximilian O'Bryant, ayah Jacob.
Max dan Seth telah sepakat akan menjodohkan anak anak mereka saat mereka dibangku kuliah. 7 tahun berlalu dan mereka baru bertemu satu kali. Dan itu merupakan pertama dan terakhir kalinya Jacob menemui wanita ini karena kesan pertama yang horror saat bersamanya.
......................
Jaka sepakat dengan penawaran Gadis. Dia merasa tertantang untuk mengetahui pribadi gadis bernama Gadis yang tiba tiba menawarinya.. ralat.. memaksanya menikahinya meski hanya sandiwara.
Kebetulan hari ini dia ingin menghindari pulang ke rumah dan sekarang dia punya tujuan baru. Mungkin pengalaman baru. Karena sepertinya gadis yang usianya cukup jauh lebih muda darinya itu mempunyai pribadi dan kebiasaan yang tak biasa dimiliki wanita umumnya pada seusianya.
"Kamu.. ini mobil kamu kan?" tanya Jaka terheran karena Gadis terlihat sedang menyambungkan 2 buah kabel dibawah kemudi untuk menstarter mobil.
"Tentu saja ini mobilku. Kamu bisa mengeceknya dari STNK dan kartu identitasku" jawab santai Gadis lantas memposisikan diri duduk manis dibalik kemudi setelah mobil semi mewah itu menyala.
"Lalu kenapa kamu tidak menggunakan kuncimu?" lanjut Jaka.
__ADS_1
"Bosen, ilang mulu. Aman kek gini kan? lagian pihak asuransi gak mau ganti. Segala harus ngeluarin duit" cerocosnya seraya memindahkan persneleng agar mobil melaju.
Jaka mengangguk tak percaya. Tak pernah terpikir olehnya untuk melakukan hal sepele namun fatal seperti itu.
"Kita mau ketemu kakek kamu, tapi penampilanku seperti ini. Apa kita.."
"Udah gak pa pa. Sempurna malahan" ucap Gadis memotong pertanyaan Jaka. Dia lantas mengedikkan bahu dan memilih mengikuti skenario yang Gadis rencanakan.
"Udah berapa lama jadi kuli angkut?" tanya Gadis disela keheningan.
Jaka menoleh sekilas lantas menaikkan sebelah bibirnya. Tampaknya Gadis benar benar menganggapnya seperti itu.
"7 tahun" jawabnya sekenanya, namun berdasarkan lamanya dia mulai dijodohkan.
"Hmm pantes.." timpal Gadis menjeda. Membuat Jaka menoleh.
"Kenapa?" tanyanya.
"Otot otot kamu terbentuk sempurna. Gak usah mahal mahal ke gym juga bisa dapet six pack" seloroh Gadis membuat Jaka menyeringai.
Kaos singlet yang tak putih lagi karena debu dan bau yang menempel di pasar, training, dan sepatu kets yang hampir tertutupi lumpur pasar, bukanlah sesuatu yang bisa ia tampilkan dihadapan calon kakek mertuanya.
Gadis menoleh dan sedikit memindainya, lantas kembali fokus ke jalan seraya berkata "Nope.. you're perfectly perfect" tegasnya membuat Jaka speechless. Tak bisa berkata apa apa lagi.
Akhirnya dia memutuskan untuk benar benar mengikuti skenario Gadis. Toh keluarganya mungkin tak kan mengenalnya.
Mereka akhirnya sampai di rumah besar keluarga Olsen. Sikap duduk Jaka saat baru memasuki gerbang utama rumah itu berubah sedikit condong kedepan. Sedikitnya dia mengenal rumah ini karena pernah berkunjung saat masih sangat kecil.
Dia ingat dengan tanaman yang dibentuk sedemikian rupa menjadi seekor angsa namun saat itu dia menyebutnya bebek karena merasa lehernya pendek, tak jauh dari pintu gerbang.
Jaka lantas menoleh pada Gadis yang tengah bersenandung tak jelas seraya berfikir "Mungkinkah.."
"Sampaaai..." seru Gadis dengan ceria. Dia lantas membuka seat belt dan turun dari mobil. Melangkah kearah pintu utama setengah melompat lompat.
__ADS_1
Jaka yang memperhatikan tingkahnya tersenyum miring. Tiba tiba dia teringat mendiang kakeknya.
Gadis menghentikan langkahnya di titian tangga kala menyadari calon suami bayarannya tak mengikutinya.
Dia lantas berbalik menoleh kearah mobil.
"Dasar pemalu" gumam Gadis lantas kembali menuruni tangga dan menjemput Jaka yang ia kira minder dengan penampilannya. Salahnya tak membiarkan Jaka bersiap dan merapikan diri. Dia bahkan tak bertanya dimana tempat tinggal lelaki itu.
"Ayo masuk. Jangan malu malu. Kakek ku gak kan ngigit kok" ajak Gadis dengan asal sambil menampilkan senyum dipaksakan saat membukakan pintu agar Jaka keluar dan mengikutinya masuk kedalam rumah.
Dengan mantap, Jaka menjejakkan kakinya di tanah dan membawa tubuhnya keluar dari dalam mobil.
"Here we go. Semoga dia tak menyadarinya" gumamnya dalam hati.
"Kakeeeek.... " seru Gadis berteriak memanggil pria kesayangannya saat baru melangkah masuk melewati pintu utama.
"Kakek kemana mbok?" tanya Gadis pada asisten rumah tangga yang akan menyiapkan minuman untuk tamu yang Gadis bawa.
Terlepas dari penampilan seseorang yang datang ke rumah itu, selama sang majikan yang membawanya dan menghargainya, para asisten tak pernah berkomentar apapun. Mereka memperlakukan semua tamu adalah sama.
"Kata beliau ada keperluan dulu sebentar. Sepertinya ke rumah bu Asih, soalnya.."
"Apa?" pekik Gadis terkejut memotong ucapan sang asisten.
"Dasar aki aki kegatelan. Udah dibilangin jangan bikin masalah sama biang kerak, kok bedegong yah" gerutu Gadis seraya berjalan kembali keluar rumah meninggalkan Jaka yang tercenung bingung, entah apa yang harus dia lakukan. Apakah harus mengikutinya, atau diam di ruang tamu.
Akhirnya dia memilih mencari toilet.
"Katanya lagi engap, malah kelayapan nyari benalu" omel Gadis pada Jordan yang berjalan didepannya sambil bersungut.
"Nyari cadangan, barangkali kamu gak dapet hasil, kan tinggal cuss" timpal Jordan.
"Makanya sabar jadi orang. Nih, Gadis udah dapet... lah.. kemana tu orang?" Gadis kebingungan kala tak mendapati Jaka di ruang tamu.
__ADS_1
"Anu, non. Tuan gantengnya lagi mandi" ucap salah seorang asisten memberi informasi.
"Ini lagi. Dibilangin gak usah mandi. Kenapa pada susah dibilangin sih.. Alamak.." gerutuan Gadis diakhiri gumaman karena terpana pada sosok pria yang baru keluar dari kamar mandi dengan rambut dan kaos basah. Tampaknya Jaka langsung memakai kaos singletnya dalam keadaan tubuh masih basah.