Nikahi Aku !

Nikahi Aku !
Hematophobia


__ADS_3

Gadis terus menghitung waktu. Dia memang tiba di pasar lebih awal dari jam pulang Jaka bekerja kuli yang diyakininya. Namun ini sudah lebih dari 10 menit Gadis tak melihat Jaka keluar dari pasar untuk mengangkut belanjaan seseorang yang membutuhkan jasanya.


"Apa aku susul ke dalem aja ya?" gumam Gadis seraya mengangkat pergelangan tangan kirinya.


"Nanti kalo kesasar malah tambah repot" gumam Gadis yang merasa dilema.


Sementara itu, Jaka tengah disidang oleh sang ayah beserta ayah dari Amber yang kecewa terhadapnya karena mendukung pihak sekuriti untuk mempermalukan Amber.


"Bukankah orang yang salah harus ditindak? siapapun harus menerima akibatnya jika melakukan kesalahan. Bagaimana jika posisi mereka dibalik, apa anda akan diam saja melihat puteri anda terluka karena kesombongan orang lain?" ucap Jaka dengan tenang namun dingin.


"Kamu.. tapi dia adalah calon istrimu" sergah Seth, ayah Amber. Ada ekspresi tidak percaya dengan sikap Jaka yang nota bene adalah calon suami putri semata wayangnya.


"Bahkan jika dia ayah saya, saya akan berbuat hal yang sama agar memberi teladan bagi karyawan. Sudahlah, masih banyak hal lain yang harus saya kerjakan. Permisi" pamit Jaka memutuskan percakapan yang tak akan ada habisnya.


"Lagi pula, saya belum berkata setuju untuk menikah dengan puteri anda" lanjutnya seraya menutup pintu meninggalkan mereka yang tersulut emosi karena tingkah Jaka yang tak bisa dibujuk sama sekali.


"Jacob, tega sekali kamu sama aku. Aku ini calon istri kamu. Seharusnya-"


"Seharusnya kalau mengaku jadi calon istri saya, harus menjaga wibawa dan nama baik saya. Sedangkan kamu, bukan hanya mempermalukan dirimu sendiri, kamu juga merusak citraku di perusahaan. Jadi..." Jaka memotong protes yang dilayangkan Amber saat Jaka baru saja keluar dari ruangan.


Dia merasa jengah dengan keluarga Anchorage. Padahal Amber merupakan anak angkat keluarga itu, namun perlakuan mereka melebihi perlakuan orang tua Jaka padanya yang selalu menyalahkannya dan menuntutnya untuk menuruti semua keinginan mereka tanpa memperdulikan perasaannya.


Jaka bahkan sering bertanya, apakah dia benar benar anak mereka? dan mereka selalu menjawab dengan ketus jika pertanyaan konyol itu merupakan bentuk kekufurannya.


"Berhentilah berpura pura menjadi calon istri saya. Karena saya tak pernah menyetujuinya" lanjut Jaka mendesis. Dia lantas melangkah pergi kearah tangga darurat. Dia malas menggunakan lift karena Amber pasti bisa mengejarnya masuk.


sedangkan tangga darurat adalah tempat yang pasti Amber hindari.


"Jacob.. Jacob tunggu.. kamu gak bisa seenaknya memperlakukan aku seperti ini.." Amber berusaha mengejar Jaka yang melangkah cepat menuruni undakan tangga dengan sepatu heels nya.


"Jacob.. aaaaahhh..."


gedubrak gubrak gubrak


Amber terkilir lantas terjatuh dari tangga dengan berguling guling hingga ke bordes pertengahan lantai.

__ADS_1


Jaka terkejut, namun dia tak sempat menangkap tubuh Amber yang terguling melewatinya.


Jaka lebih terkejut lagi kala melihat beberapa bagian tubuh dan kepala Amber mengeluarkan darah, terutama dari bagian sela kakinya dimana darah segar mengalir dengan derasnya.


"Roni.. ke tangga darurat"


bruk


Jaka memberi informasi pada Roni, sang asisten, namun dia pun pingsan ditempat karena tak kuat melihat darah.


......................


"Enghh.." Jaka melenguh kala kesadarannya kembali.


"Bos.. anda sudah sadar?" tanya Roni lantas memencet bel untuk memanggil perawat.


"Dimana.. dimana ini" tanya Jaka dengan suara lemah.


"Kita ada di rumah sakit, bos" jawab Roni yang lantas menyingkir karena dokter dan para perawat masuk untuk memeriksa kondisi vital Jaka.


"Kondisi anda sudah mulai stabil. Apa anda pengidap hematophobia?" tanya sang dokter yang dijawab Jaka dengan keterdiamannya.


"Bagi penderita bisa berbahaya. Sebaiknya dihindari jika sekiranya tak bisa menghadapi ketakutannya, namun jika dia bisa melawan rasa takutnya, itu akan menjadi obat terkuat bagi fobia yang dideritanya" jelas sang dokter memberi saran.


"Ah iya, kami memohon maaf atas kehilangan anda dan istri anda, tuan. Kami tak bisa menyelamatkan janin yang dikandung istri anda" lanjut sang dokter membuat Roni juga Jaka menoleh dengan cepat kearahnya.


"Janin?" tanya keduanya bersamaan.


Sang dokter mengangguk lantas membetulkan posisi kacamata nya.


"Apa jangan jangan, tuan belum mengetahui jika istri anda tengah mengandung janin berusia 6 minggu?" tebak sang dokter tanpa dijawab majikan dan asisten tersebut. Keduanya tengah saling berkomunikasi melalui tatapan.


"Saya turut menyesal. Tapi and jangan khawatir, istri anda masih bisa-"


"Dia bukan istri saya" sanggah Jaka memotong ucapan sang dokter.

__ADS_1


"Saya mengerti akan kekecewaan anda, tuan. Tapi anda juga harus mengerti akan kesedihan yang diderita istri-'


"Sudah ku katakan. Dia bukan istri saya. Apa anda melihat status identitas saya?" tegas Jaka memperlihatkan taringnya.


"Baik, saya mengerti" sang dokter dan para perawat segera keluar ruangan karena melihat emosi dalam ekspresi Jaka.


Jaka mengepalkan kedua tangannya, rahang yang mengetat menambah kadar aura kejamnya.


"Jam berapa ini?" tanyanya kemudian.


"Jam... 9 malam, bos" jawab Roni memastikan dengan menatap jam tangannya.


"Sial" desis Jaka mengumpat lantas melompat dari brankar. Mencabut jarum infus dari punggung tangannya dengan sembrono, tak menghiraukan darahnya menetes..


Darah...


tuing tuing tuing


Tubuhnya tiba tiba terhuyung kala melihat darahnya sendiri menetes. Ia sandarkan tubuhnya pada tembok untuk mengatasi rasa pusingnya.


"Bos.. apa anda baik baik saja?" tanya Roni dengan khawatir memegang kedua bahunya. Hendak menggiringnya kembali ke brankar, namun Jaka mengangkat sebelah tangannya untuk menolak bantuan Roni.


Dia memejamkan matanya untuk meredakan rasa pusing, dan Roni dengan cekatan menempelkan plester luka yang selalu dibawanya keatas luka jarum sang majikan. Dia sangat berhutang budi pada Jaka karena telah menyelamatkannya dari amukan ayah tiri yang selalu menyiksanya sewaktu dia duduk di bangku SMP.


Jaka membuka mata saat rasa pusing itu telah pergi lantas mengangkat sebelah tangan untuk melihat punggung tangannya.


"Terima kasih" ucap Jaka lantas melangkah pergi meninggalkan Roni yang tersenyum seraya mengangguk sambil mengucap "Terima kasih kembali, bos".


......................


"Kuharap kamu sudah pulang" gumamnya didalam mobil. Waktu sudah cukup larut bagi seseorang untuk diam diluar rumah. Terlebih pasar tradisional selalu dipenuhi para preman juga gelandangan pada malam hari. Jaka berharap Gadis cukup pintar untuk tak membahayakan dirinya dengan tidak menunggunya.


"Heh, percaya diri sekali" cebik Jaka mencibir dirinya sendiri.


Saat mobil memasuki parkiran luar pasar, Jaka menyisir area tersebut dengan perlahan. Lampu mobil yang menyorot menjadi pemandunya dalam menerangi area yang gelap. Beberapa gelandangan bahkan merasa terganggu dengan cahaya lampu yang benderang.

__ADS_1


Betapa kecewanya Jaka kala tak mendapati Gadis diantara para gelandangan yang tertidur di emperan toko.


Tanpa dia ketahui jika Gadis tengah meringkuk dibalik tumpukkan peti buah tak jauh dari mobilnya,


__ADS_2