Nikahi Aku !

Nikahi Aku !
Balap Liar


__ADS_3

"Jacob ! Darimana saja kamu? bukankah papa sudah bilang kalau hari ini.." Max yang segera menghampiri sang anakpun menegurnya, namun segera dipotong oleh Jaka yang tak habis pikir dengan sang ayah.


Sudah jelas jelas keluarga Seth Anchorage hanya memanfaatkan kekuasaan keluarga besar O'Bryant, tapi entah kenapa ayahnya ini seperti kerbau yang dicocok hidungnya.


"Aku lelah, pa.." jawab santai Jaka seraya melangkah menaiki titian tangga.


"Halo, om. Saya permisi dulu" sapa Jaka pada Seth dengan sedikit menundukkan kepala tanda hormat.


Tanpa memperdulikan keberadaan Amber yang tengah menahan nafasnya, Jaka segera naik ke lantai dua dimana kamarnya berada. Ia menaikkan sebelah bibirnya merasa berhasil membuat Amber jijik padanya.


tok tok


Suara ketukan pintu membuat Jaka yang tengah membuka kaos singletnya menoleh.


dia lantas melempar singletnya ke tempat sampah dan berjalan kearah pintu untuk membukanya.


Tangan yang hendak meraih kenop pintu menggantung di udara kala teringat sesuatu.


"Jangan jangan wanita itu" gumamnya dalam hati merasa was was mengingat bagaimana nekatnya Amber selama ini.


"Siapa?" tanya Jaka dengan lantang dibalik pintu.


"Ini papa" jawab Max, sang ayah. Jaka pun lantas membukanya, meski dia baru sadar jika dia tak menguncinya sedari tadi karena terbiasa tak ada mahluk kasat yang bisa mengganggunya.


"Ada apa?" tanya Jaka setelah membuka pintu.


"Apa kamu tak mempersilahkan papa masuk?" tanya Max dengan mata menyorot tajam. Jaka sudah memperkirakan apa yang akan Max sampaikan. Dia merasa malas untuk meladeninya.


"Aku lelah, pa. Apa papa tidak lihat badanku sangat kotor dan bau?" kilah Jaka memberi alasan.


"Baiklah, kalau begitu setelah membersihkan diri, papa tunggu kamu di ruang tengah" titah Max akhirnya. Namun hal itu membuat Jaka mendengus kesal. Lalu untuk apa dia mencari kotor dan bau jika tetap harus membersihkannya untuk menghadapinya?


"Sebenarnya apa yang akan papa sampaikan? apakah Jacob tidak boleh beristirahat? ini hari liburku, terserah apa yang akan aku lakukan. Toh selama 5 hari dalam seminggu hidup Jacob dihabiskan untuk mengabdi pada perusahaan papa. Apakah Jacob tidak punya hak untuk menikmati 2 hari Jacob?" cerocos Jacob protes. Jika saja 6ang dia hadapi adalah ibunya, sudah pasti dia akan menurutinya, suka atau tidak suka.


"Ini tentang perjanjian antara kalian, kamu dan Amber" timpal Max membuat Jaka mengernyitkan dahi.


"Itu perjanjian papa, tidak ada sangkut pautnya dengan Jacob. Silahkan papa yang jalani. Jacob lelah" Jaka lantas menutup pintunya dan langsung menguncinya. Max yang kesal dengan jawaban sang anak pun tak bisa meluapkan amarahnya. Apa nanti kata sahabatnya itu. pikir Max menahan emosi dan kembali turun kebawah.

__ADS_1


Selesai membersihkan diri, Jaka hanya ingin bermalas malasan. Dia lantas teringat dengan sosok Gadis dan bangkit untuk mengambil album foto lamanya.


"Gladys.. kita ketemu lagi" gumam Jaka mengusap dan menatap sebuah foto lama dengan sosok anak kecil dengan rambut di kuncir dua dan senyum lebar yang menampilkan gigi ompong yang cukup banyak.


Seulas senyum terbit di bibir Jaka kala memutar memorinya pada masa kecilnya dulu bersama sang kakek.


"Jacob, dia adalah masa depanmu, jagalah dia selalu" pesan Raphael, sang kakek kala membawa Jacob yang masih berusia 7 tahun, mengunjungi kediaman Jordan dimana Gadis baru saja dilahirkan namun langsung ditinggalkan kedua orang tuanya.


Jaka yang masih berusia 7 tahun pun sudah merasa terpana dengan sosok mungil yang menggenggam erat telunjuknya.


Jaka kecil tersenyum lebar seraya berkata "Iya kakek. Dia akan menjadi masa depan Jacob"


Waktu berlalu cepat, tak terasa bayi mungil itu semakin hari semakin menampakkan sinarnya. Terutama matanya yang selalu membuat Jacob terpana.


Mata bulat dengan bulu mata lentik, kulit yang putih dan rambut bergelombang. Terlalu cantik bagi seorang bocah berusia 3 tahun.


Setiap hari Jacob selalu menyempatkan diri untuk datang dan bermain dengan Gadis. Hingga suatu tragedi yang menimpa sang ibu mengharuskannya dan sang kakek untuk pindah secara mendadak.


Rumah besar mereka bahkan mereka tinggalkan begitu saja.


Dia berniat pergi ke supermarket untuk membeli beberapa kebutuhan pribadi di apartemen, termasuk membeli stok kaos singlet.


klek


Jaka terkejut kala membuka pintu dan Amber sudah berada didepan pintu kamarnya.


"Ngapain kamu disini?" tanya Jaka dengan menampilkan ekspresi tak suka.


"Kita perlu bicara" jawab Amber dengan nada suara dibuat selembut mungkin.


Jacob menaikkan pergelangan tangan seraya menatap jam yang melingkar di tangannya.


"Kamu punya waktu 5 menit" ucap Jaka seraya melangkah menuju tangga, membuat Amber kebingungan.


"Tunggu, bisakah kita ngobrol di kamarmu?" sergah Amber membuat Jaka menghentikan langkahnya.


Dia menoleh dan menatap sinis pada Amber lantas mencebik seraya berkata "Heh.. waktumu habis"

__ADS_1


Jaka segera mengambil langkah lebar dan dengan sedikit berlari menuruni tangga agar Amber yang mengenakan heels tak bisa mengejarnya meski berteriak memanggilnya.


Tak disangka sang ayah mengizinkan seorang gadis menginap dirumahnya. Lalu gadis macam apa yang dengan berani menginap dirumah orang lain yang bukan keluarganya.


Tanpa pamit pada Max, Jaka segera membawa dirinya pergi menggunakan mobil sport dan berniat kembali ke apartemennya sendiri.


Di jalan, dia sedikit bingung karena beberapa ruas jalan ditutup dan dialihkan.


"Ada apa ini?" tanya Jaka pada pengendara lain yang juga terjebak macet.


"Ada balap liar" jawab pengendara motor yang tampaknya memang berniat menonton balapan liar yang diadakan setiap akhir pekan.


Jaka sedikitnya berfikir untuk menontonnya juga. Sedikit hiburan mungkin akan mengembalikan mood nya.


Namun saat dia mendekati arena balap, Jaka tertegun kala mendapati sosok yang ia kenal dan baru pagi ini bertemu.



"Gadis?" gumamnya tertegun.


Gadis tampak celingukan mencari sesuatu. Atau seseorang?


"Hei, apa kamu siap?" sapa seorang laki laki mengenakan bluetooth head set dengan t shirt putih dan celana jeans, memastikan kesiapan Gadis.


Gadis mengangguk namun pandangannya masih ia edarkan.


"Siap? siap untuk apa?" gumam Jaka bertanya pada dirinya sendiri. Lantas melangkah lebih dekat dengan posisi Gadis saat ini.


Jaka semakin terkesima saat mendekat. Pasalnya dia melihat Gadis yang sudah duduk dibalik kemudi mobilnya yang pernah Jaka lihat di rumah Gadis.


Sebuah mobil legendaris yang harganya bisa mencapai 15M dan diburu para kolektor mobil itu tampak sangat pas dikemudikan Gadis.



Jaka sampai terpana akan kegagahan muscle car yang berasal dari Amerika Serikat itu.


"Tunggu, apa dia akan melakukan balap liar?" kekaguman Jaka seketika menguap kala menyadari Gadis tengah membleyer knalpot racing dan bersiap mengikuti arahan starter yang mengangkat tinggi bendera kotak kotak hitam dan putih tersebut.

__ADS_1


__ADS_2