
BAB. 29
“Oke deh kalau itu keputusanmu, aku yakin kamu pasti sudah memikirkannya dengan matang” ucap Dika.
Reza pun keluar ruangan memasuki mobilnya dan mengendarai menuju kantor cabang yang letaknya tidak begitu jauh dari kantor pusat.
Sesampainya di kantor..Reza langsung memasuki ruangannya. Reza mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang.
“Halo, ke ruangan saya sekarang” ucap Reza kepada seseorang di telfon.
“Siap bos” Jawab seseorang diseberang sana.
Reza pun menutup telfonnya. Tidak lama kemudian.
Tok..tok….
Reza menekan remot, pintu ruangannya pun terbuka.
“Ada apa bos?” ucap seorang laki-laki tersebut. Laki-laki ini bernama Abid, orang kepercayaan Reza di kantor cabangnya yang sekarang di angkat menjadi asisten pribadinya.
“Mulai saat ini dan seterusnya kamu aku angkat menjadi asisten pribadiku di sini, semua kebutuhanku kamu yang akan menanganinya, dan satu lagi jangan panggil aku “bos”, tapi panggil aku “pak” aja” ujar Reza kepada asisten barunya.
“Siap bos, eeh maksud saya pak” ucap Abid.
“Hari ini istriku mulai bekerja di sini, perlakukan dia seperti biasa layaknya pegawai yang lain tapi jangan sampai ada satu orang pun yang menyakitinya. Dan aku juga tidak mau dia sampai deket-deket sama cowok lain, rahasiakan ini dari siapapun, biarkan dia mengetahuinya sendiri nantinya” jelas Reza.
“Iya siap pak” ucap Abid.
Abid pun permisi keluar ruangan Reza untuk melanjutkan pekerjaannya.
***
Di sekolah, Anis sudah bersiap untuk pulang sekolah.
“Hari ini kamu jadi mulai kerja nis?” Tanya Nely.
“Iya nel do’ain lancar semuanya ya” Ucap Anis.
“Pasti dong kami selalu mendoakan kamu nis” Jawab Nely.
“Semangat ya nis, kamu harus kuat nis”. Kata Riya.
“Mau aku bantui gak nis kerjanya? Aku bisa kok jadi bodyguard kamu waktu sedang kerja” ucap Reny mulai ngelantur.
“Aku ini kerja mau cari duit bukan mau ngegaji kamu Ren” ucap Anis.
“Yaahhh,, kali aja ntar gaji kamu 150% bisa untuk beli kuaci aku, kan lumayan nis” ucap Reny cengengesan.
“Iya yang ada Anis bangkrut punya temen kayak kamu” kata Nelly kesal.
“Kok bangkrut si, aku kan selalu membawa keberuntungan” kata Reny.
“Bukan keberuntungan, tapi yang ada kebuntungan” ujar Ria sembari tertawa.
“Udah aah aku pulang duluan guys takut telat ntar, bye” ucap Anis seraya keluar kelas meninggalkan sahabat-sahabatnya.
“Hati-hati nis, semangat ya….!!” ucap ketiga sahabatnya.
Anis pun pulang dengan menaiki angkot seperti biasanya, dia menuju alamat kantor baru tempat dia dimutasi.
“Bener gak si ini alamatnya? Tapi kok perkantoran, aku kerja apa di sini?” ucap Anis dengan lirih.
__ADS_1
Anis memberanikan diri untuk melangkah masuk, namun sebelum masuk Anis dihampiri satpam.
“Maaf dik mau nemui siapa ya?” ucap satpam tersebut.
“Hmmm, saya mau kerja di sini pak” Jawab Anis.
“Baru mau melamar?”Tanya satpam itu lagi.
“Saya di mutasi untuk kerja disini oleh bos saya yang dulu pak” Jawab Anis lagi.
“Ooh, kalau begitu silahkan ke front office dik” ucap satpam tersebut sambil memperhatikan Anis yang masih berseragam sekolah lengkap.
“Mbak saya mau menemui pak Abid” ucap Anis.
“Udah ada janji dik?” kata salah satu resepsionis seraya memperhatikan seragam sekolah Anis.
“Eehhmm belum mbak, tapi saya di suruh bos saya untuk menemui pak Abid” kata Anis menjelaskan.
“Bos?? Adik ini masih sekolah kan?” Tanya resepsionis lagi.
“Iya mbak saya masih SMA dan sambil kerja” Jawab Anis.
“Sebentar saya hubungi pak Abid dulu ya” ucap Resepsionis.
Anis pun menunggu di salah satu kursi lobi, karena cukup lama akhirnya Anis pun tertidur.
“Permisi…………………..” kata Abid berusaha membangunkan Anis yang masih tertidur, namun Anis masih lelap dalam tidurnya.
Ini cewek cantik-cantik tidur sembarangan, kalau aja bukan istri si bos pasti udah aku pindahin, duuh kasihannya. Batin Abid.
“Tolong kamu bangunin gadis ini” ucap Abid memerintahkan salah satu resepsionis untuk membangunkan Anis.
“Hei….!!! Yang sopan kalau bangunin orang. Kamu tahu sopan santun gak? Kalau pak Reza tahu prilakumu seperti ini bisa di pecat langsung kamu” marah Abid karena melihat perlakuan salah satu resepsionis kepada Anis yang seenaknya.
“Iya pak maaf, lagian dia juga kan cuma gadis SMA pak” ucap Resepsionis tersebut.
“Turuti perintah saya atau tinggalkan kantor ini sekarang juga” ancam Abid marah. Orang-orang di sekitar tempat itu pun mulai berbisik-bisik apa yang sedang terjadi.
Anis terbangun saat mendengar bisingan sayu suara keributan.
“Eeh maaf pak, mbak saya ketiduran di sini” ucap Anis menundukan badannya dengan hormat.
“Kamu ikut saya, saya akan menunjukkan pekerjaanmu” ucap Abid.
Anis pun mengikuti Abid dari belakang, sedangkan resepsionis tadi masih merasa bingung pada sikap atasannya yang membela seorang gadis SMA yang bahkan baru pertama kali datang di kantor itu.
Anis merasa heran Dengan kemegahan kantor itu.
Wah, besar sekali ternyata tempatnya, bersih dan rapi juga. Gumam Anis.
“Tugasmu disini” ucap Abid menunjukkan sebuah ruangan yang mirip dapur namun terlihat sangat bersih.
“Maaf pak, apa tugas saya ya pak?” Tanya Anis.
“Tugas kamu standby disini jika nanti ada telfon untuk mempersiapkan semua keperluan bos terkait makanan dan minumannya. Di sana sudah ada daftar makanan dan minuman yang biasa dimakan bos. Kamu harus masak dengan tanganmu sediri. Semua bahan ada di sini” ucap Abid.
“Ooh,,,jadi maksudnya disini saya jadi koki si bos ya pak”Tanya Anis.
“Kurang lebih seperti itu. Dan jam pulangmu harus menunggu bos pulang baru boleh pulang. Sebelum bos pulang kamu pun belum boleh pulang,” ucap Abid.
“Siap pak” kata Anis.
__ADS_1
“Ini kartu nama saya, jika ada yang ditanyakan lagi kamu bisa hubungi saya” ucap Abid sembari mengulurkan kartu nama kepada Anis.
Anis pun menerima kartu nama tersebut, sedangkan Abid keluar meninggalkan Anis.
Tidak lama kemudian telfon pun berdering.
“Halo” kata Anis.
“Buatkan saya makanan dan minuman di menu pertama, antarkan di depan ruangan saya” ucap seseorang tersebut.
“Baik pak” kata Anis
“Kenapa suaranya kayak gak asing ya?” ucap Anis yang berbicara sendiri.
Anis segera menuju daftar menu yang tadi sudah dijelaskan Abid, dia mulai meracik beberapa menu dan mulai memasaknya. Selesai menyiapkan menu pesanan bosnya Anis pun membawanya menuju ruangan bosnya.
“Aduuhh, aku kan gak tahu dimana ruangannya” ucap Anis mulai bingung.
Anis pun kembali ke ruangan tadi dan menelfon Abid.
“Halo maaf pak” ucap Anis.
“Iya, Kenapa?” Tanya Abid.
“Saya mau tanya, dimana ruangan bos ya pak? Terus tadi kata si bos saya di suruh menaruh makannya di luar ruangan, nanti kalau dimakan kucing gimana pak?” Tanya Anis polos.
“Kamu jalan aja terus nanti belok kanan di sana hanya ada satu ruangan yaitu ruangan bos, disini gak ada kucing kamu gak usah khawatir, turuti aja semua perintah bos” ucap Abid.
Setelah menutup telfon Anis pun kembali membawa menu pesanan sang bos untuk mengantarkannya ke depan ruangan.
“Aneh, baru kali ini ada pelayan mengantar makanan cuma sampai luar, ntar kalau ada kecoa atau cicak gimana coba? Kan aku juga yang repot masakin lagi” gerutu Anis sambil berjalan.
Sesampainya di depan sebuah pintu sudah ada meja khusus yang cukup mewah disana.
“Mungkin aku letakkan di sini aja ya” ucap Anis sembari meletakkan makanan yang di bawanya di sebuah meja. Anis pun kembali lagi keruangan tadi.
Tidak lama kemudian telfon pun berbunyi lagi.
“Halo bos” ucap Anis.
“Jangan panggil bos, panggil yang lainnya” ucap seseorang di dalam telfon.
“Baik tuan” ucap Anis.
“Jangan tuan, siapa yang menyuruhmu manggil saya tuan?” ucap seseorang itu lagi.
“Iya bang maaf” kata Anis.
“Bang-bang…emang saya abang ojek apa? Dasar bocil” ucap seseorang tersebut yang tak lain adalah Reza. Reza keceplosan memanggil Anis bocil.
“Koq bocil” ucap Anis lirih.
“Mmmm maksud saya bocil-bocil yang sedang lari-lari di tivi” kata Reza menutupi perkataannya.
Dasar ini bos, belum aja sehari kerja udah ngeselin. Ini..itu..salah semua. Batin Anis.
“Buatkan saya jus mangga jangan manis dan jangan campah” ucap Reza.
“Iya baik pak” ucap Anis.
“Dua menit lagi harus sudah siap” ucap Reza.
__ADS_1