NIKAHKU ATAS TEKANAN

NIKAHKU ATAS TEKANAN
Ada yang tidak beres


__ADS_3

BAB. 10


Jam menunjukkan pukul 05.00 pagi, Reza masih tertidur lelap, karena tadi malam dia tidak bisa tidur sampai pukul 03.00 dini hari memikirkan Libia. Ponselnya berbunyi, bertuliskan nama “ mama” di sana. Dengan malas Reza terbangun dan mengangkat telfon mamanya, bu Lida.


“Halo ma” kata Reza.


“Halo Reza kamu dimana sekarang?” Tanya bu Lida kepada putranya.


“Ya di kamar lah ma, masak di sawah, kan Reza masih tidur. Jawab reza asal.


“Di kamar mana?” Tanya bu Lida lagi.


“Di kamar kantor ma, kan Reza sudah bilang sama mbok ipah semalam kalau Reza lembur”. Jawab Reza.


“Kamu jangan bohong ya sama mama, mama tadi udah telfon Sisil sama Dika, mereka bilang kalau malam tadi gak ada lembur”. Ucap bu Lida


“Iya kan Reza memang gak bilang mereka kalau lembur ma”. Kata Reza masih bersikukuh mempertahankan kebohongannya agar tidak ketahuan.


“Udah gak usah bohong, kamu mau mama kutuk jadi kodok”? Ucap bu Lida mulai mengeluarkan jurus ancamannya.


“Ya gak apa-apa ma kalau jadi pangeran kodok, kan dapetnya putri cantic, kayak Libia”. Celetuk Reza yang tidak sadar menyebut nama Libia.


“Reza….!! Kamu ini ya gak bisa banget buat mama senang dikit aja, Libia terus yang ada dipikiranmu. Kamu sekarang sudah menikah Dengan Anis yang jauh lebih baik dari pada Libia. Kenapa si otak kamu itu penuh Dengan Libia? Kamu udah diguna-guna ya?” Tanya bu Lida emosi.


“Karena aku mencintai Libia ma, bahkan gara-gara pernikahan ini hubungan ku Dengan Libia berantakan ma. Libia meninggalkan aku ma”. Protes Reza kepada mamanya.


“Jadi kamu lebih memilih Libia dari pada permintaan papamu? Kamu itu lahir bukan dari Rahim Libia, yang merawat dan membesarkanmu juga bukan Libia, bahkan papa saat ini masih lemah di rumah sakit pun yang kamu ingat Cuma Libia”. Ucap bu Lida.


“Udah lah ma, gak usah marah-marah terus gini Reza pusing. Reza mau mandi terus berangkat ke kantor. Dah ma..”. Ucap Reza sambal memutus sambungan telfon mamanya.


Reza pun segera bangkit dan menuju kekamar mandi untuk membersihkan badannya yang sedari kemarin belum mandi karena pikirannya yang kalut oleh Libia.


Selesai mandi dan berganti pakaian kantor Reza duduk disofa ruang tamu dan mengambil ponselnya.


“Halo tante” kata Reza kepada orang diseberang sana.


“Iya Dengan siapa?” ucap orang tersebut yang tak lain adalah bu Shofiee, bundanya Libia.


“ini Reza tante, Libianya ada gak ya te?” Tanya Reza memberanikan diri.


“Oh, kenapa kamu mencari anak saya?” ucap bu Shofie balik bertanya.


“Saya ingin menemuinya dan meminta maaf tante”. Kata Reza.


“Libia sudah memaafkan kamu tapi dia tidak bisa lagi bertemu denganmu, karena tante akan mengirimnya keluar negeri agar bisa melupakanmu secepatnya, satu lagi jangan pernah mencoba menghubungi saya lagi”. Ucap bu Shofie sembari menutup telfonnya.


Reza sudah kehilangan akal untuk bisa menemui Libia. Dia menghembuskan nafas secara kasar. Dan keluar apartemen menuju kantornya.


Sesampainya dikantor Reza segera memanggil asistennya Dika.


“Apa ada masalah dikantor kemaren selama aku pergi dik?” ucap Reza kepada Asistennya.


“Ada za, menurut data yang aku terima ada beberapa investor local yang akan menarik sahamnya dalam Waktu dekat”. Jelas Dika kepada Reza.

__ADS_1


“Kenapa itu bisa terjadi?” Tanya Reza.


“Ada beberapa Resto kita yang mengalami kemerosotan pemasukan secara signifikan”. Jelas Dika.


“Resto yang mana?” Tanya Reza lagi seperti seorang polisi yang sedang menyelidiki sebuah kasus. Perusahaan yang Reza pimpin mempunyai berbagai cabang usaha salah satunya Resto mewah yang ada di kota itu.


“Resto kambing pullet pusat za, tetapi efeknya sampai ke beberapa cabang di Indonesia”. Jawab Dika.


“Berapa persen investor akan menarik saham”? Tanya Reza penuh selidik.


“Sekitar 75% za”. Ucap Dika.


“Aku tidak mau pakai kata sekitar. Aku butuh data yang valid sekarang juga”. Ucap Reza yang tiba-tiba terlihat sangat dingin.


Dika yang melihat prilaku Reza, pimpinan dan juga sahabatnya sangat terkejut. Biasanya Reza tidak pernah sedingin itu dalam menghadapi berbagai permasalahan kantor.


“Iya siap, nanti aku laporkan”. Ucap Dika.


“Tahun depan sekalian, gak usah nanti. Kalau aku minta sekarang ya sekarang”. Tegas Reza dingin.


“Siap, aku permisi dulu” ucap Dika segera memenuhi apa yang diminta bosnya itu.


Lima menit kemudian Dika mengetuk pintu dan segera membawa dokumen-dokumen untuk diserahkan kepada Reza yang dulu hangat pagi itu menjadi dingin.


“Ini dokumen-dokumen pembukuan resto pusat kambing pullet”, ucap Dika seraya menyodornya beberapa berkas kepada Reza.


Reza lalu memeriksa dokumen tersebut Dengan sangat teliti, dia mencocokan angka-angka yang ada didokumen Dengan yang ada dilaptopnya.


Reza dan Dika pun segera meninggalkan kantor menuju resto yang di maksud. Sesampainya disana dia langsung menemui manager yang dipercaya untuk mengurus Resto tersebut.


“Apa kamu bisa menjelaskan bagaimana perbedaan angka ini bisa tidak sama Dengan laporan online yang saya dapat?” Tanya Reza kepada Libon, manager Resto.


“Maaf pak, saya benar-benar tidak tahu masalah ini, saya sudah membuat pembukuan sesuai Dengan hasil penjualannya, saya bisa membuktikan Dengan bukti-bukti yang akurat pak”. Ucap pak Libon berusaha meyakinkan atasannya.


“Oke kalau begitu biarkan saya mengambil alih resto ini Dengan Waktu yang belum bisa ditentukan sampai kapan, Dik tolong kamu urus perlengkapan-perlengkapan yang akan aku perlukan”. Ucap Reza sambil berlalu dari ruang manager Resto tersebut.


“Ok siap” ucap Dika singkat.


Selesai itu Reza dan Dika kembali kekantor untuk mengurus pekerjaan kantor yang lainnya.


“Dik tolong suruh orang untuk mencari Libia sekarang”. Ucap Reza kepada Dika.


“Aku butuh hasil secepatnya”. Ucap Reza lagi.


Dika pun segera pamit dan menyelesaikan perintah dari bosnya. Dia menghubungi beberapa orang suruhan untuk mengawasi rumah dan seluruh teman-teman Libia. Tidak lama kemudian Dika pun mengetuk pintu ruangan Dika lagi.


“Aku sudah mendapat kabar mengenai Libia”. Kata Dika yang segera melapor apa saja yang sudah dia ketahui kepada bosnya.


“Katakan dimana Libia sekarang?” Ucap Reza bertanya kepada Dika.


“Menurut data histori perjalanan seluruh bandara, Libia sudah pergi ke London pagi ini, untuk keberadaan secara rincinya belum bisa diketahui. Karna Libia Ternyata tidak sendirian pergi ke luar negeri tapi Dengan orang tuanya.”. Ucap Dika menjelaskan.


Apa kamu benar-benar akan meninggalkan aku sayang? Apa kamu benar-benar akan menghapus cerita kita? Batin Reza dalam.

__ADS_1


“Ok thanks kamu boleh kembali keruangan untuk pekerjaan selanjutnya”. Kata Reza kepada Dika.


“Maaf za, kalau boleh tahu kenapa kamu sekarang sangat berbeda dari Reza yang biasanya aku kenal?” Tanya dika memberaniklan diri.


“Iya aku bukanlah yang dulu lagi, inilah Reza yang sekarang dan untuk selamanya”. Kata Reza menjelaskan Dengan singkat.


“Apa ini ada hubunganya Dengan Libia”. Tanya Dika lagi.


“Udah gak usah banyak omong, keluarlah kamu”.ucap Reza Dengan emosi.


“Hei…!! Apa kamu lupa, aku ini bukan hanya asisten yang menjadi bawahanmu. Tapi aku ini adalah sahabatmu dari 10 tahun yang lalu, jika terjadi yang tidak-tidak denganmu aku pun ikut tanggung jawab” Ucap Dika .”balik marah kepada Reza.


“Gak perlu, kamu bukan orangtuaku jadi tenang saja”. Ucap Reza masih tetap Dengan kengeyelannya.


“Ooh benar kamu tidak membutuhkanku?” ucap Dika menantang Reza.


Reza pun hanya diam, karena semua yang dikatakan Dika memang benar. Dika selalu menyelesaikan dan melancarkan seluruh pekerjaannya.


“Libia lari dariku, dia memutuskan aku secara sepihak. Itu saja yang harus kamu tahu dan jangan memintaku untuk menceritakan lebih dari ini. Karena jawabannya aku tidak akan membahas Libia lagi”. Jelas Reza kemudian kepada Dika.


Dika pun mengangguk tanda mengerti alasan kenapa Reza tiba-tiba berubah menjadi pribadi yang dingin, itu semua karena wanita yang dicintainya meninggalkannya.


Disisi lain Libia tengah duduk bersama ayah dan bundanya di sebuah loby bandara menuju penerbangan ke London.


“Kamu akan memperoleh kehidupan baru disana nak,,kamu akan bertemu Dengan orang-orang baru yang bisa menghapus cerita-cerita pedihmu dulu”. Ucap Bu Shofie kepada putrinya seraya menci*m kening Libia.


Tiba-tiba handphone ayahnya yang sedang duduk di samping kanan Libia berdering.


“Halo” kata pak Danu, ayah Libia.


“Halo pak Danu ini Tio, ibu sakit pak sekarang. Ibu meminta saya untuk menghubungi bapak agar bapak bisa kesini secepatnya”. Ucap orang yang berada diseberang sana yang tak lain adalah Tio.


Tio adalah kepercayaan pak Danu yang diminta untuk menjaga Ibunya di Desa. Saat ini kondisi ibu pak Danu sudah tua dan lemah. Ibunya tidak mau tinggal dikota bersama pak Danu Dengan alasan kehidupan kota terlalu bising.


“Ibu sakit?” Tanya pak Danu kepada Tio.


“Iya ibu sakit pak, tapi sepertinya sakit rindu pada bapak”. Jelas Tio kepada pak Danu.


“Ya sudah saya akan terbang ke NTT sekarang juga” ucapnya lagi.


Pak Danu segera menutup telfonnya.


“Siapa yang sakit yah?” Tanya Bu Shofie kepada suaminya.


“Ibu sakit, dan sekarang beliau memintaku untuk kesana, karena dari penjelasan Tio Ibu rindu aku”. Ucap pak Danu menjelaskan kepada istrinya.


“Ya sudah kita bertiga putar arah saja yah, kita gak usah kelondon tapi kita ke NTT aja" Ucap Bu Shofie.


“Jangan Bun, biar ayah saja yang ke NTT, Bunda dan Libia tetap ke London. Libia butuh tempat baru untuk menyegarkan pikirannya” ucap pak Danu menyanggah ucapan istrinya.


“Gak apa-apa yah, bunda benar, Libia dan bunda ikut ayah saja ke NTT tempat Nenek”. Sambung Libia yang menyetujui usul bundanya untuk ikut ke NTT.


Mereka pun putar arah ke NTT. Perjalanan ke London Akhirnya dibatalkan.

__ADS_1


__ADS_2