
"Dasar bocah gemblung. Belom juga nikah udah mau main sosor aja. Kamu tuh harga dirinya ketinggalan dimana" Jordan yang melihat aksi Gadis langsung menjewer sebelah telinga Gadis dan menyeretnya ke ruang tengah membuat Gadis mengaduh.
"A a a a ah.. kakek.. ampun kek, cucu satu satunya dianiaya gini.. tuoloooong..." pekik Gadis berpura pura dianiaya, padahal dia tengah berlari menghindari kejaran sang kakek yang sudah mengacungkan tongkatnya dan bersiap didaratkan ke kepala Gadis setelah Gadis berhasil melepaskan telinganya dari japitan tangan keriput Jordan.
Jaka mendengarkan dari balik pintu dan merutuki kebodohannya sendiri karena tak mengunci pintunya dan merasa jika sedang berada di kamarnya sendiri.
"Apa aku masih perjaka ya?" tanyanya dalam hati karena pertama kalinya semenjak beranjak dewasa dilihat oleh wanita selain ibunya.
Dia menatap pada daging jadi yang menggantung dibawah sana tengah berkedut. Seolah memvisualkan jantungnya yang berdegup kencang.
"Kamu.. masih gress kan?" tanya Jaka. Dan dijawab kedutan konstan.
"Bagus. Pertahankan" lanjutnya lantas mengunci pintu dan masuk ke kamar mandi.
Dibawah guyuran air hangat, Jaka tersenyum kala mengingat kejadian tak terduga yang baru saja ia alami.
Jika saja Amber yang melakukan hal itu, dia akan marah semarah marahnya. Namun dia merasa lucu kala Gadis yang melakukannya.
tok tok
Jaka mendengar suara ketukan pintu kala baru selesai membersihkan diri dan masih memakai handuk di pinggang.
__ADS_1
Merasa sayang dengan tubuh bersihnya jika harus memakai kaos kotor itu kembali.
"Siapa?" tanya Jaka sebelum membuka pintu.
"Ini baju bersihnya" ucap suara yang tak asing.
Jaka mengernyit. Baju bersih? apa dia meminjamkanku pakaian bersih? pikirnya.
Jaka membuka kunci dan sedikit membuka pintu. Lalu sebelah tangan dengan cepat menerobos sambil memegang satu set pakaian pria.
"Pakailah. Anggap ini cicilan utangku" ucapnya lantas segera menarik tangannya kembali setelah Jaka meraih pakaian yang disodorkan.
Kembali senyum itu terukir kala melihat kaos putih polos dengan celana blue jeans. Meski mereknya tak main main, namun tampak simple. Gadis jelas mengetahui seleranya karena pergaulannya yang terbilang ekstrim bagi seorang wanita muda dengan kelas atas seperti dirinya namun tak menampakkannya. Dan Jaka menyukai seleranya.
Jaka bergabung di meja makan, dimana Jordan dan Gadis sudah menunggunya. Jaka sedikit terkejut karena Gadis tampak sudah segar dengan rambut yang masih sedikit basah.
Jika dia habis mandi, apakah dirinya selama itu mandinya. Pikir Jaka karena dia tentu tak punya rambut panjang yang harus diurus, kecuali...
Ah ya, dia punya satu itu yang harus diurus terlebih dahulu.
__ADS_1
"Nanti kalau kalian sudah sah, jangan lupa buat tetep makan sama sama di meja makan. Jangan serasa dunia milik berdua" Jordan membuka pembicaraan kala melihat Jaka dan Gadis yang duduk bersebelahan saling mencuri pandang dengan sesekali menundukkan kepala kala tak sengaja mata mereka bersirobak.
"Hollaaa... sepadaaa... Asih Markasih Sumadiredja menyapaaa..." pekik seorang wanita paruh baya yang masih tampak bugar dengan penampilan yang selalu tampak.. berwarna..
Alis yang diukir tebal dan diwarnai dengan warna cokelat, kelopak mata di cat biru dengan bulu mata disulam panjang, mungkin bisa dikepang jika waktunya senggang, dan dibuat lentik bak ujung sepatu aladin, gaun terusan berwarna biru benhur dan sepatu heels 3cm berwarna merah ferrari, dan jangan lupa dengan rambut yang disasak tinggi dan di cat berwarna burgundy, membuatnya sangat mudah dikenali dalam keramaian warga komplek kala panitia 17an mengadakan jalan santai untuk merayakan hari kemerdekaan.
"Maygat kakeeek.. kenapa cemceman kakek disuruh kesinii" tanya Gadis mencicit dengan kesal sembari mengetatkan rahang. Jordan reflek menendang kakinya, sedangkan Jaka cukup terkejut dengan penampakkan super yang belum pernah ditemukannya selama hidupnya.
Saat mata Asih jatuh pada sosok gagah nan ganteng milik Jaka, langkahnya terhenti dengan sebelah telapak tangan menutupi mulutnya.
"Ya ampun ya ampun.. mahakarya dari mana ini" gumam Asih dengan kedua telapak tangan mengarah pada wajah Jaka dengan perlahan dan tatapan memuja membuat Jaka seketika merasa terancam dan menutup wajahnya dengan sebelah tangan.
"Ayoyoooy... abang ganteng malu malu bikin tambah penasaran aja" gemas Asih mengerucutkan kedua tangan mengarah pada kedua pipi Jaka, tak lupa bibirnya yang ikut mengerucut.
"Eits... sembarangan main comot aja" sergah Gadis menghadang tangan Asih yang hampir mendarat di pipi Jaka dimana Jaka sudah memundurkan tubuhnya hingga bersender pada Gadis yang duduk di sebelahnya.
"Oalah.. ada orang ternyata. Ehe.. pak Jordan, bagaimana dengan perjanjian kita?" Asih mengalihkan perhatiannya pada Jordan, namun matanya sesekali mengerling pada Jaka.
"Kamu tunggulah, kan belum lewat tanggal perjanjian" jawab Jordan dengan tenang. Namun Gadis tampak tak tenang.
"Perjanjian apa? emang kakek punya utang berapa sama bu Asih? Gadis kan udah nyanggupin syarat kakek" Gadis bersungut melayangkan protes. Tak mau jika dia punya nenek tiri semacam bu Asih yang nota bene pelitnya minta ampun. Bahkan mendiang suaminya pun meninggal karena tak terurus. Bagaimana mau ngurus, jika bu Asih sibuk membangun kontrakan dimana mana dengan uang sang suami, namun enggan membawanya ke rumah sakit dengan alasan buang uang.
__ADS_1
"Emmm gadis cakep ngomongnya disaring ya, bentar lagi kan kita bakalan jadi keluarga. Oke, Jordan, aku tunggu pertanggung jawabanmu" ucap Asih lantas mengedipkan sebelah mata pada Jordan namun melayangkan cium jarak jauh pada Jaka lantas tertawa sambil melenggok berlalu.
"Kakeek.. tanggung jawab apaan coba? kakek ngehamilin Bu Asih?" pekik Gadis merengek.