
ciiiiit...
Bunyi ban berdecit menandakan mobil garang itu telah selesai menjalankan tugasnya.
Gadis mengangkat pergelangan tangan kirinya seraya menghitung waktu.
"Mmm 9 menit. Bagaimana? misi selesai sebelum waktu yang ditentukan" serunya dengan puas akan hasil pekerjaannya sendiri. Dia lantas memutar tubuhnya menghadap belakang jok nya. Miris, Aaron dalam keadaan yang sangat menghawatirkan akibat aksi manuver Gadis dalam menguasai jalanan macet dengan mobil yang terbilang cukup besar.
Gadis tersenyum getir melihat keadaan Aaron yang cukup menghawatirkan.
"Ehe.. seharusnya anda berpegangan pada sesuatu" ucap Gadis.
Aaron mendelikkan mata kearahnya lantas membereskan dokumen yang berhamburan dan mengambil laptop yang terjatuh dan sayangnya, laptop itu sudah tak utuh lagi. Layar dan keyboard nya memutuskan untuk berpisah.
Gadis menahan semburan tawanya, namun Aaron menatap emosi dengan kondisi jantung pekerjaannya. Karena bahan meeting hari ini berada didalam laptop itu.
"Apa kamu memperhatikan kata kataku?" tanya santai Aaron seraya merapikan barang barang miliknya.
__ADS_1
"Dengan jelas. Anda mengatakan akan memberikan saya tambahan bayaran jika bisa membawa anda ke gedung ini dalam waktu 10 menit, dan saya berhasil mengalahkan waktu dengan selisih 1 menit" ucap Gadis dengan bangga.
"Kamu salah mengerti kata kataku" timpal Aaron lantas membuka pintu dan keluar dari mobil meninggalkan Gadis yang mengernyitkan alis.
"Aku bilang dalam sepuluh menit, bukan sebelum sepuluh menit" lanjut Aaron dari jendela Gadis seraya mengedipkan sebelah mata.
Gadis mengangakan mulut. Tak menyangka jika ia ditipu seseorang semudah itu. Dia lantas membuka pintu dan turun untuk mengejar Aaron dan meminta penjelasan.
"Si ayam berani ngedodolin gue. Pak.. tunggu, maksud bapak apaan?" Gadis berhasil mengejar dan menahan lengan Aaron yang berjalan terburu buru kearah pintu utama gedung. Kedua tangannya ia tumpukan pada pinggang rampingnya.
Gadis yang dihadang sekuriti karena tak memiliki name badge perusahaan pun hanya bisa meremas rambut dan meninju serta menendang udara untuk melampiaskan kekesalannya.
"Aaarrgghh.. dasar jelek gak tau berterimakasih" pekiknya mengepalkan tangan kearah pintu lobby dimana tubuh Aaron menghilang ditelan pintu berputar.
Namun tak ada yang tahu jika Aaron tengah menyunggingkan senyum miring kecuali satu orang yang menyaksikan dari dalam lobby dengan ekspresi kesal.
"Apa yang dia lakukan disini" gumamnya dalam hati.
__ADS_1
"Bos, tuan Aaron sudah datang, kita diminta menemui beliau di ruangannya" Roni mengingatkan. Jaka tak langsung melangkahkan kakinya menuju lift. Pandangannya terus mengunci perilaku Gadis yang tengah mencaci maki gedung ini dengan segala tingkah lucunya.
Namun bukan tawa yang terbesit dalam ekspresi Jaka kala memperhatikan tingkah Gadis, namun kekesalan yang memenuhi tenggorokannya.
Jika saja yang membuat kesal Gadis adalah dirinya, pastilah dia akan tertawa menikmati mimik menggemaskan sang istri.
"Batalkan pertemuannya" titah Jaka tiba tiba membuat Roni tertegun.
"Tapi bos, bagaimana dengan sistem keamanan perusahaan?" tanya Roni dengan khawatir.
"Jangan khawatir, masih banyak programmer lain yang tak kalah hebatnya" timpal Jaka dengan percaya diri. Dia lantas melangkah kearah pintu keluar seraya merogoh saku celananya dan mengeluarkan kacamata yang sudah dia pesan sebelumnya untuk mengantisipasi bertemu dadakan dengan sang istri diluar identitasnya sebagai suami yang berprofesi sebagai kuli angkut.
"Beraninya lo nipu gue. Gue sumpahin lo kejedot pintu" ucap Gadis dengan lantang ditujukan pada Aaron yang bersemayam di gedung yang menjulang tinggi itu.
dugg
Jaka memegang dahinya yang terantuk pintu yang berputar itu sambil terhuyung.
__ADS_1