Nikahi Aku !

Nikahi Aku !
Permen Loli


__ADS_3

Jaka membiarkan Gadis terus membuntutinya sambil terus mengoceh mananyakan segala hal.


Seperti dahulu saat mereka masih kecil. Jaka yang lebih tua 7 tahun darinya selalu diekori Gadis kemanapun dan apapun yang Jaka lakukan.


Hanya saja mengenai mobil, entah darimana Gadis mendapatkan hobi tak biasa bagi seorang perempuan.


"Berenti napa, kalo ditanya" Gadis mencekal lengan berotot Jaka yang mulai kembali mengeluarkan keringat karena mereka berada diluar ruangan, menuju tempat parkir.


"Uwow.. maaf.. maaf.. alamak.. kenyal kenyal gemannaaa..." gumam Gadis sedikit menyesal karena mencekal lengan berotot Jaka. Namun saat dia menggenggam bisep yang kencang, rasa penasarannya kembali muncul dan memijat perlahan berpindah pindah menyusuri otot otot nan kekar itu.


Hal itu sukses menimbulkan gelenyar aneh di tubuh Jaka yang membuat sesuatu yang menggantung bereaksi.


"Hentikan itu" sergah Jaka menangkap tangan nakal Gadis. Dia tak mau terpancing dan melakukan hal yang bisa merusak masa depannya.


Ya, itulah prinsip Jaka selama ini. Dia bahkan dijuluki 'The Untouchable' dikalangan para wanita anak konglomerat maupun rekan bisnis juga para karyawannya.


Itulah yang membuatnya rutin pergi ke pasar dan mencari keringat ples bau khas pasar agar Amber yang selalu nekat, menjauh dan merasa jijik dengannya.


"Hehe.. maaf, kebablasan" ucap Gadis nyengenges seraya melap tangannya ke kaos singlet yang dikenakan Jaka.


Jaka mendengus dengan kelakuan Gadis. Dia menatap kaos singletnya yang sudah tak putih lagi.


"Bener bener maksimal hari ini" keluhnya dalam hati mengingat dia hanya mencari udara dan bau yang menempel dari atmosfer pasar, kini ditambah dengan tangan Gadis yang menjadikan kaosnya sebagai lap.


"Jadi.. kita gak direstuin kan?" ulang Gadis berdiri tegak sambil menautkan kedua tangannya dibelakang tubuhnya.


Ekspresinya menyiratkan harapan akan pembatalan pernikahan.


"Kata siapa?" jawab ketus Jaka lantas masuk kedalam mobil Gadis.


"Loh loh loh... jadi maksudmu.. kakek.. setuju?" Gadis terkejut dengan jawaban Jaka. Dia berharap dengan membawa sosok Jaka yang nota bene adalah seorang kuli angkut di pasar, pastilah tidak bisa membahagiakan cucu kesayangannya itu, apalagi membelikan barang barang yang dia butuhkan.


Terutama onderdil mobil.


Jaka mengangguk lantas menengadahkan tangan.

__ADS_1


"Mana bayaranku?" pintanya menagih janji Gadis.


"Eee... siayam, mata duitan juga nih jalu" gerutunya lantas merogoh saku celana.


"Heh..permen? kamu pikir aku anak kecil?" cebik Jaka kala Gadis menaruh permen loli yang dia dapat dari saku celananya.


Dia lupa jika baru kemarin belanja asesoris mobil untuk balap liar nanti malam.


"Itu adalah barang berharga aku. Tanpa itu, aku gak bisa apa apa" jawab Gadis dengan penuh haru.


Jaka mendengus sambil menaikkan sebelah bibirnya, lantas membuka bungkus permen itu lalu memakannya.


"Oke, kamu masih berhutang banyak padaku. Sekarang antar aku kembali" ucap Jaka memberi perintah, lantas menutup pintunya.


"Sialan, dipikir aku sopir dia apa?" gerutu Gadis tertegun. Dia tak menyangka lelaki ini tak termakan omong kosongnya.


Jaka lantas menurunkan jendela dan kembali memberi perintah.


"Kalo kamu punya kuncinya, aku bisa kesana sendiri" ucapnya seraya mengedikkan kepala kearah stir mobil, memberinya petunjuk untuk mengemudikan mobil dan mengantarnya kembali ke pasar karena dia tak bisa menghidupkan mobil dengan cara ekstrim seperti yang Gadis lakukan.


Gadis tampak komat kamit menghujat Jaka yang tak bisa orang lain dengar. Namun dia menuruti perintah Jaka dengan mengantarnya kembali ke pasar.


"Sialan tuh jalu, maen perintah perintah aja" gumam Gadis menggerutu kesal.


"Iiiii... kok jadi gini siiiih..." Gadis mengacak acak rambutnya untuk meluapkan kekesalannya.


Dia merasa terjebak jebakannya sendiri.


"Kakek ga da kerjaan. Orang kek gitu kok diterima jadi mantu. Minimal direktur perusahaan gitu, atau CEO. Kan banyak tuh kolega kolega kakek yang jabatannya tinggi tinggi tapi single" ocehnya didalam mobil sambil menatap punggung Jaka yang semakin menjauh.


"Tapi udah pada aki aki jugaaa" lanjut Gadis meringis dan menangisi nasibnya.


Kalau boleh memilih, dia tak mau menikah dan memiliki hubungan yang suatu saat akan hancur juga karena dia sendiri menyadari karakternya yang rumit dan tak bisa diatur.


Terlebih kedua orang tuanya yang egois dan memilih menjalani kehidupan sesuai keinginan mereka tanpa memperdulikan kehadirannya sebagai anak mereka.

__ADS_1


Hal itu yang menjadi pemicu utama Gadis yang merasa takut akan menjalani sebuah komitmen.


"Ron, jemput aku sekarang" titah Jaka melalui telepon saat mobil Gadis sudah terlihat meninggalkan area pasar.


Jaka tersenyum miring sambil menatap permen loli lantas kembali memasukkannya kedalam mulut.


"Siapa gadis itu, bos?" tanya Roni saat Jaka masuk kedalam mobil dan merebahkan kepalanya di sandaran kursi.


Jaka hanya tersenyum seraya memejamkan mata. Membuat Roni terheran heran dengan sikap majikannya yang tampak lebih cerah dibalik kaos kumalnya.


"Apa aku masih bau?" tanya Jaka alih alih menjawab pertanyaan Roni.


Roni menoleh sekilas lantas kembali menatap jalanan.


Jaka menegakkan kepalanya dan menoleh. Memperhatikan sikap Roni yang tampak salah tingkah.


"Sempurna, bos" hanya itu yang bisa Roni ucapkan. Namun sedikit ketakutan karena jangan jangan bukan itu jawaban yang majikannya inginkan.


"Nona Amber masih di rumah" imbuh Roni mendukung jawaban sebelumnya.


Jaka kembali menatap jalanan seraya mengangguk. Baru saja dia selesai ber drama di rumah Gadis, kini masih harus berdrama di rumahnya sendiri.


"Turunkan aku disini" titah Jaka beberapa meter sebelum memasuki gerbang rumah orang tuanya.


Roni mengangguk dan menuruti perintah sang majikan.


Jaka turun dan memilih berjalan kaki menuju rumah diikuti Roni yang mengemudikan mobil dengan perlahan mengiringi sang majikan.


"Cuaca yang luar biasa" gumam Jaka mensyukuri terik matahari yang menyorot di waktu pukul 3 sore.


Perjalanan dari gerbang ke rumah utama berjarak sekitar 200 meter ia jalani dengan santai. Peluh mulai membanjiri kaos singletnya.


"Papiiii....." pekik Amber kala melihat penampakkan Jaka yang tengah berjalan santai menuju rumah utama.


"Kenapa? ada apa?" tanya ayah Amber dengan nada panik kala mendengar seruan sang anak di ambang pintu utama.

__ADS_1


"Itu.. apakah itu.. Jacob? tapi.." ucapan Amber terbata menunjuk sosok yang kumal dan banjir keringat melangkah dengan santainya mengenakan sepatu sport terbalut lumpur yang mengering dan.. permen loli.


"Kenapa jadi gitu, Papiii..." rengek Amber yang merasa kecewa dengan penampilan Jacob.


__ADS_2