NIKAHKU ATAS TEKANAN

NIKAHKU ATAS TEKANAN
Stempel dari Reza


__ADS_3

BAB. 18


“Jangan pernah deketin dia, atau kamu berurusan Dengan ku” kata Reza tiba-tiba dengan wajah seriusnya mengancam Refan.


“Busssyettt gak usah gitu amat kali za, gak lucu becandanya” kata Refan yang tidak menanggapi ancaman Reza.


“Ok ini resepnya silahkan di beli sendiri di apotik, aku pamit pulang dulu, berarti aku akan menunggunya selesai sekolah dan akan langsung melamarnya jika dia sudah siap”, ucap Refan Dengan lirih namun masih di dengar Reza.


“Besok pagi aku akan kesini lagi untuk memastikan dia baik-baik saja” jelas Refan sembari menyerahkan resep kepada Reza.


“Besok kamu gak perlu kesini lagi, aku bisa memanggil dokter pribadiku sendiri” ucap Reza masih berusaha agar Refan tidak mendekati Anis.


“Lha aku kan dokter pribadi keluarga Herdiawan?” Tanya Refan yang belum meninggalkan kamar Reza.


“Dokter pribadiku, bukan dokter keluarga Herdiawan, kamu paham gak si, susah banget ngomong sama dokter”, protes Reza.


Refan pun pamit dan meninggalkan rumah keluarga Herdiawan. Sedangkan Reza masih duduk di samping Anis menunggunya untuk sadar.


“Halo mbok Tolong bilang sama pak mamat belikan resep untuk Anis di apotik sekarang, ucap Reza yang sedang menelfon mbo Ipah.


“Iya den” ucap mbok Ipah.


Mbok Ipah lalu segera memintapak Mamat, tukang kebun keluarga Herdiawaan untuk membeli obat di apotik.


Anis masih belum sadarkan diri, di sampingnya terdapat seorang lelaki Dengan wajah yang sangat cemas, siapa lagi kalau bukan Reza. Iya Reza saat ini benar-benar mencemaskan gadis yang setiap hari selalu dia jahili bahkan di remehkan.


Tidak lama kemudian mbok Ipah mengetok pintu kamar Anis.


“Den, ini obat sama teh den gelis” kata mbok ipah kepada reza sambil menyerahkan obat.


“Iya terimakasih mbok, tolong letakkan di atas nakas”. Ucap Reza.


“Den sebaiknya pakain den Anis segera di ganti karena tadi lembab oleh keringat”. Saran mbok Ipah.


Tadi saat Reza memaksa untuk menciumnya, Anis memberontakdengan sekuat tenaga sehingga keringat pun bercucuran deras, sampai lama-kelamaan Anis kehabisan tennaga dan pinsan.


“Biar nanti aku saja yang menggantikannya mbok”. Ujar Reza yang mulai asal bicara.


“Den Reza beneran mau menggantikan pakaian den Anis?” Tanya mbok Ipah Dengan wajah masih tidak percaya.


“Mmm,,, emangnya kenapa? Anis kan istriku mbok” ucap Reza gugup dan mulai menyadari kesalahan bicaranya.


“Ya sudah kalau gitu saya permisi dulu den”. Kata mbok Ipah sembari melangkah meninggalkan kamar Reza.


Reza pun menutup pintu kamar dan menguncinya. Di lihatnya Anis masih juga belum sadarkan diri.


“Hei bocil kenapa kamu belum sadar? Apa kamu nyaman pinsan seperti ini?” ucap Reza bicara sendiri.


“Bangunlah jangan buat aku merasa bersalah” ucapnya lagi.


Reza lalu memeriksa bagian Tubuh Anis yang masih basah oleh keringat, lalu dia menuju tempat pakaian dan mencarikan baju untuk Anis.


“Apa ini cocok untuknya? Eehh,,,mungkin yang ini aja deh lebih bagus” gumam Reza sembari sibuk memilih pakaian ganti untuk Anis.


Setelah di rasanya cukup pas, Reza kembali dan menghampiri Anis. Reza mulai mendekati Anis, kini dia bingung akan memulainya dari mana. Tangannya antara mau dan takut untuk membuka pakaian Anis.


“Kamu ganti baju dulu biar gak tambah sakit ya” gumam Reza sambil memulai membuka kancing baju Anis.


Akhirnya seluruh kancing piyama Anis berhasil dibuka, terlihat pemandangan nan indah yang tersembunyi di balik sikap seorang gadis kecil yang ngeselin setiap hari.


Sebagai seorang laki-laki normal Reza menelan slavinanya dan terus memperhatikan isi di balik piyama tersebut, cukup lama dia memperhatikan Anis. Tangannya ingin sekali bermain di muara tubuhnya namun Reza segera menepisnya dan mengingat Libia lagi.

__ADS_1


“Ayo sadar Reza, kamu masih harus memperjuangkan Libia untuk masa depanmu”. Kata Reza.


Reza pun segera menggantikan pakaian Anis yang sudah mulai lembab. Kini bagaian atas sudah terganti dengan pakaian bersih selanjutnya bagian celananya.


Reza mendengus kasar dia mulai membuka bagaian bawah Anis.


Betapa terkejutnya Reza saat mendapati pemandangan yang jauh lebih bagus darai pada tadi.


“Noo, tidak-tidak kamu harus bisa menahannya Reza atau singa betina ini akan menerkammu dan semua dunia tahu kalau aku beristrikan seorang singa yang teriakannya bisa menembus ratusan kilo meter”. Kata Reza berusaha menenangkan miliknya.


Reza sudah berusaha menahannya namun kini dia benar-benar tak mampu lagi menahannya.


“Tuhan maafkan aku, sedikit saja, sesudah itu aku janji akan focus pada Libia” ucap Reza kemudian.


“Reza segera meng*cup paha Anis, ada beberapa tanda merah disana. Reza pun segera menggantikan Dengan pakaian bersih Setelah dia bersusah payah membentengi dirinya agar tidak terjadi hal-hal yang lebih dari itu.


Dilihatnya Anis masih juga belum membuka matanya, wajahnya sudah tidak sepucat tadi. Diliriknya jam sudah menunjukkan pukul 04.30. Reza lalu mengambil selimut di lemari untuk mengganti selimut yang tadi.


Di selimutinya seluruh bagian Tubuh Anis. Reza pun merasakan kantuk yang amat sangat berat, semalaman penuh dia belum sama sekali tidur.


Akhirnya Reza pun tertidur di sofa, karena dia tidak mau saat Anis terbangun dan kembali marah-marah karena dirinya tidur seranjang dengannya.


Tidak lama kemudian Anis pun sadarkan diri, dia melihat sekeliling kamar, dilihatnya Reza sedang tidur di sofa.


“Alhamdulillah masih aman” kata Anis.


Anis pun melangkahkan kaki menuju kamar mandi untuk mandi dan bersiap-siap pergi kesekolah.


“Aaaaakkkkkkkk” tiba-tiba Anis teriak Setelah melihat pakaiannya.


“Aduuuhh, kenapa si teriak mulu kamu ni” gerutu Reza yang terbangun karena teriakan Anis.


“Kenapa aku pakai baju seperti ini?” Tanya Anis sembari menunjukkan baju dan celananya.


“Ini bukan celanaku, aku tidak punya celana sebesar ini, terus ini kenapa aku pakai jaket kutup kayak gini? Aku keliatan kayak beruang kalau gini” teriak Anis.


“Ya…itu kan kamu sendiri tadi malam yang mengambil pakaian itu” kata Reza.


Apa dia tidak ingat kejadian semalam? Tapi bagaimana mungking? Gumam Reza mulai bingung Dengan tingkah Anis yang tidak mempermasalahkan kejadian semalam saat Reza menc*umnya, Anis malah sewot Dengan pakaian yang di pakainya sekarang.


“Tapi aku tidak punya celana kedodoran seperti ini, bukankah ini celana cowok?? Atau ini memang celana mu?” Tanya Anis penuih selidik.


“Hei bocah kecil, kamu tidak ingat kalau semalam kamu lupa membawa pakaian saat mandi dan memakai pakaian seadanya yang ada di kamar mandi”. Ucap Reza mengibuli Anis.


Buka Reza namanya kalau tidak pandai bersilat lidah.


“Benarkah?” Tanya Anis.


“Aku ini laki-laki baik gak mungkin lah aku bohong” Jawab Reza.


Anis pun berusaha mempercayai Reza walau dalam hati kecilnya masih tidak percaya.


Anis segera melangkahkan kakinya ke kamar mandi, Sesampainya di kamar mandi dia melepas semua pakainnya dan mulai mandi.


“kenapa pahaku ada merah-merahnya?” kata Anis bertanya-Tanya sendiri di kamar mandi.


“Aduuh kepalaku sakit” kata Anis kemudian.


“Atau jangan-jangan orang gila itu sudah macam-macam Dengan ku” ucap Anis mulai geram.


Sedangkan Reza masih bingung Dengan sikap Anis yang tidak meningat sama sekali saat dia menc*umny. Di satu sisi Reza merasa senang, karena itu artinya dia akan selamat dari amukan Anis. Namun disisi lain Reza sangat mengkhawatirkan Anis. Dia takut telah terjadi apa- apa di otaknya.

__ADS_1


Beberapa kemudian Anis keluar dari kamar mandi lengkap Dengan pakaian sekolahnya.


“Kamu benar semalam gak ngapa-ngapain aku?” Tanya Anis penuh selidik.


“Emangnya kenapa? Ada yang aneh?” kata Reza balik bertanya.


“Banyak” Jawab Anis singkat.


“Apa?” Tanya Reza.


“Pertama, aku memakai celana kedodoran saat tidur, kedua kenapa bagaian pahaku merah-merah?” Tanya Anis Dengan tatapan tajam ke arah Reza.


“Ok, kalau yang point pertama kan tadi aku udah jelasin, mau berapa kali aku jelasinya. Katanya kamu cerdas, harusnya bisa lebih cepat paham dong sekali aja”. Jawab Reza.


“Ok, terus gimana yang point ke dua”? Tanya Anis lagi.


“Point kedua apa?” ujar Reza yang pura-pura lupa.


“Gak usah sok gak tahu deh, aku tadi udah katakana panjang lebar”. Kata Anis mulai kesal.


“Kan aku manusia jadi wajar lah kalua aku lupa” ucap Reza membenarkan diri.


“Katanya pengusaha sukses tingkat internasional, kayak gitu aja lupa” gerutu Anis.


“Aku mau tidur lagi masih ngantuk. Kalau gak ada yang di bicarakan lagi silahkan keluar dan berangkat sekolah. Oh iya ambil ongkosnya Dengan mbok Ipah”. Kata Reza kembali memposisikan tubuhnya untuk tidur.


“Aku belum selesai ngomong” teriak Anis.


“Iya apa lagi?” Tanya Reza, kali ini Reza lebih bisa menjaga sikap kepada Anis dari pada sebelumnya. Reza tidak mau Anis terlalu banyak pikiran.


“Kenapa pahaku banyak merah-merah?” Tanya Anis.


“Dimananya?” Tanya Reza.


“Di kaki bagian paha”. Jawab Anis.


“Coba dibuka, biar ku periksa”. Kata Reza enteng.


“Ngapain buka-buka? Dasar orang tua m*sum..!!” marah Anis.


“Lha kan kamu nanay ke aku, jadi aku mau melihat sekaligus memeriksanya biar aku tahu apa penyebab merah di pahamu” kata Reza penuh Dengan alasan.


“Gak perlu..!!” ucap Anis sambil berlalu keluar kamar.


“Kalau sampai kamu ketahuan bohong, lihat aja..!!” tiba-tiba Anis kembali lagi ke kamar sambal mengancam Reza.


“Udah berangkatlah sekolah, jangan lupa ongkosnya sama mbok Ipah” kata Reza yang tak menghiraukan ancaman Anis.


Anis pun berlalu dari kamar menuruni anak tangga menuju dapur. Anis lupa kalau dirinya sudah janji tidak akan meminta ongkos dan juga makan lagi pada Reza dan memilih untuk kerja di kedai kopi.


“Selamat pagi mbok Ipah” ucap Anis kepada mbok Ipah.


“Eeh…den gelis sudah bangun?” Tanya mbok Ipah.


“Kalau sudah disini berarti sudah dong mbok”. Ucap Anis.


“Den gelis sehat?” Tanya Mbok Ipah yang tiba-tiba menanyakan kesehatan Anis.


“Ya sehat lah mbok, Sejak kapan Anis sakit” kata Anis yang tak mengerti arah pembicaraan mbok Ipah.


“Syukurlah den, oh iya obatnya sudah di minum belum den?” Tanya mbok Ipah lagi.

__ADS_1


“Obat apa mbok?” tanya Anis bingung.


“Den Reza gak ngasih tahu ya den?” Tanya mbok Ipah bingung.


__ADS_2