
BAB. 20
“Udah gak apa-apa”, ucap Dika yang bersikukuh menyodorkan sendok ke arah Anis. Anis pun pasrah dan membuka mulut untuk menikmati makanan Dika.
“Hmmmm enak banget kak, lebih enak yang punya ku” ucap Anis memberi komentar makanan yang ada di mulutnya.
“Aku belum pernah nyobain menu yang punya kamu nis”, kata Dika memberi sinyal pada Anis agar mau menyuapinya.
“Ini kak ambil saja” ucap Anis.
“Kamu tidak mau menyuapiku” rengek Dika pura-pura ngambek.
“Malu kak di lihat orang” tolak Anis.
“Sini aku aja yang menyuapimu” kata seseorang yang tiba-tiba muncul dari belakang langsung mengambil sendok dan menyuapi dika dengan menu yang di makan Anis.
Iya, dia adalah Reza yang dari tadi mengamati mereka berdua merasa risih Dengan pemandangan di depannya.
“Hei zaa kamu apaan si ganggui orang lagi bahagia aja” gerutu Dika.
“Kamu…!!!” ucap Anis kaget.
“Kamu kenal Reza nis?’ Tanya Dika pada Anis.
Anis hanya diam saja tak menjawab sepatah kata pun.
“Kamu kenal Anis za?” Tanya Dika saat dirinya tidak mendapat jawaban dari Anis.
“Iya dia sepupuku” ucap Reza yang masih menyembunyikan kenyataan.
“Oohh,,,jadi kalian sepupuan?? Kenapa gak bilang dari dulu kalau kamu punya sepupu cantik za?” ucap Dika merasa senang karena punya banyak kesempatan untuk mendekati Anis.
“Emang kenapa” Jawab Reza singkat.
“Aku juga mau menjadi iparmu nanti za, biar hubungan kita tambah akrab” ucap Dika.
“Gak boleh..!!” kata Reza singkat dan tegas.
“Kenapa?” Tanya Dika.
“Dia masih sekolah” ucap Reza.
“Iya aku tahu, kan bisa nunggu sampai selsai sekolah” kata Dika masih Dengan kengeyelannya.
“Kalau gak boleh ya gak boleh, mending kamu masuk dan kerjakan kembali tugas-tugasku tadi” perintah Reza kepada Dika.
“Tapi aku kan masih makan siang za”. Sanggah Dika.
“Aku bos mu, dan aku berhak memerintahmu terkait tugas perusahaan” ucap Dika Dengan Tegas.
“Sialan kamu za, kalau iri gak usah pake acara tugas kantor kenapa” gerutu Dika.
“Apa kamu bilang?” Tanya Reza.
“Kamu cepetlah nikah sama Libia biar gak ganggui aku” celetuk Dika.
“Dalam Waktu dua detik kamu masih di sini, jangan salahkan aku kalau memecatmu” ancam Reza yang mulai kesal.
Dika tidak mau mengambil resiko dari ancaman Reza, walau dia tahu kalau Reza tidak mungkin melakukan itu pada dirinya. Dika Akhirnya ngiprit meninggalkan tempat itu dan masuk ke dalam ruangan yang masih dalam lingkup resto tersebut.
“Nis aku duluan ya, kamu hati-hati disini ada harimau lapar” ucap Dika kepada Anis sebelum melangkahkan kaki untuk meninggalkan tempat itu.
Anis hanya tertawa penuh ejek sambal melirik Anis. Sedangkan Reza terlihat tanpa ekspresi.
"Kamu ikut aku” perintah Reza kepada Anis.
“Gak mau” kata Anis.
__ADS_1
“Kalau gak aku akan memaksamu” ucap Reza.
“Aku masih mau kerja” kata Anis.
“Kerja apa?” Tanya Reza
“Bukan urusanmu” Jawab Anis sembari melangkah meninggalkan Reza.
Reza hanya bisa diam dan memperhatikan Anis pergi.
“Oohh Ternyata kamu kerja di situ” ucap Reza bicara sendiri.
Reza pun memasuki mobil dan kembali ke kantornya.
Sesampai di kedai kopi, Anis bersiap untuk memulai pekerjaannya, tiba-tiba seseorang memanggilnya.
“Hei nis baru datang? Kamu udah makan siang?” Tanya Ucup yang muncul dari arah samping Anis.
“Hei cup, bikin kaget aja. Iya aku baru datang dan kebetulan aku juga udah makan barusan cup” Jawab Anis.
“Ooh,,, ya sudah deh kalua gitu padahal rencananya aku mau ngajakin kamu makan masakan aku, tadi dari rumah aku udah masak dan aku bawak bekal ke sini” ucap Ucup.
“Oh iya? Kamu bisa masak cup?” Tanya Anis yang merasa gak enak untuk menolak tawaran ucup.
“Masak ikan bandeng nis, hehe” Jawab Ucup.
“Ehmmm, gini deh cup berhubung aku udah kenyang banget, bekalmu aku bawak pulang aja gimana? Biar aku ngerasain masakanmu.” ucap Anis mencari jalan tengah.
“Ok deh, kalau kurang enak diem-diem aja ya nis nanti” ucap Ucup seraya tertawa.
“Hahaha ok siap bos” Jawab Anis.
“Jangan panggil bos dong, kan kita sama-sama karyawan” ucap Ucup.
“Tapi kamu kan lebih senior cup” kata Anis. Ucup hanya menggaruk kepala yang tidak gatal.
“Oh iya Cup kalua boleh tahu kamu kenapa bisa sampai di pecatdari resto sebelah? Padahal restonya mewah banget lho, sayang banget” ucapa Anis yang tiba-tiba penasaran Dengan Ucup.
“Boleh gak aku tahu” kata Anis.
Tiba-tiba seseorang berdasi memanggil Anis sehingga pembicaraan mereka pun terpotong.
“Nis keruanganku sekarang!” kata Dimas dari arah pojokan kedai.
“Ada apa pak? Apa saya membuat kesalahan??” Tanya Anis.
“Keruanganku dulu, maka kamu akan tahu”Jawab Dimas.
“Tapi saya lagi beres-beres ini pak?” Tanya Anis lagi yang masih sibuk mengelap meja tamu bersama Ucup.
“Biar Ucup dulu yang membereskannya” kata Dimas.
Anis pun segera melangkakan kaki menuju ke ruangan Dimas, namun sebelumnya dia pamit Dengan Ucup.
“Cup aku kesana dulu ya, oh iya pulang kerja aku tunggu di depan kedai. Aku masih penasaran sama ceritamu tadi” kata Anis seraya yang di tanggapi Dengan acungan jempol Ucup tanda setuju.
Sesampainya di ruangan Dimas.
“Ada apa pak?” Tanya Anis.
“Apa kamu siap dipindah kerjakan?” Tanya Dimas tiba-tiba.
“Maksudnya aku dimutasi pak?” Tanya Anis penasaran.
“Iyah kurang lebih begitu” Jawab Dimas.
“Apa kesalahan saya sampai dimutasi pak?” Tanya Anis.
__ADS_1
“Lho emang mutasi harus ada kesalahan?” Tanya Dimas balik bertanya.
“Iya biasanya kan kalau dimutasi artinya sudah berbuat kesalahan pak” ucap Anis polos.
“Iya biasanya, tapi kali ini kamu dipindahkan karena simpati dari seorang pengunjung disini yang merasa puas Dengan pelayananmu jadi memintamu untuk bekerja di kantornya Dengan balasan akan memperomosikan kedai ini secara eksklusif, bahkan beliau pun juga menginvestasikan modalnya senilai satu milyar untuk kemajuan kedai ini” jelas Dimas
.
“Tapi saya tidak merasa memberikan pelayanan yang berlebihan pak”. Ucap Anis masih bingung.
“Itu perasaan kamu saja nis”. Ucap Dimas.
Bagaimana bisa aku yang baru kerja 3 hari disini dipindah kerjakan Dengan alasan kinerjaku yang bagus, gumam Anis dalam hati.
“Hei..?? Apa kamu menolak tawaranku nis? Kata Dimas yang tiba-tiba membuyarkan lamunan Anis.
“Kamu tidak usah khawatir mengenai gaji, saya pastikan akan lebih besar dari sini” ucapnya lagi.
“Iya pak kapan saya bisa mulai pindah pak? Dan dimana alamatnya?” Tanya Anis.
“Besok kamu sudah bisa mulai pindah kerja, nanti alamatnya saya kirim lewat pesan singkat” ucap Dimas.
Selesai percakapan itu, Anis pun keluar ruangan Dimas dan melanjutkan pekerjaannya. Waktu begitu cepat berlalu, tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 20.00 waktunya Anis pulang. Malam ini Anis pulang lebih awal dari biasanya, karena dia memulainya juga lebih awal. Sesuai Dengan janjinya Anis menunggu Ucup di depan kedai kopi tempat mereka berkerja.
“Hei nis, Ternyata kamu masih ingat sama janjimu”. Ucap Ucup.
“Ya iyalah cup, aku masih penasaran banget” kata Anis.
“Jadi gimana ceritanya tadi” ucapnya lagi.
“Iya ceritanya panjang banget nis” ucap Ucup.
“Ya udah intinya aja deh” kata Anis.
“Intinya aku tidak sengaja memasukan pembukuan langsung secara online dan langsung mengirimkan data ke direktur pusat” ucap Ucup.
“Maksudnya direktur Resto itu” Tanya Anis.
“Iya tapi bukan orang yang biasanya ngawasi aku langsung, tapi lebih ke pemilik mutlak resto itu.” jelas Ucup.
“Terus apanya yang salah?” Tanya Anis.
“Awalnya aku juga gak tahu kalau aku salah nis, karena aku sudah benar-benar memeriksa pbukti pembukuan itu, tapi Setelah aku menyelidiki Ternyata data yang aku kirim langsung ke pemiliknya memang data real pendapatan resto itu dan yang aneh data itu tidak sesui dengann data yang pak Libon buat” jelas Ucup.
“Pak Libon siapa cup?” Tanya Anis bingung.
“Oh iya pak Libon itu manager Resto sebelah nis, orang kepercayaan pemilik seluruh asset resto itu, dia juga yang memecat aku Waktu itu” jelas Ucup lagi.
“Emang berapa selisih datamu Dengan pak Libon cup?” Tanya Anis.
“Banyak nis lebih dari 70% “ Jawab Ucup.
“Artinya dalam pendataanmu dengan pendapatan yang di rekap pak Libon selisih lebih 70% kah?” Tanya Anis masih penasaran.
“Yup bener banget nis” kata Ucup.
“70% lebih besar yang pendataanmu atau pak Libon?’ Tanya Anis penuh selidik.
“Lebih besar yang punyaku dong nis” kata Ucup kemudian.
“Berarti pak Libon sudah menggelapkan uang resto tersebut sebanyak selisih dari pendataanmu cup” ucap Anis mulai menemukan pemahamannya.
“Apa iya nis? Kok aku malah gak mikir kesitu ya?” Tanya Ucup masih dnegan kebingungannya.
“Ok data-data pendataanmu masih kamu simpan gak cup?” Tanya Anis.
“Masih di computer resto sebelah nis, semoga aja gak dihapus” Jawab Ucup.
__ADS_1
“Huuffttt… ucup-ucup jadi kamu gak ngerti kalau pak Libon itu memecatmu karna data realnya bocor?” Tanya Anis.
“Ya gak tahu nis, Cuma pak Libon Waktu itu nyuruh aku untuk temui pemilik Resto kalua pendataanku itu salah dan membenarkkan pendataan pak Libon. Cuman aku gak mau karena bukti yang punya pak Libon aku gak punya”. Jelas Ucup kepada Anis.