Nikahi Aku !

Nikahi Aku !
Stress


__ADS_3

Jaka terus terkekeh, senyum senyum sendiri kala memutar ulang kejadian semalam yang membuat Gadis menangis berguling guling diatas kasur dikamarnya.


Jaka berusaha menenangkan namun Gadis tak hentinya melempar bantal dan segala sesuatu yang bisa ia raih untuk mengusir Jaka dengan wajah merahnya.


"Ekhem, tuan Jacob, bagaimana pendapat anda?" tanya kolega bisnis Jaka mengembalikan kesadaran Jaka.


"Lucu.. emm.. maksud saya cukup baik.." jawab Jaka meralat jawaban pertamanya.


"Maksud anda? bagian mana yang cukup baik menurut anda? apakah meng-up grade mesin dengan yang baru atau cukup dengan yang sudah diperbaiki?" kolega bisnisnya bertanya balik mendapat jawaban tak nyambung dari Jaka.


"Bos, beberapa pabrik tekstil kota M mengalami penurunan order karena ada pesaing baru yang mematok harga dibawah pasar, selain itu mereka menggunakan mesin baru dengan teknologi mutakhir. Dan pabrik tersebut mengalami penurunan produksi karena beberapa mesin mengalami kendala karena usia. Dampaknya sebagian kecil karyawan terlihat bersantai karena mesin yang bermasalah itu tak bisa diperbaiki. Bagaimana menurut anda?" Roni berbisik menjelaskan inti dari masalah yang disampaikan rekan bisnisnya itu.


"Ah, itu. Saya pikir cukup dengan yang sudah diperbaiki" jawab enteng Jaka tanpa menampilkan mimik serius seperti yang selalu ia tampilkan.


Tak ada yang pernah melihatnya menampilkan gigi atu melengkungkan bibir, tepatnya.

__ADS_1


Namun kini, mimik kaku itu seolah menguap dan menghilang. Suasana didalam ruangan pun terasa cerah meski desain dan interior ruangan tetaplah sama.


"Tapi.." rekan bisnisnya ingin menyanggah namun ragu ragu.


"Tuan Surya, pesaing baru yang anda sebutkan itu adalah pemain baru. Tentu saja mereka berani memberikan harga dibawah pasar karena mereka belum memperhitungkan segala sesuatunya dengan lengkap. Anda lupa jika harga kita merupakan harga paling minim. Meski demikian, kita menggunakan metode subsidi silang sehingga keuntungan yang tampaknya sangat tipis itu bisa tersubsidi oleh project lain.


Lagi pula, mengenai kualitas bahan dan pengerjaan, apakah mereka bisa menjaminnya? jangan lupakan hal itu" Jaka mengingatkan dengan tenang.


"Kecuali jika anda berniat memindahkan saham anda ke perusahaan baru itu dengan iming iming prosentase keuntungan yang lebih besar, maka anda tak seharusnya mencari alibi. Cukup jual saham anda di perusahaan ini, sehingga anda bisa membeli saham di perusahaan itu dengan tenang" lanjut Jaka menautkan kesepuluh jari jarinya dengan siku bertumpu diatas meja dan tatapan mengintimidasi, sehingga lengkungan bibir itu tampak sedang mengancam.


Roni yang baru mengerti dengan analisa bos nya menatap sinis seraya menaikan dagu. Berfikir jika orang serakah sangatlah licik. Tak cukup teriming imingi keuntungan yang belum pasti nyata, mereka bahkan terbujuk untuk menjatuhkan perusahaan yang sudah lama mereka ikuti dan mendapatkan keuntungan yang real.


Setelah Surya keluar membawa rasa panik, Roni merasa geram dengan pengkhianatan yang dilakukan oleh rekan bisnis sang bos.


"Bos, bagaimana bisa ada orang semacam itu?" ucap Roni dengan kesal. Tangannya membuka kancing jas lantas berkacak pinggang. Seolah ingin melampiaskan kekesalannya pada sesuatu.

__ADS_1


"Lucu.. sangat manis.. hahaha..." Jaka menatap lurus kearah kosong dengan senyum yang masih mengembang.


"Bos, apa anda baik baik saja, bos?" Roni bergidik melihat keanehan sang bos yang menatap ke satu arah dan dia tak bisa melihat siapapun disana.


"Ah, kamu masih disini? katakan padaku, apa kamu pernah merasa selalu diikuti bayangan seseorang?" tanya Jaka yang tersadar akan kehadiran sang asisten.


Dan pertanyaan itu semakin membuat bulu kuduk Roni berdiri.


"Mmm.. maksud.. bos?" Roni memepetkan tubuh pada kursi Jaka dengan gemetar.


"Ah.. lupakan.. kamu tidak akan mengerti" ucap Jaka tersenyum cerah, senyuman yang membuat Roni semakin ketakutan.


"Ttidak, bos. Lebih baik saya tidak pernah mengerti apapun" timpalnya dengan suara bergetar.


"Hahahahaha...." Jaka tiba tiba tertawa nyaring hingga tubuh Roni berjenggit lantas berlari terbirit birit keluar dari ruangan bermandikan keringat dingin.

__ADS_1


"Gawat.. si bos kelewat stress.."


__ADS_2