
Gadis teralihkan perhatiannya pada sosok yang tengah berjalan sempoyongan sambil menunduk memegang dahinya, lalu mendekatinya karena sedikit khawatir.
"Bos, apa anda baik baik saja?" tanya Roni yang menyusul langkah Jaka dengan khawatir.
"Tuan, apa anda baik baik saja?" tanya Gadis yang sudah mendekat kearah Jaka.
Entah kenapa Jaka sedikit terpengaruh dengan umpatan Gadis yang dia tahu ditujukan untuk siapa.
Namun dia ingat sebuah petikan kata mutiara jika do'a seorang istri sangatlah mujarab.
Jaka mengacungkan telapak tangannya kearah Roni tanda dia baik baik saja dan agar dia menjaga jarak.
Roni mengerti tanda yang diberikan sang atasan lalu berhenti mendekat dan membiarkan mereka berinteraksi. Ya, Roni mengenali Gadis sebagai rekan bisnis Jaka tempo hari. Wanita yang untuk kedua kalinya membuat sang atasan bertingkah aneh dengan memakai kacamata tebal.
"Saya.. saya baik baik saja. Terima kasih" ucap Jaka sambil mengusap keningnya. Dia tak berani menatap Gadis karena merasa bersalah. Tak ada niat dari awal untuk membohonginya. Semua mengalir begitu saja dan itupun dikarenakan sangkaan Gadis yang begitu saja menganggapnya seorang rakyat jelata.
"Tuan Jacob? Ternyata anda. Kemarilah, biar saya obati" Gadis segera menarik Jaka kearah mobilnya tanpa persetujuan Jaka. Roni yang memperhatikan mereka lantas memilih mengawasi dari jauh.
__ADS_1
"Nona, silahkan pindahkan mobil anda" ucap sekuriti yang sempat mengamankan Gadis memperingatkannya.
"Ck, iya bawel" ketus Gadis mendecak. Dia lantas meminta Jaka untuk masuk dan membawanya sedikit menjauh dari area drop off.
Lagi lagi Jaka merasa seperti seorang gadis lemah tak berdaya yang dibawa oleh CEO otoriter.
"Apa anda selalu seramah ini pada orang lain?" tanya Jaka yang tengah dibubuhi salep pereda memar oleh Gadis. Hembusan nafasnya yang meniup kening Jaka membuat bayangan tadi malam lewat begitu saja. Tentu saja hal itu membuat jantung Jaka berdegup kencang ditambah jarak yang sedekat ini.
"Selesai. Setidaknya benjolnya tak akan membesar" ucap Gadis setelah selesai mengobati.
"Ah iya, apakah di perusahaan anda sedang menerima pemagang?" tanya Gadis yang teringat dengan posisi Jaka di perusahaan yang pernah dia kunjungi mewakili sang kakek.
Jaka mengerutkan kening, merasa bingung dengan pertanyaan Gadis.
"Apa temanmu mencari perusahaan untuk magang?" tebak Jaka dibalas kekehan Gadis.
"Bukan. Tapi untukku" sanggah Gadis membuat Jaka semakin tak mengerti.
__ADS_1
"Kamu bisa mendapatkan posisi penting di perusahaan kakekmu" timpal Jaka seraya tersenyum getir. Apa jadinya jika mereka benar benar 1 kantor.
"Itu perusahaan kakek. Saya ingin mandiri. Memulai dari bawah dan membuktikan kemampuan saya sendiri" ujar Gadis menjelaskan maksudnya.
"Tapi pastikan mereka membayarku dengan layak, oke" imbuh Gadis dengan senyum penuh percaya diri.
Jaka terpesona oleh senyumnya. Senyum yang menampilkan sosok dewasa dari diri seorang Gadis rese yang selalu membuat ulah.
uhuk
Jaka tersedak air liurnya sendiri kala bayangan 2 bongkah bagian belakang Gadis kembali menghampiri.
"Siapa yang bilang kalau anda diterima magang?" ucap Jaka mengalihkan perhatian karena wajahnya kini sedikit memerah kala bayangan sialan itu lewat tanpa permisi.
"Hehei.. di dunia ini mana ada yang gratis" timpal Gadis menunjuk kening Jaka yang ditempeli hansaplas jumbo.
Jaka menghela nafas kasar. Tak seharusnya dia merasa tersanjung oleh perhatian Gadis. Semua pasti ada harganya.
__ADS_1