Nikahi Aku !

Nikahi Aku !
Halte


__ADS_3

Hari sudah menampakkan sisi gelapnya. Namun taburan cahaya berwarna warni diseluruh penjuru kota seolah pantulan dari pendaran rasi bintang yang tersebar di langit malam.


Jaka memutuskan untuk pulang, namun Gadis bersikeras untuk mengantarkannya.


Seketika Jaka termenung. Apakah dia harus pulang ke apartemennya, atau..


"Roni.. aku harus pinjam rumah Roni" putusnya dalam hati.


Tapi Jaka lantas kembali merenung. Pasalnya sang asisten pribadinya itu memang tinggal di rumah mungil nan sederhana.


"Tetap saja itu kawasan elite" lanjutnya bergumam.


"Ayok, jadi pulang gak nih? tanya Gadis membuyarkan lamunan Jaka.


"Tapi ini udah malem" tukas Jaka yang masih memimirkan tujuannya yang menjadi rumah seorang kuli angkut.


"Ga pa pa kali, udah biasa" timpal Gadis lantas berjalan kearah pintu utama rumah.


"Tapi.. kamu sekarang calon istriku, kalo ada apa apa sama kamu.. " ucapan Jaka menjeda.


Gadis menunggu kelanjutan ucapan Jaka.


"Aku akan segera menikah lagi" lanjut Jaka membuat Gadis mengangakan mulutnya, tak percaya dengan apa yang dituturkan calon suaminya ini.


"Kamu.." untuk pertama kalinya Gadis tak bisa membalas bahkan menimpali perkataan seseorang. Tangan yang mengepal bahkan melayang di udara, sedangkan Jaka tengah menahan tawa nya.

__ADS_1


"Udah gini aja, kamu anterin aku sampe halte deket sini, udah gitu biar aku naik bus" putus Jaka yang mengingat jika dekat rumah Gadis terdapat halte bus, namun entah bus dengan tujuan kemana. Setidaknya dia bisa memikirkannya nanti. Untuk sekarang yang dia pikirkan adalah keluar dari pembahasan tentang tempat tinggalnya.


"Udah sana pulang. Ini udah malem, gak baik cewek keluyuran malem malem" titah Jaka dengan lembut pada Gadis yang tampak enggan untuk pergi.


"Nunggu kamu naik bis aja deh. Lagian.. emang masih ada jam segini?" ucap Gadis.


"Ada, jadwal terakhir jam... 10an" jawab Jaka dengan asal seraya mengangkat tangan kanannya seolah tengah menghitung waktu. Padahal dia tak mengetahui sedikitpun mengenai jadwal bis maupun trayek yang dilalui.


Gadis tampak menoleh ke kiri dan ke kanan. Lantas memeluk lengannya sendiri seraya mengusapnya naik turun secara konstan lalu berkata "Gak pa pa, aku temenin kamu dulu aja. Gawat kalo sampe kamu.." ucapannya dijeda seraya kembali menoleh ke kiri dan ke kanan membuat Jaka mengangkat sebelah alisnya.


"Nanti kamu diculik wewe gombel" lanjut Gadis berbisik membuat Jaka hampir menyemburkan tawanya.


"Oke.. tapi nanti kalo aku udah naik bis.. kamu gak takut diculik?" Jaka bertanya balik, sedikit menggodanya karena ekspresi Gadis terlihat sangat menggemaskan dengan wajah polosnya yang tak hilang meski kini telah beranjak dewasa.


"Aku duluan. Kamu.. kamu ati ati ya" ucap Gadis kemudian lantas bergegas masuk kedalam mobil seraya bergidik.


Jaka terkekeh melihat tingkah calon istrinya itu.


Setelah mobil Gadis sudah tak tampak lagi, Jaka segera menghubungi Roni untuk bergegas menjemputnya. Dia cukup terpengaruh oleh peringatan Gadis kala angin dingin menerpa tubuhnya yang hanya terbalut t shirt.


"Sialan" umpatnya kala merasakan kehadiran sesuatu yang tak tampak jelas namun mampu membuat rambut halus di tengkuknya berdiri.


30 menit berlalu dengan kegelisahan, Roni pun datang dengan mobil merah kesayangannya.


"Kelamaan" ketus Jaka yang langsung masuk ke kursi penumpang belakang. Roni tak menjawab apapun.

__ADS_1


Jaka menumpukan kepalanya pada tangan kiri lantas bersandar pada jendela, menatap pemandangan malam yang gelap dengan barisan lampu jalan. Memikirkan bagaimana menjalani rencana selanjutnya dengan Gadis.


Bukannya dia tak mau jujur, hanya saja kesan awal Gadis terhadap dirinya dan caranya memandang dan memperlakukan orang dengan status sosial yang jauh dibawahnya, membuatnya semakin tertarik pada gadis kecil yang dulunya sangat manja terhadapnya.


tring tring


Suara notifikasi ponsel membuyarkan lamunannya.


Jaka membuka kunci layar lantas mengernyitkan dahi.


"Bos, maaf saya barusan ke kamar mandi dulu. Bos masih disitu kan?"


Seketika wajah Jaka memucat, keringat dingin muncul di pelipis. Jari jempol yang hendak mengetikkan sesuatu untuk membalas pesan Roni pun bergetar.


"CEPETAN" capslock jebol.


Jaka perlahan mendongak dan memberanikan diri untuk melihat sosok yang mengemudikan mobil, namun tiba tiba dia sudah kembali berada di halte.


"Gadis sialan" desisnya mengumpati wanita yang tadi menggodanya dengan cerita aneh.


10 menit kemudian Roni pun datang. Jaka tak langsung mempercayainya, dia menekan tombol pada ponsel dan ponsel Roni berdering, lantas menjawab "Apa ada yang lupa, bos?"


Jaka mematikan sambungannya lantas masuk ke mobil tanpa berkata sepatah kata pun. Setidaknya dia yakin jika yang menjeputnya ini benar benar asistennya.


Benarkah?

__ADS_1


__ADS_2