Nikahi Aku !

Nikahi Aku !
Orang Spesial


__ADS_3

Jaka berfikir dan menebak, apa yang ada di dalam pikiran Gadis. Bukankah dia baru saja menghajar temannya yang kedapatan berbuat mesum di mobil? Lalu sekarang, apa yang akan mereka lakukan di roof top?


Jaka terus memandangi isi kantung belanja itu sambil duduk di kursi tunggu dekat eskalator karena Gadis tengah membeli sesuatu yang tak tersedia di dalam super market.


"Apa dia sedang membeli lingerie?" pikirnya lagi bergumam.


"Tapi.. Roof top? harus bergaya seperti apa di roof top? apa ada ranjang? atau matras? atau... Guest House?" Jaka berfikir keras tanpa mengalihkan perhatiannya pada kotak kotak kecil berbagai warna itu dengan wajah memerah dan keringat yang mulai bermunculan di pelipis.


Jangan lupa jantungnya yang mendadak bermasalah, berikut lutut yang bergetar meski ia tengah duduk.


"Alamak.." gumamnya melipat mulut berkali kali untuk menyembunyikan rasa gugupnya.


"Yok" ajak Gadis menenteng kotak putih berukuran 15x15.


Jaka bangkit tanpa mengalihkan tatapannya dari kantong belanja. Kepalanya masih menunduk dengan pikiran tanda kutip memenuhi kepalanya.


Gadis yang memperhatikan lantas meminta Jaka untuk berjongkok.


"Jongkok, Ka" titahnya dan langsung dituruti Jaka.


Gadis segera merapatkan tubuhnya di punggung Jaka lantas kembali memberi perintah.


"Berdiriiii...." Jaka pun mengikuti instruksi Gadis tanpa sanggahan karena tatapannya masih mengarah pada tumpukkan kotak kotak kecil itu.


"Ayo naik eskalator" lanjut Gadis.


Keintiman mereka membuat iri para pasangan terutama jomblo-ers yang menggigit jari mereka karena Gadis tampak ceria dalam gendongan Jaka dengan sesekali menggoyang goyangkan kaki, lalu mengganggu wajah tampan Jaka dengan mencubit pipinya.


Jaka hanya diam diperlakukan seperti itu. Di hanya merasa tengah memutar waktu kembali saat mereka masih kecil dahulu.


Dan berharap tak akan terpisah lagi.


*Hayo lo, pada nebak apa nih?*

__ADS_1


"Sampeee..." seruan Gadis menyadarkan Jaka. Dia lantas menatap pintu kaca yang tembus pandang dari dalam, pun sebaliknya.


Apa mereka akan melakukannya disini? Bagaimana jika ada yang melihat? Begitulah kira kira isi pikiran Jaka.


"Kita... akan melakukannya disini?" tanya Jaka terbata.


"He em" Gadis mengangguk mantap.


Dia lantas menggelar 2 buah handuk jumbo yang dia beli di super market, lalu menyusun lilin mengelilingi handuk yang Jaka tebak sebagai alas mereka melakukan... ekhem...


Jaka bahkan membantu Gadis dengan antusias dan sedikit gerogi. Biarlah aksi mereka dinilai tak pantas, asalkan mereka menikmatinya dan melakukannya dengan sepenuh hati.


Itu tekad Jaka.


"Okay, here we go" Gadis mengajak Jaka untuk duduk diatas alas yang sudah tersedia. Lantas mengeluarkan semua bungkus alat kontrasepsi dan meminta Jaka untuk..


"Semuanya?" tanya Jaka kala Gadis menyodorkan 1 bungkus yang berisi 3 sachet, sedangkan Gadis sudah membuka bungkus lain.


Jaka menghembus nafas, meniup udara kosong, sedangkan Gadis mengeluarkan isi karet yang licin itu dan membuat dada Jaka seketika bagai genderang perang.


"Tiuplah..." Gadis mengangsurkan karet licin berwarna hijau kehadapan Jaka, lantas meniup yang berwarna pink layaknya balon ulang tahun.


Jaka mendengus sebal. Sia sia dia mendebarkan jantung dan menitikan keringat dingin. Mereka lantas meniup semua karet licin itu dengan diselingi tawa karena beberapa kali karet itu terlepas dari genggaman mereka dan terbang kearah bawah gedung.


Entah siapa yang beruntung mendapatkan hujan ****** yang tak berisi. Apakah mereka justru akan memakainya?


"Selesaaaai...." Gadis berseru dengan leganya. Dan Jaka masih belum mengerti maksud dari perilaku Gadis.


Hingga Gadis mengeluarkan isi dari kotak putih dan menaruhnya diantara mereka.


"Apa ini?" tanya Jaka meski sudah bisa menebak.


"It's my birthday" jawab Gadis setelah memasang beberapa lilin kecil diatasnya dan menyalakannya.

__ADS_1


Gadis memejamkan mata untuk membuat permohonan.


Jaka tercenung beberapa saat, hingga dia melihat sebutir cairan lolos dari mata Gadis.


"Fuhhh..." Gadis tiba tiba meniup lilin yang ada diatas kue tart strawberry itu saat Jaka hendak menyeka cairan di pipi Gadis.


"Apa harapanmu?" tanya Jaka dengan tangan menggantung diudara.


"Hei, itu rahasia. Kalau aku beritahu, harapanku tak akan terwujud" jawab Gadis dengan ceria.


Keceriaan yang menyimpan luka.


Gadis memotong kue dan memberikan potongan pertamanya pada Jaka.


"Kamu adalah orang spesialku saat ini" ucapnya mengiringi sepotong kue.


Jaka mencebik lantas membalas "Apa aku harus tersanjung? tidak ada seorangpun disini"


Gadis pun terbahak dan mereka makan malam dengan kue tart.


"Balapan itu sebenarnya adalah pesta ulang tahunku. Tapi sayang, seseorang mengacaukannya. Dasar orang gila" umpat Gadis setelah memberi informasi tak terduga bagi Jaka.


Dia memang melupakan tanggal kelahiran Gadis. Puluhan tahun berpisah, dan menganggap tak akan bertemu lagi, membuat Jaka melupakan tanggal istimewa itu.


"Kenapa tak merayakannya dengan kakekmu?" tanya Jaka.


"Dan melihatnya menangis seolah hari ini adalah hari pemakamanku? not a chance" tolak Gadis.


Jaka membuka minuman kaleng bersoda untuk melarutkan krim yang menyangkut di tenggorokannya.


"Kamu tadi mikirnya kita mau hihohihoh ya" tukas Gadis tiba tiba. membuat Jaka yang baru saja menyeruput minuman kaleng bersoda itu tersedak.


"Uhuk.."

__ADS_1


__ADS_2