
Keesokan harinya, Jordan benar benar membawa mereka ke kantor agama untuk mengesahkan hubungan mereka sebagai pasangan suami-istri secara agama dan hukum. Jaka sampai harus terpaksa ijin dan meminta Roni menghandle semua urusan perusahaan selama dia izin dengan alasan yang tak bisa ia ungkapkan. Hanya saja Roni sedikit terheran heran saat Jaka sang atasan memintanya mengirimkan file kartu keluarga melalui dokumen elektronik.
"Jangan jangan si bos mau kawin lari. Tapi... bukannya dia gak demen cewek ya?" gumam Roni menebak dalam hati.
"Jaka Jaka, wait.. sini dulu, aku mo ngomong" bisik Gadis menghadang langkah Jaka saat baru memasuki pintu kantor urusan agama. Gadis memang menunggunya sedari tadi. Mengintip dari balik pintu dengan cemas. Bukan tanpa sebab. Karena Jordan benar benar mengajak Asih dan anaknya untuk datang sebagai saksi plus cadangan, untuk berjaga jaga jika Jaka tak datang.
Meski Jordan sangat yakin jika Jaka pastilah akan datang, namun hal itu dia lakukan untuk meyakinkan dan membungkam Asih agar menjauhkan anaknya dari kehidupan Gadis, sekaligus menakuti Gadis agar tak mundur dari rencana pernikahannya dengan Jaka.
Tanpa ada pilihan lain, tentu saja Gadis memilih menikah dengan Jaka dibandingkan dengan Tole. Bisa rusak generasi kalau sampai terjadi.
"Apaan? mau batalin?" timpal Jaka yang pasrah tangannya di tarik Gadis kearah toilet.
"Kamu mau ngintipin lagi?" tebak Jaka dengan ekspresi tak percaya dengan kelakuan calon istri yang diluar nurul ini lantas dibalas tamparan di lengan.
"Suka sompral kalo ngomong. Jadi gini.." Gadis menoleh ke segala arah untuk memastikan tak ada yang menguping mereka. Namun dikarenakan ramainya pengguna toilet, Gadis lantas memilih untuk berbicara dengan cara berbisik.
__ADS_1
Jaka mengernyitkan dahi sekaligus menaikkan sebelah bahu karena menahan rasa menggelitik di telinga. Hembusan nafas Gadis serta bibir yang sedikit menyapu daun telinganya menumbuhkan rasa gelenyar yang membangkitkan sesuatu dalam dirinya.
"Mana bisa gitu" sergah Jaka menimpali ucapan Gadis.
"Ish.. dengerin dulu" Gadis menepuk bahu Jaka lantas kembali membisikkan sesuatu.
"Ya gak bisa lah. Kita kalo udah nikah ya harus menjalankan kewajiban, otomatis mendapatkan hak" Jaka kembali menyanggah bisikan Gadis.
"Ish.. kamu mah ngomongnya hak dan kewajiban kek lagi belajar PMP" gerutu Gadis bersungut karena Jaka tak menyetujui usulannya.
"Ga asik tau gak. Apa apa ngancem. Belom apa apa aja udah bestian sama kakek" sungut Gadis dengan kesal lantas berjalan sedikit menghentakkan kaki kearah sang kakek yang sudah memelototinya dari jarak yang masih bisa dijangkau mata tua sang kakek.
Jaka mengekor dibelakangnya dengan sedikit mengulum senyumnya. Merasa terhibur dengan sikap Gadis yang lain dari wanita pada umumnya. Bisa dia bayangkan jika hari harinya kedepan setelah hari ini akan semakin menarik.
......................
__ADS_1
"Baiklah. Misi sudah tercapai. Jadi, mana bayaranku?" Jaka menengadahkan tangan, menggoda Gadis yang tak hentinya bersungut.
"Mata duitan" ketus Gadis lantas melangkah masuk kedalam mobil dengan menghentakkan kaki meninggalkan Jaka yang tertawa dan Tole yang menangis meraung dipelukan sang bunda.
"Aku anggap kamu akan membayarnya setiap malam ya" pekik Jaka tanpa menyurutkan senyum lebarnya menggoda Gadis yang kini tengah memelototinya dan bibir yang cemberut.
"Jaka, mulai sekarang saya titipkan cucu saya kepadamu. Saya percaya kamu akan melindunginya dengan baik. Untuk kedepannya, kakek harap kalian bisa bekerjasama menyingkirkan parasit dan benalu" ucap Jordan memberi wejangan pada Jaka, satu satunya orang yang bisa menggoda Gadis tanpa mendapat perlawanan sedikitpun.
"Saya akan jaga amanat ini dengan sebaik mungkin, kek" janji Jaka menyalami tangan keriput Jordan dengan lembut.
"Hahh.. seandainya Raphael masih hidup, mungkin saat ini kami sudah menangis berangkulan" lanjut Jordan menyeka setitik cairan disudut matanya.
"Kakek... tau mengenai kakek Ralphie?" Jaka terkejut. Pasalnya dia belum memberitahukan perihal kakeknya yang sudah lama wafat.
"Tentu saja aku segera mencari tahu tentang kabarnya saat melihatmu lagi. Aku turut prihatin dengan kepergiannya"
__ADS_1