
"Kamu... otak kamu harus disteril ya. Sembarangan ngatain kakek" gemas Jordan menendang kaki Gadis lagi.
Jaka ingin menghadangnya, namun pergerakan dibawah meja tak terlihat olehnya. Membuatnya merasa iba pada Gadis yang kembali mengaduh.
"Abis apaan dong tanggung jawab segala. Jangan kayak si Owen ya kek, tiba tiba didatengin cewek minta tanggung jawab" gerutu Gadis sambil mengusap usap kakinya.
"Owen?"
"Iya. Tau gak. Ternyata dia anaknya tuan Bernard, terus cewek yang namanya.. emmm... Ember.. Amber.. nah iya Amber, tiba tiba dateng minta tanggung jawab soalnya lagi hamil. Padahal kakek tau tuh anak kelainan gitu kan sama cewek" ungkap Gadis membuat Jaka tertegun.
"Amber? apa dia Amber yang sama?" pikir Jaka dalam hati.
"Yakin, dia gak ngapa ngapain?" tanya Jordan memastikan, meski dia juga tak yakin jika Owen, teman Gadis yang dia juga sangat mengenalnya, bukanlah tipe anak yang suka dengan hal berbau keintiman dengan lawan jenis. Ada satu masa, Jordan memiliki seorang art yang cantik dan seksi. Dia terpaksa diterima bekerja karena keponakan salah satu pegawainya. Dan saat Owen sedang main ke rumah Gadis bersama teman teman yang lain, Owen tiba tiba menangis berteriak dari arah dapur.
Pasalnya, dia tengah dipepet dan digerayangi art cantik itu karena paras Owen yang blasteran membuat siapapun tertarik padanya.
"Katanya sih gitu" jawab Gadis sambil mengunyah makanannya.
Jaka terus menyimak obrolan itu dan memautkannya dengan tindakan nekad Amber yang selama ini tak lelah mengejarnya.
__ADS_1
"Jadi, kapan kakek bisa ketemu orang tua kamu, Jaka?" tanya Jordan tiba tiba membuat Jaka tersedak air liurnya sendiri, karena dia hanya memainkan makanannya.
uhuk uhuk uhuk
Gadis menyodorkan segelas air minum sambil menepuk nepuk punggung Jaka perlahan.
"Kakek kalo nanya suka gak pake aba aba dulu deh. Kesian kan calon Gadis keselek jadinya" protes Gadis mendelik kearah sang kakek.
Jordan mencebik. Dia tahu jika Jaka terkejut dengan pertanyaannya yang tiba tiba.
"Mengenai itu.. orang tua saya di kampung tidak punya ponsel, kek. Lagi pula, bukankah pihak perempuan ya yang harus ada wali nikah?" jawab Jaka yang dimengerti oleh Jordan sebagai alasan menghindar.
Apa wanita itu ada sangkut pautnya dengan calon cucu menantunya ini? Jordan bertanya dalam hati.
"Tetap saja kedua keluarga harus saling mengenal satu sama lain. Selain itu, mereka harus tahu jika anaknya yang sedang merantau ini akan menikah, jangan sampai mereka menyiapkan calon untukmu sehingga saat kamu pulang kampung nanti, kamu langsung dinikahkan dengan pilihan mereka. Atau jangan jangan, kamu sudah mempunyai istri yang kini hidup dengan orang tuamu" tukas Jordan menatap ekspresi Jaka yang tampak serba salah.
Jordan memang bersahabat dengan kakek Jaka. Dia pun mengenal Jaka sewaktu masih kecil. Namun seiring berjalannya waktu, juga bagaimana Jaka menjalani hidup saat Jordan kehilangan kabar tentang keluarga O'Bryant, Jordan buta sama sekali.
Jordan akhirnya memutuskan untuk mengalah lebih dahulu.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu, biar saya yang akan datang sendiri dan menemui orang tuamu di kampung. Sudah lama saya tidak menikmati alam semenjak kepergian sahabat saya" ucap Jordan memutuskan. Membuat Jaka mendongak dan menatap Jordan penuh tanya.
"Mana ada yang kek gitu, kek. Dimana mana tuh pihak laki laki yang dateng ngelamar. Masa kakek yang dateng ngelamar buat aku. Kesannya kan kita mo beli anak mereka" sergah Gadis mengerutu.
"Memangnya kamu tak seperti itu? bukannya kamu juga nyomot dia di pasar dengan iming iming? sudah lah, kirimkan alamatmu padaku, aku tunggu di ruang kerja" putus Jordan lantas menyimpan peralatan makannya diatas meja dan berlalu kearah ruang kerja.
Dia harus menyusun strategi untuk menghadapi kedua orang tua Jaka setelah Raphael tidak lagi berkuasa di keluarga O'Bryant.
Jaka mengerti dengan isyarat yang disampaikan Jordan padanya. Dia pun memutuskan mengakhiri makan malamnya dan mengikuti Jordan ke ruang kerja.
"Kamu mau kemana?" tanya Gadis mencekal lengan Jaka.
"Ke ruang kerja kakek" jawab Jaka santai.
"Ikuut" timpal Gadis dengan menampilkan mimik memelas. Kedua tangannya bahkan merangkul erat lengan Jaka bak anak kecil yang tak mau ditinggal induknya.
Jaka mengernyit dengan tingkah Gadis yang seolah ketakutan. Karena Gadis tengah menolehkan kepala ke kiri dan ke kanan.
"Nanti kalo aku diculik wewe gombel gimana?" lanjut Gadis berbisik membuat mata Jaka menyipit.
__ADS_1
Telunjuk tangan kanan Jaka menekan kening Gadis dan mendorongnya perlahan kebelakang seraya berkata "Kamu wewe gombelnya. Nyulik anak orang sembarangan"