
BAB. 13
Reza yang mendengar perkataan Anis terkejut, dia tidak menyangka jika bocah kecil yang ada didepannya kini sangat rapuh akibat pernikahan itu.
Reza terdiam saat mendengar pernyataan Anis yang tidak sadar. Reza pun melangkahkan kaki keluar kamar menuruni anak tangga. Dia terus berjalan keluar rumah dan memasuki mobil. Reza mengendarai mobil Dengan kecepatan sedang menuju apartemen berniat malam ini akan kembali tidur di apartemennya.
Namun, tiba-tiba ponselnya berbunyi.
“Halo ma” kata Reza menjawab telfon dari mamanya.
“Halo za, kamu harus ke rumah sakit sekarang ajak Anis juga. Ada yang mau papa sampaikan ke kalian”. Ucap bu Lida kepada putranya.
“Ada apa ma?” Tanya Reza.
“Gak usah banyak Tanya, pokoknya ke rumah sakit sekrang ajak Anis juga”. Ucap bu Lida.
“Tapi Reza lagi ada kerjaan ma”. Kata Reza mencari alasan.
“Kamu nih tega banget ya sama orang tua, gak bisa liat apa orang tua lagi sakit”. Ucap Bu Lida Dengan kesal.
“Iya, iya ma Reza ke sana sekarang”. Ucap Reza sambil memutarkan mobil untuk kembali ke rumah.
Sesampai di rumah, Reza segera menuju kamarnya. Dilihatnya Anis sudah tertidur Dengan kedua pipinya yang masih basah bekas tangisnya tadi. Reza mendekati gadis kecil itu dan duduk disamping Anis yang terlihat sedang tertidur Dengan pulasnya.
“Kamu terlihat sangat menderita Dengan pernikahan ini, lihat wajahmu bahkan masih basah Dengan air mata karena tangismu tadi”. Ucap Reza yang berkata sendiri.
Reza lalu mengusap kedua pipi Anis yang masih basah Dengan menggunakan jarinya.
“Maafkan aku karena masih sangat mencintai wanita lain. Aku belum bisa menerima kehadiranmu dalam hidupku. Pikiranku masih penuh Dengan Libia”. Ucap Reza sambil mengusap rambut Anis.
Reza merasa kasihan Dengan gadis kecil itu, tapi dia tidak memungkiri perasaannya yang belum bisa move on dari Libia.
“Kamu sedang apa?” Tanya Anis yang tiba-tiba terbangun dari tidurnya.
“Eemmmm,,,ya banguni kamu lah bocil, ngapain aku disini kalau gak banguni kamu”. Ucap Reza gugup.
“Bohong!!” sahut Anis tegas.
“Jadi menurutmu?” Reza balik bertanya.
Anis pun terdiam sesaat.
“Udah pergi sana, Dasar orang tua ngeselin”. Kata Anis kemudian.
“gak usah GR, aku kesini karna mama yang nyuruh”. Ucap Reza.
“mama nyuruh apa?” Tanya Anis.
“Mama nyuruh kita ke rumah sakit sekarang, katanya ada yang mau papa bicarakan”. Jelas Reza.
“Malam ini?” Tanya Anis lagi.
“Gak, besok malam, ya malam ini lah orang sudah dibilangi sekarang”. Jawab Reza.
“Gak usah berurat gitu kali ngomongnya, udah tua ngomong pake emosi, jadi semakin tua deh”. Celetuk Anis yang mulai bangun dan bersiap-siap.
Baru saja aku kasian sama bocil ini, eh sekarang udah mulai ngeselin lagi.
“Heehhh…kamu bisa gak bicara sopan sedikit sama suami?” tiba-tiba Reza mendekap dan memiringkan badan Anis layaknya Bridal style.
__ADS_1
“Lepaskan aku!!!” ucap Anis.
“Jawab dulu pertanyaanku” kata Reza.
Bruuuk…
“Awwww, kamu ini cewek apa singa si?” gerutu Reza kesakitan karna Anis tiba-tiba mencubit lengannya Dengan sangat kuat.
“Maaf tuan aku tidak bisa, selama kamu masih membuatku sial, selama itu juga aku akan ngomong semauku” Jawab Anis sambil berlalu meninggalkan Reza.
“Tunggu aja nanti, akan aku ajarkan kamu cara sopan santun pada suami yang baik dan benar”. Ucap Reza berkata sendirian.
“Ayo jadi gak ke rumah sakitnya? Lama banget si jadi cowok kok lemah” kata Anis sambil melongokkan wajahnya di pintu masuk kamar mereka.
“Heehhh bocil kamu ngatain aku lemah, kamu akan menyesal!! Ancam Reza.
“Aku lebih menyesal kalau gak ngatain kamu orang tua”. Ucap Anis sambil tersenyum penuh kemenangan.
Reza dan Anis pun memasuki mobil dan menuju ke rumah sakit mutiara cinta tempat pak Herdi di rawat. Reza mengendarai mobil Dengan kecepatan tinggi.
“Jangan ngebut banget, aku mohon” rengek Anis sembari menutup matanya Dengan kedua tangan.
“Bodo amat, mobil aku ya terserah aku dong” ucap Reza santai.
Anis terlihat gemetaran karna ketakutan, wajahnya sangat tegang sedangkan Reza sebaliknya, dia tersenyum penuh kepuasan saat melihat gadis kecil disampingnya ketakutan.
“STOOPPPPP…!!!” teriak Anis Dengan suara yang sangat kuat.
Reza pun langsung mengerem dan menghentikan mobilnya karna terkejut oleh teriakan Anis.
Anis langsung membuka pintu mobil dan keluar sembari membantingkan pintu mobil.
“Kalau mau mati, mati aja sendiri gak usah ngajak-ngajak aku”. Ucap Anis kesal.
Anis pun berjalan mencari angkot.
“Tunggu, kamu mau buat papa semakin parah ya sakitnya?”ucap Reza seraya mengejar Anis keluar.
“Kamu itu yang selalu nyiksa aku”. Teriak Anis.
“Aaargggg….bisa gak si kamu itu kalau ngomong gak usah pake toa, ini dijalan bukan kebun binatang”.Kata Reza sembari menekankan suaranya.
“Gak usah ngatur-ngatur aku, atur aja hidup mu yang berantakan sama pacarmu”. Kata Anis.
“Pacar?? Dari mana kamu tahu??” Tanya Reza.
“Semua orang di taman safari siang itu tahu kalau kalian peluk c*um di depan umum, gak tahu malu..!” kata Anis.
“Apa kamu bilang? Gak tahu malu?? Kamu itu semakin lama semakin ngelunjak ya Ternyata, gak tahu dikasih hati mintak ceker”. Ucap Reza mulai emosi.
“Ya terus apa namanya kalau gak tahu malu?? Main peluk sembarangan di depan umum, apa mau aku sebut yang lebih rendah dari itu”? ucap Anis lagi.
“Sini kamu dari tadi ngomel aja gak jelas”. Kata Reza sembari menggendong Anis dan membawanya ke dalam mobil.
“Lepas…!!! Kalau gak mau lepas aku mau teriak” ucap Anis berusaha memberontak.
“Tolooong….Tolong…..pak Tolong aku”. Anis pun teriak meminta Tolong orang-orang di pinggir jalan.
Reza panic Karena beberapa orang memperhatikan dan mulai menganggapnya penjahat, secara reflek Reza menc*um mulut Anis. Mata Anis melotot seperti mau keluar.
__ADS_1
“Ooh,,,,Ternyata pasangan kekasih, aku kira tadi penculik”, ucap salah seorang yang berada tidak jauh dari lokasi Anis dan Reza.
Reza pun segera mambawa Anis memasuki mobil tanpa melepaskan c*umannya.
Anis memberontak dan tanpa sengaja Reza terpegang sesuatu yang kenyal di bagian depan Anis. Sontak membuat Reza terkejut, dadanya mulai panas meminta sesuatu yang lebih dari gadis yang sedang did*kapnya dengan paksa.
“Aaawww!!” kamu apaan si “ ucap Reza kesal karena mulutnya di gigit Anis.
“Lepasin…!!” ucap Anis Setelah terlepas dari ci*man Reza.
“Berani kamu menc*umku lagi, Dasar orang tua m*sum, sukanya mencari kesempatan” omel Anis tak terima.
“Kayaknya kamu memang terbiasa nyosor cewek-cewek lain juga ya, manfaatin jabatan kamu”. Omel Anis lagi seraya mengelap bekas kec*pan Reza.
Reza tak bergeming, dia memasuki mobil dan melajukannya Dengan kecepatan sedang. Anis masih tetap mengelap mulutnya.
“Kamu beneran sama sekali belum pernah disentuh cowok?” Tanya Reza penasaran.
“Anis tak menjawab pertanyaan Reza, dia menatap tajam kearah luar jendela. Matanya mulai berkaca-kaca karena kebobolan ci*man untuk yang kedua kalinya.
“Kenapa menangis?” Tanya Reza tanpa perasaan bersalah.
Anis masih larut dalam kesedihannya, matanya semakin basah.
“Udah jangan nangis lagi, aku kan gak memperkaosmu, apa yang kamu tangisi coba?” Tanya Reza lagi sambal melirik ke arah Anis.
Gini amat nikah sama bocil, baru dic*um paksa biar gak bawel aja udah cengeng kayak gitu, apa lagi dic*um paksa untuk dinikmati, batin Reza, pikirannya mulai nakal.
Aaarrggg….sadar Reza dia bukan tipemu, kamu masih berjuang untuk mempertahankan hubunganmu Dengan Libia. Dia tak lebih dari bocil yang harus kamu tanggung jawabi, batinnya lagi menepis pikiran-pikiran nakal yang mulai bersarang di otaknya.
Tak lama kemudian mereka sampai diparkiran rumah sakit mutiara cinta, Reza segera memarkirkan mobilnya dan keluar.
“Nih lap dulu wajahmu, banyak kotoran mata sama ingus tu”. Kata Reza sembari memberikan tisu pada Anis.
Anis pun mengambilnya dan segera mengelap wajahnya yang basah. Namun tidak dipungkiri matanya masih sangat terlihat sembab.
“Matamu sembab karena kebanyakan nangis, pasti nanti mama papa Tanya apa yang sudah terjadi kamu Jawab aja kena debu”, bujuk Reza kepada Anis. Anis tak menjawab sepatah kata pun perkataan Reza.
“Pegang lenganku” pinta Reza tiba-tiba.
“Gak mau” ucap Anis.
“Kamu mau lihat papa semakin memikirkan kita?” tegas Reza.
Anis pun tak punya pilihan dia lalu memeluk lengan Reza.
Semampainya di ruangan pak Herdi.
“Apa kabar pa?” kata Reza sembari mencium punggung tangan papanya yang diikuti Anis.
“Lebih baikan dari kemarin” ucap Pak Herdi.
“Kamu apa kabar sayang? Kenapa matamu sembab seperti ini?” Tanya bu Lida kepada menantunya.
“Gak papa ma, Cuma kena debu aja tadi”. Ucap Anis sambal tersenyum.
“Ma, apa papa masih dalam keputusan yang kemaren? Apa tetap harus melakukan pencangkokan jantung?“ Tanya Reza kemudian kepada bu Lida.
“Itulah yang akan mama sampaikan sama kalian, kemaren dokter bilang kalau papa harus di rawat secara intensif di singapura, disana ada dokter ahli jantung yang sudah sangat berpengalaman. Rencananya besok pagi mama dan papa mau berangkat”. Jelas bu Lida kepada putranya.
__ADS_1
“Alhamdulillah kalau masih ada pilihan lain ma, semoga papa bisa sehat secepatnya tanpa pencangkokan, nanti biar Reza yang urus penerbangan dan perlengkapannya ma”. Ucap Reza.