Nikahi Aku !

Nikahi Aku !
Cincin


__ADS_3

"Tuan Jacob, apa anda baik baik saja?" tanya seorang anggota rapat yang merupakan Presiden Direktur dari salah satu perusahaan besar yang akan melakukan merger dengan perusahaan Jaka.


Jaka sedikit gugup, namun berusaha untuk tenang. Dia berharap Gadis tidak menyadari suaranya ketika penampilannya sudah bisa ia atasi meski tak nyaman.


"Susi kemana, bos?" bisik Roni kala Jaka memberikan berkas untuk dibagikan.


"Aku menyuruhnya menjaga ruanganku. Wanita itu masih ada disana. Jangan sampai dia membuat kekacauan" jawabnya berdalih. Jaka mengabaikan tatapan bertaenya taenya Roni.


Rapat berjalan dengan lancar. Semua pihak mencapai kesepakatan setelah merundingkan persentase pembagian keuntungan. Meski terjadi beberapa insiden seperti Jaka salah mengambil ponsel karena sang ayah menelfon, Jaka meraih remote AC dan menempelkan pada telinganya.


"Halo.."


Ruangan hening, namun dering ponsel masih menyala.


"Halo.."


Roni tak tega dengan kondisi atasannya yang bisa menjadi bahan ejekan para kolega dibelakangnya.


"Bos, maaf. Ini pak Presdir yang menelfon" ucap Roni menyodorkan ponsel dan mengambil alih remote AC tersebut.


Gadis tampak menunduk dan melipat mulut dengan tingkah rekan bisnis perusahaan sang kakek.


"Baiklah, saya rasa sudah cukup. Terima kasih atas kerjasamanya. Semoga perusahaan kita berjalan lebih maju dari sebelumnya" Jaka menutup sesi rapat siang ini, dan lagi lagi dia membuat Roni kehabisan jidatnya karena ulah sang atasan.

__ADS_1


Bagaimana tidak, dalam jarak dekat Jaka mengulurkan tangan untuk meraih jabatan tangan koleganya. Namun tangan Jaka melenceng 45 derajat dari keberadaan tangan sang kolega.


"Ya Tuhan, kesambet apa bos ku ini" gumam Roni menangis dalam hati.


Entah kenapa, sang bos yang mempermalukan diri sendiri tapi dia merasa ikut dipermalukan.


"Tuan Jacob, terima kasih atas presentasinya. Saya yakin perusahaan kakek saya akan mendapatkan lebih banyak keuntungan setelah berinvestasi di perusahaan anda. Seperti anda ketahui kalau kakek saya itu sudah sangat tua dan tidak mampu lagi mengurusi perusahaan hingga saya lulus nanti" ucap Gadis yang hendak berpamitan dan meraih tangan kanan Jaka karena khawatir dia salah meraih.


Namun hal itu membuat Jaka semakin gugup. Kepalanya menunduk dan tangannya sedikit bergetar.


"Apa anda baik baik saja?" tanya Gadis yang merasa ada yang salah dengan tingkah Jaka. Gadis bahkan melongokkan kepala untuk melihat ekspresi Jaka yang terus menundukan kepala dengan sesekali menoleh ke kiri dan ke kanan.


"Tentu saja.. hanya.. hanya merasa kurang nyaman" jawab Jaka sekenanya. Dia memang merasa tak nyaman dengan identitas dia saat ini dihadapan Gadis.


Gadis lantas melepas jabatan tangannya lalu meraih tas dan berkas untuk dibawa pergi.


"Ah, satu lagi" Gadis menghentikan langkahnya dan menoleh padanya membuat Jaka kembali bersiaga.


"Apakah kita pernah bertemu?" lanjut Gadis bertanya. Jaka hanya terdiam dan membuka mulutnya tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata pun.


"Lupakan pertanyaan konyol itu. Anda pasti menganggapku sedang menggoda anda" imbuh Gadis menghindari pembahasan yang akan merubah mood nya seketika jika menyangkut masalah hubungan antara lawan jenis dalam bisnis.


"Tunggu.. nona Gladys" seru Jaka memanggil nama Gadis, menghentikan langkah wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.

__ADS_1


Gadis menoleh kembali mendengar seruan Jaka.


"Apa anda sudah punya kekasih?" lanjut Jaka bertanya untuk menuntaskan rasa penasarannya.


Gadis tersenyum miring lantas mengangkat tangan kiri dan menggerakkan jari jarinya. Meski Jaka tak bisa melihat dengan jelas apa yang dilakukan Gadis, tapi dia yakin jika Gadis tengah memperlihatkan cincin yang tersemat di jari tengahnya.


"Apa kau lihat itu?" tanya Jaka pada Roni saat Gadis sudah keluar dari ruang rapat.


Roni mengernyitkan dahi. Merasa aneh dengan sikap atasannya yang kini tersenyum dan terlihat konyol karena kaca mata tebal itu.


"Apa yang harus saya lihat? kekecewaan bos" tanya Roni yang merasa tak pasti jika bos nya ini tengah kecewa. Memang Roni akui jika wanita yang terakhir keluar ruangan itu sangatlah muda dan cantik.


"Matamu bermasalah, Ron" ucap Jaka lantas melepas kaca mata yang bertengger di hidungnya dan memakaikannya pada Roni dengan senyum mengembang masih menghiasi wajahnya.


"Buset.. ini kaca mata apa keler" tukas Roni terkejut.


"Baiklah, sudah waktunya makan siang" ucap Jaka mengangkat pergelangan tangan kanannya dengan senyum masih menghiasi wajah tampan itu.


Namun seketika Roni menyadari jika sang bos tengah menatap jam tangan yang meeupakan coretan spidol berupa jam tangan melingkar di pergelangan tangan kanan atasannya itu.


Persis seperti coretan di jari tengah Gadis yang menyerupai cincin.


Roni membuka mulutnya dan mengangkat telunjuk, ingin mengatakan sesuatu namun tak tahu apa yang akan dia ucapkan karena sang atasan sudah berlalu keluar ruangan sambil bersiul dengan riang nya.

__ADS_1


__ADS_2