
BAB. 17
Anis tidak mendengarkan perkataan Reza, dia masih tetap berusaha keras menahan rasa kantuknya. Ponselnya pun berdering.
“Halo kak“ kata Anis kepada orang di seberang sana.
“Halo nis, kamu belum tidur?” Tanya seseorang tersebut yang tidak lain adalah Dika.
“Belum kak, ada apa menelfonku malem-malem kak?” Tanya Anis kepada Dika.
“Tadinya aku mau menelfonmu saat aku sudah sampai rumah untuk menanyakan apa kamu sudah sampai rumah atau belum, tapi aku kelupaan karena bos ku menyuruh mengerjakan beberapa pekerjaan sampai sekarang, aku baru ingat”. Jelas Dika.
“Aku udah sampai rumah dari tadi kok kak”. Jawab Anis.
“Terus ngapain kamu belum tidur nis?” bukannya kamu besok pagi harus sekolah??” Tanya dika lagi.
“Aku masih belajar kak” Jawab Anis.
“Belajar memang penting, tapi kamu juga harus ingat Dengan kesehatanmu nis”. Ujar Dika mensehati Anis.
“Iya kak terimakasih nasehatnya, sebentar lagi Anis tidur kok kak, kakak jangan khawatir banget” kata Anis.
Sejak bertemu Anis gak tahu kenapa Dika jadi sangat protective Dengan gadis itu, padahal sebelumnya tidak pernah merasakan hal yang sama Dengan wanita-wanita lain. Banyak sekali para wanita mencoba mendekatinya bahkan ada yang menembak duluan untuk menjadi kekasih Dika. Namun selalu Dika tolak Dengan alasan belum mau bermain cinta.
“Apa kamu melarangku untuk mengkhawatirkanmu?” Tanya Dika kemudian.
“Hmmm, bukan begitu kak maksud Anis, Anis takut menyusahkan kakak”. Ucap Anis.
“Dengerin aku baik-baik ya..Kamu jangan pernah lagi berpikir kalau kamu menyusahkan aku. Ok” ujar Dika.
“Iya-iya kak Anis gak janji”. Kata Anis.
“Eiitttss harus janji dong” ucap Dika menekankan.
“Hehehhe…apaan si kak” kata Anis.
“Ya sudah kamu tidur sekrang ya, jangan terlalu keras untuk belajar”. Ucap Dika kemudian.
“Mimpi Indah ya nis, daah “ ucapnya lagi sembari mematikan telfonnya.
Reza yang mendengar perkataan Anis lembut kepada seseorang di telfo sangat merasa terganggu.
“Siapa?” Tanya reza singkat.
“Bukan urusanmu” Jawab Anis.
“Kamu istriku” bentak Reza.
“Sudah gak usah berantem aku lelah, aku mau tidur” ucap Anis. Kali ini dia yang mengalah untuk tidur di sofa kamar.
“Kamu gak boleh deket sama cowok, gak boleh pacaran” ucap Reza masih mempermasalahkan panggilan telfon itu.
Anis segera bangkit.
“Jadi Cuma kamu aja yang boleh pacaran, pelukan, ciuman di depan umum Dengan wanita murahan?” ucap Anis Dengan nada bergetar.
“Dan Cuma kamu aja yang boleh ikut campur tangan privasiku?” Tanya Anis lagi Dengan suara teriak.
“Dan Cuma Kamu aja yang boleh bebas menyiksaku terus-terusan?” ucapnya lagi.
Kali ini lagi-lagi Anis tidak bisa membendung air matanya untuk menetes.
__ADS_1
“Kayaknya kamu benar-benar sengaja membuatku tertekan Dengan pernikahan ini”. Ucapnya lagi yang tidak memberi kesempatan kepada Reza untuk bicara.
“Pak budi yang bilang kalau kamu tidak boleh pacaran bahkan deket Dengan orang lain”. Ucap Reza mencari alasan.
“Apa papa dan mama merestui kamu untuk pacaran Dengan wanita murahan?” ucap Anis.
“Dia bukan wanita murahan, dia wanita terhormat. Jaga ucapanmu.” Kata Reza Dengan nada rendah namun penuh amarah.
“Apa yang pantas untuk menyebutkan wanita yang berhubungan Dengan suami orang kecuali murahan?” teriak Anis yang mulai kehilangan kesadaran karena emosi.
“Dia lebih dulu masuk ke kehidupanmu dari pada kamu”. Ucap Reza.
“Ooh…baiklah kalua dia lebih dulu masuk ke kehidupanmu dari pada aku, aku pun punya masalalu sama sepertimu”. Ucap Anis merendahkan suaranya sembari tersenyum getir.
“Apa maksudmu”? Tanya Reza.
“Kamu lupa kalua aku masih sekolah?? Apa kamu tidak pernah merasakan bagaimana kehidupan anak sekolah??” kata Anis Dengan senyum sinis.
“Jangan coba-coba ngebantah aku, atau aku akan menceritakan semuanya Dengan orang tuamu”. Ancam Reza.
“Jangan coba-coba mengancamku atau aku akan menelfon mama untuk menceritakan apa yang sudah kamu perbuat selama ini Dengan ku”, ucap Anis balik mengancam Reza.
Reza kehilangan kata-kata. Dalam hatinya dia mengakui bahwa Anis memang gadis yang cerdas, bahkan dia bisa mengimbangi perkataan seorang Reza Herdiawan lulusan terbaik di universitas terkemuka dunia.
Walaupun Reza menyadari jika Anis memang cerdas, dia tetap tidak mau mengalah. Gengsinya amat tinggi untuk mengakui kekahalannya dan diam.
“Ooh jadi begini sikapmu terhadap suamimu? Apa kamu tidak pernah di ajari span santun?” Tanya Reza kemudian.
“Harusnya aku mendapat contoh terlebih dahulu dari seseorang yang mengaku suamiku” tegas Anis.
Reza semakin dibuat kesel oleh gadis kecil yangada di hadapannya. Perdebatan mulut pun terus beradu. Tiba-tiba Reza beranjak dari tidurnya dan…
Cuuupp
“Heii bangun, bangun nis..” ucap Reza panik saat melihat badan Anis melemas semakin lemah.
“Nis bangun nis,,, kamu gak boleh pingsan” ucap Reza lagi Dengan panik.
Malam itu adalah pertama kalinya Reza memanggil Anis Dengan namanya. Kerena selama ini mereka di sibukkan Dengan pertengkaran.
Anis pingsan dalam dekapan Reza yang sedang menc*umnya. Reza sangat panik karena tidak pernah mengira jika perlakuannya bisa membuat Anis pinsan. Di gendongnya Tubuh Anis ke atas ranjang dan di baringkannya Dengan pelan.
“Nis bangun nis,,, maafkan aku, maafkan atas keegoisanku. Aku mohon bangunlah.” Kata Reza memohon sambal menggenggam kedua tangan Anis.
Reza segera menghubungi dokter pribadi keluarga Herdiawan sekaligus sahabatnya dokter Refan. Dokter Refan adalah sahabat Reza namun mereka sangat jarang bertemu, bahkan urusan percintaan pun mereka tidak saling mengetahui, mereka sibuk pada dunianya masing-masing.
“Hallo buruan kamu ke rumah mama ku sekarang juga” ucap Reza.
“Ada pa za? Apa papa mu sekrang ada di rumah?” Tanya Refan.
“Gak usah banyak Tanya, cepat ke sini bantu aku”, ucap Reza lagi.
“Iya, iya aku kesana sekarang” Jawab Refan.
Giliran butuh aja maunya cepat-cepat, kemaren kamu kemana aja za?? Untung kamu itu udah banyak ngebantu keluarga aku, kalau enggak males banget aku di suruh-suruh datang cepat tengah malam begini, gumam Refan.
Tidak lama kemudian Refan sampai di rumah keluarga Herdiawan, Refan di sambut oleh mbok Ipah, karena tadi Reza memanggil mbok Ipah untuk membuatkan Anis teh dan memberinya minyak kayu putih, namun Anis masih belum juga sadar.
“Silahkan den Refan”, kata mbok Ipah mempersilahkan dokter pribadi keluarga Herdiawan yang sekaligus sahabat Reza.
“Terima kasih mbok, oh iya Reza dimana mbok?” Tanya Refan.
__ADS_1
“Di kamar utama lantai dua den” Jawab mbok Ipah.
“Ok aku ke sana ya mbok”, ucap Refan.
Refan segera melangkahkan kakinya menaiki anak tangga, di ketuknya pintu kamar Reza.
“Masuk” ucap Reza yang berada dalam kamar.
Refan pun segera masuk, di lihatnya Reza tengah menggenggam jari seorang gadis cantik yang tergeletak di sampingnya.
“Siapa dia za?” Tanya Refan.
“Gak usah banyak Tanya, cepat periksa dia” perintah Reza.
Refan langsung mematuhi perintah sahabatnya dan segera memeriksa Anis.
“Mau ngapain kamu?” Tanya Reza.
“Katanya tadi di suruh meriksa” Jawab Refan.
“Iya terus kenapa pake buka-buka bajunya” protes Reza.
“Kalau aku bisa memeriksa detak jantung di kakinya sudah tentu aku periksa kakinya za”, gerutu Refan.
“Aku aja yang bukanya” ucap Reza sembari membuka kancing piyama Anis, entah mengapa dia malam ini menjadi bawel.
Refan hanya bisa geleng-geleng kepala penuh heran, kemudian dia segera memeriksa detak jantungnya.
“Dia kecapekan dan terlalu banyak pikiran”, ucap Refan saat selesai memeriksa kondisi Anis.
Kancing piyama Anis masih terbuka, Refan hendak mengancingkannya lagi.
“Udah aku saja, gak usah repot-repot mengancingkan bajunya” celetuk Reza kesal.
“Kamu kenapa si za?? Tiba-tiba nelfon tengah malem nyuruh datang? Terus di Tanya siapa gadis ini gak Jawab?” sekarang aku Cuma mau bantu ngancingin bajunya kamu malah sewot” ucap Refan kesal.
“Jadi kapan dia sadar?” Tanya Reza tanpa mendengarkan omelan Refan.
Refan mendengus kesal Karen pertanyaannnya tak satupun di tanggapi Reza.
Kalau aku bukan dokter yang memegang tanggung Jawab sama pasien aja udah pasti langsung aku tinggal pergi kamu za, gumam Refan dalam hati.
“Fan, aku Tanya kapan dia akan sadar?” Tanya Reza lagi yang merasa belum mendapat tanggapan Refan.
“Sebentar lagi dia akan sadar, tapi Setelah dia sadar kamu harus menyuruhnya untuk beristirahat dan jangan terlalu banyak pikiran”, jelas Refan kemudian.
“Oh iya kamu belum Jawab pertanyaanku, siapa dia dan apa hubunganmu Dengannya za?” Tanya Refan lagi.
“Dia sepupuku” Jawab Reza singkat.
“Ooh sepupumu, cantik banget” ucap Refan lirih.
“Apa kamu bilang tadi?” Tanya Reza.
“Cantik banget, besok kalau dia sudah sadar aku akan main ke sini” ucap Refan.
“Gak boleh” kata Reza Dengan tegas.
“Kenapa?? Aku mau dekat dengannya, lagian dia juga pasienku jadi aku sekalian bisa mengawasinya jika dia mulai capek” ucap Refan mulai mencari alasan untuk mendekati Anis.
“Dia masih harus belajar, orang tuanya menitipkan kepadaku untuk mengawasinya” ucap Reza yang entah mengapa tidak rela jika Refan berusaha dekat dengannya.
__ADS_1
“ok, berarti aku akan menunggunya selesai sekolah dan akan langsung melamarnya jika dia sudah siap”, ucap Refan Dengan lirih namun masih di dengar Reza.