
BAB. 15
Anis pun Selesai Dengan tugasnya. Dia meminta kunci kamar kepada Reza dan hendak keluar kamar, namu Reza tiba-tiba menarik bajunya.
“Apaan si?? Lepasin nanti sobek seragam, sekolahku” protes Anis.
“Kan aku gak boleh nyentuh kamu makanya aku pegang bajumu”. Ucap Reza.
“Mau apa lagi? Hukumanku sudah selesai.”.Tanya Anis.
Reza lalu membisikkan sesuatu ke arah telinga Anis.
“Hei bocil…!! Jangan pernah kepedean, aku tidak akan pernah tertarik kepadamu, cam kan itu”. Ucap Reza sembari keluar meninggalkan Anis didalam kamar sendirian.
Mata Anis mulai berkaca-kaca. Hatinya menjerit meminta Tolong. Rasanya ini sudah cukup, dia merasakan perih di hatinya Dengan sangat dalam. Perih memikirkan sekolah dan masa depannya juga pedih memikirkan suami gilanya yang super kejam.
Di lihatnya jam sudah menunjukkan pukul 07.00. Anis menghela nafas Dengan panjang.
“Sudah siang, tidak mungkin aku akan tetap ke sekolah toh akan sia-sia karna terlambat” Anis berkata sendirian.
“Lebih baik aku tetap pergi dan mencari kerjaan, mumpung aku lagi bolos sekolah” kata Anis kemudian.
Anis pun keluar rumah dan pergi. Belum ada tujuan jelas dia mau kemana. Dia terus berjalan kaki, mencari tempat-tempat yang membuka lowongan pekerjaan.
Tak terasa dia sampai di suatu tempat.
“Itukan tempat aku kemaren makan sama kak Dika”. Kata Anis.
“Naah ini ada lowongan sebagai kasir”. Kata Anis lagi berkata sendirian.
Anis segera memasuki sebuah kedai kopi mewah yang tempatnya berdampingan Dengan resto Kambing Guling Pulet.
“Mas apa benar disini ada lowongan kerja”. Tanya Anis kepada salah seorang pegawai disana.
“Iya dik benar. Siapa yang mau masukin lamarannya dik?” ucap pegawai itu sambal memperhatikan Anis yang masih berseragam sekolah.
“Saya mas”. Ucap Anis singkat.
“Tapi kelihatannya kamu masih sekolah, lebih baik jangan kerja dulu karena akan mempengaruhi sekolahmu dik”. Ucap pegawai itu menyarankan.
“Gak apa-apa mas, saya bisa kerja sip-sipan, saya benarbenar lagi butuh kerjaan. Ucap Anis kemudian.
Setelah lama berusaha meyakinkan pegawain tadi, Anis pun menemui pimpinan kedai kopi tersebut.
Mewah banget kedai kopi ini, pengunjungnya juga orang elit semua, batin Anis.
Setelah sampai di ruangan pimpinan kedai kopi tersebut, Anis pun mengetuk pintu dan permisi masuk.
“Kamu yakin bisa kerja disini?” Tanya pimpinan kedai itu, pak Dimas.
Pak Dimas adalah pemilik kedai kopi tempat Anis melamar pekerjaannya, umurnya sekitar 29 tahun, orangnya tampan dan juga tegas.
“Iya pak” ucap Anis memberanikan diri.
“Pekerjaan apa yang kamu lamar?” Tanya Dimas kepada Anis.
“Saya melamar sebagai kasir pak” Jawab Anis.
“Kamu masih sekolah, kenapa sudah mau kerja? Apa kamu bisa membagi waktumu?” Tanya Dimas lagi.
“Saya lagi butuh uang pak, saya yakin saya mampu”, kata Anis meyakinkan Dimas.
“Ok kalau begitu, tapi untuk kasir itu kerjanya dari pagi. Dan saya yakin kamu pasti tidak bisa. Kalau kamu mau kamu bisa ambil waitress dan kerja mulai jam 16.00 sampai jam 21.00" Jelas Dimas.
“Iya pak saya mau, terimakasih banyak pak”, kata Anis membungkukkan badannya tanda hormat.
“Oiya pak, apa saya bisa langsung kerja pagi ini?” Tanya Anis.
__ADS_1
“Boleh, silahkan langsung gabung sama yang lain” Jawab dimas langsung tanpa mempertanyakan panjang lebar kepada Anis.
Hari itu Anis pertama kali kerja di kedai kopi sebagai waitress, Dia sangat bahagia.
Anis melayani tamu yang memesan kopi, dia mendekati sebuah meja yang terdapat seseorang berjas hitam, terlihat dari belakang perawakan orang tersebut masih muda dan gagah.
“Selamat datang dikedai kopi buana, ada yang bisa saya bantu pak?” “sapa Anis Dengan ramah kepada tamu tersebut.
Lelaki itu pun menoleh ke arah Anis.
“Anis??? Benarkah kamu Anis?? “ Tanya orang tersebut yang tak lain adalah Dika.
“Kak Dika?? Kakak ngapain disini??” Tanya Anis.
“Aku sedang menunggu bosku untuk menyelesaikan masalah kantor, kamu sendiri ngapain disini nis? Kenapa kamu gak sekolah?” Tanya Dika.
“Oh iya kak mau pesen apa?” Tanya Anis kemudian karena meresa di awasi oleh bosnya, Dimas.
“Bawakan aku kopi susu dua” kata Dika kemudian.
Tanpa bertanya lagi, Anis langsung kebelakang dan mengambilkan pesanan Dika. Dia melewati Dimas yang sedari tadi mengawasinya.
“Kamu kenal dengannya?” Tanya Dimas kepada Anis.
“Iya pak, beliau kak Dika”. Jawab Anis Dengan hormat.
“Ya sudah kamu layani dia Dengan baik, tapi ingat harus jaga Jarak”. Ucap dimas kemudian.
“Maaf pak, jaga Jarak maksudnya gimana ya pak?” Tanya Anis polos.
“Ya jangan terlalu nempel sama dia”. Jawab Dimas sembari masuk ke ruangannya.
Anis pun mengiyakan tanda setuju, dia lalu mengantarkan pesanan Dika.
“Ini kak kopinya”, kata Anis.
“Maaf pak aku baru pertama kali krrja, aku gak berani sembrono sama kerjaanku”. Ucap Anis.
“Udah tenang aja, nanti aku hubungi bosmu dan meminta izin darinya”. Kata Dika menenangkan Anis.
Dika pun langsung mengambil ponsel dari dalam jasnya dan menelfon seseorang. Terllihat dari nada bicaranya Dika sangat akrab Dengan lawan bicaranya di telfon.
“Aku sudah menelfon bosmu, dan dia memberimu izin”. Kata Dika kepada Anis.
“Terimakasih kak”. Ucap Anis seraya tersenyum. Senyuman kali ini sangat terlihat manis,menambah kecantikan di wajahnya yang memang sudah terlihat sangat cantic. Siapapun akan jatuh hati saat melihat senyumannya yang begitu istimewa walau berseragam waitress.
“Ayo sini duduk, jangan hanya senyum aja”. Ajak Dika.
Anis pun segera duduk untuk memenuhi permintaan Dika.
“Kamu ngapain pakai acara kerja segala nis?” Tanya dika kemudian.
“Aku lagi butuh uang untuk biaya sekolah ka.” Jawab Anis jujur.
“Bagaimana Dengan orang tuamu?” Tanya Dika.
“Ada kak, bapak sama ibu lagi ada di desa ke tempat bude”. Jawab Anis.
“Apa kamu tidak kecapekaan nantinya kerja sambil sekolah?” Tanya Dika lagi.
“Gak apa-apa capek kak, yang penting aku bisa jadi orang sukses, hehe” Jawab Anis cengengesan.
“Kakak sendirian disini? Kata Anis balik bertanya.
“Tadinya kakak mau ke resto sebelah tapi karena ada sesuatu jadi aku mengawasinya dulu dari sini.” Jawab Dika sambil menunjukkan Resto kambing pullet yang ada di sebelah kedai kopi.
“Mengawasi siapa kak?” Tanya Anis penasaran.
__ADS_1
“Manajernya nis”. Jawab Dika.
“Ooohh, Kak Dika jadi intel sesaat toh hari ini”. Ucap Anis sambal tertawa.
Kamu terlihat sangat cantik nis saat tertawa,, batin Dika.
“Kak,,,kok malah ngelamun”. Ucap Anis yang membuyarkan lamunan Dika yang sedang mengagumi ciptaan Tuhan yang begitu sempurna.
“Ehh,,,apa nis?” Jawab Dika gugup.
“Ngelamunin apa si kak? Jangan-jangan kakak lagi ngelamunin aku ya?” Tanya Anis asal.
“Iya kamu cantik banget nis, eeh maksudku kopinya manis banget”. Celetuk Dika gugup.
Anis hanya tersenyum menanggapi perkataan Dika, dia paham apa yang sedang ada dipikiran Dika.
Ponsel dika pun berbunyi, pamit untuk pergi.
“Aku pergi dulu ya nis, o iya nanti jam makan siang aku traktir kamu makan ya sesuai janjiku kemaren, eeiitt gak ada kata tidak”. Ucap Dika tidak memberi kesempatan Anis ngomong sembari pergi meninggalkan kedai tersebut.
Sebelum pulang dika meletakkan 5 lembar uang ratusan. Sebenarnya harga 2 cangkir kopi hanya 150 ribu, tapi karna Anis tadi ngomong lagi butuh uang untuk sekolah, maka Dika menambahinya lagi.
“Kak…ini uangnya lebih banyak”. Teriak Anis berusaha mengejar Dika, namun Dika tak mengetahui dan berlalu Dengan mobil Sport nya.
Anis pun kembali bekerja, dia segera membersihkan meja tamu dan meletakkan cangkir kotor bekas dika tadi ke dalam dapur kedai.
“Keliatannya kamu sudah akrab sama pria tadi?” Tanya Dimas yang tiba-tiba ada dibelakang Anis.
“Gak juga si pak, Anis baru dua kali bertemu Dengan kak Dika” ucap Anis.
Diam-diam Dimas memang sudah menyukai gadis itu dari pertama memandangnya. Anis terlihat sangat gugup saat mengahadapnya tapi tidak mengurangi parasnya yang begitu cantik dan polos.
“Ya sudah cepat selesaikan pekerjaanmu” ucap Dimas kemudian.
Anis menlanjutkan pekerjaannya. Tangannya yang cekatan semakin menarik perhatian kaum Adam.
Udah cantic, rajin, cekatan. Sempurna sekali, batin dimas yang Ternyata masih memperhatikan kinerja Anis.
Tak terasa jam sudah menunjukkan Waktu makan siang. Dika menghubungi Anis untuk mengajak makan siang bersama di tempat biasa, apa lagi kalau bukan resto kambing pullet. Anis pun izin Dengan Dimas, atasannya.
“Pak saya mohon izin mau makan diluar saja”, Kata Anis.
“Sama siapa?” Tanya Dimas.
“Emmmm sama kak Dika pak”, Ucap Anis.
“Gak boleh, kamu harus tetap disini bersama karyawan yang lainnya”. Kata Dimas yang tiba-tiba dingin.
Anis pun segera menghubungi Dika dan mengatakannya kalua dia tidak bisa makan diluar Dengan alasan tidak enak karena ini hari kerja pertamanya. Dika pun mengerti dan tidak memaksanya. Tiba-tiba Anis di panggil kasir.
“Ada apa mbk? Apa saya ada kesalahan?” Tanya Anis Cemas.
“Tadi ada seorang laki-laki ganteng datang dan menitipkan ini, katanya Tolong berikan sama salah satu karyawan baru disini yang bernama Anis”. Ucap kasir tersebut.
Anis segera membuka bingkisannya, Ternyata sebuah makanan dari Resto sebelah. Anis tersenyum senang.
“Kamu baik banget kak, terimakasih ya kak”. Kata Anis bicara sendiri.
Selesai makan, Anis ke kamar mandi. Namun saat akan ke kamar mandi dia menabrak seseorang.
“Aww…!! Kamu??” kata Anis.
“Maaf, apakah kita sudah pernah ketemu?” Tanya laki-laki itu heran.
“Bukankah kamu yang beberapa Waktu itu bekerja di resto sebelah dan dipecat oleh atasanmu ya?” Tanya Anis.
“Kok kamu bisa tahu?” Tanya lelaki itu, iya lelaki itu bernama ucup yang beberapa Waktu itu dipecat dari Resto kambing guling pullet.
__ADS_1