
BAB. 6
Jam sudah menunjukkan pukul 04.30. Reza masih terjaga dan belum bisa tidur. Satu sisi dia merasa sangat terganggu dengan Anis, disisi lain dia juga masih sangat memikirkan Libia yang belum juga memberinya kabar.
Reza sangat merasa lelah, matanya terasa sangat berat. Dia semakin tidak nyaman karna udara dingin menembus selimutnya. Padahal Reza sudah mematikan AC dikamarnya. Reza pun akhirnya menaiki ranjang dan tidur disamping Anis, menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Karena factor dinginnya udara pagi hari, Reza pun tertidur pulas.
“Bruuuk,” tiba-tiba Reza terbangun karena merasa tubuhnya tersungkur.
“Awww…!!apa-apaan ini..? Tanya Reza sambail mengucek kedua matanya.
“BOCIIILLLL…!!!! Teriaknya Reza tiba-tiba saat dilihat kaki Anis sudah memenuhi seluruh ranjang.
Anis yang masih menikmati mimpi indahnya bersama temen-teman sekolah pun sontak terkejut.
“Maling? Mana maliingnya???” ucap Anis masih setengah sadar.
“Maling-maling, apanya yang maling? Dasar bocil !!” bentak Reza kepada Anis dengan kesal.
Anis pun mengucek matanya berusaha mengumpulkan kesadarannya penuh.
“Tadi ada yang teriak maling mas?? Apa dirumah ini ada maling??” tanyanya polos kepada Reza.
Reza pun bangun dari lantai dan menghampiri Anis yang masih terduduk bingung.
“Kamu ini baru aja satu malam masuk kehidupanku sudah bikin aku GILA !!, gimana mau jadi istri ku?” gerutu Reza sambail menjitak kening Anis dengan kesal.
“Mau banget ya jadi istri aku?? Ooh iya jelas secara aku kan tamvvaaann “. Ucap Reza pede.
“Arrrggghhhhh…..!!!! Dasar orang tua ngeselin banget, pagi-pagi buta banguni orang ngajak berantem!!”. Ucap Anis kesel.
“Hehh bocah kecil, kamu tuh yang bikin onar!! Kamu kalau tidur iket dulu tuh kaki biar gak liar sampai ke rumah tetangga.!” Ucap Reza tak mau kalah.
“Siapa yang ke rumah tetangga?? Aku ni semalaman Cuma tidur di sini bersama bunga-Bunga. Kalau mas gak percaya Tanya aja mawar-mawar ini” Jawab Anis masih ngeyel.
Kamar Reza dan Anis memang ditaburi mawar merah oleh mbok Ipah atas permintaan majikannya.
“Kamu ni lemoot banget sii !!” Celetuk Reza sembari menutup telinganya dengan bantal dan melanjutkan tidur.
Dasar orang tua, udah pikun kali ya kalua aku dari semalem gak kemana-mana apalagi kakiku sampek ke tetangga, kan aneh gak masuk akal”. Gerutu Anis masih membela diri dengan kengeyelannya.
“Apa kamu bilang?? Orang tua? Walapun aku sudah berumur tapi aku tamvaan. Asal kamu tahu pacar aku jauh lebih cantic ketimbang kamu. Kamu tau kenapa?? Jelas karna aku cowok tampan dan mapan”. Ucap Reza.
“deg” hati Anis terasa teriris saat mendengar perkaaan Reza jika dirinya sekarang mempunyai seorang pacar. Anis pun hanya diam saja mendengar celotehan Reza. Dia memilih untuk masuk ke kamar mandi untuk mandi dan bersiap sholat subuh.
Selesai sholat Anis bersiap-siap untuk merapikan pakainnya, karena hari ini Anis sudah mulai masuk sekolah lagi. Dia tidak sabar untuk bertemu dengan teman-temannya dan menceritakan segala keluh kesahnya kepada Ria, Reni, dan Nely. Anis pun segera keluar menuruni tangga dan segera menuju meja makan untuk sarapan.
“Maaf den gelis, den Reza tidak ikut sarapan bareng aden?” Tanya mbok Ipah yang tiba-tiba muncul dari belakang Anis.
“Mas Reza masih tidur mbok”. Jawab Anis.
“Maaf den gelis, tadi simbok ditelfon ibuk untuk mempotoh aden berdua waktu lagi makan sebagai bukti aden baik-baik aja hubungannya”. Jelas mbok Ipah.
__ADS_1
Anis pun mengangguk tanda mengerti apa yang mbok Ipah katakan. Mama mertuanya memerintahkan mbok Ipah seperti itu sebagai bentuk kasih sayang dan perhatian terhadap dirinya.
“Emmm ya sudah saya banguni mas Reza dulu mbok”. Ucap Anis kemudian dengan pasrah. Anis pun kembali menaiki tangga menuju kamarnya. Disana dia mendapati Reza yang masih tidur pulas sambal mendengkur.
“Mas bangun giih udah subuh ini”. Ucap Anis.
Reza masih terlihat pulas, suara dengkurannya seolah semakin kuat di telinga Anis.
“Mas kalau mau tidur lagi jangan disini, dikantor aja kenapa sih kan gak keliatan sama mbok Ipah”. Gerutu Anis yang ngomel-ngomel sendiri dengan kesal.
Reza masih tak bergeming dari tidurnya. Anis pun semakin kesal dibuatnya. Akhirnya dia mengeluarkan ponsel dari dalam saku kemeja sekolah dan mulai mengidupkan ponselnya. Anis membuka video dan meng”on” kan tepat didepan wajah Reza. Terdengar jelas suara dengkuran Reza dengan mulut menganga bulat. Beberapa detik kemudian Anis pun mematikan ponselnya dan meletakkan kembali kedalam saku.
“Mas banguuuun”. Ucap anis lagi. Kali ini suaranya agak kuat serta dangaqn yang menggoyang-goyangkan tubuh Reza.Reza mulai menggerakkan tubuhnya dan mencoba membuka matanya yang masih kabur karena masih sangat ngantuk, tiba-tiba ditarinya lengan Anis ke dekapan Reza.
“Sini sayang aku kangen banget sama kamu, kamu kemana aja dari kemaren gak ada kabar?” ucap Reza tiba-tiba bicara ngelantur.
Tanpa menunggu jawaban dari Anis, Reza pun langsung mengecup bibir anis dengan lembut. Anis yang sama sekali belum pernah disentuh oleh laki-laki merasa sangat kaget. Tubuhnya bergetar ketakutan.
Iya, Anis memang anak yang cerdas, pemberani dan periang. Tapi untuk urusan percintaan, pak Budi bapak Anis sangat tegas melarang Anis untuk dekat atau bahkan sentuhan dengan lawan jenis. Anis sama sekali belum pernah pacaran.
“Mas kamu apaan si?” stop mas! Lepaskan aku!” pinta Anis sambil berusaha menghempaskan tangan Reza.
Reza pun terbangun dan berusaha menyadarkan dirinya secara penuh. Dilihatnya Anis yang berada di depanya menangis dengan kedua tangan mengelap mulutnya.
“heh bocil kamu kenapa nangis pagi-pagi gini?” Tanya Reza kepada Anis tanpa perasaan bersalah.
“Kamu tega mas, kamu nih JAHAT tahu gak”. Ucap Anis sembari melangkahkan kaki keluar kamar.
“lepaskan!!” ucap Anis.
“Heh aku Tanya sama kamu baik-baik tapi kamu malah yelonong keluar?” ucap Reza bernada dingin.
“Apa salah ku?” Tanya Reza.
“Mas masih tidak sadar apa yang mas lakukan sama aku barusan, haa?” ucap Anis tegas dengan suara lirih.
“Kamu sudah menc*umku”! Ucap Anis singkat sambal berusaha melepaskan tangan Reza dan berlalu pergi keluar kamar.
Reza pun segera paham alasan Anis menangis. Dia mengingat-ingat apa yang terjadi tadi. Dia pun ingat dirinya tadi bermimpi bertemu dengan Libia dan menc*uminya. Reza tidak sadar ternyata yang dicium adala Anis, bocah kecil yang sekarang sekamar dengannya.
Reza mengusap rambut dengan kedua tangannya penuh sesal. Dihatinya ada perasaan bersalah karena telah menc*um dan membuat Anis menangis.
Tapi di sisi lain dia memang benar-benar sangat merindukan Libia, kekasihnya.
Reza pun segera mandi dan melaksanakan sholat subuh. Selesai sholat dan berganti pakain dia menuruni tangga menuju meja makan. Di dapatinya Anis sedang duduk sendirian dengan wajah yang menerang kosong. Terlihat jelas hatinya sangat sedih.
“Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu sedih”, ucap Reza kepada Anis
Anis tak menjawab sepatah katapun permintamaafan Reza. Bahkan dia tidak melirik sedikit pun kearah Reza.
“Kamu boleh membalas dengan menamparku, jika itu bisa membuatmu puas”. Kata Reza lagi.
__ADS_1
Anis pun hanya melirik Reza dan berlalu meninggalkan Reza untuk bersiap berangkat sekolah. Tidak lupa Anis berpamitan dengan mbok Ipah.
“Mboh saya berangkat sekolah dulu ya”. Ucap anis kepada mbok Ipah.
“Iya den gelis, hati-hati ya den”. Jawab mbok Ipah.
Kemudian Anis keluar menginggalkan rumah keluarga Herdiawan. Namun tiba-tiba Anis mengingat sesuatu.
“Sial,,,aku kan gak punya uang sepeser pun, gimana aku ke sekolah tanpa ongkos coba?” ucap Anis berkata sendiri sambal mengernyitkan keningnya.
Apa iya aku harus meminta sama orang tua ngeselin itu? Huuhh….seandainya aku masih dirumah sama bapak dan ibu saja pasti aku sudah berlari kearah ibu untuk meminta ongkos dan uang jaajan. Ibu juga selalu memelukku setiap aku pergi kesekolah. Batin Anis.
Anis pun akhirnya memberanikan diri untuk berbalik arah memasuki rumah. Dia melangkah menuju dapur tempat dimana meliat Reza terakhir. Dan benar, ternyata Reza masih di meja makan sambal memainkan ponselnya.
“Mas minta ongkong!” pinta Anis singkat kepada Reza.
Reza terkejut karena Anis kembali ke rumah dan meminta uang kepadanya. Dia mengira Anis bakalan marah kepadanya.
“Mau minta berapa?” Tanya reza.
“Aku gak tahu ongkos dari sini ke sekolahku berapa”. Jelas Anis yang memang dia tidak mengetahi ongkos sekolahnya karena hari ini pertama kali dia berangkat sekolah tidak dari rumah.
Jarak sekolah Anis ke rumah Herdiawan kurang lebih satu jam, dan jarak dari rumahnya dulu kesekolah sekitar 40 menitan.
“100 ribu cukup?” Tanya Reza
Anis pun mengangguk dan melangkah keluar.
“Tunggu”. Ucap Reza menghentikan langkah Anis.
“Kamu berani berangkat kesekolah sendiri?” Tanya Reza tiba-tiba meragukan Anis.
“Aku bukan bocah kecil lagi”.Jawab Anis singkat.
Anis pun berlalu keluar rumah untuk kedua kalinya. Dia menunggu taksi didepan rumah keluarga Herdiawan.
“Ternyata susah juga taksi di daerah sini”. Gerutu Anis.
Jam sudah menunjukkan pukul 06.00 pagi, tapi Anis belum mendapatkan taksi untuk berangkat kesekolah.
Tiba-tiba..
Tin…tin…, bunyi klakson sebuah mobil dari arah belakang.
“heh bocil ayok aku antar ke sekolah, kamu belum tahu daerah sini. Nanti akan ku tunjukkan dimana kamu bisa mendapatkan taksi”. Ucap Reza kepada Anis dari dalam mobil
Karena waktu sudah semakin siang Anis pun akhirnya menuruti perintah Reza.
Reza mengendari mobil dengan kecepatan sedang.
“aku minta maaf mengenai tadi pagi”. Ucap Reza tiba-tiba.
__ADS_1
Anis masih tak bergeming sedikit pun, dia masih merasa malu dan sakit hatinya saat mulutnya dic*um Reza.