
BAB. 25
Reza tidak menjawab, tubuhnya terasa menggigil di tambah keringat dingin yang mengucur deras. Anis pun memapah tubuh Reza menjauhi keramaian.
“Tunggu di sini dulu, aku akan mencari taksi” ucap Anis sembari mendudukkan Reza di kursi taman yang terletak tidak jauh dari gedung tempat acara keluarga Bramansya.
Lagi-lagi Reza hanya bisa pasrah menuruti perintah Anis, tidak lama kemudian sebuah taksi berhenti di depannya, seorang gadis cantik memakai gaun hitam turun dari taksi tersebut, gadis tersebut tidak lain Anis.
Anis segera memapah Reza memasuki taksi. Sebelum pulang tidak lupa dia menitipkan mobil Reza kepada panitia penyelenggara acara.
“Dingiiin” ucap Reza kedinginan.
Anis bingung mau berbuat apa, dalam hatinya tidak mungkin dia memeluk Reza.
“Iya sabar ya bentar lagi kita sampai rumah” ucap Anis.
“Apa kita langsung ke rumah sakit aja?” Tanya Anis.
“Langsung ke rumah aja “ ucap Reza dengan nada lirih.
“Ok” kata Anis.
Sesampainya di rumah..Anis langsung berlari untuk mencari bantuan.
“Mbok….Tolong mbok” teriak Anis.
“Ada apa den kok teriak-teriak?” Tanya mbok Ipah.
“Mana pak Mamat mbok? Tolong bantu angkat mas Reza mbok” ucap Anis panik.
“Ada apa dengan den Reza den??” Tanya mbok Ipah yang tak kalah panik.
“Udah ayo buruan mbok, mas Reza sakit, badannya penuh keringat dingin” ucap Anis.
“Iya-iya den saya mau manggil si mamat dulu” ucap mbok Ipah sembari berlari mencari pak mamat.
Tidak lama kemudian mereka pun membawa Reza ke kamar.
“Saya turun dulu den mau buatin teh panas dulu” ucap mbok Ipah.
“Iya mbok terimakasih” Jawab Anis.
Reza masih dalam keadaan antara sadar dan tidak, tubuhnya semakin menggigil, keringat dingin terus keluar membasahi kemejanya.
Tidak lama kemudian Mbok Ipah pun masuk sambil membawa secangkir teh panas.
“Ini den tolong di berikan sama den Reza” ucap mbok Ipah.
“Den, baju den Reza basah semua, kalau gak di ganti secepatnya bisa tambah demam” ucap mbok Ipah lagi.
“Gimana jadi mbok? Apa minta tolong pak mamat aja untuk gantiin mas Reza?” uacap Anis yang mulai panik.
“Pak mamat tadi ke rumah sakit den jemput dokter Refan, karena dari tadi di hubungi gak di angkat-angkat” Jawab mbok Ipah.
“Aduh gimana ini “ ucap Anis yang mulai berpikir keras.
“Simbok permisi dulu ya den gelis, tolong ya den jagain dan rawat den reza, simbok mau buatkan den Reza bubur" Kata mbok Ipah.
Mbok Ipah pun turun kelantai satu menuju dapur dan meninggalkan Anis dan Reza.
Laki-laki yang begitu seringnya buat Anis sakit hati kini lemah tak berdaya, wajahnya terlihat pucat, tubuhnya basah oleh keringat yang mengalir deras. Anis semakin panik.
__ADS_1
Akhirnya dengan memberanikan diri Anis mulai melepas jas dan kemeja Reza.
“Badanmu dingin sekali mas” kata Anis sembari melepas seluru pakaian Reza.
Anis pun segera mengambilkan pakaian ganti dan memakaikannya untuk Reza.
“Dingiiin….” ucap Reza menggigil kedinginan dengan suara lirih.
“Sabar ya mas, pak mamat sedang menjemput dokter Refan” ucap Anis sambil mengelus rambut Reza.
Ada perasaan khawatir yang sangat mendalam di hati Anis.
Tok…tok..
Seseorang mengetuk pintu kamar Reza dan Anis.
“iya silahlkan masuk” Jawab Anis.
“Kamu sepupunya Reza kan?” ucap seorang laki-laki yang masuk ke dalam kamar, dia adalah Refan, dokter pribadi keluarga Herdiawan sekaligus sahabat Reza.
“Ayo dok tolong periksa mas Reza” kata Anis tidak memperdulikan pertanyaan Refan.
“Reza Kenapa?” Tanya Refan.
“Kalau aku tahu gak mungkin aku nanya dok” ucap Anis yang sedikit kesal dengan pertanyaan Refan.
Aneh orang ini, dokter kok malah nanyain pasien ke aku, batin Anis.
“Maksudnya gimana kronologinya sampai Reza seperti ini?” Tanya Refan memperjelas pertanyaannya sembari mengeluarkan stetoskop dari dalam tas.
“Kami ke acaranya pernikahan mas Frans dan tiba-tiba mas Reza lemas dan kedinginan” ucap Anis.
“Oke aku periksa dulu” ucap Refan.
“Emangnya Kenapa dok?” kata Anis balik bertanya.
“Keringat dingin dan lemahnya badan Reza ini disebabkan karena lambungnya yang kosong, kalau setahu aku Reza memang punya riwayat asam lambung Sejak SMA, jadi dia tidak boleh telat makan sedikitpun” Jelas Refan.
“Apa mas Reza baik-baik saja dok?” Tanya Anis.
“Resep untuk Reza, tapi tolong bantu awasi pola makannya, karena seberapa banyak obat kalau dia tidak menjaga pola makan hasilnya akan nihil” jelas Refan sembari memberikan resep kepada Anis.
“Iya dok terimakasih” ucap Anis.
“Apa kamu beneran sepupu Reza?” Tanya Refan penasaran.
“Emangnya Kenapa dok? Apa ada yang aneh?” Jawab Anis.
“Kamu kelihatan sangat mengkhawatirkan Reza” ucap Refan.
“Silahkan dokter tanyakan ke mas Reza langsung jika mas Reza sudah sehat” ujar Anis.
Dokter Refan pun pamit dan keluar dari kamar. Sedangkan Anis berjalan mendekati Reza yang masih tertidur. Di pegangnya kening Reza.
“Masih dingin sekali” ucap Anis.
Terlihat badan Reza mulai menggigil, Anis pun menelfon mbok Ipah untuk membelikan obat yang sudah di resepkan oleh dokter Refan.
“Mbok tolong secepatnya belikan mas Reza obat di apotik, badan mas Reza semakin menggigil” perintah Anis kepada mbok Ipah di dalam telfon.
“Iya den siap” ucap mbok Ipah.
__ADS_1
“dingiiiin” ucap Reza lirih.
“Anis segera mengambil selimut tebal dari dalam lemari dan membentangkan ke tubuh Reza.
Tidak lama kemudian mbok Ipah pun masuk membawa obat untuk Reza.
“Bagaimana keadaan den Reza den?” Tanya mbok Ipah khawatir.
“Masih menggigil mbok” ucap Anis.
“Den tolong den Reza diusahakan segera meminum obat ini untuk mengurangi sakitnya” ucap mbok Ipah.
“Iya mbok” Jawab Anis.
“Terus, tolong badan den Reza di cek terus den, jangan sampai keringatnya membasahi pakaiannya, takutnya nanti tambah masuk angin” jelas mbok Ipah kepada Anis.
“Iya mbok terimakasih sudah membimbing Anis ya mbok” ujar Anis.
“Iya den, simbok permisi dulu den, nanti kalau ada apa-apa panggil simbok aja” ucap mbok Ipah sembari keluar dari kamar.
“Mas…ayo minum dulu obatnya” ucap Anis sembari membelai rambut Reza. Tidak ada jawaban dari Reza.
“Mas Reza ayo di minum dulu obatnya mas” ucap Anis.
Kini Anis mulai menyentuh pipi Reza untuk membangunkannya. Tidak ada lagi pikiran takut saat menyentuh bubuh Reza, yang ada dipikirannya adalah agar Reza bisa secepatnya sehat.
Reza mulai membuka matanya, di lihatnya Anis yang tersenyum kepadanya masih menggunakan gaun yang tadi di pakai saat menghadiri pernikahan Frans.
“Kamu cantik sekali, maafkan aku” ucap Reza.
“Udahlah mas, mending mas buruan minum obat” ucap Anis.
Reza berusaha bangkit namun tubuhnya masih sangat lemah, sehingga Anis berinisiatif membantu Reza bangun untuk meminum obat.
“Temani aku tidur aku mohon” ucap Reza.
“Aku janji gak akan menyentuhmu” ucapnya lagi.
Anis pun membaringkan tubuhnya di samping Reza Setelah menutupi Reza pakai selimut.
“Keringatmu banyak sekali mas” ucap Anis.
“Apa kamu mampu untuk berganti pakaian sendiri?” Tanya Anis.
“Biarkan saja dulu, nanti kalau aku udah baikan aku akan ganti sendiri” ucap Reza yang belum menyadari jika Anis sudah mengganti pakaiannya.
“Iya mas” ucap Anis berusaha menenangkan Reza agar Reza segera tidur.
Reza pun tertidur, karena pada obat yang diminumnya tadi mengandung obat tidur. Anis pun segera menggantikan pakaian Reza untuk yang kedua kalinya. Namun saat akan memakaikan baju tangan Reza menggenggam erat tangan Anis.
“Biarkan seperti ini saja” ucap Reza.
“Anis merasa sangat malu mendengar perkataan Reza.
“Maafkan aku mas, aku tidak bermaksud apa-apa” ucap Anis menunduk sambil wajah memerah.
“Tidurlah, kamu pasti capek sudah merawatku” ucap Reza lirih.
“Anis pun menuruti perkataan suaminya, mereka akhirnya tidur dalam satu ranjang, Reza yang hanya memakai boxer saja dan Anis masih memakai gaun pestanya.
Reza terbangun saat jam menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Di lihatnya Anis tengah tidur lelap dengan posisi tubuh menghadap Reza.
__ADS_1
“Terimakasih sudah mengurusku dengan baik, terimakasih istriku sudah menerima keegoisanku” ucap Reza.