NIKAHKU ATAS TEKANAN

NIKAHKU ATAS TEKANAN
Reza, Anis dan Dika


__ADS_3

BAB. 19


“Syukurlah den, oh iya obatnya sudah di minum belum den?” Tanya mbok Ipah lagi.


“Obat apa mbok?” Tanya Anis bingung.


“Den Reza gak ngasih tahu ya den?” Tanya mbok Ipah bingung.


“Nggak mbok, kan Anis gak sakit mbok”. Kata Anis berusaha menjelasnya.


“Hei bocil ini obat vitaminmu, aku semalem nyuruh pak Mamat untuk membelikanmu vitamin”. Tiba-tiba Reza muncul dengan pakaian yang sudah rapi di dapur dan menyerahkan obat ke Anis.


“Beneran kamu yang nyuruh pak Mamat beli vitamin ini?” Tanya Anis masih tidak percaya.


“Ye’elah, kamu nih ya dibaiki salah, di jahili salah juga. Jadi kamu maunya di apain??” Gerutu Reza pura-pura ngambek.


Mbok Ipah yang mendengar perkataan Reza semakin bingung tak mengerti, namun dia memilih untuk mengikuti pemainan Reza.


“Beneran mbok ini? Koq aku gak tahu sama sekali”. Tanya Anis kepada mbok Ipah.


“Iya bener den”. Jawab mbok Ipah singkat.


“Heh kamu bukannya gak tahu bocil, tapi gak ingat”. Celetuk Reza.


Anis pun mengambil obat tersebut seraya memonyongkan mulutnya Dengan kesal. Sedangkan Reza duduk di kursi makan dan mulai menyantap sarapannya.


“Mbok aku berangkat dulu ya” kata Anis Setelah meminum obat sembari keluar.


“Sarapan dulu” ucap Reza tiba-tiba.


“Iya den gelis, sarapan dulu biar badannya sehat”. Imbuh mbok Ipah.


“Aku udah buru-buru mbok” sanggah Anis memberi alasan.


“Aku mau kamu sarapan dulu atau kalau tidak…..??’ Reza menggantungkan perkataannya.


“Kalau tidak apa?” Tanya Anis sambil membalikkan langkahnya dan kembali ke dapur.


“Kalau tidak aku akan menelfon orang tuamu juga mama kalau kamu tidak mau sarapan” ucap Reza mulai dengan ancamannya.


“Silahkan kalau berani” tantang Anis.


Reza pun mengambil ponselnya dan langsung menelfon Bu Rusmi, Ibunya Anis.


“Halo nak Reza kenapa nelfon ibu pagi-pagi?” Tanya bu Rusmi di seberang.


Reza masih memperhatikan Anis siap dengan kata-kata yang sudah di rancangnya. Anis pun melototkan matanya ke arah Reza sembari mengambil sarapan di piring untuk di makannya.


“Gak apa-apa bu Cuma menanyakan kabar ibu saja” ucap Reza melanjutkan telfonnya.


“Ibu Alhamdulillah sehat nak, kalian sehat juga kan?” Tanya bus Rusmi.


“Alhamdulillah bu” Jawab Reza.


“Oh iya bu sudah dulu ya, Reza mau berangkat kerja”. Kata Reza sambil menutup Telfonnya.


Reza lalu melihat Anis yang lagi makan Dengan terburu-buru. Dia tahu Anis seperti itu karena takut terlambat sekolah. Dalam Hati Reza berniat akan mengantar Anis sampai sekolah.


“Mbok Anis udah selesai sarapan, Anis pamit ya mbok“, kata Anis kemudian dan keluar rumah.


“Den….ini ongkosnya” teriak mbok Ipah memberikan ongkos kepada Anis.


Reza memang sudah mengamanahkan mbok Ipah untuk memberikan ongkos dan uang jajan kepada Anis setiap hari.

__ADS_1


Anis pun kembali dan tanpa pikir panjang mengambil ongkos dan berlari kembali.


Sesampainya dipersimpangan jalan, seperti biasa Anis menunggu Angkot. Tiba-tiba sebuah honda jazz berhenti di depan Anis.


“Nis, ayok aku antar” kata seseorang di dalam mobil sembari menurunkan kaca mobil miliknya, dia adalah Dika.


“Gak usah kak, Anis naik angkot aja” ucap Anis menolak.


“Ini sudah jam setengah tujuh lebih nis, apa kamu mau terlambat sekolah?” ujar Dika.


Setelah berpikir Akhirnya Anis pun mau menerima tawaran Dika. Anis memasuki mobi yang sudah terlebih dahulu di bukakan Dika.


Tidak jauh dari sana seseorang yang mengendarai sedan mewah memeperhatikan mereka berdua.


“Kamu terlihat sedikit pucat nis” kata Dika memperhatikan Anis yang sedikit berbeda dari biasanya.


“Kamu sakit?” Tanya Dika kemudian.


“Nggak kok kak” Jawab Anis.


“Kamu pasti kecapekan karena kerja nis” ucap Dika lagi.


“Nggak koq kak aku gak papa” kata Anis berusaha menyangkal.


“Kita mampir ke apotik dulu ya beli vitamin” kata Dika menawarkan.


“Gak usah kak, tadi anis udah minum vitamin pemberian orang tua” celetuk Anis keceplosan.


“Siapa orang tua nis, bukannya kamu tidak tinggal sama orangtua?” Tanya Reza penuh selidik.


“Eeh enggak kak maksud aku orang tua Anis nyuruh orang untuk membelikan vitamin” ucap Anis menutupi kesalahannya.


Setelah menembus padatnya keramaian kota di pagi hari akhirnya Anis sampai di depan gerbang sekolah.


Deg…


Detak jantung Dika entah mengapa tiba-tiba berdetak Dengan cepat melihat seorang gadis kecil nan cantik tersenyum dengan sangat manis.


“Cantiikknya…..” kata Dika Dengan lirih namun masih di dengar Anis.


“kenapa kak?” Tanya Anis.


“Kamu cantik banget nis” ucap Dika Dengan jujur.


“Ah kakak bisa aja, semua cewek kan memang cantik kak masak ganteng”, ucap Anis sembari keluar dari mobil dan melambaikan tangan ke arah Dika.


Dika yang melihat Anis ternganga tidak berkedip.


“Tiinnnnnn….wooiii cepetan macet nih” tiba-tiba terdengar teriakan seseorang dari belakang yang membuyarkan Dika dari fantasi kecantikan Anis.


Anis yang melihatnya tertawa menambah kecantikannya terlihat semakin sempurna.


Dika melajukan mobilnya ke arah kantor, Sesampainya di kantor pukul 09.00, dia langsung memasuki ruangannya. Namun saat berada di ruangannya Nampak Reza sudah duduk di kursi tempat Dika duduk.


“Kamu dari mana aja datang ke kantor siang banget?” Tanya Reza Dengan sinis.


“Emmm aku tadi ngantar seseorang dulu za, aku minta maa”. Ucap Dika.


“Siapa?” Tanya Reza singkat.


“Sekarang masih kenalan aja, tapi nantinya aku janji dia akan menjadi kekasihku” ujar Dika yang tak peka Dengan kemarahan Reza karena sedang jatuh cinta.


“Kamu gak boleh sembarangan menjadikan wanita kekasihmu, apa kamu sudah tahu seluk-beluk keluarganya?” kata Reza berusaha mempengaruhi pikiran Dika agar tidak jatuh cinta Dengan gadis yang tadi dilihatnya.

__ADS_1


“Aku tidak pernah memandang status seseorang za, yang penting dia baik sama aku maka aku akan tetap mencintainya”, jelas Dika.


“Gak boleh, cari gadis lain aja jangan dia”, ucap Reza kemudian sembari mengeraskan suaranya.


“Kamu kenapa za? Tiba-tiba ngelarang aku? Bukannya dulu kamu yang selalu support aku untuk jadian sama temen modelnya Libia, sekarang kamu malah ngelarang aku deketi cewek. Lagian kamu juga belum tahu gimana cewek yang aku maksud” jelas Dika.


“Pokoknya gak boleh…!! Aku bisa mencarikan wanita lain yang lebih cantik selain wanita yang kamu maksud” ucap Reza.


“Jangan-jangan kamu sudah tahu sama cewek yang aku maksud za?” Tanya Dika.


“Sudah gak usah banyak omong, siapkan seluruh berkas dan dokumen yang ada di Resto kambing, cocokan seluruh data ini terus segera laporkan ke aku secepatnya” kata Reza sembari menyerahkan tumpukan dokumen ke arah Dika.


“Iya siap nanti aku segera distribusikan tugas ini ke karyawan lain” ujar Dika.


“Gak usah, aku maunya kamu dan hanya kamu”, kata Reza sembari keluar meninggalkan ruangan Dika.


Dika hanya melongo bingung Dengan sikap bos sekaligus sahabatnya yang tiba-tiba memberikan tugas yang amat sangat banyak. Padahal biasanya Reza selalu membebaskan sahabatnya untuk mengerjakan beberapa tugas bersama karyawan lainnya, namun kali ini seperti tidak ada toleransi.


“Kalau aja kamu bukan bosku mungkin sudah aku hempaskan dokumen ini”, gerutu Dika Dengan kesal.


Jam sudah menunjukkan pukul 12.00 siang. Dika masih sibuk Dengan tugas yang di berikan Reza. Dika pun mengambil ponsel untuk menghubungi Anis karena ingin mengajaknya makan siang bersama seperti yang telah dijanjikan sebelumnya.


“halo nis kamu dimana?” Tanya dika di dalam telfon.


“Sebentar lagi aku nyampek kedai kak, kenapa kak?”Tanya Anis.


“Kamu masuk kerja jam berapa?’ kata Dika balik bertanya.


“Hari ini jam satu siang kak, karena tadi di sekolah gurunya ada kegiatan jadi pulangnya agak cepet”, jelas Anis.


“Ooh, ayok kita makan tempat biasanya. Jangan menolak, kalau kamu menolak aku akan makan di kedai tempat kamu kerja”. Ancam Dika.


Anis pun tidak ada alasan untuk menolaknya, karena sejujurnya dia memang menyukai keseluruhan menu yang di hidangkan di Resto tersebut. Mereka Akhirnya janjian untuk bertemu dan makan siang bersama.


“Kamu mau pesan apa nis?” Tanya Dika saat mereka sudah duduk di resto tersebut.


“Terserah kak, aku suka semua menu disini” Jawab Anis.


Dika pun Akhirnya memilihkan menu untuk Anis, selagi menunggu pesanan seperti biasa Anis pamit ke kamar mandi terlebih dahulu untuk membersihkan wajahnya dari debu-debu jalanan. Lagi-lagi dia mendapati seorang manajer yang dulu memecat ucup sedang mengancam karyawannya.


“Kalau kamu tidak melakukan perintahku, maka kamu tidak akan bisa membayar biaya rumah sakit ibumu” ancam manager resto tersebut.


Anis pun berlalu dan melangkahkan kakinya kekamar mandi, tidak lama kemudian dia keluar dan hendak kembali ke tempat tadi.


“Sejak berapa lama kakak tadi sampai sini?” Tanya Anis kepada Dika karena Dika lebih dulu sampai di resto tersebut.


“Udah Sejak tadi nis” Jawab Dika.


“Cepet banget kak kan belum setengah satu” kata Anis sembari makan karena menu yang mereka pesan sudah datang.


“Iya karna aku juga kerja di sini, jadi sekalian ngecek dokumen” Jawab Dika.


“Oh, jadi kakak kerjanya disini? Kok gak bilang dari kemaren kak? Kan kita bisa deketan kerjanya” ucap Anis.


“Kerjanya bukan disini nis, tapi Resto ini merupakan salah satu cabang usaha di perusahaan tempat aku kerja, jadi aku pun bertanggung jawab atas jalannya resto ini”. Jelas Dika.


“Waaahhh kereen kak, pasti perusahaan tempat kakak kerja gede banget ya? Salah satu restonya aja semewah ini” ujar Anis merasa heran.


“Alhamdulillah nis”, ujar Dika sembari tersenyum.


“Nis cobain punya ku deh, enak banget lho. Yang ini menu andalan resto disini” ucap Dika tiba-tiba menyuapi Anis.


“Biar Anis ambil sendiri kak, malu” kata Anis menolak Dika saat hendak menyuapinya.

__ADS_1


__ADS_2