
Gadis benar benar bekerja di perusahaan Jaka. 2 bulan sudah mereka bekerja dalam satu kantor namun tak pernah sekalipun mereka berinteraksi. Selain karena Gadis memilih posisi karyawan biasa, juga karena letak ruangannya yang berbeda lantai dengan Jaka.
Hari pertama Gadis bergabung tidaklah mulus karena penampilannya yang masih terlalu muda sebagai pegawai tetap, juga karena parasnya yang terlampau cantik natural. Benar benar natural tanpa sapuan make up tebal.
Sekali waktu Jaka mengintip meja rias karena ingin mengetahui merek kosmetik Gadis. Betapa bingungnya dia karena diatas meja rias itu hanya terdapat pelembab yang tersedia di mini market, dan bedak bayi ditambah lip balm.
"Bagaimana bisa wajahnya se glowing itu jika tak dirawat?" tanya Jaka dalam hati.
Jaka merasa dilema dengan keberadaan Gadis di perusahaannya. Satu sisi dia merasa senang bisa satu kantor bersama sang istri sekaligus bisa mengawasinya dan menikmati tingkah absurdnya. Sedangkan sisi lainnya, kepalanya mulai terasa pusing karena terus terusan memakai kaca mata tebal. Matanya mulai tak fokus kala benda yang membingkai matanya itu ia lepas.
Selain itu, Jaka selalu ingin langsung menerkam Gadis setiap kali melihatnya meskipun Gadis tak menyadari keberadaannya.
"Bos, apa perlu kita ke dokter?" tanya Roni dengan khawatir dengan kondisi atasannya yang kini tengah merebahkan kepalanya pada sandaran sofa seraya memejamkan mata dan memijat pangkal hidung.
__ADS_1
"Jangan khawatir. Aku bisa mengatasinya" ucap Jaka. Dia tak mau terlalu mengekspose perihal masalah pribadinya meski itu pada asisten pribadinya sendiri. Bagaimana pun, seorang asisten juga manusia, yang bisa saja berkhianat suatu saat. Biarlah orang orang mengetahui seiring berjalannya waktu.
"Nona Amber menghubungi dan beliau akan mampir untuk makan siang bersama" Roni memberi informasi yang membuat Jaka menolehkan kepala kepadanya.
"Lalu?" Jaka menunggu kelanjutan laporannya dengan kening berkerut.
"Lalu.. 15 menit lagi beliau akan datang" lanjut Roni seraya menunduk dengan dalam. Tahu jika sang atasan akan memarahinya.
"Sial. Kenapa- Eugghh.." Jaka mendengus kesal dan memukul sofa dengan kepalan tangannya lantas segera bangkit dan menyambar jas nya dari sandaran kursi lalu melangkah keluar ruangan.
......................
"Dis, dicariin big boss tuh" ucap Amel menunjuk dengan dagunya kearah Jaka yang tengah menunggu di pintu ruangan. Amel adalah rekan satu divisi Gadis, yaitu divisi pemasaran.
__ADS_1
"Ngapain dia nyariin gue?" gumam Gadis lantas men-save pekerjaannya di komputer dan berniat mendekati sang atasan.
"Palingan juga mo ditegor, atau dikasih SP. Haha.. anak bau kencur baru masuk udah bikin masalah" ketus salah satu rekan se-divisi yang memanglah sedari awal tak menyukai Gadis karena penampilan natural Gadis mengalahkan penampilan menornya.
"Heh, yang bener aja. Ngasih SP sama CEO langsung? waw.. spesial dong gue sampe beliau turun tangan langsung" timpal Gadis membuatnya geram namun tak bisa membalas.
"Ya, pak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Gadis dengan formal. Namun dahinya berkerut kala menyadari penampilan sang atasan yang tak biasa.
"Temani saya ke perusahaan yang berhasil kamu bujuk kemarin" titah Jaka dengan ekspresi dingin seperti biasa. Aura tegasnya membuat para karyawan menjaga jarak agar tak terkena teguran. Mereka memilih mengaguminya dari jarak jauh demi kesehatan jantung dan hati mereka.
"Dis, elo.. beneran ditegur? apa dapet SP?" tanya Amel yang merasa iba dengan nasib Gadis jika benar dia mendapat teguran dari sang CEO.
"Iya, gue ditegur. Katanya gue mesti tanggung jawab. Terus gue diancem bakal dipromosikan" timpal Gadis dengan serius.
__ADS_1
"Tunggu.. Maksudnya gimana?" tanya Amel sedikit bingung dengan ucapan Gadis.
"Udahlah pikir sendiri. Gue ditunggu tuh. Ntar beneran dapet SP"