NIKAHKU ATAS TEKANAN

NIKAHKU ATAS TEKANAN
Merasa Tersaingi


__ADS_3

BAB. 21


Anis dan Ucup masih asik ngobrol di depan kedai kopi tempat mereka kerja, tiba-tiba Dimas datang menghampiori mereka.


“Kalian belum pada pulang?” Tanya Dimas.


“Belum pak” Jawab Anis dan Ucup hampir bersamaan.


“Apa jangan-jangan kamu sengaja menunda pulang karena hari ini terakhir kamu kerja di sini nis?” Tanya Dimas lagi.


“Hah? Terkahir maksudnya apa pak? Anis di pecat?” Tanya Ucup kaget.


“Nggak di pecat tapi justru naik level ke yang lebih tinggi dari pada di sini”. Jawab Dimas.


“Pindah gitu pak?” Tanya Ucup.


“Iya dipindah kerjakan karena permintaan pengunjung yang baik hati” ucap Dimas.


“Lho Anis belum cerita ya sama kamu perihal pindah kerjanya ?” tanyanya lagi.


Sebelum Ucup menjawab pertanyan Dimas, Anis sudah lebih dulu menjawab.


“Iya pak belum aku sampai kelupaan saking asiknya ngobrol tadi, gini cup aku besok udah gak kerja di sini lagi, pak Dimas memindahkan aku untuk kerja di tempat lain” jelas Anis.


“ke tempat lain? Dimana nis?” Tanya Ucup.


“Aku juga bellum tahu cup, alamatnya aja belum di kirim sama pak Dimas” kata Anis.


“Iya pak?” Tanya Ucup kepada Dimas sambil menghadapkan badannya.


“Iya nanti aku kirim lewat pesan singkat, ya sudah ayok pulang nis biar aku antar. Anggap saja perpisahan sementara kita” ujar Dimas.


“Aku ikut ya pak” kata Ucup menawarkan diri.


“Lha motormu gimana?” Tanya Dimas.


“Biar tinggal di sini aja pak, sekali-kali LDR sama motor kan gak apa-apa Cuma semalam aja pak” kata Ucup sambil nyengir.


“Gak, gak boleh. Emang kedai ini tempat penitipan motor? Ayo nis masuk” ujar Dimas seraya membukakan pintu mobil.


Tiiiiinnnnnn…..


Sebuah mobil honda jaz berhenti tepat di depan Dimas, untung saja rem mobil itu bagus kalau enggak mungkin sudah nabrak Dimas.


“Awwww…!! Awas pak” ucap Anis histeris takut mobil tersebut menumbur Dimas.


Seorang laki-laki tampan turun dari mobil dan mendekati Anis.


“Maafin aku nis sudah membuatmu takut, aku tidak bermaksud menakutimu. Hanya saja jika aku terlambat mungkin kamu sudah masuk ke mobil itu” ujar laki-laki tersebut yang tak lain adalah Dika.


“Emang kenapa kalau Anis masuk mobil itu kak?” Tanya Anis heran Dengan sikap Dika.


“Yaaa….aku gak bisa ngantar kamu” Jawab Dika tanpa beban.


“Ngapain si kamu nongol kayak jaelangkung aja, ganggu kayak benalu tahu gak” gerutu Dimas kepada Dika Dengan kesal.


“Jaelangkung, benalu.?? Emang aku roh penasaran parasite apa, enak aja kalau ngomong” Jawab Dika.


“Kak Dika kenal sama pak Dimas?” Tanya Anisyang penuh heran.


“Nggak dia yang mengenalku, aku gak kenal dia”. Jawab Dika.


“Aku sumpahi kamu kualat gak nikah-nikah. Jomblo terus..!” sumpah Dimas.


“Kamu aja Jomblo main nyumpahi aku jomblo, bentar lagi aku udah gak jomblo brooo” ucap Dika.


Iya, sebenernya Dika, Dimas, dan Reza adalah sahabat dekat sejak SMA. Mereka kuliah satu kampus, namun Reza meneruskan studinya ke luar negeri atas permintaan papanya.

__ADS_1


“Ayo nis kita pulang, udah malam kamu juga nanti harus belajar. Daah pak Dimas..” ucap Dika seraya melambaikan tangan kearah Dimas dan membukakan Pintu mobilnya untuk Anis.


Anis pun hanya pasrah menuruti kemauan Dika. Meraka menaiki mobil yang dikendarai Dika Dengan kecepatan sedang.


Dari kejauhan terlihat sebuah mobil sedan mewah memperhatikan mereka, dia adalah Reza. Namun saat akan mengejarnya Anis sudah lebih dulu masuk ke mobil Dika.


“Apa kamu gak capek nis sekolah sambil belajar?” Tanya Dika.


“Nggak koq kak” Jawab Anis singkat.


“Kamu kan sepupunya Reza, apa Reza membolehkan kamu kerja? Apa lagi statusmu yang masih sekolah” Tanya Dika penasaran.


“Dia mah gak pernah memperdulikan aku kak” Jawab Anis dengan mata menerawang ke luar kaca.


“Kak udah lama kenal sama mas Reza?” Tanya Anis mengalihkan pembicaraan Dika.


“Udah lamaa banget nis, kami sahabatan Sejak SMA. Aku, Reza, Dimas, Refan, dan Gilang. Tapi Refan dan Gilang beda dunia sama kita” jelas Dika.


“Innalillahi kak, udah lama ya kak?” Tanya Anis.


“Koq innalillahi? Apanya yang udah lama?” kata Dika bingung.


“Lha kakak tadi bilang beda dunia berarti kan mereka udah gak ada” Jawab Anis.


“Maksudnya bukan begitu nis, maksudnya mereka berdua itu tidak sama di bidang usaha seperti kami tapi mereka di dunia kedokteran”. Jelas Dika.


Ciiiiiittttttttttttttttttttttttt…………………!!!


Sebuah mobil mewah tiba-tiba berhenti tepat di depan mobil Dika.


“AAAwwww…!!!” teriak Anis seketika.


“Buka…!!” seseorang kemudian keluar dari mobil mewah tersebut dan langsung menggedor pintu mobil Dika bagai perampok.


“Apaan si kayak ******* aja” omel Dika yang sudah menyadari jika yang datang adalah Reza.


“Ayo buka atau aku laporin kamu ke polisi atas Dasar penculikan sepupuku” ucap Reza.


“Kamu itu ya gak bisa banget apa liat aku seneng dikit? Ganggu mulu kayak benalu tahu gak. Main gedor-gedor pintu juga kayak vampire” omel Dika yang sudah seperti emak-emak rempong.


“Heeii…!!! Jaga bicaramu. Aku ini bos mu jadi harus nurut sama atasan” kata Reza.


Mulai lagi deh bos, atasan selalu kata-kata itu. Nasib jadi anak buah sahabat sendiri, gumam Dika sambal membukakan pintu mobil Anis yang tadi sempat dia kunci.


“Ayo naek mobil ku” ajak Reza Dengan tegas.


“Gak mau” kata Anis singkat.


“Kataku masuk ya masuk !” ucap reza mengulangi perkataannya.


“Broh gak usah kasar sama cewek entar kamu jadi jomblo berkarat..!!” celetuk Dika sambil cengengesan.


“Diam kamu, ikut campur rumah tangga orang” tiba-tiba Reza keceplosan.


Anis yang mendengarnya membelalakan mata kaget.


“Apa rumah tangga?” Tanya Dika tak kalah kaget.


“Rumah tangga siapa?” Tanyanya lagi.


“Rumah tangga kami lah” ucap Reza.


“Kamu gak bercandakan za kalau sudah nikah? Terus libia gimana?” Tanya Dika bingung.


“Otakmu cuci dulu biar gak konslet. Maksud aku rumah tangga keluarga persepupuan kami” ucap Reza enteng.


“huuuhh….syukurlah masih banyak kesempatan” kata Dika mendengus syukur.

__ADS_1


Anis pun Akhirnya memasuki mobil Reza, sedangkan Dika berlalu melanjutkan perjalannyanya pulang.


“See you nis, nanti aku telfon ya kalsu sudah samapi rumah” ucap Dika sebelum meninggalkan mereka.


“Udah buruan pulang pake acara see you-see you kayak anak kecil, kamu tu udah tua gak pantes lagi..!!” ucap Reza.


“Eeiiittss…iya..udah tua sama juga kayak kamu” ujar Dika Dengan tawa sambil melajukan mobilnya.


Anis yang melihat perdebatan dua manusia tua hanya bisa menepuk jidat.


Dasar orang tua pikun, gak sadar kalua sama-sama tua, gumam Anis.


“Mulai sekarang kamu gak boleh lagi deket-deket sama Dika” ucap Reza sambil mengendarai mobilnya.


“Kenapa?” Tanya Anis.


“Dia bukan lelaki baik” ucap Reza.


“Perasaan kak Dika selalu baik Dengan aku, bicaranya lembut, dan selalu minta maaf kalua salah” ucap Anis.


“Kamu belum tahu aja seperti apa dia itu” kata Reza.


“Aku belum percaya kalau aku belum membuktikan omonganmu” kata Anis masih bersikekeh tidak mendengar perkataan Reza.


“Dasar bociil ngeyel” ucap Reza.


Tiba-tiba Reza menghentikan mobilnya di pinggir jalan.


“Kenapa berhenti?” Tanya Anis.


Reza diam tak menjawab.


“Kamu gak akan buang aku di tengah jalan malam-malam kayak gini kan?” Tanya Anis ketakutan.


Reza masih tidak menjawab petanyaan Anis, dia menatap Anis Dengan tatapan tajam bak seekor harimau lapar yang akan memangsa musuhnya. Reza semakin mendekati Anis, wajahnya semakin dekat hingga nafasnya beradu Dengan nafas Anis. Anis gemetar ketakutan, dia tidak mau Reza Gila seperti yang sudah dilakukan saat menc*umnya di pinggir jalan.


“Kamu mau apa? Aku mau turun di sini aja gak papa deh” kata Anis berusaha membuka pintu, namu tiba-tiba pintu mobil terkunci.


Kini Anis telah berada dikungkungan Reza.


“Lepasin aku, aku mual mau muntah” kata Anis memberi alasan.


Reza yang mendengar kata muntah langsung melepaskan kungkungannya.


“Dasar jorok, katrok banget si kamu naik mobil aja mabuk” ucap reza sembari mulai mengemudikan setirnya lagi.


Hahaha, kena kibul kamu. Selamat untung alasanku masuk akal. Gumam Anis dalam hati sambal tertawa sendiri.


Dia tidak menyadari jika Reza memperhatikannya. Tiba-tiba Reza mengurungkan niatnya untuk melajukan mobilnya.


“Kenapa gak jadi jalan?” Tanya Anis Dengan heran.


“Katanya kamu tadi mual? Nanti kalau aku masih tetap menjalankan mobil takutnya kamu tambah mual” ucap Reza tiba-tiba sok perhatian.


“Sok perhatian kamu, Sejak kapan juga kamu peduli sama aku?” Tanya Anis.


“Kamu yang tidak pernah menyadari kepedulianku” Jawab Reza.


Kali ini wajahnya terlihat serius sambil menatap Anis. Tatapannya tajam, semakin lama Reza mendekatkan wajahnya ke wajah Anis. Pintu mobil Anis pun masih terkunci.


“Aku beneran mual, mau muntah” ucap Anis.


“Gak papa munta aja di sini, toh besok juga bisa dicuci” kata Reza yang sudah menyadari bahwa Anis hanya mengelabuinya.


Anis semakin terlihat takut, tubuhnya mulai gemetaran.


“Kamu mau apa?” Tanya Anis.

__ADS_1


“Mau menasehatimu agar tidak dekat-dekat Dengan cowok selain aku” ucap Reza sambal terus mendekatkan wajahnya ke Anis.


Reza pun langsung menc*um Anis tanpa aba-aba lagi yang tentunya diiringi Anis Dengan berontakan seperti biasanya. Namun tenaga Reza jauh lebih kuat dan membuat usaha Anis sia-sia. Kali ini Reza hanya melakukannya sebatas ci*man sebagai tanda peringatan agar Anis tidak mendekati laki-laki lain.


__ADS_2