
BAB. 9
Jam sudah menunjukkan pukul 23.00, Anis masih belum bisa tidur.
“Kenapa orang tua itu belum juga pulang? Tumben ya? “ batin Anis yang sedikit mengkhawatirkan Reza.
Jangan-jangan dia kabur dari rumah karena pernikahan ini, atau dia mau mempersiapkan untuk menceraikan aku?
Anis terus memikirkan imajinasi negatifnya mengenai Reza yang tak kunjung pulang.
Kalaupun ini yang terbaik untukku tapi aku tetep saja tidak mau jadi janda di umurku yang masih sekolah ini. Batin Anis lagi.
Dia sangat gelisah malam itu, matanya dipaksa tidup tetep tak mau menuruti . Hatinya selalu memberontak masih ingin bermain-main dengan pikiran-pikiran negatif. Anis merasa ngeri membayangkan kehidupannya di masa depan.
Dengan berbagai macam jurus penidur, Akhirnya Anis pun tertidur pulas dengan posisi bantal tepat menutupi bagian wajahnya.
Waktu pun sudah menunjukkan pukul 05.00 pagi. Bunyi alarm yang berdering nyaring di handphonenya membangunkan Anis Dari tidurnya. Dia mengucek mata, dan mengumpulkan seluruh kesadarannya untuk bangun dan segera mandi. Dilihatnya sekitar ruangan kamar, ternyata dia tidak menemukan orang lain selain dirinya.
“Ternyata dia benar-benar tidak pulang malam tadi, kalau sampai malam ini masih gak pulang, aku yang akan pulang kerumah orang tuaku, batin Anis berjanji.
Pagi hari jam 07.15, Anis sudah sampai di depan gerbang sekolahnya. Hari ini Anis ke sekolah dengan taksi online karena mencari angkot di depan rumah keluarga Herdiawan lumayan susah.
“Anissssss!! Aaaakk aku kangen kamu nis”, ucap wanita berseragam sekolah itu. Dia tak lain dan tak bukan adalah Reni sang ratu rusuh.
“Iissshh apaan sih, kangen-kangen kemaren kan baru ketemu”. Kata Anis memonyongkan bibirnya dengan kesal melihat kelakuan sahabatnya itu.
“Eemm…jadi aku gak boleh nih kangen? Mentang-mentang udah ada yang punya, aku di hempaskan ke lemari” ucap Reni yang pura-pura ngambek.
“Dasar kubis kepang kalu ngomong tuuu gak usah pake toa bisa gak? Mau ngomong sama kita apa mau deklamasi?”celetuk Nely yang tiba-tiba ada di belakang mereka.
“Udah-udah gak usah rebut, pusing tau gak dengerin kalian bawel”. Ucap Anis.
“Kamu tu Anis jadi pusing”. Tuduh Reni enteng.
“Koq aku, kan kamu yang ngomongi status Anis pake Toa”, Jawab Nely.
“Mana toanya? Aku bukan ngomong pake toa tapi aku lagi ngomong pake upil niihh…kamu mau??” kata Reni sambil mengupil dan melemparkan hasil galian upilnya kearah Nely.
“Iiihhhh jorok banget si kamu…!! Dasar sawi kepang..!!” teriak Nely jijik.
“Udah-udah STOP….!! Bisa gak si kalian Diam!!” kata Anis yang tak mau kalah dengan teriakan kedua sahabatnya.
“Nah lho permaisuri marah tuuh“, Kata Reni dan Nely yang kembali kalem secara tiba-tiba.
“Permaisuri-permaisuri, kalo kalian mau ambil nooooh laki aku”. Ucap Anis kesal.
“Hahhh??? Serius mau dikasihkan aku ni?? Mau banget nisss aku”. Jawab Reni mulai ngawur dengan mulut ternganga.
“ Heeh sawi kepang, iya kamu yang mau banget, tapi laki Anis yang amit-amit sama kamu”. Kata Nely.
“Iihh ngiri tanda tak mampu”. Ucap Reni sambil langsung membuang wajah ke arah Anis.
Anis pun geleng-geleng dengan kelakuan kedua sahabatnya tersebut. Dia tak pernah habis piker bagaimana bisa setiap hari sahabat-sahabtnya selalu meributkan hal sepele.
“Ehh Ria mana ya? Koq tumben dia belum nongol?” Tanya Anis kemudian seraya menegalihkan pembicaraan.
“Mungkin Ria lagi ngupil nis,,benter lagi pasti Selesai”. Jawab Reni ngasal. Anis dan Nely menepuk jidat Reni secara bersamaan.
Mereka bertiga pun berjalan memasuki kelas XIIA. Kelas yang paling favorit dengan perkumpulan anak-anak cerdas, bukan saja cerdas otaknya namun juga cerdas emosi, linguistic, akuistik dan yang lainnya. Tak heran jika karakter anak-anaknya pun sangat beraneka macam.
Sesampainya dikelas, mereka langsung meletakkan tasnya. Tempat duduk mere sangat berdekatan sehingga sangat memungkinkan untuk ngobrol setiap saat.
“Eeh nis,,,gimana rasanya nikah, enak gak?” Tanya Nely tiba-tiba.
__ADS_1
“Iya nih nis kasih tahu kita-kita dong gimana kesan saat malam pertama? Heheh?” ucap Reni sambil nyengir.
“Kan aku tadi udah bilang, kalu kalian mau aku kasihin deh sama kalian tuh…borongan juga jadi”. Jawab Anis yang mulai terpengaruh dengan sahabat-sahabatnya.
“Pake kecap ya nis aku, terus jangan lupa dibungkus juga satu”. Ucap Reni yang mulai memerankan adegan dramanya.
“Aku pake meses sama keju terus ditambah sambal sedikit”. Kata Nely yang tak mau kalah.
“Nel,kamu gak mau tambah bumbu rahasiaku?” Tanya Reni kepada Nely.
“Apa bumbunya?” Tanya Nely balik.
“Ntar ya…aku melalang buana, mendaki sungai dan sawah dulu”. Jawab Reni sambil mulai menggali upil kesayangannya.
“niih ambil mumpung bener-bener masih fresh”. Ucapnya sembari mengulurkan tangan kepada Nely yang berisi seogok upil.
“Hueeekkk…Dasar joroook”. Maki Nely sembari berusaha menjitak temennya biar cepet waras.
Reni berusaha menangkis serangan Nely dengan kuda-kuda membelakangi Nely dengan punggungnya. Namun tiba-tiba..
“Pleekkk” seogok upil yang tadi ditangan Reni pun menempel tepat di hidung Riya.
“Uppppss..!!” ucap Reni, Nely, dan Anis bersamaan sambil menutup mulut mereka dengan tangan.
“Apaan ni dingin-dingin?” ucap Riya yang tiba-tiba sudah ada dibelakang Reni.
“Aduuh..perutku muleess mau ke kamar mandi dulu ya gauyyss”. Ucap Reni tiba-tiba yang berakting sakit perut sembari berlari kabur dari terkaman singa.
Riya lalu mengambil sesuatu yang menempel tepat dihidungnya.
“Sawi kepangggggggg!!!!!!!”. Teriak Riya dengan marahnya sampai kepalanya seolah berasap mengeluarkan butir-butir keringat.
Anis dan Nely pun ikutan kabur karena tak mau menjadi sasaran singa betina yang siap menyeruduk apapun yang ada didekatnya mungkin bisa dibilang termasuk meja dan kursi.
“Iya aku juga ngos-ngosan” imbuhnya.
“Sawi kepang mana ya? Dia yang harus bertanggung Jawab atas semua ini, ini udah melanggar pasal 3 undang-undang persahabatan abadi”. Ucap Nely.
“Sekalian aja, undang-undang sahabat sejati, yang selalu berseri-seri sepanjang hari bagai mentari pagi”. Kata Anis yang sudah mulai kesal.
Nely pun hanya bisa nyengir kepada Anis. Bel masuk berbunyi mereka Akhirnya pasrah masuk kelas. Di lihatnya Reni yang duduk di sebelah Ria sedang sibuk menulis sesuatu.
“Tumben rajin? Kamu kerasukan?” celetuk Nely.
“Kenapa reni ya?” Tanya Anis kepada Riya yang terlihat sibuk memainkan handphonenya.
“Itu hukuman karena sudah menempelkan upilnya ke hidungku nis”. Jawab Riya.
Riya menghukum Reni dengan menulis “aku janji tidak akan mengulanginya lagi sebanyak dua lembar kertas.
Tidak lama kemudian, masuklah bu Susi, seorang guru matematika. Hari ini memang ada ulangan harian matematika mengenai “deret angka”. Pelajaran Matematika adalah pelajaran favorit Anis sejak SD.
Dia juga sering mewakili sekolah bahkan kota untuk mengikuti olimpiade sains.
Seperti biasaAnis punsegeramengerjakan soal-soal yang sudah dibagikan bu Susi dikertas.
“Nis jangan lupa ya..aku padamu”. Kata Reni tiba-tiba.
“Nis aku juga” ucap nely juga.
“Belajar woyy, nyontek aja maunya”. Kata Riya memperingatkan sahabatnya.
“Beres..”. Ucap Anis singkat tanpa melihat sahabat-sahabatnya.
__ADS_1
Anis segera membuka soal matematika yang ada ditangannya. Dia mulai menulis dan mengerjakannya.
Aduuh kenapa soalnya jadi susah begini? Padahal aku semalam udah belajar, batin anis.
Anis merasa aneh dengan soal matematikanya, biasanya dia selalu lancar mengerjakan soal-soal yang berhubungan dengan angka, namun kali ini dia benar-benar merasa kesulitan.
“Nis bagi dong jawaban nomor 2”, pinta Nely kepada Anis.
“Aduh Nel aku aja belum keisi nomor 2”, Jawab Anis lirih.
“Nis nomor 5 tolong”, ucap Riya kepa Anis.
“Aku baru setengah ya belum Selesai semua”, Jawab Anis.
“Nis aku nomor 1 sampai 10”, pinta Reni dengan enteng.
“Hehh..kamu mau nyontek apa mau ngerampok si?” celetuk Riya kesal.
Reni pun memamerkan giginya seolah giginya paling putih dan bersih dari pada semua orang.
Bel istrihat pun berbunyi, waktu mengerjakan ulangan harian matematika telah selesai.
Bu susi guru matematika mulai mengambil hasil jawaban anak muridnya.
Anis masih terlihat sibuk dengan soal-soal. Dia masih berenang menyelami angka-angka yang sedaritadi tak kunjung berjodoh dengan pikirannya.
“Waktunya sudah habis nis”, kata bu susi yang hendak mengambil jawaban Anis.
“Tapi Anis belum Selesai bu, masih 3 soal lagi. Waktunya bisa diperpanjang lagi gak bu?”pinta Anis kepada bu susi.
“Maaf ya nak ibu harus adil sama semua siswa”, Jawab bu Susi sembari mengambil hasil jawaban Anis.
Anis hanya bisa melongo dan pasrah, dia masih tidak menyangka kenapa soal-soal ulangan tadi bisa begitu susah.
“Kamu kenapa nis?” Tanya Riya kepada Anis.
“Gak apa-apa ya”, Jawab Anis.
“Iya nis kamu kenapa? Gak biasa-biasanya kamu kayak gini" Sambung Nely.
“Apa kamu haus dan butuh Aqua nis biar bisa focus kayak biasanya?” ucap Reni mulai nyeletuk tapi masih terarah.
“Huuuhhh, aku gak apa-apa koq benaran”, Jawab Anis berusaha kuat.
“Nis kamu gak akan pernah bisa bohong sama kita, kita udah sahabatan dari SD, dan aku tahu betul bagaimana kamu”, ucap Riya.
“Apa kamu ada masalah dipernikahnamu nis? Biasanya kamu lancar terus saat mengerjakan soal-soal sains apalagi matematika” Tanya Nely penuh selidik.
“Aku lagi gak enak aja nel” Jawab Anis.
“Gak enak sama siapa?” Tanya Riya.
“Maksudku aku lagi gak enak badan, pikiran dan juga hati”, jawab Anis.
“Jadi kamu tertekan nis?” celutuk Reni.
“Entahlah. .aku masih gak nyangka bakal seperti ini, aku benar-benar tidak bisa focus belajar. Memikirkan ini, itu, anu, ana, ono,,,,,,buaanyyyyakkk banget”. Jelas Anis mulai berkaca-kaca.
“Nis,,,,kami akan selalu ada untuk mu, jangan pernah sungkan sama kami untuk cerita walaupun itu masalah keluarga”, ucap Nely bijak.
“Awas aja suamimu nis kalu macem-macem nyakitin kamu, heeemmm belum tau dia sama aku”, kata Reni tiba-tiba sambil tangan pinggang.
Iya walau Reni sikapnya sering sembrono tapi dia amat sangat menyayangi sahabat-sahabatnya, bahkan dia siap pasang badan jika salah satu sahabatnya mendapat masalah.
__ADS_1
Mereka semua bersahabat sudah dari SD. Kedekatan mereka sudah melebihi saudara, tidak ada yang saling kesinggung, semua sikap dan perilaku mereka membuktikan kedekatan mereka.