
BAB. 32
Reza menyuruh Anis untuk menggosok seluruh bagian tubuhnya, begitupun Dengan Anis merekapun mandi bersama walau Dengan paksaan dan kondisi Anis yang masih menangis.
Namun sesuai janji Reza tetap bertahan dan tidak melakukan hal lebih selain mandi bersama.
Selesai mandi mereka pun keluar dari kamar mandi, Anis masih duduk di ranjang sambil terus menangis. Wajahnya memerah Dengan air mata yang membasahi seluruh wajahnya.
“Kenapa kamu menangis? Bukankah aku sudah sah menjadi suamimu?” Tanya Reza
Anis masih menundukkan kepalanya tidak menjawab.
“Hei, kamu itu istriku, aku ngelakuin ini karena gak mau sampai kamu dideketin cowok lain. Hanya aku yang boleh deketin kamu dan itu suamimu sendiri. Apa aku salah?” tanyanya lagi.
“Tapi aku belum siap untuk semua ini, kenapa kamu terus menekanku Dengan semua keinginanmu?” Anis balik bertanya dan memberanikan diri menatap Reza dengan tajam.
“Bukankah kamu yang terlebih dahulu menggodaku dengan perubahan penampilanmu?” Tanya Reza sembari mendekati Anis.
“Iya tapi bukan untuk menggodamu” Jawab Anis.
“Lalu?” Tanya Reza.
“Agar kamu memperhatikanku” ucap Anis.
“Apa kamu begitu tersiksanya Dengan pernikahan ini?” Tanya Reza.
“Iya” Jawab Anis lirih.
“Apa yang kamu inginkan dariku? Jangan Jawab kamu melarangku lagi untuk menyentuhmu” ucap Reza.
“Tolong antarkan aku ke rumah orangtuaku” Jawab Anis
“Untuk apa? Apa kamu akan menceritakan semua yang terjadi Dengan kita?” Tanya Reza.
“Senin depan aku sudah mulai UNBK, aku butuh tempat agar bisa focus belajar” Jawab Anis.
“Apa disini kamu tidak cukup nyaman?” Tanya Reza.
“Aku masih sangat syok Dengan kejadian tadi, maaf tolong kali ini saja izinkan aku untuk menyelesaikan pendidikanku beberapa hari Dengan fokus” Anis memohon sambil menatap mata Reza.
“Berapa hari kamu akan tinggal di rumah pak Budi?” Tanya Reza.
“Satu sampai dua minggu” Jawab Anis.
“Selama itu?” Tanya Reza.
“Iya, Tolong kali ini saja biarkan aku focus Dengan belajarku” ucap Anis.
“Baiklah besok sore aku akan mengantarmu pulang” ucap Reza.
Reza menarik selimut seraya mulai memejamkan matanya tidur, begitupun Dengan Anis. Mereka tidur satu ranjang saling membelakangi.
Ada apa denganku? Kenapa aku begitu sangat gelisah. Benarkah saat ini aku mulai jatuh cinta pada gadis kecil itu, batin Reza.
Apakah aku salah karena belum menunaikan kewajibanku sebagai seorang istri? Tapi aku melakukan itu karena aku taku dia akan meninggalkan aku sewaktu-Waktu, disamping itu aku masih harus focus Dengan ujian, gumam Anis.
Keduanya sama-sama sibuk Dengan Pikirannya masing-masing, tanpa disadari mereka pun terlelap dalam tidurnya.
Keesokan harinya seperti biasa Anis bangun langsung beranjak kekamar mandi untuk mandi, selesainya dia langsung sholat subuh dan bersiap untuk sekolah.
“Kamu sudah bangun?” Tanya Reza.
“Iya” Jawab Anis lirih.
__ADS_1
“Apa kamu marah padaku?” Tanya Reza.
“Kenapa memang?” ujar Anis balik bertanya.
“Gak apa-apa” Jawab Reza.
Sebenarnya saat ini Reza sangat takut Anis marah kepadanya. Entah mengapa perasaan-perasaan aneh Reza kepada Anis mulai muncul begitu saja tanpa aba-aba terlebih dahulu.
“Aku berangkat sekolah dulu, nanti sepulang sekolah aku langsung ke kantor” ucap Anis.
“Hati-hati di jalan” ucap Reza.
Sejak kapan dia menjadi perhatian seperti ini, apa dia lagi sakit? Atau karena kejadian semalam, batin Anis.
Anis pun mengangguk dan berjalan keluar kamar menuruni anak tangga.
“Den gelis, sarapan dulu den” ucap mbok Ipah.
“Nanti sarapan di sekolah aja mbok” ucap Anis sambil berlalu keluar rumah.
Sesampainya di sekolah, Anis menjadi pendiam. Dia hanya terdiam memandang jauh keluar kelas.
“Ada apa nis?’ Tanya Riya.
“Gak apa-apa ya, aku sedikit gak enak badan aja” ucap Anis bohong.
Tiba-tiba Nely datang sambil mengunyah permet karet.
“Hei nis, Tumben muka kamu kusut gitu, ada apaan nis?" Tanya Nely.
“Heyyy geeessssssssssssssssssssss…!! Tiba-tiba Reny datang mengejutkan Nely dan…….
Plukkkk…..permen karet yang ada di mulut Nely pun terlempar tepat di atas hidung Riya.
“Maaf ya….,sawiiii kepaaaangggg….!!! Kamu ya pagi-pagi udah bikin rusuh” teriak Nely yang mulai bertanduk kiri dan kanan di atas kepalanya.
“Lha??? Koq jadi aku….aku kan Cuma nyapa kalian aja, secara aku kan siswa teramah di sekolah ini Dengan segala pesona yang ada. Jadi gak heran kalau kamu terpesona Dengan sapaanku sampai permen karet pun ikut terpesona dan melayang ke hidung Riya” ucap Reny sambil cengengesan.
“Aku bukan terpesona woooiii,,,aku kaget Dengan suara cemprengmu sawi kepang…!! Iihh dah kamu ini kapan sadarnya si” ucap Nely.
“Udah-udah ribut aja kalian berdua ini, mending ambil ni permen karet yang bersender di hidungku, bau iler tahu” ucap Riya jijik.
“Siapa yang ngiler? Aku gak lagi tidur princess facebook” ucap Nely sambil mengambil permen karet yang bertengger di hidung Riya.
Reny masih cengengesan, sedangkan Anis sama sekali tidak menghiraukan pertengkaran sahabat-sahabatnya.
“Nis kayaknya beneran deh kamu lagi ada masalah serius, ada apaan si nis?” Tanya Nely.
“Gak ada apa-apa kok nel, mungkin aku Cuma kangen aja sama orang tuaku” Jawab Anis.
Gak mungkin juga aku akan menceritakan semua kalau aku di hukum mas Reza untuk mandi bareng kemaren malam, gumam Anis.
“Yasudah pulang dong nis, masa laki kamu masih ngelarang juga kamu mau ketemu sama orangtua sendiri” ucap Riya.
“Iya nanti sore aku memang mau pulang ke rumah ya” Jawab Anis.
Bel sekolah pun berbunyi, saatnya jam pelajaran tiba Anis masih Terlihat diam tidak bersemangat sampai Akhirnya jam sekolah habis.
“Nis kamu sanggup gak pulang sediri?” Tanya Riya.
“Sanggup lah ya” ucap Anis.
“Anis…tunggu” kata Nely sambil berlari ngos-ngosan mengejar Anis yang akan menyeberangi jalan menunggu angkot.
__ADS_1
“Ada apa nel?” Tanya Anis.
“Kamu dapat salam ni dari coach Rezy, katanya kamu harus tetep focus dan semangat belajar jangan lupa jaga kesehatan” ucap Nely sembari menunjukkan whatsaap Rezy.
“Salam kembali dari princes nel” tiba-tiba Reny nongol dari belakang Nely sambil senyum-senyum
“Bukan buat kamu salamnya tapi buat Anis, kalau kamu noooh sama tukang ojek aja” Jawab nely cuek.
Anis hanya menanggapi Dengan senyum.
“Koq Cuma senyum nis?” Tanya Nely.
“Terus? Aku harus bilang salam kembali gitu? Aku sudah nikah gayyys kalau kamu mau ambil aja “ ucap Anis.
“Yeeyyy kalau dia mau aja pasti udah langsung aku terima nis” kata Nely.
“Bagi dua ya nel” ucap Reny.
“Emang semangka apa bisa bagi-bagi sama kamu, ogah banget deh” ujar Nely.
“Ya udah aku pulang duluan ya gays” ucap Anis sambil menyeberang jalan dan memasuki angkot.
Anis langsung menuju ke kantor cabang Herdian Saputra. Sesampainya dikantor seorang resepsionis langsung menyambutnya.
“Mbak Anis sudah di tunggu oleh pak Reza di ruangannya” ucapnya.
Tumben manggil mbak Dengan sopan, biasanya aja manggil dik itupun sekenanya, batin Anis bingung sembari melempar senyum untuk menangggapinya. Anis terus berjalan menuju ruangan Reza.
Tok…tok…
Pintu ruangan Reza pun terbuka sendiri, Terlihat Reza sedang sibuk Dengan leptopnya.
“Apa kamu sudah makan?” Tanya Reza di tengah kesibukannya.
Anis yang kini berdiri tepat di depan reza hanya menggelengkan kepala tanpa menjawab pertanyaan Reza.
“Aku sudah pesan makanan ayo kita makan” ucap Reza.
“Kamu gak nyuruh aku untuk masak?” Tanya Anis.
“Hari ini aku meliburkanmu untuk memasakkanku, tapi bukan berarti kamu libur kerja. Sebagai gantinya kamu harus menemani aku didalam ruangan ini sampai semua pekerjaanku selesai” Jawab Reza.
“Tapi nanti aku di kasih SP kalau tidak ke ruanganku” ucap Anis lirih.
“Hei….aku bos mu, jadi aku yang bertanggung jawab atas kerjamu” ucap Anis.
Anis pun hanya menunduk bingung.
“Ayo makan sini” perintah Reza.
“Nanti aja, kamu makan aja duluan” Jawab Anis.
“Kamu lupa kalau aku bosmu dan kamu harus menuruti semua perintah bosmu” ujar reza.
Anis pasrah dan menuruti kemauan reza bos sekaligus suaminya. Kini mereka makan sepiring berdua.
Setelah selesai Anis membereskan semua bekas makannya.
“biar aku saja, kamu istirahatlah di sofa” ucap Reza.
Anis yang mendengar perkataan Reza hanya bisa melongo bingung.
Apa dia sedang kerasukan jin baik? Atau sedang makan vitamin baik hingga dia berubah seperti ini? Biasanya dia selalu menindasku terus-terusan bahkan saat aku berada di titik terlemah karena merosotnya nilaiku aja dia masih tega menindasku, tapi sekarang kenapa tiba-tiba dia menjadi lembut kepadaku, gumam Anis dalam hati.
__ADS_1