
BAB. 34
“Apa yang harus aku lakukan? Gimana jika nanti aku sudah bener-bener melakasanakan kewajibanku tapi mas Reza malah meninggalkanku karena wanita lain?” kata Anis Dengan perasaan takut.
Anis terlihat mondar-mandir dikamar sendirian terlihat raut wajahnya sangat cemas memikirkan sesuatu.
Ceklek….
Pintu kamar terbuka, Reza memasuki kamar dan melihat Anis mondar-mandir.
“Hei..Kamu sedang apa?” Tanya Reza.
“Ehh, kok gak ketok pintu dulu masuk kamar?” Tanya Anis.
“Emangnya kenapa, salah? Bukan kah ini juga sekarang menjadi kamarku?” Jawab Reza yang langsung menuju ranjang dan berbaring.
“Aduuuhh…pegal sekali badanku habis angkat gadis tidur di mobil, kira-kira ada tukang urut gak ya di deket sini?” Tanya Reza yang berekting kecapekan.
“Gak ada lah, lagian ini kan sudah malam” Jawab Anis polos.
“Istri………..ooh istri, apakah dikau gak paham juga maksudku” ucap Reza yang pura-pura ngambek.
“Kan aku sudah Jawab pertanyaanmu, terus apa lagi yang kurang?” Tanya Anis tidak mengerti.
“Lengan dan kakiku pegal nih abis angkat-angkat tadi, gimana dong?”kata Reza.
“Maksudnya minta di pijit?” Tanya Anis.
Reza hanya cengengesan tanpa menjawab pertanya Anis.
Kenapa dia jadi seperti anak bayi gitu sih sekarang. Dasar orang tua kadang ngeselin, kadang baik, kadang seperti bayi. Banyak banget si karakternya. Batin Anis sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Ayo sini Tolong pijiti aku” ucap Reza.
Anis pun menaiki ranjang dan mulai memijit bagian tangan Reza. Selesai tangan..Reza meminta Anis untuk memijit kakinya. Anis pun menuruti perintah Reza. Reza menkkmati setiap pijitan Anis yang disertai bau harum parfum khas Anis.
“Baru di pijit aja rasanya udah senyaman ini, apa lagi lebih dari ini”ucap reza bicara sendiri yang tentu saja terdengar di telingan Anis.
Anis yang mendengar perkataan Reza paham maksudnya, ada rasa kasijan pada Reza karena sudah 3 bulan menikah..suaminya sama sekali belum mendapatkan hak sebagai seorang suami.
Namun Anis berpura-pura tidak mengerti fengan perkataan reza.
“Apa kamu mendengar perkataanku tadi?” Tanya Reza.
“He’em” Jawab Anis singkat.
“Terus kenapa kamu diam saja” Tanya Reza.
“Jadi aku harus gimana?” Tanya Anis.
Gini amat menderitanya nikah sama gadis kecil, gak peka banget si, gerutu Reza.
Anis pun sudah selesai memijit kaki Reza. Udara malam itu terasa sangat panas walaupun kipas sudah berputar namun masih terasa panas. Reza yang kepanasan pun melepas baju dan celananya. Kini dia hanya memakai boxer pendek.
“Kenapa lepas baju?” Tanya Anis.
__ADS_1
“Apa kamu tidak lihat keringatku ngalir sampai ke lantai. Kalau gak ku lepas aku takut nanti lantainya bisa banjir karena keringatku” Jawab Reza sampil menaiki ranjang sedangkan Anis masih duduk di ranjang yang sama.
Kenapa aku jadi deg-degkan seperti ini, gumam Anis dalam hati.
Hatinya mulai gelisah, ada rasa takut dalam dirinya. Reza Dengan entengnya berbaring didekat Anis.
“Aku mau ke kamar mandi dulu” ucap Anis sambil berlalu keluar kamar.
Karena di dalam kamar Anis memang tidak ada kamar mandinya. Reza hanya menatapi Anis, dia paham apa yang sedang dirasakan Anis.
Sebenarnya Anis ke kamar mandi hanya alasan saja karena tidak tahu kenapa malam ini dia merasakan detak jantungnya berdetak kencang. Ingin rasanya dia tidur di tempat lain untuk menghindari reza namun pasti nanti bapak dan ibunya tahu dia pun bisa kena marah.
Anis masuk lagi ke kamar setelah tadi sempat berwudhu untuk menenangkan hatinya.
Ceklek…pintu kamar terbuka, Anis memasuki kamar. Di lihatnya Reza kini sedang duduk dan memandang Anis Dengan lekat. Anis semakin tidak berkutik di buatnya.
Anis melangkah menuju ke meja rias untuk sekedar memakai pelembab wajah dan lotion. Menambah aroma wangi yang semakin membuat Reza terpesona. Reza masih terdiam tidak bersuara sambil menatap setiap gerak-gerik Anis. Cukup lama Anis berada di depan cermin.
“kamu mau kemana?” Tanya Anis saat melihat Reza bangkit dan mulai mendekati Anis.
Reza tidak menjawab sedikitpun dan semakin mendekati Anis. Anis pun berdiri dan mundur menjauhi Reza. Namun Reza semakin mendekati Anis.
“Kamu mau apa?” Tanya Anis semakin cemas.
“Aku menginginkannya sekarang, bisakah?” ucap Reza yang kini sudah benar-benar tidak bisa menahan lagi.
Tanpa aba-aba lagi Reza langsung menggendong Anis dan meletakkannya di atas ranjang, Anis tidak mengatakan sepatah katapun, dia hanya menatap Reza yang kini sudah memulai aksinya.
Anis teringat tawa bapaknya di ruang tengah tadi saat mengobrol bersama Reza. Dia melihat kebahagiaan dari bapaknya yang memang bisa dibilang sangat jarang terlihat tertawa lepas seperti tadi.
“Apa aku benar-benar boleh mqelakukannya?” Tanya Reza menghentikannya dan meyakinkan Anis.
Anis tidak menjawab karena sejujurnya kini dirinya benar-benar bingung akan menjawab apa.
“Kalau kamu belum siap aku bisa menundanya” ucap Reza.
“Lakukanlah” Jawab Anis.
Sesaat Reza menatap lekat wajah Anis, Anis berusaha mengeluarkan senyumannya walau dengan paksaan.
Reza melanjutkannya, namun tiba-tiba…
“Aduuuh maaf mas perutku tiba-tiba mules banget, aku mau kekamar mandi dulu boleh?” Tanya Anis.
Reza tidak ada pilihan selain merelakan Anis untuk ke kamar mandi, dia tidak mau menyiksa gadis kecilnya hanya karena kemauannya yang sudah memuncak.
“Iya selesaikan lah urusanmu dengan segera dan cepatlah kembali ke sini” ucap Reza.
Anis pun berlari ke kemar mandi karena memang sudah tidak tahan lagi.
“Aaahhh….sial kenapa si saat dia sudah menerimaku malah ada aja pengganggunya. Emangnya dia tadi makan apa bisa mules gitu?” gerutu Reza sambil mengusap kasar rambutnya frustasi.
“Selamat juga aku akhirnya” ucap Anis Setelah keluar dari kamar mandi.
“Tapi apakah mungkin dia masih menungguku” katanya lagi sembari bergidik ngeri membayangkan kejadian setelahnya.
__ADS_1
Anis berjalan mengendap-endap Dengan pelan memasuki kamarnya. Di lihat Reza sedang sibuk Dengan ponselnya.
“Apa sudah tidak sakit lagi perutmu?” Tanya Reza dengan tatapan masih pada ponselnya.
“Tidak “ Jawab Anis singkat.
“Ya sudah sini naik” ucap Reza sambil menepuk-nepuk kasur mempersilahkan Anis untuk duduk di sebelahnya.
Anis pun menuruti perintah suaminya dan langsung mengambil selimut dan tidur.
“Kamu mau apa?” Tanya Reza.
“Ya tidurlah ini kan sudah malam” Jawab Anis.
Reza langsung meletakkan ponselnya di nakas dan memeluk Anis dari belakang. Anis yang merasakan hal itu sontak terkejut.
“Mas lepaskan mas..” kata Anis.
Namun Reza justru semakin mengeratkan pelukannya.
“Maafin aku nis…selama ini aku sudah sangat membuatmu menderita. Aku janji akan memperbaiki sikapku kepadamu” ucap Reza sambil terus mengeratkan pelukannya.
Ada apa dengannya? Kenapa seperti ini? apa karena Libia sudah menikah jadi aku menjadi pelampiasan perasaannya?, Anis terus sibuk dengan Pikirannya yang heran dengan perlakuan Reza.
“Apa kamu masih benar-benar marah kepadaku nis?” Tanya reza.
"Aku gak tahu mas aku belum yakin dengan perasaanku, maafin aku” ucap Anis sambil memejamkan mata mengingat saat dirinya menyaksikan Reza memeluk Libia di taman Waktu itu.
“Apa kamu belum yakin kalau tidak ada lagi wanita lain selain dirimu” Tanya Reza lagi.
“Saat ini memang belum mas” Jawab Anis jujur.
“Lalu kenapa tadi kamu tidak menolak perlakuanku sama sekali?” Tanya Reza lagi.
“Aku hanya ingin menunaikan kewajibanku” Jawab Anis.
“Aku tidak akan memaksamu sampai kamu benar-benar siap dan yakin Dengan perasaanku, tapi biarkan aku tetap menyentuhmu, aku tidak bisa menahannya untuk itu” ucfap Reza sembari melepaskan pelukannya.
Anis memejamkan matanya, tidak terasa air matanya jatuh saat hatinya tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Di satu sisi hatinya masih sangat sakit Dengan perlakuan dan keegoisan Reza dulu, di sisi lain malam ini dia menyaksikan kebahagiaan bapaknya saat bersama Reza yang memang sangat jarang Terlihat seperti itu.
Tanpa disadiri keduanya pun tertidur Dengan Reza memeluk Anis.
Jam sudah menunjukkan pukul 4 pagi. Anis terbangun dari tidurnya, di lihat Reza tengah tertidur lelap sembari memeluk badannya. Anis pun menyingkirkan tangan kekar itu secara perlahan dan menuruni ranjang menuju dapur untuk membantu ibunya memasak.
Selesai memasak Anis pun mandi dan sholat subuh. Dilihatnya Reza masih tertidur.
“Mas bangun sudah subuh, buruan mandi sana” ucap Anis yang saat ini sudah lebih sering memanggil Reza Dengan sebutan “mas”.
Kenapa gak dari dulu aja aku berdamai Dengan Anis, kenapa rasa gengsiku sungguh sangat besar bahkan aku terus-terusan memikirkan Libia tanpa memperhatikan Anis sama sekali, gumam Reza dalam hati menyesali apa yang sudah dia lakukan kepada Anis.
“Udah mandi sana mas, nanti lanjut lagi senyam-senyumnya di kamar mandi” ucap Anis.
“Enak aja lanjut senyam-senyum di kamar mandi, emang aku lagi gak waras apa?” ucap Reza yang pura-pura ngambek.
“Udah tua gak usah ngambekan mas, malu sama kucing” kata Anis enteng.
__ADS_1
“Walaupun umurku sudah matang tapi aku masih tampan dan kuat kok, apa kamu mau mencobanya?” Tanya Reza sambil cengengesan.