
BAB. 35
“Coba apa?” Tanya Anis bingung.
“Coba kekuatanku tentunya” Jawab Reza.
“Hallaaaah palingan suruh angkat-angkat barang bentar juga udah ngeluh” kata Anis meremehkan Reza.
“Tapi kalau barangnya itu adalah kamu aku bisa jamin gak bakalan ngeluh” kata Reza sambil tertawa cengengesan.
“Dasar orang tua Pikirannya ngeres mulu, udah sana mandi dulu” ucap Anis.
Reza pun melangkahkan kaki keluar kamar menuju kamar mandi. Saat ini hubungan Anis dan Reza memang sudah bisa dibilang mulai membaik, walaupun terkadang sikap Anis sering kali berubah-ubah.
Selesai mandi dan berganti pakaian Reza dan Anis pun sarapan di meja makan bersama pa Budi dan bu Rusmi.
“Jadi hari senin besok kamu sudah ujian nis?” Tanya pak Budi kepada putrinya.
“Iya pak” Jawab Anis.
“Terus gimana denganmu nak Reza? Apa kamu akan tetap disini atau pulang?” Tanya Pak Budi kepada reza.
“Saya akan pulang pak, soalnya dari sini ke kantor akan memakan Waktu yang sangat lama” Jawab reza.
“Baiklah kalau itu terbaik untuk kalian, bapak sama ibu Cuma bisa berharap semoga pernikahan kalian selalu bahagia dan secepetnya di karuniai cucu untuk kami” lanjut pak Budi.
Deg….detak jantung Anis berdetak tidak menentu, perasaan cemas mulai terlihat jelas di raut wajahnya. Anis memang sudah mulai memberanikan diri untuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang istri, tapi dia belum sama sekali kepikiran untuk secepatnya punya anak. Apalagi saat ini dirinya tengah sibuk ujian kelulusan tingkat SMA.
“Aamiin pak, kami akan berusaha secepatnya untuk membuatkan cucu bapak dan ibu” ujar Reza tanpa berpikir lagi.
“Awwwwww, sakit” teriak Reza yang merasakan kaki kirinya di injak oleh Anis.
“Ada apa nak Reza?” Tanya Bu Rusmi dan pak Budi barengan.
“Ee…..ini bu tiba-tiba kaki ku di gigit kecoa, mungkin kecoanya mau minta jatah makan cepet-cepet. Padahal kan kita lagi makan tapi dia kayaknya udah gak sabaran lagi” ujar Reza sambil melirik ke arah Anis dan langsung di balas Anis Dengan tatapan yang mematikan.
Apaan si orang tua ini, pagi-pagi udah buat aku naik atap, eh maksudnya naik darah aja, batin Anis kesal.
“Kamu kenapa nak? Ayo cepat habiskan makanannya” kata Bu Rusmi memperhatikan Anis yang seolah tidak berselera untuk makan.
“Kenapa nis kamu tiba-tiba kayak gak selera makan?” Tanya pak Budi yang memperhatikan putrinya Terlihat lesu.
“Hmmmm…..jangan-jangan Anis hamil bu, soalnya kan kalau hamil biasanya keliatan lesu gitu” ucap Reza yang sengaja memancing pembicaraan ke masalah anak, padahal dalam hati Reza pun sadar Anis tidak mungkin hamil hanya Dengan sentuhan-sentuhan yang diperbuatnya semalam.
“Benarkan nis?” Tanya bu Rusmi sambil menoleh ke arah pak Budi Dengan sangat bahagia.
“Eeh….tunggu dulu bukannya baru semalam Anis cerita kalau kalian belum melakukan apa-apa?” Tanya bu Rusmi yang tiba-tiba Terlihat konyol sekonyolnya menanyakan hal tersebut kepada anak dan menantunya.
“Yah….kalau aja semalem mereka langsung ngelakuin itu dan pagi ini langsung jadi bu” lanjut pak Budi yang menimpali kekonyolan istrinya.
“Apa itu bisa pak?” Tanya bu Rusmi bingung.
__ADS_1
Reza hanya tertawa cengengesan melihat kekonyolan mertuanya, sedangkan Anis Terlihat sangat kesal Dengan keanehan orang tuanya yang muncul tiba-tiba.
Bapak ibu kenapa si jadi seperti ini? Mana bisa hamil orang berhubungan suami istri aja belum..terus emangnya kalau semalam sudah ngelakui pagi bisa langsung jadi apa? Emangnya kecebong instan buat langsung jadi. Jangan-jangan tanpa sepengetahuanku mereka sudah dicekoki sama orang tua ini”. Batin Anis kesal Dengan memutarkan Kedua bola matanya.
“Bu, kita telfon pak Herdi aja kalau anak-anak kita sudah ada bibit cucu, sekalian menanyakan kabar pak Herdi dan bu Lida” kata pak Budi bersemangat.
“Udah pak bu, Anis ini gak sedang hamil jadi Tolong jangan ngelantur lagi” ucap Anis berusaha mengatakan yang sebenarnya.
“Nis….kamu gak boleh ngomong gitu sayang, gak boleh juga menutupi kebenaran. Kalau memang kamu hamil kan itu lebih bagus, lagi pula umurku juga sudah cukup matang udah waktunya kita lebih giat lagi” kata Reza berekting serius di hadapan mertuanya sambi memegang tangan Anis Dengan lembut.
Apaan si, orang tua ini ngomong udah mulai ngelantur kayak kodok puyeng aja udah sampai kemana-mana gak ada yang jelas gini, gerutu Anis dalam hati.
“Nah kan bu benar berarti tebakan kita, ayo bu ambilkan hp bapak. Bapak mau nelfon pak Herdi” kata pak budi memerintahakan istrinya untuk mengambilkan hp Dengan semangat.
Reza yang menyaksikan kejadian tersebut merasa sangat senang Karena umpan yang di keluarkan Akhirnya kena di mertunya dan kini mertuanya akan menggandeng orangtuanya sendiri.
Yes….gak capek-capek lagi aku minta dukungan mama dan papa untuk buati mereka cucu, batin Reza Dengan senyuman yang mengembang.
Sedangkan Anis merasa pasrah Dengan tingkah aneh orang-orang disekelilingnya.
“Ini pak hpnya” kata Bu Rusmi sembari menyerahkan ponsel ke suaminya.
“Ayo nak Reza coba Tolong bapak disambungkan Dengan pak Herrdi” pinta pak Budi kepada Reza
Reza pun segera mengambil ponsel yang di pegang pak budi dan mulai menghubungi orang tuanya.
Tentu saja Reza melakukan hal tersebut Dengan sangat senang.Entah mengapa saat ini semua hal yang berhubungan Dengan Anis sangat membuat mod nya berubah sangat bagus.
“Halo pak Herdi, bagaimana kabar bapak sekarang?” Tanya Pak Budi.
“Alhamdulillah pak sudah semakin membaik. Ini semua berkat doa kalian semua” Jawab pak Herdi.
“Cepatlah pulih dan pulang ke Indonesia pak, Karena akan ada berita bahagia yang akan saya sampaikan ke bapak” ucap Pak Budi.
“Berita bahagia apa pak?” Tanya Pak Herdi yang sudah tidak sabaran.
“Anak kita sudah ada bibit-bibit cucu untuk kita pak”ungkap pak Budi Dengan sangat bahagia.
“Benarkah pak?” Tanya pak Herdi yang juga sangat bahagia.
“Iya pak, kata Reza semalam mereka baru membuatnya dan pagi ini Anis sudah mulai lesu untuk makan” Jawab Pak Budi.
“Wah….wah….aku bahagia sekali mendengar berita ini pak, rasanya kebahagiaanku berlipat-lipat saat ini. Aku jadi tidak sabar ingin cepat-cepat kembali ke Indonesia pak” kata Pak Herdi
“Iya pak pulanglah secepatnya nanti kita bisa main sama-sama Dengan cucu kita” ucap Pak Herdi.
Anis yang mendengar percakapan antara mertua dan orang tuanya merasa tidak tega untuk menjelaskan kebenarannya secara serius.
Dia tidak tega mengambil kebahagiaan dari orang-orang yang sudah sangat menyayanginya. Kini Anis semakin bertambah bingung. Di lihatnya Reza pun tidak kalah Terlihat bahagia.
Apa si maksudnya semua ini? Kalau sampai mereka mengetahui hal yang sebenarnya betapa hancurnya hati mereka Karena harapan yang tidak sesuai Dengan kenyataan. Batin Anis
__ADS_1
Anis Akhirnya lebih memilih untuk meninggalkan meja makan tempat orang-orang di sekitarnya sedang berbahagia Dengan sesuatu yang belum sama sekali terjadi.
“Huuuht….gimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana bisa mereka semua menganggapku hamil padahal saat ini aku lagi benar-benar tidak memikirkan hal tersebut. Bahkan saat ini yang ada di pikiranku hanyalah ujian Dengan nilai yang paling unggul” kata Anis berbicara sendiri.
Ceklek…..pintu kamar terbuka. Reza masuk melihat Anis cemas.
“Kamu kenapa sayang? Apa kamu mual?” Tanya Reza ngelantur.
“Mas..kenapa tadi mas bilang aku hamil padahal kita belum ngapa-ngapain mas? Apa mas gak takut buat mereka semua kecewa sama kita?” Tanya Anis kepada Reza Dengan raut wajah cemas.
“Lho kenapa takut sayang..kan kita bisa OTW sekarang, lagian kita sudah sah jadi kapanpun bisa buat dan mewujudkan keinginan mereka” ucap Reza menjelaskan.
“Tapi aku belum siap mas, mas sendiri kan tahu kalau aku saat ini masih focus Dengan ujianku. Aku sudah diikutsertakan sekolah untuk mengikuti kompetisi UMBK di kota ini mas. Tolong mengertilah keadaanku mas” kata Anismemohon kepada Reza.
“Kamu kenapa cemas banget sayaaangku istri kecilku, aku tidak memaksamu untuk melakukannya sekarang aku hanya menyemangati kamu untuk bisa buat anak secepatnya” kata Reza tak berdosa.
“Kok malah menyemangati aku untuk buat anak si mas bukannya malah nyemangati aku untuk focus ujian agar nilaiku memuaskan. Mas Tolong deh jangan macem-macem dulu” ucap Anis semakin kesal.
“Aku gak macem-macem sayang aku Cuma semacem. Lagian aku nyemangati kamu untuk buat anak secepatnya agar kamu bisa semangat belajarnya” Jawab Reza yang mulai tidak jelas.
“Aaahhhh…..susah banget ngomong sama mas ni. Katanya Reza saputra orangnya cerdas tapi dari tadi ngomong gak pernah nyambung. Atau jangan-jangan factor umur kali ya mas?” ucap Anis Dengan nada mengejek.
“Iya factor umur yang ingin secepatnya punya anak dari mu sayang. Kamu benar-benar sudah membiusku Dengan cintaku yang seolah-olah semua tempat hanya ada wajahmu” ucap reza sembari mendekati Tubuh Anis.
“Mas mau ngapain?” Tanya Anis sembari melangkah mundur menjauhi Reza.
“Tentu saja akan menikmati wajah cantic istriku yang sedari dulu selalu aku abaikan” Jawab reza sambil membelai wajah Anis Dengan jarinya.
“Mas jangan macem-macem, masih ada bapak sama ibu di dapur” kata Anis cemas.
“Memangnya kenapa kalua masih ada mereka? Mereka juga pasti ngerti koq sama kita” ujar Reza santai.
“Mas aku mau minum dulu, tiba-tiba tenggorokanku serak” kata Anis memberi alasan agar Reza menghentikan aksinya di pagi hari.
“Ok kamu tunggu di sini aja dulu, biar aku ambilkan minum untuk mu” Jawab Reza sembari keluar kamar untuk mengambilkan Anis minum.
“Ini minum lah dulu yang banyak, aku gak mau kalua kamu sampai kehausan karenaku” ucap Reza.
Anis pun segera meminum air yang di bawakan reza.
“Apa sudah selesai?” Tanya Reza.
“Iya sudah” Jawab Anis singkat.
“Ayo” perinta Reza tidak jelas.
“Kemana?” Tanya Anis.
“Kita buat anak sekarang” Jawab Reza singkat.
Anis bingung mau menjawab apa, saat ini hatinya benar-benar bingung akan melakukan apa. Dia tidak ada keberanian untuk mengiyakan ataupun menolak permintaan Reza.
__ADS_1