Nikahi Aku !

Nikahi Aku !
Dia Pikir Dia Siapa?


__ADS_3

Wajah Gadis memerah kala berjalan beriringan dengan Jaka yang ia tahu adalah atasannya di kantor.


Bagaimana tidak, meski pakaian yang dikenakan kedua orang yang Gadis yakini adalah 2 orang yang berbeda itu berbeda, namun saat ini dia seolah tengah berhadapan dengan sang suami versi kantoran.


"Apa mereka kembar?" tanya Gadis dalam hati.


brukk


"Ouch... huhuuuu" Gadis mengaduh seraya mengusap keningnya.


Saking asiknya memikirkan sang suami, dia tak memperhatikan langkahnya. Alhasil dia menabrak tiang penyangga gedung di lobby.


"Apa kamu baik baik aja?" tanya Jaka khawatir. Kedua tangannya reflek meraih wajah Gadis untuk melihat kondisi kening yang terantuk tiang penyangga itu.


Gadis terkejut dan segera menepis tangan Jaka.


Percayalah, jantungnya kini berdegup kencang. Seperti halnya jika bertemu sang suami kala pulang kerja dan mereka langsung meluapkan rasa rindu setelah seharian tak bertemu. Pikir Gadis.


"A ah.. saya.. saya baik baik saja.." ucapnya tergagap. Dia menoleh ke sekelilingnya dan menjadi tontonan para karyawan.


Jaka ikut menoleh kesekitar lantas mundur satu langkah untuk menjaga jarak. Satu tangannya ia masukkan kedalam saku celana untuk menyembunyikan rasa gugup yang membuat tangannya gemetar. Bersentuhan dengan Gadis membuatnya ingin langsung menerkamnya.


"Perhatikan langkahmu. Jangan membuatku malu" sarkas Jaka. Dia tak terbiasa berbasa basi di kantor. Dan mungkin dia akan melakukan hal yang sama pada Gadis saat di kantor. Dia harus bersikap profesional karena Gadis tak mengenalnya sebagai suaminya di kantor.

__ADS_1


Semoga.


"Kenapa dengan kaca mata anda?" tanya Gadis membuyarkan lamunan Jaka.


"Kaca mata?" Jaka bertanya pada dirinya sendiri dalam hati. Bagaimana bisa dia melupakan benda itu.


Tapi..


Apa dia tak menyadarinya?


"Saya memakai contact lense. Tak sengaja mematahkannya" jawabnya bersikap setenang mungkin. Tak tahu saja jika keringat sebesar biji badak meluncur di punggungnya.


"Ah begitu" timpal Gadis terdengar..


Kenapa Gadis harus kecewa?


Jaka mengangkat sebelah alisnya karena penasaran. Melirik Gadis dengan sudut matanya.


Tunggu.


Kenapa ada gurat kesedihan dan penyesalan.


Jaka lantas memperhatikan sekitar, dan dia mengerti sesuatu.

__ADS_1


"Ah, ternyata dia tak suka jika aku terlihat tampan. Karena para wanita selalu memperhatikanku kemanapun kakiku melangkah. Pasti begitu. Dia tak ingin bersaing dengan yang lain. Dia ingin memilikiku untuknya sendiri" Jaka terus bergumam narsistik dalam hati seraya mengulum senyum sambil menundukkan kepala.


"Bisakah anda memakainya lagi lain kali?" pinta Gadis terdengar sendu. Jaka semakin mengembangkan senyum jemawa.


"Anda mengingatkanku pada suamiku. Dan aku merindukannya" lanjut Gadis tampak berkaca kaca.


Jaka terkejut dengan sikap Gadis.


"Apa dia menangis?" tanya Jaka dalam hati.


"Maaf. Bisakah.. bisakah saya izin pulang lebih awal?" pinta Gadis dengan tiba tiba setelah menyeka sudut matanya.


"Kenapa?" tanya Jaka masih dengan keterheranannya. Mereka bahkan belum sampai di tujuan. Meski Jaka berniat membawanya untuk makan siang di sebuah restoran, dan bertemu klien merupakan alasannya saja untuk menghindari Amber.


"Saya.. saya kurang enak badan" jawab Gadis lantas berlari kecil menjauh dari Jaka dengan kepala menunduk.


"Bersikaplah profesional" lantang Jaka mengarah pada Gadis, membuatnya menghentikan langkah seketika.


"Kendalikan dirimu. Saya yakin suamimu baik baik saja. Sekarang masuklah kedalam mobil" tegasnya seraya membuka pintu mobil.


Dia ingin segera pergi dari sana. Tak ingin berpapasan dengan Amber yang pasti membuat kerusuhan dimanapun dia berada.


Gadis terlihat menghela nafasnya dan menyeka sudut sudut matanya lantas melangkah kembali kearah mobil Jaka.

__ADS_1


Jaka menyunggingkan senyum seraya berkata dalam hati "Cih, suamimu itu, dia pikir dia siapa?"


__ADS_2