NIKAHKU ATAS TEKANAN

NIKAHKU ATAS TEKANAN
Acara Pernikahan Frans


__ADS_3

BAB. 24


“Ada apa nak?” Tanya bu Rusmi dari luar kamar sangat khawatir.


Reza lalu membuka tangannya yang membungkam Anis.


“Gak ada apa-apa kok bu, Cuma kecoa masuk kamar Anis tiba-tiba” ucap Anis.


“Ooh…kirain ibu ada apa, ya sudah ibu sama bapak tinggal dulu” kata bu Rusmi seraya melangkah menjauhi kamar Anis.


“Lepasin aku, kamu ngapain masuk kamar aku?” ucap Anis yang berusaha melepaskan pelukan Reza yang masih melekat.


“Ini kamar kita sekarang kalau sedang di rumah bapak sama ibu” Jawab Reza sambil melepaskan pelukan Anis.


“Bodo amat, Dasar orang tua m*sum suka nyari kesempatan” Jawab Anis Dengan wajah merah karena malu dirinya hanya memakai tentop dan celana pendek saat Reza masuk kamar.


“Aku kan suamimu, suka-suka aku dong” Jawab Reza.


“Ehh kenapa tuh muka merah kayak udang kepanasan” ucapnya lagi saat melihat Anis cepat-cepat mengambil selimut untuk menutupi tubuhnya yang terbuka.


“Aku mau ganti baju, kamu keluar dulu aja” ucap Anis kepada Reza.


Kamar Anis tidak ada kamar mandi dan ruangan lain selain tempat tidur, tidak ada sekat jika akan berganti pakaian.


“Tinggal ganti aja kok repot banget” ucap Reza.


“Kalau kamu gak keluar aku teriak ni” ancam Anis.


“Ya udah teriak aja, orang aku masuk ke sini aja di suruh pak Budi. Palingan kamu yang kena marah nanti” Jawab Reza santai.


Anis mendengus kasar, dia merasa frustasi karena sudah tidak ada pilihan kecuali pasrah membiarkan Reza tetap di kamar melihat dirinya berganti pakaian.


“Tutup matamu, awas kalau sampai ngintip” ucap Anis.


“Ya terserah aku dong, lagian aku gak bakalan nafsu sama bocil kayak kamu” ucap Reza.


Ada perasaan pedih saat Anis mendengar perkataan Reza barusan, entah kenapa.


“Lihat aja nanti, akan aku buat kamu bertekuk lutut di hadapanku”, gumam Anis dalam hati.


Dadanya semakin sesak karena perkataan Reza yang ceplas-ceplos seenaknya sendiri tanpa pernah memikirkan perasaannya.


“Iya kamu nafsunya Cuma sama Libia kan? Makan tuh Libia. Telen semua tuh Libia di dunia ini” ucap Anis kesal.


Akhirnya Anis mengganti pakaiannya di dalam selimut agar tubuhnya tidak terlihat sama sekali oleh Reza. Sedangkan Reza hanya bisa memandang gerakan-gerakan di balik selimut Dengan menelan ludah.


“Ngapain kamu ke sini? Kangen sama aku?? Sory ya aku yang gak kangen sama sekali sama kamu” kata Anis seraya menyisir rambutnya.


“Siapa yang kangen?? Pede banget” ucap Reza singkat.

__ADS_1


“Terus?” Tanya Anis.


“Ayo cepetan kita pulang sekarang” ujar Reza.


“Kalau aku gak mau kenapa?” Tanya Anis.


“Aku sudah nelfon dan izin sama pak Budi, dan beliau mengizinkan kamu pulang sama aku sekarang” ucap Reza.


“Ok tapi dengan syarat” kata Anis.


“apa?” Tanya Reza.


“Selesai acara, kamu harus antar aku ke sini lagi” pinta Anis.


“Gak mau, kamu kira perjalanan kita ini dekat apa” kata Reza.


“Ya udah kalau gitu, aku gak mau” ucap Anis.


“Iya-iya nanti aku anter pulang kesini lagi” ucap Reza yang akhirnya menyetujui syarat yang di berikan Anis.


Anis tersenyum penuh kemenangan. Mereka pun berangkat menuju rumah keluarga Herdiansya terlebih dahulu karena Reza masih akan membersihkan tubuhnya dan Anis pun masih harus di rias terlebih dahulu.


Sesampainya di rumah keluarga Herdyansya Anis dan Reza segera masuk menuju kamarnya.


“Den..ini orang yang di utus ibu untuk merias den gelis” kata mbok Ipah tiba-tiba menghampiri Reza dan Anis.


“Ayo den langsung aja ganti pakaian dan siap-siap di rias” ajak mbok Ipah kepada Anis.


Anis hanya mengangguk dan mengikuti mbok Ipah dari arah belakang.


Anis memasuki salah satu kamar tamu di lantai satu dekat dengan ruang keluarga, di ruangan itulah Anis di rias.


“Sudah selesai dik, silahkan pilih gaun ini sesuai Dengan yang adik suka” ucap perias tersebut saat sudah selesai merias Anis.


“Gaunnya banyak sekali mbak?” Tanya Anis Dengan takjub.


“Iya dik, itu semua adalah pilihan dari ibu” Jawab perias tersebut.


Anis pun memilih gaun yang sudah tergantung di kamar itu, dia memilih gaun hitam yang tidak terlalu terbuka dengan panjang menutupi lututnya dan segera keluar dari kamar tersebut.


Di ruang tamu Reza tengah sibuk dengan ponselnya sehingga tidak menyadari kalau Anis sudah berdiri tidak jauh dari dirinya.


“Ayo..jadi berangkat gak?” ucap Anis yang membuyarkan Reza yang sedang focus pada ponselnya.


Reza pun menoleh ke arah Anis Dengan ekspresi penuh kagum karena melihat penampakan yang begitu indah di hadapannya.


“Kamu……cantik sekali” ucap Reza dengan suara lirih tanpa sadar mengungkapkan kekagumannya.


“Baru tahu??” ucap Anis singkat.

__ADS_1


Anis yang sehari-harinya tidak pernah make up ataupun dandan berlebihan, malam ini terlihat sangat cantik, bibirnya yang mungil dan merona membuat semua kaum adam terpana, matanya yang bulat menambah kesempurnaan wajahnya.


Ini beneran bocil yang tiap hari selalu buat aku kesel kah?? Ini beneran kah istriku yang selama ini tak pernah aku anggap? Malam ini dia sangat terlihat cantik bahkan jauh lebih cantik dari pada Libia. Batin Reza yang masih ternganga takjub pada kecantikan Anis.


“Ayo jadi berangkat gak si, dari tadi diam aja” kata Anis kesal.


“Hmmmm iya jadi” ucap Reza sambil melangkah keluar rumah menuju mobil di ikuti Anis dari belakang.


Reza mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, tidak ada pembicaraan selama di perjalanan. Reza masih sibuk dengan pikirannya mengenai penampilan Anis yang tiba-tiba seperti di sulap bak bidadari. Sedangkan Anis hanya menatap keluar kaca mobil tanpa berkata apapun.


Sesampainya di alamat yang di tuju terlihat bunga-bunga menghiasai gedung tersebut.


“Pegang lenganku” perintah Reza.


“Gak mau” ucap Anis singkat.


“Kamu gak liat semua orang berpegangan tangan” ucap Reza kesal.


“Bodo amat” kata Anis tidak memperdulikan Reza.


Akhirnya mereka pun berjalan tanpa berpegangan tangan. Tamu di ruangan tersebut sangat padat, hiasan di ruangannya pun sangat indah dengan nuansa putih sedikit pink.


“Waaaahhh….indah banget dekorasinya” ucap Anis dengan takjub.


“Dasar katrok” ujar Reza.


“Memang aku katrok” Jawab Anis.


Bahagianya nikah seperti ini dengan pasangan yang mencintai dan di cintainya. Gumam Anis Dengan tersenyum sinis.


Tidak lama kemudian, acara yang di tunggu-tunggu pun tiba, pengantin pun memasuki ruangan menuju singgasananya. Semua tamu berdiri menyambutnya.


Reza dan Anis duduk tidak jauh dari tempat yang di lewati Frans dan istrinya.


Saat pengantin memasuki ruangan, riuh para tamu menyambut dengan sangat bahagia, namun tidak dengan Reza, hatinya tersentak tidak percaya pada apa yang di lihatnya. Berulang kali matanya di kucek namun tetap tidak merubah penampakan yang dilihatnya.


Libia……………………….., gumam Reza dalam hati.


Reza terduduk di kursi dengan lemas. Pikirannya masih tidak percaya jika yang dilihatnya adalah Libia yang sedang bersanding dengan Frans sepupu Reza sendiri.


Kenapa harus dengan Libia? Kenapa tidak dengan wanita lain? Kenapa dunia ini begitu sempit? Gumam Reza yang masih tak percaya pada apa yang barusan di lihatnya. Badannya gemetar, keringat dingin mulai keluar deras membasahi kemejanya.


“Hei kamu kenapa?” Tanya Anis yang melihat Reza sudah pucat.


“Apa kamu sakit?” tanyanya lagi.


Anis tidak menyadari jika pengantin perempuan di samping Frans adalah Libia, dia sudah lupa dengan wajah perempuan yang pernah membuatnya terluka.


“Kita pulang saja” ucap Anis sembari berusaha memapah Reza keluar ruangan, Reza hanya bisa pasrah karena tubuhnya sudah semakin lemah.

__ADS_1


__ADS_2