NIKAHKU ATAS TEKANAN

NIKAHKU ATAS TEKANAN
LONG DISTANCE RELATIONSHIP


__ADS_3

BAB. 22


Anis menangis sambil mengelap mulut bekas ci*man Reza, Reza kembali melajukan mobil tanpa perasaan bersalah sedikit pun.


Tidak ada pembicaraan usai peristiwa tadi, sampai mereka tiba di rumah. Anis pun keluar mobil dan berlari masuk ke dalam rumah menuju kamarnya. Sesampai di kamar Anis langsung masuk ke kamar madi dan menangis di sana Dengan Waktu yang sangat lama.


“Den gelis kenapa lagi den?” Tanya mbok Ipah.


“Biasa mbok lagi dapet” Jawab reza sekenanya.


“Perasaan belum lama ini den gelis udah dapet kata aden kemaren” ucap mbok Ipah bingung.


Reza tidak menanggapi perkataan mbok Ipah dan melangkahkan kaki menuju kamar.


“Den…dapat undangan dari pak Bramansya” kata mbok Ipah seraya menyodorkan undangan kepada Reza.


“Paman ada apa mbok tiba-tiba ngundang?” Tanya Reza membalikkan badannya menuju mbok Ipah.


“Kalau di tulisannya menikahkan anaknya den, tapi gak ditulis di sana sama siapa” ucap Mbok Ipah.


Apa iya Frans yang akan menikah? Tapi terakhir aku dengar katanya tunangannya meninggal kemaren. Jadi sama siapa dia menikah, batin Reza.


“Den,,, kenapa melamun?” Tanya mbok Ipah membuyarkan lamunan Reza.


“Eehh..enggak mbok, Reza hanya heran Dengan siapa Frans menikah karena terakhir Reza dengar tunangannya udah meninggal saat menjelang pernikahannya. Apa dia sudah menemukan pengganti tunangannya dalam Waktu scepat ini” ucap Reza masih bingung.


“Ya mungkin aja begitu den, kita kan gak tahu hati manusia gusti Allah yang membolak-balikannya den” ucap mbok Ipah.


Reza pun mangut-mangut mengerti seraya meninggalkan mbok Ipah menuju kamar. Sesampainya dikamar dia tidak menemukan Anis. Dilihatnya lagi undangan yang tergenggam di tangannya.


“Jadi minggu besok, berati tinggal 2 hari lagi” ucap Reza berkata sendiri.


Reza merasa kegerahan dan menuju kamar mandi yang masih tertutup Dengan rapat.


“Hei bocil, mandinya buruan jangan tidur. Aku udah gerah ni” kata Reza Dengan nada teriak


Tidak ada jawaban dari dalam kamar mandi.


“Kalau kamu masih gak keluar juga aku dobrak nanti” ucap Reza mengancam.


Tidak lama kemudian pintu kamar mandi pun terbuka, Anis pun keluar dari kamar mandi Dengan mata yang masih sembab. Reza memperhatikan Anis tanpa berkata-kata, dia tahu jika Anis masih terluka Dengan ci*mannya.


Setelah Anis keluar Reza gantian memasuki kamar mandi.


“Tolong antar aku besok ke rumah orang tuaku” ucap Anis kepada Reza saat dilihatnya Reza sudah selesai mandi.


“Mau ngapain?” Tanya Reza bingung.


“Aku kangen sama orang tuaku” Jawab Anis.


“Apa kamu marah Dengan ku?” Tanya Reza.


“Gak usah bahas itu lagi” ucap Anis sembari beranjak ke ranjang untuk tidur.


Seperti biasa Anis tidur di ranjang, sedangkan Reza tidur di bawah. Keesokan paginya Anis sudah rapi dengan kemeja dan celana Jeansnya. Hari ini dia sengaja untuk izin sekolah dan kerja terlebih dahulu, karena otaknya butuh istirahat sejenak dari berbagai tekanan yang diberikan Reza.


“Kamu gak sekolah” ucap Reza saat melihat Anis yang tengah duduk di depan meja rias Dengan rapi.


“Aku mau pulang ke rumah dulu untuk beberapa hari” kata Anis.


“Ok tunggu sebentar aku mandi dulu” kata Reza.


Reza pun berlalu kearah kamar mandi.

__ADS_1


“Ayo sarapan dulu’ ucap reza begitu sudah rapi Dengan kemejanya.


Anis dan Reza pun menuruni anak tangga menuju dapur untuk sarapan bersama.


Tumben nih bocil gak rese dari semalem, gumam Reza penuh heran. Diliriknya Anis yang masih sibuk Dengan makanannya tiba-tiba hati Reza berdetak seolah merasa takut di tinggalkan.


Kenapa Dengan perasaanku?? Kenapa aku jadi seperti ini?? Bukankah aku masihs angat mencintai Libia dan berharap menemukannya, batin reza lagi.


“Apa kamu serius mau pulang kerumah?” Tanya Reza kepada Anis.


“Iya” Jawab Anis singkat.


Terlihat di ekspresi wajahnya tidak seperti biasa.


Reza dan Anis segera menuju mobil saat sarapan mereka sudah selesai.


“Den mau kemana? Tumben gak pakai baju sekolah?” Tanya mbok Ipah yang tiba-tiba berada di belakang Anis.


“Anis mau pulang sebentar mbok, Anis kangen ibu sama bapak” Jawab Anis Dengan senyumnya.


“Den gelis tapi secepatnya ke siini lagi kan den?” Tanya mbok Ipah.


“Iya mbok” Jawab Reza sebelum Anis menjawab pertanyaan mbok Ipah.


Keduanya pun berangkat. Reza mengendarai mobil Dengan pelan, entah mengapa saat ini dia menginginkan Waktu berputar lebih lama dari biasanya.


“Apa kamu marah denganku?” Tanya Reza memecah keheningan.


Anis hanya terdiam tidak menanggapi perkataan Reza. Reza segera menghentikan mobil di pinggir jalan.


“Hei…aku ini suamimu. Kenapa kamu selalu histeris setiap kali aku menyentuhmu? tidakkah kamu tahu bahwa suamimu ini wajib kamu layani Dengan sebaik mungkin” ucap Reza sambal menatap tajam Anis.


Kali ini Anis balik menatap Reza Dengan tatapan bingung.


“Apakah akau salah melarangmu untuk berdekatan Dengan laki-laki lain?” Tanya Reza lagi.


“Libia bukan wanita murahan, dia hadir lebih dulu dari pada kamu” ucap Reza sambal menundukkan kepala.


“Kalau begitu biarkan aku istirahat dulu ke rumah orang tuaku” ucap Anis


“Maafin aku nis…” ucap Reza.


Ini pertamakalinya dia memanggil Anis Dengan panggilan nama.


“aku kira kita belum tepat untuk tinggal bersama” kata Anis.


Terlihat tetesan air mata Anis mulai mengalir deras. Dia menatap keluar kaca Dengan tatapan kosong, sedangkan Reza terlihat frustasi Dengan persaan yang tak menentu.


“silahkan pilih aku atau wanita murahan itu” kata Anis.


“Dia bukan wanita murahan, Tolong berhenti menyebutnya Dengan wanita murahan” kata Reza sambil melajukan mobilnya.


Sesampainya di kediaman pak Budi, mereka langsung di sambut Dengan orang tua Anis.


“Kenapa kalian gak ngasih kabar kalua mauke rumah?” ucap Bu rusmi sambil memeluk putrinya.


“Iya maaf bu, Anis mintanya sama mas Reza juga mendadak pagi ini jadi gak sempet ngasih tahu bapak sama ibu” Jawab Anis menutupi.


“Ayo silahkan duduk biar dibuatkan the dulu sama ibumu” ajak pak Budi kepada menantunya.


Reza pun duduk di kursi tamu bersama Dengan pak Budi, sedangkan Anis langsung duduk di kursi makan seraya menunggui ibunya yang membuatkan teh untyuk Reza dan pak Budi.


“Kalian baik-baik aja kan nak…??” Tanya buk Rusmi kepada Anis

__ADS_1


Anis hanya mendengus kasar tidak memjawab pertanyaan ibunya.


“Apa ada masalah denganmu nak?” Tanya Bu Rusmi.


“Gak ada bu, Anis hanya kangen sama ibu dan bapak” Jawab Anis masih menutupi kesedihannya.


Bu Rusmi pun beranjak ke ruang tamu untuk mengantarkan tehnya.


“Apa kalian akan menginap disini?” Tanya bu Rusmi.


“Aku aja bu, mas Reza pulang karena masih kerja” Jawab Anis.


“Berapa hari nginep di sini nak??” Tanya Bu Rusmi lagi.


“Belum tahu bu” Jawab Anis.


“Ya sudah kamu istirahat saja dulu nanti ibu masakin makanan kesukaanmu” ucap Bu Rusmi sambal mengusap kepala anaknya.


Tidak berapa lama, reza pun pamit. Namun sebelum meninggalkan rumah Reza menemui Anis terlebih dahulu.


“Pulanglah secepatnya ke rumah” ucap Reza kepada Anis.


Anis tidak menanggapi perkataan Reza.


Malam telah tiba,Anis masih terjaga Dengan menatap bintang di langit yang tersembungi diantara dedaunan pohon. Bu Rusmi mengetuk pintu kamar dan masuk.


“Kamu belum tidur nak?” Tanya bu Rusmi.


“Belum bu” Jawab Anis.


“Bu…apa setiap pernikahan itu berat ya bu?” Tanya Anis.


“Setiap pernilkahan itu pasti ada ujiannya masing-masing nak, tapi percayalah jika Tuhan memberikan ujian kepada kita itu karna kita akan mendapatkan hal yang manis” ucap Bu Rusmi.


“Bu, Anis gak tahu harus gimana di pernikahan ini, Anis bingung bu” kata Anis seraya memeluk ibunya.


“Ibu tahu yang ada di pikiranmu na, ibu paham pasti sangat sulut untuk membiasakan dirimu sebagai seorang istri Dengan umurmu yang masih belia, tapi cobalah nikmati setiap prosesnya nak..” ucap Bu Rusmi seraya mengelus rambut putrinya.


“Anis capek bu seperti ini, Anis masih pengen main sama temen-temen” kata Anis.


“Mas Reza selalu ngelarang Anis Dengan ancaman, Anis capek bu” ucapnya lagi.


“Lho emangnya Reza ngancam apa nak?” Tanya Bu Rusmi penasaran.


“Mas Reza selalu ngancep akan nyium aku bahkan lebih parah dari itu jika kemauannya gak Anis turuti” ucap Anis polos.


Bu Rusmi yang mendengar penuturan Anis pun langsung tertawa Dengan geli. di gandengany tangan putrinya untuk duduk di tepi ranjang.


“Anakku sayang, Reza itukan suamimu…sudah sepantasnya dia melakukan hal itu kepadamu nak dan kamu tidak perlu menolak” ucap Bu Rusmi.


“Tapi Anis takut di tinggali bu, Anis takut suatu saat nanti Anis jadi janda” ucap Anis sambil menangis memeluk ibunya.


“Nak….Reza berasal dari keturunan keluarga baik, bahkan bapakmu sudah mengenalnya Sejak dari SMA. Tidak mungkin Reza melakukan hal itu. Lagi pula pak Herdi dan bu Lida juga tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Percayalah nak..” ucap bu Rusmi.


“Tapi bu….” perkataan Anis pun terputus.


“Sudah kamu jangan berpikiran yang tidak-tidak, yang terpenting sekarang kamu harus melayani suamimu Dengan sebaik-baiknya, jika kamu sudah memperlakukan suamimu Dengan baik dia pasti akan lebih baik denganmu” jelas bu Rusmi.


“Tapi Anis masih taku bu..” kata Anis.


“Kalau kamu tidak mencoba maka kamu akan ketakutan selamanya nak.” ucap Bu Rusmi Sembari keluar dari kamar.


Anis masih memikirkan perkataan ibunya. Pikirannya masih bingung.

__ADS_1


Sedangkan di rumah keluarga Herdiansya Reza terlihat gelisah dikamar, diliriknya ranjang yang biasanya terdapat seorang gadis kecil yang bawel kini terasa sunyi.


“Aahhh…Ternyata aku lebih suka kebawelanmu dari pada sunyimu, tapi aku masih bingung perasaanku denga Libia, kamu dimana Libia….” ucap Reza berkata sendiri.


__ADS_2